Nona Mia

Nona Mia
JEBAKAN?


__ADS_3

"Iya, kak ada apa?" Tanya Kyara sesaat setelah mengangkat telepon dari Mia.


"Kau di mana sekarang?" Mia balik bertanya.


"Lagi di party nya teman. Kenapa tiba-tiba bertanya?" Kyara sedikit heran. Tidak biasanya kakaknya itu menghubunginya.


"Bersama pacarmu?" Tanya Mia lagi.


"Gio sedang ada keperluan, jadi aku tadi diantar supirnya papa" Kyara menjelaskan.


Mia berdecak,


'Heh, keperluan. Dasar pria penipu!' gumam Mia dalam hati.


"Supirku akan menjemputmu sekarang. Kau harus ke apartemenku sekarang!" tukas Mia memerintah.


"Tidak!"Sergah Kyara cepat


"Ini malam minggu, kak. Untuk apa kakak menyuruhku ke apartemen tua itu. Aku tidak mau menua disana bersamamu saat malam minggu" Kyara mencari alasan.


Mia mendengus kesal.


"Jam berapa party bodohmu itu selesai? Kau bisa ke sini setelah acara itu." akhirnya Mia memberi solusi.


Mau di bujuk sampai mulut berbusa-busa juga Mia yakin kalau adiknya yang keras kepala itu tidak akan mau menurut.


"Jam sepuluh paling cepat." jawab Kyara malas.


"Baiklah supirku akan datang jam sembilan dan kau harus ikut" ujar Mia tegas.


"Tapi, kak" Kyara masih berusaha menolak.


"Datang atau aku tidak akan memberimu uang jajan lagi" Baiklah, sekarang Mia mengancam adik perempuannya tersebut.


Kyara yang merasa kalah, langsung mencebik dan berdecak berulang kali.


Tanpa uang jajan dari Mia, Kyara akan jadi gadis kere yang tidak bisa shopping di mall. Kyara bisa apa sekarang selain menurut?


"Baiklah nona pemaksa aku akan datang. Kau senang sekarang?" Ucap Kyara dengan nada mencibir.


Mia tersenyum simpul.


"Anak baik. Baiklah sampai jumpa adikku sayang." pungkas Mia sebelum menutup teleponnya pada Kyara.


Baiklah sepertinya rencana Mia malam ini akan berhasil. Mia melanjutkan ritual berendamnya. Biar saja Gio menunggunya hingga jamuran. Mia tidak mau peduli.


*****


Gio masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sesekali pria itu menyesap minuman yang ada di gelas di hadapannya.


Cukup lama pria itu menunggu Mia. Entah apa yang dilakukan oleh nona sombong itu. Apa semua wanita kaya selalu lama kalau mandi?


Berulang kali Gio menatap ke pintu kamar Mia. Ingin rasanya Gio menjebol pintu itu dan masuk ke dalam lalu berendam bersama Mia.


Oh... membayangkannya saja sudah membuat kejantanan Gio meronta.


"Kau akan habis malam ini, Mia. Dan setelah itu kau juga akan tergila-gila padaku sama seperti Kyara" gumam Gio sambil tersenyum licik.


Mia keluar dari dalam kamarnya mengenakan dress terusan warna putih selutut dengan potongan yang sangat pas di tubuhnya.


Sebuah tas kecil dengan brand ternama tergantung manis di lengan Mia.


Gio menatap bingung pada Mia.


Bukankah tadi mereka berdua akan...


"Aku sudah siap. Ayo pergi!" Ajak Mia dengan suara lembut merayu.


"Tapi, Mia. Aku pikir kita akan berkencan di ranjangmu" Gio tampak tak mengerti.


Mia tertawa kecil.


"Kita akan jalan-jalan sebentar menikmati keindahan kota" Mia menggamit lengan Gio agar pria itu segera bangkit berdiri.


Gio menghela nafas,


Kenapa rencananya malah jadi kacau begini?


Akhirnya, Gio terpaksa mengikuti langkah Mia untuk meninggalkan apartemen mewah ini.


Mungkin Mia akan mengajaknya check in ke hotel.


Siapa yang tahu?


Mobil yang dikendarai oleh Gio, kini sudah melaju menembus jalanan kota yang padat oleh berbagai jenis kendaraan.


Terasa sekali suasana malam minggu di kota ini.


Jalan-jalan padat merayap, seakan kendaraan-kendaraan tak pernah ada habisnya.


Mia yang menjadi penunjuk jalan untuk Gio.


Baiklah, tak masalah Gio jadi supir malam ini. Toh setelah ini Gio akan segera bisa menikmati malam panjang bersama Mia.


Mobil Gio berhenti di depan sebuah butik ternama.


Apa ini?


Mia mengajak Gio ke butik?


Apa gadis ini akan memesan baju pengantin untuk pernikahan mereka berdua?


Ah kenapa Gio jadi mengkhayal sejauh ini.


Mia menjentikkan jarinya di depan Gio yang sepertinya sudah mulai gila.


Pria itu senyam-senyum sendiri padahal sedang tidak ada yang lucu di depannya.


Kalau bukan gila lalu apa namanya?


Mia menghela nafas dan memilih untuk langsung turun saja, meninggalkan Gio yang sepertiya sudah benar-benar hilang kewarasan.


Seharusnya Mia tadi melempar pria itu dari jendela apartemennya saja ketimbang mengajaknya ke butik.


Mia masuk ke dalam butik tersebut.


Beberapa karyawan butik langsung mengangguk hormat saat tahu nona Mia sang CEO datang ke butik mereka.


Gio sudah tersadar dari lamunannya sekarang.

__ADS_1


Dan Mia sudah tidak ada di sebelahnya. Sepertinya wanita itu sudah masuk ke dalam butik.


Gio memutuskan untuk menyusul Mia masuk ke dalam butik.


Namun tiga jam berikutnya, Gio merasa menyesal karena sudah mengikuti Mia.


Mia masih saja memilih-milih setelan baju kerja.


Gio tak mengerti kenapa para wanita selalu lama saat berbelanja atau membeli baju.


Sebenarnya apa yang mereka cari?


Bukankah semua baju itu bentuknya sama saja. Paling warnanya saja yang berbeda.


Gio menatap ke arah botol minuman di hadapannya yang kini sudah kosong.


Sudah tiga botol minuman Gio habiskan dan Mia belum selesai memilih-milih baju.


Astaga...


Gio akan berjamur di tempat ini sebelum sempat menikmati tubuh indah Mia.


Bruuk!


Mia melemparkan tiga buah paperbag ke pangkuan Gio membuat pria itu terlonjak kaget.


"Aku sudah selesai, kau akan mengantarku pulang atau hanya akan melamun di sini seperti orang bodoh?" Tanya Mia pedas sambil melotot ke arah Gio.


"Tentu, nona. Kita pulang sekarang" Gio langsung beranjak berdiri dan membawa paperbag yang tadi dilemparkan oleh Mia.


Mia sudah terlebih dahulu sampai ke mobil, dan segera masuk ke dalam tanpa menunggu Gio.


Biar saja pria brengsek itu menjadi sopir dan pelayannya beberapa menit kedepan, sebelum Mia membuat perhitungan yang akan di sesali Gio seumur hidupnya.


*****


Mia dan Gio sudah sampai lagi di apartemen milik Mia.


Mia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam sembilan dan sekarang supir pribadi Mia sedang menjemput Kyara.


Gio kembali merebahkan dirinya ke sofa ruang tamu. Bahkan Gio sudah mengantuk sekarang dan dia belum melakukan apapun bersama Mia.


Ah, Gio sudah tak tahan lagi.


Gio yang melihat Mia baru keluar dari kamarnya, langsung menerjang wanita tersebut, mengangkat Mia dan membawanya ke sofa yang ada di ruang tengah.


Masa bodoh jika setelah ini, wanita galak ini akan membunuhnya, yang penting Gio bisa menikmati tubuh Mia sekarang.


Mia yang kaget langsung menjerit dan menampar dengan keras pipi Gio membuat pria itu meringis kesakitan.


Namun bukan Gio namanya jika langsung menyerah hanya karena sebuah tamparan.


Gio kembali menerjang Mia dan menahan kedua tangan wanita itu agar Mia tak lagi berontak.


Gio memaksa untuk mencium bibir Mia yang merah merekah, namun sekuat tenaga Mia mengelak.


Dalam hati Mia merutuki kebodohannya sendiri.


Kyara belum datang dan Gio akan memperkosanya malam ini. Seharusnya sudah sejak tadi Mia mengusir pria brengsek ini dan tidak perlu membuat jebakan seperti ini.


Sekarang Mia seperti terkena senjatanya sendiri.


"Kau akan menikmatinya, nona Mia. Jadi jangan sok jual mahal!" Gertak Gio masih mencoba untuk mencium bibir ranum Mia.


Mia benar-benar sudah tak berkutik sekarang.


Sedikit lagi, Gio sudah hampir mendaratkan bibirnya di bibir Mia.


Namun tiba-tiba...


"Gio!!" Suara Kyara menggema di seluruh apartemen Mia, membuat Gio gelagapan dan segera bangkit berdiri.


"Kya...Kyara" ucap Gio terbata-bata.


Kini Mia bisa bernafas lega karena akhirnya bisa terlepas dari pria brengsek dan sialan tersebut.


Kyara menghampiri Gio dengan tatapan membunuh dan segera menghadiahi pria itu dengan dua tamparan keras.


Pipi Gio benar-benar terasa panas sekarang. Dalam semalam ada dua wanita yang menamparnya, dan sialnya mereka berdua adalah kakak beradik.


Mia tersenyum licik. Sebentar lagi akan ada pertengkaran hebat dan Mia sudah siap menjadi penonton atas hancurnya hubungan Kyara dan Gio.


"Dasar pria brengsek!" Umpat Kyara berapi-api.


"Aku kira kamu selugu penampilanmu. Nyatanya kamu juga pria brengsek!" Kyara masih tak berhenti mengata-ngatai Gio.


"Kakakmu yang menggodaku, Ky. Aku berani bersumpah. Dia mengundangku ke apartemennya dan mengajakku tidur bersamanya" Gio mencoba membela diri dan memberi penjelasan pada Kyara.


Sekarang Kyara ganti menoleh ke arah Mia seakan minta penjelasan.


'Ah, dasar gadis plin-plan. Masih saja percaya dengan ucapan si buaya darat' gumam Mia merasa kesal.


Mia segera mengambil ponselnya dan menyalakan rekaman suara yang berisi obrolannya bersama Gio tempo hari di kelab malam.


'Bagaimana jika aku memberimu seratus juta dan aku minta kamu untuk meninggalkan Kyara?'


'Bagaimana kalau anda naikkan lagi penawarannya. Kyara terlalu berharga untuk saya. Lagipula kalaupun anda memberitahu Kyara siapa saya sebenarnya, saya yakin gadis itu tidak akan percaya. Kyara sudah tergila-gila pada saya'


Dan Kyara semakin melotot tajam ke arah Gio yang kini sudah mengkeret karena semua kedoknya sudah terbongkar.


"Dasar pria brengsek!" Kyara kembali mengamuk dan menyerang Gio.


Namun secepat kilat Gio menghindar.


Gio berlari secepat mungkin menuju pintu keluar apartemen Mia.


Gio ingin secepatnya pergi dari apartemen terkutuk ini.


Gio benar-benar merasa sial hari ini.


Harapannya untuk tidur bersama CEO cantik dan kaya sudah menguap entah kemana.


Dan yang lebih sial, Gio juga harus kehilangan Kyara yang selama ini menjadi sumber keuangannya.


Sesaat suasana di apartemen itu hening setelah kepergian Gio.


Mia dan Kyara masih saling diam.


"Jadi kak Mia tadi menyuruhku ke sini memang untuk membuatku bertengkar dengan Gio?" Kyara angkat bicara.

__ADS_1


Gadis dua puluh tahun itu menghenyakkan dirinya di sofa ruang tengah yang keadaannya sekarang lebih mirip kapal pecah.


"Aku baru saja menyelamatkanmu dari laki-laki brengsek dan mata duitan. Seharusnya kamu berterima kasih" jawab Mia sambil menatap tajam ke arah Kyara.


Kyara berdecak sekaligus memutar bola matanya, masih kak Mia yang sombong dan gila hormat.


"Apa Kyara bisa minta uang jajan sekarang?" Kyara menengadahkan tangannya ke arah Mia.


Gantian Mia yang berdecak.


"Dasar gadis mata duitan" gumam Mia lirih.


Namun sepertinya Kyara mendengar itu.


"Anggap saja sebagai kompensasi karena kakak sudah menghancurkan hubunganku dengan Gio. Aku sedang patah hati sekarang. Jadi aku butuh shopping ke mall untuk menyembuhkan patah hatiku" ujar Kyara panjang lebar menjelaskan alasan sekaligus teori ngawurnya.


Mia langsung menyentil kening Kyara.


"Patah hati? Buaya darat sejenis Gio memang pantasnya ditinggalin, Ky! Jadilah wanita yang elegant!" Mia memberikan nasehat.


Kyara langsung mencebik.


"Elegant? Apa kakak bisa memberikan contoh? Kakak saja belum laku sampai sekarang" Kyara gantian mencibir sang kakak.


Refleks Mia langsung memukul adiknya tersebut dengan bantal sofa.


"Auuuw! sakit, Kak" Kyara mencebik tak terima.


"Pulang sana!" Mia mengusir.


"Aku mau tidur di sini sampai kakak ngasih aku uang jajan" Kyara sudah mengambil posisi berbaring di sofa ruang tengah.


Sepertinya gadis itu tidak peduli dengan kondisi ruang tengah yang berantakan.


Mia bersedekap sambil melotot tajam ke arah adik perempuannya tersebut.


Dan Kyara pura-pura mengabaikan kakak perempuannya tersebut. Gadis itu malah memejamkan matanya.


"Kita bisa pergi dan belanja bersama, Kak. Sedang banyak diskon di mall" ujar Kyara memberi ide. Mata gadis itu masih terpejam seakan sedang pura-pura tidur.


"Aku bukan wanita miskin yang hanya berbelanja saat ada diskon" jawab Mia pedas.


"Baiklah kalau begitu, nona kaya. Berikan kartu kredit unlimitedmu itu pada gadis miskin di hadapanmu ini" Kyara sudah bangkit dari posisinya semula dan sekarang sedang duduk sambil kembali menengadahkan tangan pada Mia.


Mia membuka ponsel yang sedari tadi ada di tangannya, menekan kontak sang papa dan menelponnya.


"Kakak menelpon siapa?" Kyara mulai curiga.


Bukannya menjawab, Mia malah tersenyum licik.


"Halo, papa" Mia menyapa sang papa sesaat setelah papa Andri mengangkat telpon Mia.


Kyara sudah melotot tajam ke arah sang kakak.


"Ada apa, Mia? Kamu gak pulang hari ini?" Tanya papa Andri di seberang telepon.


"Apa Kya..." Mia belum menyelesaikan kalimatnya tapi Kyara sudah merebut ponsel Mia secepat kilat dan mematikan sambungan telepon.


"Kyara!!" Geram Mia seraya mengejar adiknya tersebut yang kini masuk ke dalam kamar Mia.


Kyara menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"Kyara! Buka pintunya! Kembalikan ponselku!" Mia menggedor-gedor pintu kamarnya.


Sedangkan Kyara malah tertawa terbahak-bahak di dalam kamar sang kakak sekarang.


"Berikan kartu kreditnya dan aku akan mengembalikan ponsel kakak" Kyara memberi penawaran.


Mia berdecak berulang kali.


Dasar gadis mata duitan.


"Keluar kamu!" Mia menggedor sekali lagi.


Tapi Kyara masih bergeming.


"Iya atau tidak?" Kyara masih menunggu jawaban sang kakak untuk bernegosiasi.


"Iya. Keluarlah sekarang dan kembalikan ponselku" jawab Mia akhirnya.


Dasar gadis keras kepala. Yang ada di pikirannya hanya duit dan shopping.


Kyara membuka pintu kamar dan Mia segera merangsek masuk.


"Berikan ponselku!" Ucap Mia galak.


"Kartu kredit dulu" jawab Kyara santai.


Mia mendengus kesal.


Wanita itu lalu meraih dompetnya dan mengeluarkan benda plastik persegi itu dari dalam dompetnya.


"Ini, bawalah! Belilah semua sampah di mall itu untuk kamu jejalkan ke lemari besarmu di kamar" Mia memberikan kartu kredit itu dengan kasar ke atas tangan Kyara.


Sontak gadis itu langsung bersorak riang.


"Ini ponsel kakak. Terima kasih kakakku sayang" Kyara hendak mencium pipi Mia namun secepat kilat Mia menghindar.


"Aku bukan pacarmu, nona muda. Jangan coba-coba menciumku" Mia memperingatkan.


Kyara hanya nyengir.


"Supirku sudah menunggumu di lobi bawah. Dia akan mengantarmu pulang malam ini" tukas Mia lagi.


Kyara mencebik,


"Kyara mau shopping dulu, Kak" bantah Kyara cepat.


"Kau bisa shopping besok pagi. Sekarang sudah malam. Kau harus pulang atau aku akan mengambil lagi kartu kredit itu." Mia menunjuk ke arah kartu kredit yang kini masih di pegang oleh Kyara.


"Baiklah. Baiklah. Aku akan pulang." Kyara akhirnya menurut.


Meskipun dalam hati Kyara masih menggerutu.


"Kakak tidak ikut pulang? Ini weekend" Kyara baru ingat untuk mengajak sang kakak pulang.


Mia berpikir sebentar,


"Baiklah. Aku juga belum bertemu papa dan mama minggu ini. Ayo!" Mia menyambar tasnya dan segera keluar dari apartemennya tersebut. Kyara mengekori sang kakak.

__ADS_1


Dan kakak beradik itu berjalan beriringan menuju ke arah lift, untuk selanjutnya pulang ke rumah mama dan papa mereka.


__ADS_2