Nona Mia

Nona Mia
ISTRI ATAU PEMBANTU?


__ADS_3

"May! Bangun May!" Bian menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu. Namun Mia masih saja tidur nyenyak seperti tidak terganggu dengan suara Bian.


"May!" Bian sedikit meninggikan suaranya.


Astaga! Nona kaya ini ternyata hobi tidur juga selain hobi marah dan ngamuk-ngamuk.


"May! Maymunah!" Baiklah, sekarang Bian sudah berteriak di dekat telinga Mia agar gadis itu secepatnya bangun karena perut Bian sudah benar-benar keroncongan sekarang.


"Apa?" Gertak Mia galak sesaat setelah gadis itu membuka matanya.


Mia merasa tidur nyenyaknya telah terusik, jadi wajar 'kan kalau dia marah?


Bian segera beringsut mundur saat melihat wajah Mia yang merah padam menahan marah.


'Apa ingatan nona kaya ini sudah kembali?' Tanya Bian pada dirinya sendiri.


"Aku dimana?" Tanya Mia selanjutnya. Raut kemarahan di wajah gadis itu sudah menguap entah kemana berganti dengan raut wajah bingung.


Mia mengedarkan pandangannya ke kamar berukuran tiga kali empat meter tersebut hingga netra coklatnya menangkap sosok pria yang kini tengah berdiri di dekat pintu masuk.


"Mas Bian?" Mia ingat pada pria bernama Bian yang mengaku sebagai suaminya tersebut.


"Pagi, May." Sapa Bian berbasa-basi.


"Tadi mas yang bangunin May, ya?" Tanya Mia memastikan.


"Iya, May. Apa kamu bisa masak sekarang? Perutku sudah lapar," tukas Bian sambil memegangi perutnya yang memang sudah keroncongan.


Mia mengernyitkan kedua alisnya,


Memasak?


Mia bahkan tidak ingat kalau dirinya pernah memasak.


"Apa aku selalu memasak untuk sarapan, Mas?" Tanya Mia dengan raut wajah polos.


Gantian Bian yang kini mengernyitkan kedua alisnya.


Jangan sampai nona kaya ini adalah nona manja juga yang belum pernah ke dapur selama hidupnya.


"Tentu saja, May sayang. Kamu istriku, dan kamu selalu memasak untukku setiap hari" jawab Bian mengada-ada.


Mia beranjak dari tempat tidur tua itu dan kini sudah berdiri di dekat Bian.


"Tapi, Mas. Aku lupa caranya memasak. Maukah kamu membimbingku hingga aku mengingat semuanya?" Mia menggamit lengan Bian dan berkata dengan nada merayu.


Bian berdecak,


Sejenak Bian merasa menyesal karena telah membawa pulang gadis kaya nan manja ini.


'Dasar tidak berguna!' Gumam Bian dalam hati.


"Baiklah, baiklah. Ayo kita ke dapur!" Ajak Bian seraya melepaskan tangan Mia dari lengannya. Pria itu berjalan ke arah bagian belakang rumah sederhana tersebut dan Mia mengekor di belakang Bian.


Ruangan itu tidak terlalu besar, dan lantainya masih tanah.

__ADS_1


Dan tunggu...


Tidak ada kompor di ruangan itu melainkan hanya ada setumpuk kayu bakar dan tungku.


Apa?


Apa Bian akan menyuruh Mia memasak menggunakan tungku?


"Mas, kompornya mana?" Tanya Mia kebingungan.


"Gak ada kompor, Maymunah sayang. Kita masak pake tungku" Bian menunjuk ke arah tungku yang kini warnanya sudah hitam legam.


Ada satu panci yang bertangkring manis di atas tungku tersebut yang warnanya juga sama hitamnya.


Apa kedua benda itu sedang ikut kontes siapa yang paling hitam?


Bian membuka pintu belakang yang ada didapur tersebut.


Ada kebun singkong luas di belakang rumah mendiang neneknya tersebut. Mungkin Bian bisa mencabut beberapa singkong untuk sarapannya pagi ini.


"Kamu rebus airnya dulu May! Aku akan mengambil singkong dari kebun" tukas Bian sambil berlalu dan keluar melalui pintu belakang.


Mia belum sempat menjawab, dan Bian sudah menghilang di balik kumpulan pohon singkong yang menjulang tinggi.


Mia menggaruk kepalanya sendiri.


Gadis itu berjongkok di depan tungku dan memperhatikan tungku di depannya tersebut dari segala arah.


Ada satu pertanyaan besar di benak Mia.


"May!" Teguran dari Bian membuat Mia yang sedang berjongkok tersentak kaget. Gadis itu nyaris terjungkal ke belakang kalau Bian tidak sigap menahannya.


"Mas ngagetin!" Protes Mia sedikit mencebik.


Jantungnya nyaris melompat keluar gara-gara teguran Bian barusan.


"Lah kamu ngapain cuma ngelamun di depan tungku? Aku tadi kan nyuruh kamu ngrebus air," omel Bian panjang lebar.


"Mas nggak ngajarin May cara nyalain tungkunya. May kan gak ngerti," protes Mia sekali lagi.


Bian berdecak.


'Dasar nona kaya tak berguna!' Gerutu Bian dalam hati.


"Baiklah, aku akan mengajarimu. Tapi mulai besok kamu harus melakukannya sendiri. Jangan manja!" Ujar Bian dengan nada tegas.


Yang benar saja, Bian tadinya ingin mengerjai nona kaya sombong ini. Tapi kenapa malah dirinya yang kerepotan sekarang?


Bukannya mengiyakan kata-kata dari Bian, Mia malah mencebik sekarang.


"Kenapa lagi, Maymunah?" Bian mulai geram melihat wajah melas Mia yang sepertinya akan berubah menjadi isak tangis sebentar lagi.


"Mas kenapa kasar gitu ke May? Sebenarnya May ini istri Mas apa pembantu Mas, sih?" Protes Mia merasa tak terima.


Bian kembali berdecak sambil mengusap wajahnya berulang kali.

__ADS_1


Mungkin sebentar lagi Bian akan stress jika terus-terusan tinggal bersama nona kaya yang baperan ini.


"Baiklah, baiklah. Aku akan mengajarimu dengan lemah lembut selembut sutera" ucap Bian pada akhirnya.


Mia sedikit terkikik melihat wajah Bian yang menurutnya lucu saat mengucapkan kata-kata barusan.


Bian meraih korek yang ada di atas tumpukan kayu.


Mia memperhatikan dengan antusias saat Bian mulai menyalakan korek tersebut dan membakar sedikit kertas untuk memancing api.


Kayu yang ada di dalam tungku mulai terbakar api. Namun nyalanya kecil sekali dan nyaris mati.


"Nih!" Bian menyodorkan sebuah bambu pada Mia.


"Ini buat apa, Mas?" Tanya Mia bingung.


"Kamu tiup apinya pake ini, biar apinya gak mati" Bian menjelaskan.


Mia memperhatikan dengan seksama lonjoran bambu tersebut.


"Kamu tiup dari atas sini, trus arahin bagian bawahnya ke api yang ada di tungku" Bian menjelaskan sekali lagi sambil mempraktekkannya.


Mia mengangguk tanda paham. Namun gadis itu masih ragu untuk melakukannya.


Kenapa ini terlihat aneh sekali. Dan sepertinya Mia belum pernah melakukan ini seumur hidupnya.


"Apa bibirku tidak akan terbakar setelah ini?" Tanya Mia takut-takut.


Sontak Bian langsung tergelak mendengar pertanyaan konyol Mia barusan.


'Hahaha, gak bakal terbakar nona kaya. Paling jadi sedikit monyong aja,' teriak Bian dalam hati.


"Enggak. Udah coba aja!" Jawab Bian santai.


Dan meskipun masih ragu Mia tetap mencobanya.


"Uhuk...uhuk...uhuk!"


Sial!


Asap yang Mia tiup tersebut malah berbalik ke wajah Mia dan langsung memenuhi paru-paru gadis itu.


Mia terbatuk-batuk karena asap sialan tersebut.


Bian benar-benar ingin tertawa keras sekarang, karena selain asap yang menyerang wajah Mia, abu hitam bekas pembakaran juga beterbangan ke wajah mulus gadis itu, sehingga membuat wajah Mia jadi hitam sekarang.


"Mas kenapa tertawa, ih. Bantuin May kenapa!" Mia mulai mencebik lagi.


Wajahnya yang kini hitam terlihat semakin jelek saja.


Bian benar-benar tak bisa berhenti tertawa sekarang.


Meskipun tadi Bian sempat kesal, namun sekarang Bian benar-benar merasa terhibur.


Akhirnya Bian berhasil mengerjai nona kaya sombong di hadapannya ini.

__ADS_1


__ADS_2