
Ting tong
Bel apartemen Mia berbunyi.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Mia baru saja akan menjemput Galen ke rumah kedua orang tuanya. Namun malah ada tamu yang datang.
Mia segera membuka pintu depan.
Dan saat tahu siapa yang datang, Mia mendadak merasa menyesal karena telah membuka pintu untuk pria brengsek ini.
"Malam, Mia," sapa Bian dengan raut wajah tanpa dosa.
"Aku sedang tidak menerima tamu malam ini. Jadi silahkan pergi!" Usir Mia yang sudah akan menutup kembali pintu apartemennya.
Namun rupanya gerakan Bian lebih cepat. Pria itu menggunakan salah satu kakinya untuk menahan pintu agar Mia tidak bisa menutupnya.
"Aku ingin bertemu dengan anakku, Mia," ucap Bian tegas.
Mia tersenyum mengejek,
"Anakmu? Anakmu yang mana memangnya? Sudah aku bilang, Galen bukan anakmu!" Mia menuding ke arah Bian.
Mia masih berusaha menutup kembali pintu apartemennya. Namun Bian tetap tak bergeming. Mia akhirnya meninggalkan pintu bodoh itu dan memilih masuk ke apartementnya.
Bian ikut masuk dan mengekori nona direktur tersebut.
Mia terlihat santai malam ini mengenakan celana jeans panjang dan kaos longgar. Rambut panjang nona direktur itu diikat ala ekor kuda.
"Mia, aku ingin bicara padamu," Bian memecah keheningan di apartemen Mia tersebut.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Galen. Dimana bocah laki-laki itu?
Mia sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Wajah nona direktur itu masih ketus tidak bersahabat.
Bian memilih untuk ikut duduk di sofa berbeda yang tidak jauh dari Mia meskipun nona direktur itu belum mempersilahkannya.
Mia mendelik ke arah Bian, namun sebisa mungkin Bian mengabaikannya.
"Mia aku tahu kamu marah padaku karena kejadian enam tahun yang lalu. Aku minta maaf." Ucap Bian dengan raut memohon.
Mia masih diam dan tak mengubah tatapan tajamnnya pada Bian.
"Mia, apa Galen adalah anakku?" Tanya Bian sekali lagi.
"Bukan!" Jawab Mia cepat dan tegas.
"Jangan membohongiku, Mia!" Sergah Bian merasa tidak terima.
__ADS_1
"Memangnya apa yang membuatmu berpikir kalau Galen adalah anakmu? Kenapa kamu percaya diri sekali?" Sahut Mia ketus.
"Karena aku adalah pria yang tidur denganmu malam itu! Aku yang sudah merenggut hal paling berharga milikmu, aku yang hampir gila karena terus dihantui rasa bersalah selama enam tahun ini. Kenapa kamu tidak menghubungiku atau menemuiku, Mia? Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu hamil anakku? Aku pasti pulang dan bertanggung jawab. Aku pasti menikahimu," cecar Bian panjang lebar seakan sedang mengungkapkan semua emosi dan uneg-uneg di dalam hatinya.
"Karena aku tidak butuh pria brengsek sepertimu!" Jawab Mia cepat.
"Kau menyakiti hatiku malam itu, Bian. Kau mencumbuku, kau tidur denganku, tapi kau terus saja mendesahkan nama Dea, Dea dan Dea. Aku Mia bukan Dea!" Imbuh Mia dengan nada yang meninggi.
Nona direktur itu sepertinya mulai kehilangan kendali.
"Apa?" Lirih Bian yang langsung membeku mendengar kata-kata Mia barusan.
"Mia, malam itu aku mabuk. Aku minum tiga botol bir sebelum kau datang. Aku bahkan tidak ingat sama sekali dengan apa yang sudah ku lakukan," Bian mencari alasan.
"Aku mencarimu ke kantor siang itu. Tapi kata Adel kau sudah pergi. Jadi aku menitipkan surat untukmu," imbuh Bian lagi mencoba menjelaskan.
"Aku membuang suratmu," sahut Mia ketus.
"Apa?" Sekali lagi Bian terkejut.
"Aku marah padamu. Aku membencimu, lalu kenapa aku harus membaca surat bodohmu itu?" Timpal Mia masih dengan nada yang tinggi.
"Jadi benar, Galen adalah anakku?" Tanya Bian sekali lagi.
"Galen anakku. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, aku yang bertaruh nyawa untuk melahirkannya, dan aku yang sudah membesarkannya selama lima tahun ini. Jadi kau tidak ada hak apapun untuk merebut Galen dariku!" Mia menuding ke arah Bian.
"Ayah Galen sudah mati," sahut Mia seraya bersedekap. Nona direktur itu membuang wajahnya.
"Apa!" Bian merasa tak terima.
"Galen tidak butuh seorang ayah! Aku bisa membesarkan Galen sendirian!" Mia masih keras kepala.
"Kau tidak bisa melakukan itu, Mia. Aku ayah kandung Galen! Sudah cukup kau memisahkan kami selama lima tahun ini. Sekarang aku yang akan mengatakan sendiri pada Galen kalau aku ayah kandungnya!" Bian beranjak dari duduknya dan masuk lebih dalam lagi ke apartemen Mia.
Satu persatu ruangan yang ada di apartemen tersebut di buka oleh Bian.
Pria itu sepertinya sedang mencari keberadaan Galen.
"Galen tidak ada di apartemen ini," ujar Mia ketus seakan memberitahu Bian kalau yang di lakukannya sekarang hanyalah buang-buang waktu.
"Silahkan pergi dari apartemenku dan jangan pernah menemuiku atau menemui Galen lagi!" Usir Mia yang belum beranjak dari duduknya.
Bian kembali duduk di sofa ruang tamu. Kali ini pria itu sedikit mendekat pada Mia,
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memberitahuku dimana Galen," ucap Bian ikut-ikutan keras kepala.
Ceklek,
__ADS_1
Pintu depan apartemen di buka dari luar.
Galen berlari-lari riang masuk ke apartemen Mia.
"Mommy!" Seru bocah lelaki itu yang langsung menghambur ke pelukan Mia.
"Hai, sayang. Siapa yang mengantarmu pulang?" Raut ketus di wajah Mia sudah menguap entah kemana. Berganti dengan raut hangat keibuan dan suara yang terdengar lemah lembut saat berbicara pada Galen.
"Om Mike yang mengantar Galen," seru Galen penuh semangat.
Tak berselang lama, Mike masuk dari pintu depan. Sahabat sekaligus asisten Mia itu terlihat santai mengenakan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang.
"Wah, sedang ada tamu rupanya," senyuman ramah langsung tersungging di bibir Mike.
"Hai, aku Mike," Mike mengulurkan tangan sekaligus memperkenalkan dirinya pada Bian.
Bian yang tadinya hanya mematung, sedikit ragu menyambut uluran tangan Mike.
"Aku, Bian." Jawab Bian tergagap.
Mike?
Mike siapa?
Apa dia suami Mia?
Apa dia papa baru Galen?
Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, Bian.
Nona Mia gadis yang cantik dan kaya, sangat wajar jika akhirnya dia bertemu pangeran impiannya.
Lihatlah pria ini.
Dia tampan dan sempurna, dan sangat serasi bersanding dengan nona Mia.
Bisikan-bisikan itu mendadak memenuhi kepala Bian.
Apa Bian merasa cemburu sekarang?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕