Nona Mia

Nona Mia
AKU TIDAK GILA


__ADS_3

Waktu sudah beranjak sore.


Mia baru tiba di apartemennya.


Seharian tadi Mia sibuk membuat janji dengan dokter kandungan yang bisa membantumenggugurkan kandungannya.


Ternyata tidak semudah yang Mia pikirkan.


Banyak dokter yang menolak untuk melakukannya karena tidak ada alasan medis apapun.


Kandungan Mia sehat dan janinnya berkembang dengan sangat baik. Meskipun Mia menawarkan bayaran besar untuk dokter-dokter tersebut. Namun mereka tetap menolaknya.


Ah sial!


Apa Mia harus pergi ke negara lain agar bisa menggugurkan kehamilannya ini?


Mia benar-benar tidak menginginkan bayi ini karena pria yang sudah menanamnya di rahim Mia adalah pria yang paling Mia benci di dunia ini.


Mia tidak mau mengandung bayi dari Bian brengsek.


Mia membuka pintu apartemen dengan frustasi.


Saat masuk ke ruang tengah, sudah ada mama Alin yang duduk diam di sofa. Dan tentu saja hal itu membuat Mia terlonjak kaget.


Kapan mama sambungnya itu datang?


"Mama?" Sapa Mia sedikit ragu.


Mama Alin menatap putri sambungnya itu dengan tatapan tajam.


"Apa ini Mia?" Tanya mama Alin seraya menunjukkan tespect yang tadi pagi Mia tinggalkan di atas meja rias.


Bodoh!


Seharusnya Mia tadi membuang benda sialan itu.


"Apa memangnya?" Mia pura-pura tak paham.


"Apa benda ini milikmu?" Tanya mama Alin sekali lagi.


"Bukan, Ma!" Jawab Mia cepat.


Gadis itu membuang wajahnya dan tidak berani menatap wajah sang mama.


"Jangan berbohong, Mia!" Sergah mama Alin dengan nada meninggi.


"Memangnya mama mau apa kalau benda itu milik Mia? Mama mau marah pada Mia?" Sahut Mia dengan nada tak kalah tinggi.

__ADS_1


"Jadi benar kamu sedang hamil sekarang? Katakan pada Mama siapa yang sudah melakukannya padamu, Mia?" Cecar mama Alin mulai emosi.


"Bukan urusan mama! Mia akan menggugurkan kandungan ini. Jadi mama dan papa tidak perlu tahu siapa yang sudah melakukannya ataupun menanggung malu karena kehamilan Mia yang diluar nikah ini," jawab Mia acuh.


"Apa katamu barusan?" Mama Alin sudah mendekat ke arah Mia. Wajah wanita paruh baya itu sudah merah padam menahan emosi.


"Mia akan menggugurkan kandungan ini. Apa mama puas sekarang?" Mia mengulangi jawabannya sekali lagi masih dengan nada tidak bersalah.


"Kamu keterlaluan, Mia! Dimana hati nurani kamu sebagai seorang perempuan? Kamu mau membunuh janin yang tidak berdosa ini?" Cecar mama Alin dengan emosi yang semakin meluap.


"Mia tidak pernah menginginkannya. Jadi untuk apa Mia mempertahankannya? Lagipula Mia juga membenci pria yang sudah melakukan hal itu pada Mia," sahut Mia tak kalah emosi.


"Jangan pernah berpikir untuk berbuat hal keji itu, Mia! Janin itu sudah ada dan tumbuh di rahim kamu. Kamu tidak bisa begitu saja membunuhnya hanya karena kamu tidak menginginkannya!" Bentak mama Alin sekali lagi.


"Mia sudah dewasa, Ma! Mia sudah bisa mengambil keputusan untuk diri Mia sendiri. Jadi Mama tidak perlu ikut campur!" Mia menuding ke arah mama Alin.


"Tentu saja Mama akan ikut campur karena ini menyangkut sebuah nyawa yang tidak berdosa," sahut mama Alin masih tidak mau kalah.


Mia bersedekap dan masih mendelik ke arah mama sambungnya tersebut.


"Mama sudah membereskan semua barang kamu. Kamu akan ikut mama sore ini dan mulai sekarang kamu akan tinggal di rumah mama dan papa," ujar mama Alin ikut bersedekap dan membalas tatapan tajam dari Mia.


"Apa? Mia tidak mau!" bantah Mia dengan cepat.


Emosi gadis itu sudah meledak tak terkendali.


"Mama akan memaksamu kalau begitu," sahut mama Alin cepat.


Tak berselang lama, dua orang bodyguard dengan tubuh tinggi besar masuk ke unit apartemen Mia.


"Mama mau menyeret Mia pulang?" Tanya Mia seolah tak percaya.


"Jika kamu terus memberontak dan tidak mau menurut, maka mama terpaksa melakukan hal itu," jawab mama Alin enteng.


"Mia tidak mau! Mama tidak bisa mengatur-atur hidup Mia!" Pekik Mia sekali lagi.


"Ikat tangannya dan bawa dia masuk ke mobil!" Perintah mama Alin pada dua bodyguard tadi.


Dengan sigap keduanya menangkap tubuh Mia dan mengikat tangan nona direktur tersebut.


Salah seorang bodyguard membawa Mia di pundaknya dan segera melangkah keluar dari unit apartemen Mia.


Mia terus meronta dan berteriak bak orang kesetanan.


Mama Alin mengganti kata sandi apartemen Mia sebelum pergi.


Sampai di lobi depan, seorang security menghentikan langkah mama Alin dan kedua bodyguardnya karena membawa Mia dengan paksa.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Apa yang sudah terjadi?" Tanya security tersebut.


"Putri saya depresi dan sedikit gila. Saya akan membawanya pulang dan berobat agar tidak mengganggu penghuni apartemen lain," jelas mama Alin setenang mungkin.


"Mama! Mia tidak gila, Ma!" Mia terus berontak dan meronta-ronta minta dilepaskan.


Mama Alin mengendikkan bahu pada security tadi,


"Tidak ada orang gila yang mengaku kalau dirinya gila, bukan begitu?" ujar mama Alin masih dengan nada yang tenang.


Security tadi hanya mengangguk dan mempersilahkan mama Alin serta kedua bodyguardnya untuk keluar dari gedung apartement.


Mobil mama Alin sudah siap di depan lobi.


Mia dimasukkan ke kursi bagian belakang, dan mama Alin duduk di sebelah Mia. Pintu dan jendela mobil sudah dikunci rapat, jadilah Mia tidak bisa berkutik sekarang.


Mia hanya bisa menatap marah pada mama sambungnya tersebut.


"Mama bahkan bukan mama kandung Mia. Mama tidak berhak melakukan ini semua pada Mia!" Bentak Mia masih dengan emosi yang meluap-luap.


Mama Alin menarik nafas panjang karena mendadak hatinya terasa nyeri dengan kata-kata pedas Mia barusan.


Mobil sudah melaju meninggalkan gedung apartemen dan membelah jalanan kota yang padat.


"Kau benar. Mama memang bukan mama kandung kamu. Mama tidak pernah melahirkanmu. Tapi janin yang sekarang ada di rahimmu, itu adalah anak kandung kamu, Mia. Itu darah daging kamu!" Sergah mama Alin dengan nada tegas.


"Kau boleh saja membenci pria yang sudah melakukan hal itu kepadamu, tapi kau tidak akan bisa membenci calon anakmu, Mia!" Imbuh mama Alin lagi masih dengan nada tegas.


Mia hanya diam dan tak menyahut lagi.


Suasana di dalam mobil hening hingga mobil tiba di rumah mama Alin.


Setelah mobil berhenti di depan garasi, mama Alin melepaskan ikatan di tangan Mia.


Gadis itu segera turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah tanpa berucap sepatah katapun.


"Saya ingin gerbang depan selalu tertutup dan dijaga dua puluh empat jam. Mia tidak boleh kemana-mana sendirian," mama Alin memberi perintah kepada security dan beberapa bodyguardnya.


"Baik Nyonya!" Jawab mereka serempak.


Mama Alin segera menyusul Mia masuk ke rumah. Gadis itu sudah tak terlihat di ruang tamu maupun ruang tengah. Sepertinya Mia langsung masuk ke kamarnya dan mengurung diri.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2