
Hari Sabtu,
Mia berulang kali mengecek arloji serta ponselnya. Tidak ada satupun pesan dari Bian.
Mia mencoba untuk menghubungi pria itu lagi. Dan lagi-lagi nomor tidak aktif.
'Kau tahu? Tadi malam saat aku mengantar Bian, pria itu memintaku menjagamu dan Galen. Dia juga mengatakan kalau aku akan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk Galen. Bukankah itu lucu sekali?'
Kata-kata Mike beberapa hari yang lalu kembali terngiang di benak Mia.
Apa kau memang sebodoh itu, Bian?
Kau bahkan tidak pernah bertanya tentang hubunganku dengan Mike. Lalu tiba-tiba kau membuat kesimpulan sendiri.
Mia tak berhenti menggerutu dalam hati.
"Mommy! Kapan papa datang?" Galen sekali lagi merengek pada Mia.
Mia berlutut dan memeluk putranya tersebut,
"Mommy rasa papa sedang sibuk hari ini. Bagaimana kalau kita ke rumah oma dan opa saja?" Mia berusaha membujuk Galen.
"Apa papa marah sama Galen?" Tanya Galen dengan raut sedih.
"Tidak, sayang. Papa hanya sedang sibuk saja." Ujar Mia sekali lagi.
"Apa kita jadi pergi piknik hari ini?" Tanya Galen lagi.
"Mungkin Galen bisa pergi bersama aunty dan om Mike. Bagaimana?" Mia mendadak punya ide.
"Galen mau!" jawab Galen bersemangat.
Mia segera mengemasi apa-apa yang perlu di bawa Galen.
Ibu dan anak itu pun segera pergi dari unit apartemen dan menuju rumah kedua orang tua Mia.
Mia benar-benar akan mengomeli Bian brengsek karena sudah ingkar janji pada Galen hari ini.
****
Di gedung kantor Mia,
"Jadi, sudah ada kabar dari calon suamimu?" Tanya Mike serius.
Mia menggeleng,
Mia sudah ke kedai es krim Bian hari Minggu kemarin, dan kata beberapa karyawannya, Bian sedang tidak ada di tempat.
Dan hingga hari ini Mia belum sempat lagi datang ke kedai bodoh itu karena jadwal pekerjaan Mia yang padat.
Ponsel pria itu juga tidak aktif sampai sekarang.
Dasar pria brengsek!
Mia menunjukkan pada Mike sebuah kotak cincin yang tak sengaja Mia temukan saat sedang mencari sesuatu di kamar Galen.
"Apa itu sebuah cincin?" Tanya Mike penasaran.
"Ya, dan ukurannya sangat pas di jari manisku," Mia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya dan melingkarkan di jari manisnya.
"Jadi, Bian sudah melamarmu dan memberikan cincin itu?" Mike semakin penasaran.
Mia menggeleng,
"Dia meninggalkan cincin ini di laci kamar Galen," jelas Mia seraya berdecak.
Dan Mike langsung tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Mungkin malam itu, Bian mengira kalau aku sedang melamarmu," tebak Mike yang masih tergelak.
"Benar-benar pria bodoh. Padahal dia bisa bertanya dan meminta penjelasan," Mia tak berhenti menggerutu.
Tok tok,
Adel masuk ke ruangan Mia,
"Semua berkas sudah siap, Nona. Pesawat berangkat dua jam lagi." Adel memberi laporan.
Mia mengangguk,
"Baiklah, ayo pergi!" Mia memberi kode pada Mike.
Ketiga orang itupun segera pergi meninggalkan gedung.
****
Mia sudah sampai di kedai es krim Bian.
Dan saat baru masuk, Mia langsung melihat pria itu sedang berdiri di sudut kedai.
Astaga!
Kenapa pria bodoh itu tampak berantakan?
Lagi-lagi Mia menggerutu dalam hati.
"Hai, Mia!" Bian menyapa Mia dengan canggung.
Selama sepekan Bian berusaha menghindari nona direktur ini. Tapi hari ini mendadak Mia datang lagi ke kedai.
"Aku ingin bicara," ucap Mia singkat.
Bian menghela nafas,
"Baiklah, ayo duduk disana!" Bian menunjuk ke dua bangku yang ada di sudut kedai.
"Aku minta maaf soal hari Sabtu kemarin. Aku benar-benar sibuk dan tidak sempat menghubungimu," ujar Bian cepat, seakan paham kalau Mia datang ke sini pasti karena hal itu.
"Kau tahu, kau sudah ingkar janji pada Galen dan anak itu marah seharian karena papanya tidak datang," Mia berdecak kesal.
"Aku benar-benar minta maaf, Mia," ujar Bian sekali lagi dengan nada bersalah.
"Aku tidak mau kau mengulanginya. Jangan berjanji pada Galen kalau kau tidak bisa menepatinya!" Gertak Mia dengan raut marah.
Bian mengangguk,
Aku tidak akan pernah membuat janji lagi pada Galen, Mia.
Aku akan pergi jauh sebentar lagi,
Bian hanya bergumam dalam hati.
"Dan aku harus pergi ke luar kota hari ini. Mama dan papa juga sedang pergi berlibur jadi apa kau bisa menjaga Galen hingga hari Sabtu?" Tanya Mia lagi.
Bian mengangguk dengan cepat.
"Tentu saja, aku akan menjaganya," jawab Bian bersungguh-sungguh.
"Kau bisa mengantar Galen ke apartemenku hari Sabtu malam," imbuh Mia lagi dan sekali lagi Bian hanya mengangguk.
"Kau akan pergi bersama Mike?" Tanya Bian tiba-tiba.
Bodoh!
Kenapa bertanya seperti itu?
__ADS_1
Tentu saja dia pergi bersama Mike, bukankah mereka akan menikah sebentar lagi?
Bian merutuki dirinya sendiri karena sudah mengajukan sebuah pertanyaan bodoh pada Mia.
Nona direktur itu belum menjawab saat terdengar suara Galen dari arah pintu masuk kedai,
"Papa!" Galen berlari riang dan langsung memeluk Bian.
Bocah itu masih mengenakan seragam sekolahnya.
Ada Mike juga yang mengikuti langkah Galen.
Bian kembali harus menahan rasa cemburu di hatinya.
"Aku akan pergi bersama Adel," Mia akhirnya menjawab pertanyaan aneh dari Bian.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut Bian.
Pria itu langsung menunduk dan sedikit salah tingkah
Mia mendekat pada Galen dan segera berlutut di hadapan putranya tersebut,
"Jangan nakal ya, sayang. Jangan membuat papa marah. Mommy akan kembali hari Sabtu," pesan Mia pada Galen.
Dan bocah lima tahun itu hanya mengangguk patuh.
"Kau tidak keberatan, kan? Menjaga Galen?" Mia bertanya sekali lagi pada Bian.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku akan mengantar Galen hari Sabtu malam," jawab Bian sedikit tergagap.
Setidaknya, di hari-hari terakhir Bian berada di kota ini, Bian masih bisa menghabiskan waktunya bersama Galen.
"Saatnya pergi, nona Mia," Mike mengingatkan.
"Baiklah, aku pergi dulu," Mia berpamitan pada Bian dan Galen.
Mia mengecup pipi Galen yang kini ada di gendongan Bian.
"Dan tolong cukurlah jambangmu itu! Karena itu benar-benar tidak nyaman untuk dilihat," Mia berbisik di telinga Bian sesaat setelah mengecup Galen.
Terang saja, hal itu langsung membuat Bian tersipu malu.
Kenapa Mia masih memperhatikan dan ikut campur dengan penampilan Bian?
Bukankah wanita itu akan segera menikah dengan pria lain sebentar lagi?
Mia dan Mike sudah melangkah pergi meninggalkan kedai es krim Bian.
"Benar-benar pria bodoh!" Mia tak berhenti berdecak kesal.
Mike terkekeh,
"Dan kau tergila-gila pada pria bodoh itu," timpal Mike dengan nada mengejek.
"Diamlah! Atau aku akan memotong gajimu!" Ancam Mia seraya memukul pundak Mike.
Asisten sekaligus calon adik ipar Mia itupun langsung diam. Mereka berjalan cepat menuju ke arah tempat parkir.
.
.
.
Nanti malam aku bakalan up episode terakhir 😆
Udah ketebak kan endingnya bagaimana?
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕