Nona Mia

Nona Mia
PESTA


__ADS_3

Mobil Mia masuk ke pelataran salah satu hotel berbintang lima yang ada di kota ini.


Mobil mewah berwarna merah menyala tersebut, berhenti tepat di depan lobi hotel.


Bian turun terlebih dahulu, dan segera mengulurkan tangannya agar di gamit oleh Mia.


Tanpa menunggu lama, Mia segera menggamit lengan Bian dan keduanya melangkah berbarengan masuk ke hotel mewah tersebut.


Pesta diadakan di ballroom hotel tersebut.


Sebuah pesta ulang tahun dari perusahaan Alexander sekaligus peresmian hotel berbintang milik perusahaan tersebut.


"Selamat datang, nona Mia." Suara Abram yang mendadak muncul di dekat Mia dan Bian lumayan mengejutkan.


"Selamat malam, tuan Abram. Senang akhirnya kita bisa berjumpa lagi." Mia membalas sapaan Abram dan sedikit berbasa-basi.


"Jadi, apa anda akan mengenalkan pada saya, pria yang sudah berhasil menaklukkan hati seorang nona Mia?" Abram sedikit melirik ke arah Bian yang hanya diam sedari tadi.


Mia mengeratkan gamitan tangannya di lengan Bian,


"Tentu saja. Perkenalkan, ini Bian. Pacarku," Mia memperkenalkan Abram pada Bian.


Dua pria berbeda kasta tersebut saling berjabat tangan dan melempar tatapan tajam.


"Jadi, apa anda juga seorang direktur muda, tuan Bian?" Tanya Abram masih menatap tajam pada Bian.


Bian tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Abram,


"Saya bukan direktur seperti anda, tuan Abram. Saya hanya pemilik sebuah kafe kecil di sudut kota," jawab Bian dengan nada merendah.


Mia sedikit terkejut dengan sikap Bian kali ini. Tidak terdengar nada kesombongan ataupun sikap pongah yang biasanya selalu di tunjukkan oleh Bian jika berbicara dengan Mia.


Abram bersiul ringan,


"Surprize! Saya sungguh tak menyangka jika anda sungguh merakyat dalam mencari seorang calon suami, Nona Mia." Apa Abram sedang memuji Mia?


"Anda bahkan menolak lamaran saya demi pria sederhana ini? Mengagumkan sekali," imbuh Abram masih berdecak kagum.


Mia memaksa untuk mengulas senyuman di bibirnya yang merah merekah,


"Saya tidak pernah menilai seseorang dari pangkat ataupun hartanya, tuan Abram. Bukankah perasaan adalah hal yang paling utama dalam sebuah hubungan?" Ujar Mia sok bijak.


Cih!


Sok bijak sekali nona kaya ini.


Bukankah biasanya dia selalu semena-mena terhadap kaum gembel dan kere sejenis diriku?

__ADS_1


Bian hanya bergumam dalam hati.


"Baiklah, selamat menikmati pesta malam ini. Senang bisa berjumpa dan berkenalan dengan anda, tuan Bian," Abram menganggukkan kepala ke arah Bian.


Dan dengan cepat, Bian balas menganggukkan kepala pada tuan direktur tersebut.


Sedetik kemudian Abram sudah meninggalkan MIia dan Bian, dan bergabung dengan tamu yang lain.


Pria yang tampan dan sopan.


Kenapa nona kaya ini menolaknya?


Apa nona kaya ini buta?


Mia masih menggamit lengan Bian dan menggiring pria itu menuju ke arah balkon yang lebih sepi.


Mia sungguh benci dengan pesta-pesta semacam ini.


Setelah tiba di balkon, secepat kilat Mia melepaskan gamitan tangannya di lengan Bian. Gadis itu berdiri di dekat pagar pembatas yang ada di balkon, dan memandang gemerlap lampu kota yang temaram.


Apa nona kaya ini ingin melompat dari pagar itu?


Mendadak Bian merasa khawatir.


Buru-buru Bian mendekat ke arah Mia untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


Pria itu bertanya seraya berbisik pada Mia.


Mia mengernyit bingung dengan pertanyaan Bian barusan,


"Kenapa aku harus melompat dari sini? Aku tidak gila, Bian!" Sanggah Mia yang merasa bingung dengan pertanyaan Bian barusan.


Bian terkekeh,


"Menurutku kau sedikit gila. Kau baru saja menolak perjodohan dengan seorang pria yang sempurna, nona Mia," ujar Bian sok tahu.


"Pria sempurna? Apa maksudmu Abram?" Sahut Mia dengan nada sinis.


Bian mengangguk,


"Pria itu tampan, kaya, tutur katanya lembut, dan dia juga sopan. Jadi apa yang membuatmu menolaknya?" Tanya Bian merasa penasaran.


Mia tertawa sinis,


"Apa seorang pria brengsek baru saja memuji pria brengsek lainnya?" Tanya Mia sarkas.


Bian mengernyit tak mengerti.

__ADS_1


"Pria yang baru saja kau puji. Yang kau bilang tampan, mapan, dan sopan itu, sudah tidur dengan belasan, tidak dengan puluhan gadis sepanjang hidupnya. Bukankah itu menjijikkan?" tukas Mia seraya melemparkan pandangannya ke jalanan padat di depan gedung tempatnya berdiri.


Bian menelusur arah pandangan Mia dan ikut memandang cahaya lampu kota yang berpendar di sekitar hotel bintang lima tersebut.


"Bukankah itu hal biasa di kalangan kalian orang kaya yang punya banyak uang?" Tutur Bian mengemukakan pendapatnya.


Mia menatap ke wajah Bian yang masih memandangi kelap-kelip lampu kota,


"Jadi, kalau dirimu sekaya Abram, apa kau juga akan meniduri banyak gadis?" Tanya Mia dengan nada sinis.


Bian menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari nona direktur tersebut,


"Mungkin aku akan mengencani banyak gadis, jika aku punya banyak uang seperti Abram. Tapi aku tidak akan tidur bersama gadis-gadis itu. Aku punya prinsip, nona Mia, " Bian masih tak mengalihkan pandangannya.


"Aku hanya akan menikmati hal paling indah itu bersama gadis yang aku cintai, yang kelak akan menghabiskan sisa usianya bersamaku," imbuh Bian sok bijak. Kini pria itu beralih menatap ke arah Mia yang masih menatapnya dengan sinis.


"Kau sudah menemukan gadis itu?" Tanya Mia dengan nada mengejek.


Bian mengangguk dengan cepat,


"Aku baru saja menemukannya. Aku akan segera mendekatinya, menyatakan perasaanku, dan melamarnya sebagai istriku," jawab Bian dengan penuh percaya diri.


Sesaat senyuman sinis di wajah Mia langsung sirna.


"Apa maksudmu gadis itu adalah Dea?" Tanya Mia sedikit ragu.


Bian tersenyum lebar,


"Kau memang cerdas, nona Mia. Kau selalu bisa menebak isi pikiran semua orang," tukas Bian seraya terkekeh.


"Tapi, Bi! Kamu baru saja berkenalan dengan Dea. Kamu tidak bisa langsung menikahinya begitu saja," protes Mia sedikit keberatan.


"Maksudku, kamu bukan pria bodoh yang akan menikahi gadis yang baru kamu kenal, kan? Bagaimana jika ternyata Dea itu tidak selugu penampilannya?" Mia mengkoreksi kalimatnya.


"Aku percaya dengan kata hatiku. Saat hatiku mengatakan kalau Dea gadis yang lugu dan baik hati, maka itu artinya Dea memang gadis yang lugu dan baik hati," sahut Bian penuh percaya diri.


"Tapi ucapanmu ada benarnya. Mungkin aku akan pedekate dan mengorek lebih jauh semua hal tentang Dea sebelum menjalin hubungan serius dengan gadis itu," imbuh Bian lagi.


Mia bersedekap seraya menghela nafas dengan kasar.


"Baiklah sudah cukup. Aku sungguh tidak tertarik dengan curhatan mengenai perasaanmu itu," ujar Mia dengan nada ketus.


Bian hanya tersenyum simpul dan memilih untuk tidak menyahut lagi.


Kenapa nona direktur ini bersikap sangat aneh? Bukankah tadi dia yang mulai pembahasan mengenai Dea? Dan sekarang dia juga yang berubah menjadi ketus karena Bian berbicara mengenai perasaannya pada Dea.


Dasar nona direktur aneh!

__ADS_1


__ADS_2