Nona Mia

Nona Mia
CEMBURU?


__ADS_3

Mia baru keluar dari lift yang membawanya ke lantai paling atas gedung kantornya. Pekerjaannya lumayan menumpuk belakangan ini. Mia bahkan belum sempat berkunjung ke kafe Bian yang sudah kembali dibuka satu bulan yang lalu.


Mungkin pria brengsek itu sedang menikmati hari-hari menjadi seorang bos pemilik kafe sekarang.


"Selamat pagi, Nona Mia," Adel yang merupakan sekretaris Mia, membungkuk hormat seraya menyapa Mia.


"Pagi, Adel. Apa itu?" Mia menunjuk ke kartu undangan mewah berwarna gold di atas meja kerja Adel.


"Asisten tuan Abram datang ke sini pagi-pagi dan menitipkan ini untuk nona Mia," Adel dengan cepat mengambil undangan tadi dan memberikannya pada Mia dengan sopan.


Mia membaca sekilas undangan mewah tersebut. Dan raut keterkejutan langsung tampak di wajah nona direktur tersebut.


Abram akan menikah?


Apa ini sebuah lelucon?


Baru satu bulan yang lalu pria itu melamar Mia. Dan sekarang dia sudah menyebarkan kartu undangan pernikahan.


Mia membawa kartu undangan itu masuk ke ruangannya. Mia sungguh penasaran, siapa yang menjadi mempelai wanita seorang Abram Alexander?


Setelah menghenyakkan dirinya di kursi kebesaran, bergegas Mia membuka undangan berwarna gold tersebut.


Mia menelusur tulisan demi tulisan, hingga Mia menemukan nama itu.


Angel?


Mia tersenyum simpul.


Astaga, apa ini sebuah skandal?


Abram Alexander menikahi sekretarisnya sendiri, setelah Mia menolak pria itu.


Telepon di meja Mia berdering,


Bergegas nona direktur itu mengangkatnya,


"Selamat pagi, nona Mia," sapa Abram di seberang telepon.


Mia berdecak sebelum menjawab sapaan Abram.


Apa orang ini kurang kerjaan? Masih pagi sudah menelepon.


"Selamat pagi, tuan Abram. Senang bisa mendengar suara anda di pagi nan cerah ini" jawab Mia berlebihan.


Sejujurnya dalam hati, gadis itu sedang dongkol dan tak berhenti menggerutu.


"Sudah menerima undangan pernikahan saya, nona Mia?"


"Ya, sudah saya terima. Selamat tuan Abram. Karena akhirnya anda akan melepas status lajang anda." Jawab Mia dengan nada sinis.


"Apa anda tidak cemburu, nona Mia?"


"Kenapa saya harus cemburu? Saya juga sudah punya kekasih. Mungkin saya juga akan segera menikah sebentar lagi," sahut Mia sedikit berdusta.


Heh, menikah?


Dengan siapa?


Terdengar tawa Abram dari seberang telepon,


"Saya menunggu kedatangan anda bersama tuan Bian. Sampai jumpa nona Mia," Abram menutup telepon.


Mia meletakkan kembali telepon dengan kasar.


Sial!


Apa pria itu masih ingin membuktikan kalau Bian hanyalah pacar sewaanku?


Mia mengambil ponselnya dan segera menekan nomor Bian.


Namun sebelum tersambung, Mia buru-buru mematikannya.


Mia menyambar tasnya dan segera keluar dari ruang kantornya.

__ADS_1


"Adel, apa aku ada jadwal meeting?" Tanya Mia pada Adel, sekretarisnya.


"Ada meeting setelah makan siang, Nona." Jawab Adel cepat.


Mia mengangguk,


"Aku akan kembali setelah makan siang," ujar Mia seraya berlalu dari hadapan Adel dan masuk ke lift di ujung lorong.


Mia akan menemui Bian saja.


*****


Sudah satu bulan ini, hidup Bian terasa penuh warna.


Bian dan Dea sudah resmi berpacaran. Meskipun gadis itu masih saja malu-malu, tapi hal itu justru membuat Bian semakin jatuh cinta pada Dea.


Dan sudah lama si nona direktur sombong itu tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Semoga nona direktur itu sudah bertemu dengan pangeran impiannya, jadi Bian bisa secepatnya berhenti menjadi pacar halu dari nona Mia nan sombong tersebut.


Ting,


Hari masih pagi, dan sudah ada yang datang ke kafe.


Mungkin orang itu lupa belum sarapan.


Bian menoleh ke arah pintu kafe, berharap yang datang adalah Dea, sang pujaan hati. Dea memang izin untuk datang sedikit terlambat karena ada adiknya di panti yang sedang sakit.


Namun saat melihat siapa yang datang, Bian mendadak harus mengumpat dalam hati.


Astaga!


Kenapa nona kaya itu panjang umur sekali?


"Pagi, Bian!" Sapa Mia yang langsung menghampiri Bian yang kini duduk di belakang meja kasir.


"Pagi, nona Mia. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabar anda?" Tanya Bian penuh basa-basi.


Mia berdecak dan malas menanggapi basa-basi Bian barusan.


Mia memperhatikan wajah Bian dengan seksama.


Perasaan Mia saja atau wajah pria itu memang terlihat lebih berseri sekarang? Aura kebahagiaan seakan terpancar dari wajah Bian.


Apa yang sudah Mia lewatkan selama satu bulan ini?


"Mari, nona Mia. Silahkan duduk!" Bian sudah duduk di bangku kafe yang ada di dekat meja kasir.


Mia ikut duduk di hadapan Bian.


"Hari Minggu nanti kau akan menemaniku menghadiri pesta pernikahan Abram," ucap Mia to the point.


"Apa? Kenapa mendadak sekali memberitahuku? Ini bahkan sudah hari Jumat." Bian dengan cepat melayangkan protes.


Bian berencana mengajak Dea makan malam spesial hari Minggu nanti, namun nona kaya ini malah dengan seenak jidatnya mengacaukan rencana Bian.


Mia berdecak,


"Jika kau lupa, kau masih aku kontrak sebagai pacar bayaranku. Dan sesuai isi perjanjian kau harus siap kapanpun aku-" Mia belum menyelesaikan kalimatnya.


"Iya, iya! Aku mengingatnya, Nona kaya!" Dan Bian sudah memotong kalimat Mia dengan nada ketus.


Sesaat suasana hening.


Seorang pelayan kafe datang membawakan dua cangkir kopi dan meletakkannya dengan sopan di hadapan Mia dan Bian.


Ting,


Pintu kafe kembali berbunyi karena dibuka dari luar.


Bian mengalihkan pandangannya ke pintu untuk melihat siapa yang datang.


Dan binar kebahagiaan langsung terpancar di wajah Bian saat melihat gadis mungil itu masuk ke kafenya.


Bian tak berhenti menatap pada Dea yang kini berjalan ke arah meja kasir.

__ADS_1


Dan Mia berulang kali harus berdecak kesal karena sikap Bian tersebut.


"Jadi, apa pedekate mu pada gadis kasir itu sudah berhasil?" Tanya Mia dengan nada sinis, yang langsung membuat Bian mengalihkan pandangannya.


Bian tak lagi menatap pada Dea dan sekarang ganti menatap ke arah nona direktur Mia yang terhormat.


"Kau belum tahu, aku dan Dea sudah resmi berpacaran satu bulan yang lalu, dan kami akan menikah sebentar lagi," jawab Bian pamer.


Mia yang sedang menyesap kopinya langsung tersedak mendengar jawaban dari Bian barusan.


"Apa?" Sergah Mia dengan nada yang meninggi.


"Kau masih terikat kontrak padaku, Bian!" Mia mengingatkan Bian sekali lagi dengan mata yang mendelik.


"Kau sendiri yang memperbolehkanku menjalin hubungan dengan gadis lain. Bukankah yang penting aku selalu siap kapanapun kau memintaku menjadi pasangan halumu? Kau juga sudah berjanji untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadiku!" Cecar Bian membela diri.


Mia kehilangan kata-kata.


Bian benar, perjanjian awal mereka memang seperti itu.


Tapi kenapa sekarang Mia seakan tidak rela jika Bian menjalin hubungan dengan Dea?


Apa Mia cemburu?


Tidak!


Seorang nona Mia tidak mungkin cemburu pada seorang gadis kasir.


Lagipula, Mia juga tidak memiliki perasaan apapun pada Bian brengsek ini. Jadi kenapa Mia harus cemburu?


"Kau belum mengenalkanku pada gadis yang kini menjadi pacarmu itu." Mia mengalihkan pembicaraan. Gadis itu kembali menyesap kopi di hadapannya dalam satu tegukan besar,


Bian tersenyum simpul dan segera memanggil Dea.


"Dea!" Panggil Bian seraya melambaikan tangannya ke arah Dea.


Suara Bian bahkan terdengar lemah lembut pada gadis itu. Sangat berbeda dengan nada bicara Bian saat berbicara pada Mia yang selalu terdengar ketus dan sedikit kasar.


Dea sudah mendekat ke arah Bian dan Mia,


"Iya, Pak. Ada apa?" Tanya Dea dengan wajah sedikit menunduk.


Mia menatap dengan lekat wajah gadis yang sudah membuat seorang Bian jatuh cinta tersebut.


Mia akui, Dea memang berwajah teduh dan senyumannya juga manis. Namun wajah gadis itu sedikit pucat.


Apa gadis itu sedang sakit?


"Duduk sini, De!" Bian menarik kursi di sampingnya dan meminta Dea untuk duduk.


Dea menurut dan segera duduk di samping Bian.


"Oh, ya kenalkan. Ini nona Mia, teman baikku." Bian memperkenalkan Mia pada Dea


Dua gadis berbeda latar belakang itu pun segera berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


Teman?


Sejak kapan Mia dan Bian berteman?


Bukankah mereka adalah musuh bebuyutan?


.


.


.


Hahaha ciyee ada yang cemburu karena cuma dianggap teman.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕

__ADS_1


__ADS_2