
Mia dan papa Andri sedang mengantar Galen ke sekolah pagi ini
"Kemarin Galen kabur dari sekolah karena ingin bertemu papa. Tapi Galen tersesat. Lalu papa menemukan Galen di pinggir jalan yang di sana." Galen menunjuk ke arah lampu merah yang ada di depan mereka.
Galen sedang bercerita tentang apa yang terjadi kemarin.
Mia dan papa Andri memilih untuk fokus mendengarkan dan berusaha tidak menyela.
"Papa mau mengantar Galen ke kantor mommy, tapi Galen tidak mau. Galen ingin main bareng papa. Jadi papa mengajak galen berenang di kolam renang yang luaaas itu. Pemandanganya bagus. Dan papa sudah janji mau mengajak Galen ke sana lagi," lanjut Galen dengan mata yang berbinar.
Mia dan papa Andri saling melempar pandang.
Mustahil Galen berdusta atau mengarang cerita. Galen selalu berkata jujur tentang apa-apa yang dialaminya.
"Mommy!" Panggil Galen.
"Iya, sayang!" Jawab Mia cepat.
"Kapan mommy akan mengajak Galen main ke rumah papa?" Tanya Galen lagi.
"Kita tidak bisa ke rumah papa, Galen. Papa sudah tidak ada di kota ini," sahut Mia berdusta.
"Mommy bohong! Kemarin mommy bilang kalau papa mau pergi jauh. Tapi papa masih ada di sini. Kenapa mommy melarang Galen bertemu papa? Galen berjanji akan jadi anak baik dan tidak kabur dari sekolah lagi. Galen mau bertemu papa, Mommy!" Galen mulai menangis tersedu.
Papa Andri menepikan mobilnya agar Mia bisa menenangkan Galen.
"Galen, berhenti merengek, oke! Kita tidak bisa lagi bertemu papa. Om Bian bukan papanya Galen!" Ucap Mia sedikit membentak.
Galen langsung diam. Tapi wajah bocah itu berubah menjadi marah.
Mia akan membiarkannya saja.
Mia yakin tak lama lagi Galen akan kembali ceria.
Papa Andri melanjutkan mengemudikan mobil menuju sekolah Galen.
"Jangan terlalu keras padanya, Mia," nasehat papa Andri.
"Lalu Mia harus bagaimana, Pa? Bukankah papa juga melarang kami bertemu lagi dengan pria brengsek itu," sahut Mia ketus.
Papa Andri menghela nafas.
Sepertinya opa dari Galen itu merasa serba salah sekarang.
Tak bisa di pungkiri, kalau Galen sudah terlanjur bergantung pada Bian.
****
Eve baru tiba di rumah Bian.
Eve akan mengantar Bian ke bandara hari ini.
"Abang!" Panggil Eve dari pintu depan.
Bian menyeret kopernya dan segera menghampiri Eve.
__ADS_1
"Astaga! Abang apa yang sudah terjadi?" Eve yang melihat wajah lebam Bian langsung khawatir.
Adik perempuan Bian itu langsung memeriksa dengan seksama luka di wajah Bian.
"Abang baik-baik saja, Eve. Abang hanya terpeleset di kamar mandi," jawab Bian berdusta. Pria itu segera menampik tangan Eve yang ingin memeriksa wajahnya.
"Abang berbohong! Mana ada orang kepleset lukanya seperti ini. Abang berkelahi?" Tuduh Eve cepat.
Sebagai seorang perawat tentu saja Eve paham mana luka karena jatuh dan mana luka karena berkelahi.
"Abang tidak mau membahasnya. Bisa kita berangkat sekarang?" Ujar Bian yang sudah berjalan menuju mobil Eve.
Bian memasukkan kopernya ke bagasi mobil Eve, lalu pria itu segera ikut masuk ke dalam mobil.
"Apa ini ada hubungannya dengan nona Mia?" Tanya Eve menyelidik. Wanita itu sudah duduk di kursi pengemudi dan sudah siap melajukan mobilnya.
"Abang hanya ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya. Tapi om Andri merasa tidak terima dan langsung memukuli abang seperti ini," Bian akhirnya curhat pada Eve.
Eve menghela nafas prihatin.
"Bisakah kita mampir ke sekolah Galen sebentar. Ini sudah jam pulang sekolah." Bian memohon pada Eve.
"Abang mau apalagi. Sudah cukup abang berhubungan dengan keluarga nona Mia. Jika mereka melarang abang bertemu Galen, abang jangan nekat lagi," nasehat Eve mulai khawatir.
"Abang hanya ingin melihat Galen. Abang tidak akan turun dari mobil ataupun menyapanya. Abang hanya ingin melihat anak abang," sahut Bian bersikeras.
"Baiklah, baiklah. Tapi abang janji tidak akan menyapa Galen!" Sergah Eve sekali lagi.
"Iya, abang janji," jawab bian cepat.
Wanita itu menghentikan mobilnya tak jauh dari pintu gerbang sekolah taman kanak-kanak tersebut.
Mia terlihat berjalan keluar dari gerbang sambil menggandeng Galen.
Bian menatap dengan khusyuk ibu dan anak tersebut.
Andai, Bian juga di sana. Ikut menggandeng tangan Galen dan mengantar jemputnya ke sekolah. Pastilah Bian akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini.
Bian menyeka butir bening yang ada di sudut matanya.
Baru kemarin Bian menghabiskan waktu bersama Galen. Kini rasa rindu itu sudah membuncah kembali di dadanya.
Galen dan Mia sudah masuk ke mobil milik Mia. Tak butuh waktu lama, dan mobil segera melaju meninggalkan taman kanak-kanak tersebut.
"Bang!" Eve menepuk punggung abangnya berusaha menyalurkan kekuatan.
"Abang baik-baik saja, Eve. Ayo kita ke bandara sekarang. Sebelum abang tertinggal pesawat," jawab Bian seraya memaksakan senyuman di bibirnya.
"Kapan abang akan kembali?" Eve sudah melajukan mobilnya menembus jalanan kota yang sedikit lengang.
"Dua minggu paling cepat. Setelah ada penanggung jawab baru di gerai pusat, abang akan langsung kembali ke sini," ujar Bian menjelaskan.
"Tapi abang pasti kembali kan?" Tanya Eve khawatir.
Mobil sudah masuk ke kawasan parkir bandara.
__ADS_1
Bian tersenyum lebar seraya mengusap kepala adik perempuannya tersebut,
"Tentu saja, Eve! Abang pasti kembali. Abang juga masih ingin bertemu dengan Galen," jawab Bian kembali dengan wajah sendu.
"Terima kasih karena sudah mengantar abang. Salam untuk Steve dan Rachel. Abang pergi dulu," pamit Bian pada adik kesayangannya tersebut.
"Hati-hati, abang! Tetap jaga kesehatan," pesan Eve sebelum Bian turun dari mobilnya.
Bian akan pergi sebentar dari kota ini, namun Bian akan secepatnya kembali untuk bertemu dengan Galen, putranya.
****
"Galen," Mia membangunkan Galen yang belum bangun dari tidur siangnya, padahal hari sudah beranjak gelap.
Tidak biasanya Galen tidur selama ini.
Galen berubah murung belakangan ini, atau lebih tepatnya sejak Mia melarangnya bertemu Bian.
Selalu ada bodyguard yang mengawal Mia dan Galen saat mereka pergi ke mall atau pusat keramaian lain. Papa Andri seperti tidak mau kecolongan lagi.
"Galen," Mia menggoyangkan sekali lagi badan anaknya tersebut.
Tunggu,
Kenapa badan Galen terasa panas?
Mia memeriksa kening Galen dengan punggung tangannya.
"Auw, Panas sekali" gumam Mia yang mulai panik.
"Mama! Mama!" Mia berteriak memanggil sang mama.
"Galen, bangun sayang!"
Mama Alin dan papa Andri tergopoh-gopoh masuk ke kamar Mia setelah mendengar teriakan dari Mia.
"Mia, ada apa?" Tanya papa Andri khawatir.
"Galen badannya panas, dan dia belum bangun sedari tadi," ujar Mia yang kini mulai terisak.
Papa Andri berusaha membangunkan cucunya tersebut. Namun tetap nihil. Mata Galen tetap terpejam.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Papa Andri sudah membopong Galen.
Mia dan mama Alin mengikuti papa Andri dengan panik. Bergegas mereka pergi ke rumah sakit.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
__ADS_1