
Rachel yang baru turun dari mobil sang papa, segera berlari ke teras rumah Bian untuk menyapa pamannya yang sudah menyambutnya di teras rumah.
"Halo cantik," Bian langsung memeluk keponakannya tersebut dan membawanya ke dalam gendongan.
Eve dan Steve menyusul di belakang.
"Kapan sampai di sini, Bang?" Tanya Eve yang kini duduk di sofa di dalam rumah kecil Bian.
"Baru kemarin siang," jawab Bian sekenanya.
Pria itu kini sibuk menggoda Rachel hingga membuat gadis kecil itu mencebik. Namun bukannya merasa bersalah Bian malah tertawa puas.
Rachel segera berlari ke pelukan sang papa karena pamannya ini usil sekali.
"Kalian sudah melihat tempatnya?" Tanya Bian membuka obrolan.
"Ya, kami mengunjunginya beberapa hari yang lalu, dan sudah hampir jadi tempatnya," jawab Steve cepat.
"Kami bisa mengantar abang ke sana kalau abang mau melihatnya," timpal Eve memberi penawaran.
"Aku bisa pergi sendiri. Tidak perlu repot-repot," ujar Bian seraya mengibaskan tangannya.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu dan Rachel disini?" Steve berbisik pada Eve.
"Tidak aku akan di sini sampai kamu pulang. Kamu bisa menjemput kami nanti," jawab Eve santai.
"Baiklah kalau begitu," Steve beranjak dari duduknya dan segera berpamitan pada Bian.
Setelah kepergian Steve, sesaat suasana menjadi hening. Hanya ada suara televisi dari ruang tengah yang sedang di tonton oleh Rachel.
"Abang sudah bertemu nona Mia?" Pertanyaan dari Eve membuat Bian tersentak kaget.
Kenapa tiba-tiba Eve bertanya soal Mia?
Bian menggeleng,
"Abang belum kemana-mana sejak tiba di kota ini," jawab Bian berusaha menutupi keterkejutannya.
"Nona Mia sudah punya seorang putra yang seusia dengan Rachel," ucap Eve lagi.
"Apa?" Dan kali ini Bian benar-benar terlonjak kaget.
Pria itu bahkan setengah berteriak seakan tidak percaya dengan kalimat Eve barusan.
"Darimana kamu tahu, Eve?" Sergah Bian cepat.
Pria itu terlihat salah tingkah.
"Aku dan Steve bertemu dengan nona Mia beberapa hari yang lalu saat melihat kedai es krim di mall." Jawab Eve bersungguh-sungguh.
"Lalu apa masalahnya kalau dia sudah punya seorang putra? Dia nona kaya yang cantik dan sempurna, jadi mungkin dia sudah bertemu pangeran impiannya beberapa tahun yang lalu, menikah, lalu punya anak. Sama seperti dirimu," tukas Bian seakan tak peduli.
Tapi Eve bisa melihat raut kekecewaan di wajah abangnya tersebut, meskipun Bian berusaha untuk menyembunyikannya.
"Apa abang yakin pangeran impian nona Mia itu bukan abang?" Tanya Eve menyelidik.
__ADS_1
Bian mengernyit tak mengerti dengan pertanyaan Eve kali ini.
"Nona Mia belum menikah, Bang! Dan asal abang tahu. Wajah Galen sangat mirip dengan abang Bian," jelas Eve dengan nada serius.
"Galen?" Bian masih mengernyit bingung.
"Ya. Itu nama putra dari nona Mia." Imbuh Eve cepat.
"Dan mendadak Eve ingat kejadian enam tahun lalu saat nona Mia keluar dari kafe abang pagi-pagi buta mengenakan baju dan celana milik abang. Apa abang yakin kalau malam itu abang tidak tidur bersama nona Mia?" Tuduh Eve yang kini mulai berteori.
Bian terdiam.
Malam itu Bian memang melakukan sebuah kesalahan besar karena bir dan gaun tidur sialan milik Mia.
Kesalahan yang Bian sesali hingga kini.
Tapi jika Mia hamil akibat perbuatan Bian malam itu, bukankah seharusnya Mia menghubungi Bian dan minta pertanggungjawaban?
Bian juga sudah meninggalkan surat dan pesan untuk Mia. Namun hingga saat ini nona direktur itu tidak pernah menghubungi Bian sama sekali.
"Mungkin itu hanya kebetulan, Eve. Mungkin Mia sudah menikah dengan pria lain tapi dia enggan menceritakannya kepadamu atau kepada Steve. Atau mungkin Galen hanya anak angkat Mia yang kebetulan wajahnya mirip abang," Bian berusaha menyangkal.
Pria itu segera beranjak dari duduknya dan memilih untuk menemani Rachel menonton film kartun di televisi.
Entahlah, pikiran Bian semakin tak karuan saja setelah mendengar cerita Eve barusan tentang nona Mia yang sudah memiliki anak.
****
Di gedung kantor Mia,
"Aku sudah berjanji pada Galen untuk mengajaknya ke mall hari ini karena ada pembukaan kedai es krim baru. Jadi aku akan menjemput Galen ke sekolah lalu pergi ke mall," Jelas Mia seraya nyengir tanpa dosa.
Mike berdecak,
"Ada meeting penting setelah jam makan siang, Mia," ujar Mike mengingatkan.
"Aku yakin kau bisa menanganinya, Mike. Aku sungguh tidak mau membuat Galenku marah dan merajuk," Mia menepuk punggung asistennya tersebut.
"Ini sudah yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Aku mau minta naik gaji," Mike bersedekap seraya menatap tajam pada Mia.
Mia terkekeh,
"Baiklah akan ku pertimbangkan. Aku pergi dulu. Bye!" Pamit Mia seraya berlalu dari hadapan Mike.
Pria itu hanya mendengus seraya menggelengkan kepalanya.
Dasar nona direktur egois!
****
Galen bersorak senang saat Mia mengajaknya ke mall di pusat kota.
"Kita akan ke kedai es krim itu, Mommy?" Tanya Galen dengan mata berbinar senang.
"Tentu saja, sayang. Mommy tidak pernah ingkar janji. Kita akan membeli es krim favoritmu," jawab Mia seraya mengusap lembut kepala putra semata wayangnya tersebut.
__ADS_1
Suasana di dalam mall lumayan ramai. Mungkin karena ini akhir pekan dan sedang ada grand opening sebuah kedai es krim baru.
Selain itu juga ada diskon besar-besaran karena sudah masuk akhir tahun.
Mia menggenggam erat tangan Galen agar anak itu tidak hilang atau lepas dari pandangannya.
"Mommy, lihat!" Galen sudah bersorak senang saat mereka semakin dekat ke kedai es krim tersebut.
"Pelan-pelan, Galen!" Mia mencoba menahan sang putra agar tidak kabur.
Tiba-tiba ponsel Mia berbunyi,
"Galen, berhenti dulu oke! Mommy angkat telepon dulu," Mia menunjukkan ponselnya pada Galen.
Namun anak itu sepertinya terlalu bersemangat dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke kedai es krim yang baru buka tersebut.
Saat Mia sedang fokus berbicara di telepon entah dengan siapa, Galen sudah menyelinap masuk ke dalam kedai es krim dan lepas dari pandangan Mia.
Setelah selesai menelpon, barulah Mia sadar kalau Galen tidak ada di dekatnya, dan tangan bocah itu juga sudah lepas dari gandengan Mia.
"Galen!" Mia memanggil-manggil sang putra.
Nona direktur itu mengedarkan pandangannya ke segala arah demi menemukan sosok kecil Galen.
"Galen!" Panggil Mia sekali lagi.
Dan netra Mia langsung tertuju ke arah kedai es krim yang sedikit padat oleh pengunjung.
Secepat mungkin Mia merangsek masuk ke dalam antrian untuk mencari Galen.
Dugaan Mia anak itu pasti kabur ke dalam kedai es krim tersebut.
Mia mengedarkan pandangannya ke dalam kedai es krim bernuansa klasik tersebut.
Dan tepat di dekat tangga, Mia menangkap sosok Galen yang sedang berbicara dengan seorang pria dewasa yang posisinya membelakangi Mia.
Mia segera mendekat ke arah putranya tersebut.
"Galen! Sudah mommy bilang jangan kabur dan berkeliaran sendiri," omel Mia pada sang putra.
Galen hanya diam menunduk, sedangkan pria yang tadi bicara pada Galen segera menoleh pada Mia.
Dan saat tahu siapa pria itu, Mia benar-benar membeku di tempatnya.
"Mia?" Sapa pria tersebut yang seketika membuat lidah Mia benar-benar menjadi kelu.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
__ADS_1