Nona Mia

Nona Mia
BIAN, SI MATA DUITAN


__ADS_3

Mia mengendarai mobilnya dengan santai keluar dari kawasan gedung kantornya.


Tujuannya hanya satu sekarang, rumah mama dan papanya.


Jalanan sore ini tidak terlalu padat, jadilah Mia tidak perlu terjebak dalam kemacetan yang membosankan.


Tepat saat mobil Mia akan berbelok ke jalan masuk perumahan, sebuah motor muncul dengan tiba-tiba dari arah berlawanan.


Refleks Mia yang kaget langsung menginjak rem agar tidak bertubrukan dengan motor sialan tersebut.


Bugh,


Kepala Mia membentur stir karena dirinya yang menginjak rem mendadak.


Gadis itu meringis sambil mengusap kepalanya yang terasa sedikit nyeri.


Namun Mia memilih mengabaikan rasa sakit itu karena emosinya sudah di ubun-ubun sekarang.


Mia segera melepaskan sabuk pengaman, dan turun dari mobil mewahnya.


Mia menghampiri pengendara motor yang sudah bersiap hendak kabur.


"Hey!!" Gertak Mia dengan nada galak dan penuh emosi.


Pengendara motor tersebut menoleh.


Mia merasa tak asing dengan wajah itu.


Bukankah itu...


"Kamu lagi?" Mia menuding tak percaya pada pemuda yang sama yang dulu menabrak mobil mewah Mia hingga lecet.


"Hai, nona kaya. Apa kita memang berjodoh?" Jawab pemuda itu asal.


Pemuda bernama Bian tersebut turun dari motornya dan segera menghampiri Mia.


Mia melotot tajam ke arah Bian seakan hendak meledak.


"Kenapa kamu tidak pernah menggunakan matamu dengan benar saat menaiki motor sialanmu itu?" Tanya Mia berapi-api.


Tangan Mia sudah menunjuk-nunjuk ke arah mata Bian karena sekarang Mia benar-benar gemas dan ingin mencolok mata pemuda tersebut.


Bian menepis tangan Mia dengan lancang. Sepertinya pemuda itu tak punya rasa takut, atau memang Bian tidak tahu kalau Mia adalah nona CEO.


"Mobil mewahmu baik-baik saja, nona kaya. Lihat! Motorku yang tergores dan aku nyaris tercebur ke dalam got. Jadi bisakah aku minta ganti rugi?" Bian seolah memanfaatkan keadaan.


Tangan pemuda itu sudah menengadah seakan memberi isyarat kalau dia siap menerima lembaran uang merah dari nona kaya di hadapannya tersebut.


Mia melotot semakin tajam ke arah Bian.


"Apa kamu bilang? Ganti rugi? Aku yang sudah kamu rugikan di sini dan kamu yang minta ganti rugi?" Cecar Mia bertubi-tubi seakan tak mau lagi di bodohi oleh pemuda sekaligus kurir resek tersebut.


Masih lekat di ingatan Mia saat dirinya memberikan beberapa lembar uang untuk pemuda sialan ini, padahal saat itu pemuda ini yang menabrak mobil Mia.


Kenapa malah Mia yang memberinya uang?


"Memang kau rugi apa? Mobilmu baik-baik saja dan kau juga baik-baik saja" Bian masih bersikeras dan pantang menyerah.


Bian benar-benar ingin memanfaatkan keadaan agar ia kembali bisa menerima lembaran rupiah dari nona kaya di hadapannya tersebut.


Mia mendengus.


Terlihat sekali wajah putih Mia yang kini sudah merah padam menahan emosi yang mungkin akan meledak sebentar lagi.


Tapi tunggu...


Bukankah Mia adalah seorang wanita elegant, jadi mungkin sebaiknya Mia tidak perlu marah-marah pada pemuda gembel dan mata duitan seperti ini.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa membodohiku untuk kedua kali. Dasar laki-laki mata duitan!" Mia menuding ke arah pemuda tersebut dan mendorongnya ke belakang. Mia segera berlalu meninggalkan laki-laki mata duitan yang sekarang hanya berdiri melongo tersebut.


Bian masih tak beranjak dari tempatnya, saat mobil mewah Mia pergi dari hadapannya.


Sepertinya usaha Bian kali ini gagal.


'Sial!' Umpat Bian emosi.


Gagal sudah rencananya hari ini untuk meraup pundi-pundi rupiah dari nona kaya nan sombong itu.


Bian masih memperhatikan mobil mewah Mia yang masuk ke dalam kompleks perumahan tersebut hingga akhirnya mobil itu tak terlihat lagi dan masuk ke salah satu halaman rumah yang ada di dalam kompleks tersebut.


Bian hanya mengendikkan bahu sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mungkin di lain kesempatan aku akan memberimu pelajaran, nona kaya yang sombong" gumam Bian sebelum tancap gas dan pergi dari tempat itu.


*****


Mama Alin yang sedang menyiram bunga di halaman depan, sedikit terkejut saat mobil Mia masuk ke halaman rumah.


Ini bukan weekend, tumben putrinya itu datang.


Namun saat mendapati Mia yang turun dari kursi pengemudi, Mama Alin semakin terkejut.


"Mia, kamu nyetir sendiri?" Tanya mama Alin berlebihan. Tampak sekali raut kekhawatiran di wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut.


Mia tersenyum tipis,


"Supir Mia sedang cuti, Ma. Jadi Mia bawa mobil sendiri" jawab Mia santai.


Mia segera menyapa mama sambungnya tersebut dan sedikit berbasa-basi.


Dulu Mia begitu akrab dengan mama Alin, namun belakangan ini Mia sedikit risih dengan perlakuan mama Alin yang selalu mengkhawatirkan dirinya.


Mia sudah dewasa sekarang, dan Mia rasa mama Alin bersikap terlalu berlebihan.


Ah, gadis nakal dan usil itu.


Mungkin sekilas Mia dan Kyara memang selalu berseteru dan meributkan hal-hal kecil.


Tapi yakinlah kalau Mia sangat menyayangi adik sambungnya tersebut.


Buktinya, Mia selalu memberikan Kyara uang jajan yang jumlahnya tidak sedikit.


Belum lagi kartu kredit unlimited yang bisa dipakai oleh Kyara kapanpun gadis itu mau.


"Kenapa mama khawatir begitu sih, lihat kak Mia bawa mobil sendiri?" Kyara yang baru keluar dari rumah ikut menimpali.


Tiga wanita berbeda usia itu, kini duduk di sofa ruang tengah.


"Mama kan takut kalau terjadi hal-hal buruk pada kakakmu, Ky. Jaman sekarang kejahatan di mana-mana" ujar mama Alin menjelaskan.


Mia tersenyum tipis,


"Mia bisa jaga diri, Ma. Jadi mama jangan khawatir berlebihan seperti itu" jawab Mia dengan nada santai.


"Lagian, begal mana coba yang berani sama wanita galak seperti kak Mia. Yang ada mereka bakalan lari tunggang langgang liat muka galaknya kak Mia" timpal Kyara asal.


Sontak Mia langsung menyentil kening adiknya tersebut.


"Kakak bukan wanita galak, nona mata duitan. Gak ada uang jajan untukmu minggu ini" ucap Mia tak terima.


Wanita itu berdecak berulang kali.


"Mia, Kyara, sudah! Kalian selalu ribut kalau bertemu" mama Alin mencoba melerai kedua putrinya yang sedang berseteru.


"Mia, berapa kali mama bilang. Jangan pernah memberi uang jajan dengan jor-joran seperti itu pada Kyara. Gadis ini tidak pernah bisa mengendalikan diri kalau belanja" gantian mama Alin yang berdecak sambil menuding ke arah Kyara yang kini terlihat manyun.

__ADS_1


Mia tertawa kecil.


"Apa dia masih hobi mengumpulkan sampah-sampah itu di lemarinya?" Bukannya mengiyakan nasehat sang mama, Mia malah balik bertanya.


"Itu bukan sampah, kakakku yang kaya. Itu koleksi. Kakak juga punya kan di apartemen?" Kyara membela diri sekaligus mencari pembenaran.


"Setidaknya aku memakai semuanya, tidak sepertimu yang hanya menjadikannya sebagai sumpalan tak berguna di lemari besarmu itu" bantah Mia sambil bersedekap dan menatap sinis ke arah Kyara.


"Sudah! Sudah! Sudah! Kapan kalian berdua ini bisa akur?" Baiklah, sekarang sepertinya mama Alin mulai geram.


"Kami akur, mama" jawab Mia dan Kyara bersamaan.


Dan hal ini sukses membuat mama Alin tertawa kecil.


"Malam semua, apa papa melewatkan hal seru?" Papa Andri yang baru tiba di rumah segera menyapa tiga wanita istimewa dalam hidupnya tersebut.


"Malam, papaku yang tampan. Baru pulang?" Mia langsung beranjak berdiri dan menyambut hangat kedatangan sang papa.


Mama Alin bersedekap sambil tertawa kecil. Mia selalu bersikap berlebihan pada sang papa. Kadang hal itu menimbulkan rasa cemburu di hati Alin.


"Kakak selalu memuji papa berlebihan seperti itu. Apa tidak sebaiknya kakak segera menikah agar kakak punya suami yang bisa kakak puji sepanjang hari" Kyara memberikan nasehat sok bijaknya.


"Kyara benar. Kapan kamu akan menikah, Mia?" Mama Alin ikut menimpali dan bertanya.


Mia dan papa Andri sudah kembali duduk di sofa bergabung bersama Kyara dan mama Alin.


"Tidak dalam waktu dekat. Setidaknya sampai aku menemukan pangeran impianku" jawab Mia santai.


Kyara tergelak mendengar jawaban dari sang kakak.


"Pangeran yang bagaimana? Semua pangeran bakalan lari kalau bertemu kak Mia yang galak dan ketus" cibir Kyara masih terbahak.


Mia langsung mencebik dan hendak menyentil dahi Kyara lagi. Namun Kyara rupanya sudah hafal, jadilah gadis itu segera menghindar sebelum jari sang kakak mendarat di keningnya.


Mama Alin dan papa Andri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua putrinya tersebut.


Mia kembali duduk di sofa, di samping papa Andri.


"Pa, apa Mia boleh pinjam supir papa untuk kunjungan Mia ke Jogja besok?" Tanya Mia dengan nada serius.


"Memang supir kamu kemana?" Bukan papa Andri melainkan mama Alin yang balik bertanya.


"Cuti mendadak karena istrinya melahirkan." Jawab Mia malas.


"Jadi itu alasan kamu ke sini nyetir sendiri?" Tebak mama Alin.


Mia hanya mengendikkan bahu,


"Mama pasti akan bilang Mia bos yang kejam kalau Mia tidak memberikan cuti pada supir itu" jawab Mia masih dengan nada malas.


"Kakak kan memang bos kejam" Kyara ikut menimpali.


Mia hanya mendengus dan malas menanggapi ejekan dari adiknya tersebut.


Papa Andri tersenyum simpul sebelum mulai berbicara.


"Papa tidak keberatan. Lagipula papa juga tak akan mengijinkan kamu membawa mobil sendiri." Jawab papa Andri bijak.


"Mia juga gak bakal mau bawa mobil sendiri, Pa. Jauh. Capek" tukas Mia menimpali jawaban sang papa.


Sesaat suasana di ruangan itu menjadi hening.


"Siapa yang lapar? Ayo kita makan malam!" mama Alin sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan.


Mia, Kyara, dan papa Andri ikut beranjak dan masuk ke ruang makan.


Obrolan hangat itupun berlanjut di ruang makan hingga malam mulai larut.

__ADS_1


__ADS_2