
Mia mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di kamarnya.
Gadis itu membuka ponsel untuk melihat beberapa pesan yang masuk. Tak lupa Mia juga melihat lokasi kafe milik teman Kyara yang tadi sudah di kirim oleh adiknya tersebut.
Mia terkejut saat tahu nama dan alamat kafe yang dikirimkan oleh Kyara.
Kafe Analogy?
'Hei nona kaya, jangan membuat kerusuhan di kafe milikku. Pergi sana! Hush! Hush!'
'Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas ini adalah kafe milik Bian'
Mendadak kata-kata Bian beberapa hari yang lalu tentang kafe sialan tersebut kembali bercokol di kepala Mia.
Jika kafe itu benar milik Bian...
Berarti pria yang mengantar Kyara sore tadi?
Mia sekali lagi ingat kalau motor yang mengantar Kyara sore tadi memang sama persis dengan milik Bian.
Apa itu artinya Kyara berpacaran dengan Bian?
Mia segera keluar dari kamarnya dan turun menuju dapur untuk mencari sang mama.
"Ma!" Panggil Mia saat tidak menemukan mama Alin di dapur.
Kemana wanita paruh baya tersebut?
"Ma! Mama!" Mia ganti memeriksa halaman belakang.
Sang mama tengah bersenda gurau bersama papa Andri di halaman belakang.
Apa kedua orang tua ini sedang berpacaran untuk kesekian kalinya?
"Ada apa Mia?" Mama Alin yang mendengar panggilan dari sang putri sambung segera menjawab.
Mia duduk di tengah-tengah, antara mama Alin dan papa Andri. Sepertinya gadis itu niat sekali menjadi pengganggu atau semacam obat nyamuk untuk mama dan papanya yang tengah bermesraan.
"Ma, apa Kyara punya pacar baru?" Tanya Mia cepat.
Mama Alin mengernyit dan mengendikkan bahunya,
"Setahu mama tidak. Kyara sibuk kuliah belakangan ini," jawab mama Alin.
"Mama yakin?" Tanya Mia sekali lagi.
"Iya, mama yakin Mia," jawab mama Alin sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
"Memangnya ada apa, Mia? Bukankah kamu sudah berjanji pada papa untuk tidak lagi mengurusi kisah asmara orang lain, termasuk para karyawanmu dan juga Kyara." Papa Andri yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut menimpali.
"Kapan Mia berjanji seperti itu pada papa? Jangan mengarang, Papa!" Bantah Mia cepat. Gadis itu menatap tajam ke arah papa Andri.
Papa Andri hanya mencibir.
"Mama tidak pernah melihat Kyara pulang bersama teman laki-lakinya sejak putus dari Gio. Jadi kamu jangan khawatir berlebihan seperti itu," ujar mama Alin lagi.
"Ketimbang mengurusi Kyara sudah punya pacar apa belum, bukankah sebaiknya kamu mulai memikirkan untuk mencari pacar atau calon suami untuk dirimu sendiri?" Papa Andri ikut menimpali.
Mia segera mendengus kesal.
"Jadi, apa kamu sudah punya calon suami untuk kamu kenalkan pada mama dan papa?" Tanya papa Andri lagi.
Mia berdecak kesal.
Calon suami idaman Mia sedang di kekepin oleh gadis miskin sekarang, dan
Mia sedang berjuang untuk merebutnya kembali.
Haruskah Mia menjawab pertanyaan sang papa dengan jujur?
Oh, memalukan sekali.
"Mia belum siap menikah, papaku yang tampan." Mia mengalungkan kedua lengannya di leher papa Andri. Sekarang gadis itu bergelayut manja pada sang papa bak anak kecil yang sedang merajuk.
__ADS_1
Mama Alin yang melihat adegan tersebut hanya menghela nafas berulang kali.
Mungkinkah mama Alin cemburu pada Mia sekarang?
"Belum ada pria yang setampan dan sebaik papa, jadi Mia masih belum mau menikah," imbuh Mia lagi.
"Kamu harus mulai memikirkannya sekarang, Mia. Umurmu sudah lebih dari cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Lagipula karier kamu sudah berada di puncak. Apalagi yang kamu cari?" Mama Alin ikut-ikutan menasehati Mia.
Mia memutar bola matanya. Sungguh pembicaraan yang membosankan, saat kedua orangtua ini membahas tentang calon suami dan pernikahan.
Mia itu gadis yang sempurna, pria manapun pasti akan bertekuk lutut dan mau menjadi suami untuk seorang nona Mia.
Bukankah Mia tinggal menentukannya saja.
Memangnya pria mana yang bisa menolak pesona seorang nona Mia?
Selain Steve tentu saja.
Mia masih tak habis pikir kenapa Steve menolak Mia mentah-mentah tempo hari dan lebih memilih Eve yang miskin dan kere itu.
Ponsel Mia berbunyi,
Buru-buru gadis itu beranjak dari tempatnya dan menjauh dari mama dan papanya untuk menerima telepon yang masuk.
Setelah berbicara sejenak di telpon entah dengan siapa, Mia segera berpamitan pada mama Alin dan papa Andri.
"Baiklah, kita bisa membahas tentang calon suami untuk Mia lain kali saja. Ada berkas penting yang harus Mia periksa. Mia ke kamar dulu, mamaku yang cantik dan papaku yang tampan," pamit Mia berlebihan pada kedua orang tuanya tersebut.
Mama Alin dan papa Andri hanya terkekeh melihat tingkah polah Mia yang kadang lucu seperti ini.
Gadis itu cepat sekali berubah moodnya.
Kadang galak dan marah-marah tak jelas, kadang juga bertingkah konyol seperti ini.
*****
Mia sudah sampai di kamarnya sekarang.
Ada daftar tagihan dari kartu kredit yang di pegang oleh Kyara selama tiga bulan terakhir.
Mia memeriksa satu per satu barang yang di beli oleh Kyara.
Dulu, sebelum mengalami amnesia Mia rutin melakukan hal seperti ini. Namun sejak pekerjaannya di kantor menumpuk beberapa bulan terakhir, Mia tak sempat lagi memeriksa tagihan dari kartu kredit itu.
Lagipula, barang mahal apa yang mungkin dibeli Kyara selain tas dan sepatu? Gadis itu tidak pernah membeli barang yang aneh-aneh seperti rumah mewah atau pesawat jet misalnya.
Netra Mia masih menelusur huruf demi huruf di layar laptopnya, hingga satu tagihan senilai tiga puluh lima juta membuat Mia terbeliak tak percaya.
Apa ini?
Kyara membeli sebuah motor baru?
Mia memeriksa dengan detail tagihan tersebut.
Ada merk sebuah motor sport keluaran terbaru dari sebuah dealer.
"Kyara!" Suara Mia menggema di penjuru kamarnya.
Dengan emosi yang sudah naik di ubun-ubun, Mia keluar dari kamarnya dan segera menggedor pintu kamar Kyara.
"Kyara! Keluar kamu!" Teriak Mia galak.
Tak butuh waktu lama, dan pintu kamar Kyara segera dibuka dari dalam.
Kyara menatap bingung pada sang kakak yang wajahnya merah padam bak orang kerasukan.
"Ada apa sih, Kak? Udah malam teriak-teriak," dengkus Kyara dengan nada kesal.
"Apa kamu pacaran dengan pria brengsek bernama Bian?" Tanya Mia cepat sambil menuding ke arah adik perempuannya tersebut.
Deg,
Kyara langsung terdiam mendengar pertanyaan dari kak Mia.
__ADS_1
Dari mana kak Mia tahu kalau Kyara berpacaran dengan Bian? Apa kakaknya ini memata-matai Kyara?
"Jawab!" Bentak Mia dengan nada galak.
"Si...siapa Bian? Kyara gak kenal," jawab Kyara berbohong.
Mia berdecak,
"Lalu siapa pemilik kafe Analogy yang alamatnya kamu kirimkan ke ponselku?" Mia menunjukkan ponselnya ke arah Kyara.
Skakmat,
Kyara sudah kehilangan kata-kata untuk berbohong lagi.
Kyara sungguh tidak tahu kalau kak Mia ternyata mengenal Bian.
"Apa kamu tidak bisa lebih bodoh lagi? Berpacaran dengan pria kere dan gembel sejenis Bian lalu dengan entengnya kamu membelikan dia motor baru dan modal untuk membuka kafe..." Mia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mia tak mengerti apa sebenarnya yang ada di kepala Kyara, hingga gadis ini bisa dengan mudahnya dimanfaatkan oleh Bian brengsek itu dan gadis ini hanya seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
"Bian tidak seburuk itu, Kak!" Kyara berusaha membela diri dan membela Bian tentu saja.
Mia berdecak sekali lagi,
"Oh, ya? Berapa bulan kamu mengenalnya? Heh?" Cecar Mia bertubi-tubi.
"Em...empat bulan," jawab Kyara lirih sambil menunduk.
"Baru empat bulan dan kamu sudah membelanya seperti ini? Apa pesona Bian sudah membuatmu silau?" Tanya Mia sarkas.
Kyara tak menjawab lagi.
"Dengar ya! Bian itu pria brengsek, licik, dan pembohong besar yang pernah
ada di muka bumi ini. Kakak sudah lama mengenal pria brengsek dan mata duitan itu. Jadi kakak tahu betul siapa dia," ujar Mia dengan penuh emosi.
"Kakak bohong!" Sanggah Kyara cepat.
Mia mendelik ke arah Kyara.
"Kakak selalu saja mencari-cari keburukan dari pria yang dekat dengan Kyara. Lalu kakak dengan seenak hati menggoda pria itu dan menghancurkan hubungan Kyara. Siapa yang jahat di sini? Kakak atau para pria?" Tanya Kyara sambil balik melotot ke arah sang kakak. Sepertinya rasa takut gadis itu sudah menguap entah kemana.
"Bukan kakak yang jahat, tapi kamu yang bodoh dan terlalu polos!" Mia menuding ke arah Kyara.
"Dan kakak selalu merasa paling benar dan pintar, begitu?" Kyara balik menantang sang kakak.
Mia berdecak, apa Bian sudah meracuni pikiran Kyara yang bodoh ini?
Kenapa gadis ini sekarang berani melawan Mia?
"Akan kakak buktikan padamu, kalau Bian itu brengsek dan hanya memanfaatkanmu!" Mia menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
"Memangnya kakak mau berbuat apa? Kakak mau menggoda Bian agar mau tidur dengan kakak, begitu?" Sergah Kyara merasa jengah.
Kakaknya ini selalu saja mengancam dalam segala hal.
"Kau!" Mia menuding ke arah Kyara sambil melotot tajam.
"Kyara, Mia, ada apa ini?" Teguran papa Andri membuat Mia dan Kyara menghentikan perdebatan mereka.
Namun kakak beradik itu masih saling menatap dengan penuh amarah.
"Tunggu saja tanggal mainnya, nona muda! Dan kau akan tahu semua kebusukan dari pria itu," pungkas Mia sebelum berlalu dari hadapan Kyara dan masuk kembali ke kamarnya.
Masih terdengar suara pintu yang dibanting oleh Mia sesaat setelah gadis itu pergi.
"Kyara, ada masalah apa sebenarnya?" Tanya mama Alin khawatir.
"Mungkin mama dan papa perlu mencarikan kakak Mia yang terhormat itu calon suami agar dia tidak terus-terusan mengganggu kehidupan pribadiku," jawab Kyara ketus. Gadis itu segera masuk ke kamarnya dan ikut-ikutan membanting pintu.
Terang saja hal itu membuat mama Alin dan papa Andri melongo.
Ada apa dengan kedua putri mereka tersebut?
__ADS_1