
Jam makan siang baru saja berlalu beberapa saat yang lalu. Mia kembali larut dalam lamunannya tentang Bian di dalam ruang kantornya.
Entahlah, belakangan ini nona direktur itu suka sekali melamun.
Netra Mia menatap ke arah jalanan padat yang ada di depan gedung kantornya. Jalanan yang selalu di penuhi oleh segala jenis kuda besi.
Suara pintu yang dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu membuat Mia terlonjak kaget.
Papa Andri masuk ke ruangan Mia. Kyara terlihat mengekor di belakang papa Andri.
"Selamat siang, kakakku yang kaya," sapa Kyara seraya mendaratkan bokongnya di sofa.
Mia sedang malas menanggapi celotehan dari sang adik. Jadi nona direktur itu memilih untuk diam saja.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Mia?" Gantian papa Andri yang menyapa Mia.
"Aku yakin kak Mia sedang memikirkan Bian, pangeran impiannya," bukan Mia melainkan Kyara yang menyahut dan menjawab pertanyaan dari papa Andri.
Mia berdecak,
"Jangan sok tahu!" Sergah Mia yang tiba-tiba merasa marah karena Kyara menyebut-nyebut nama Bian.
"Ngomong-ngomong soal Bian, ada hal penting yang ingin papa bicarakan denganmu, Mia. Duduklah!" Papa Andri sudah duduk di kursi kerja Mia.
Mia duduk seberang meja di hadapan sang papa.
"Hal penting apa?" Tanya Mia sedikit malas.
"Mama dan papa sudah tahu semuanya tentang Bian. Kenapa kamu membayar Bian sebagai pacar sewaan dan membawanya ke rumah untuk menipu mama dan papa?" Tanya papa Andri dengan raut wajah tidak senang.
Mia memutar bola matanya,
"Bukankah sejak awal Mia sudah bilang kalau Mia tidak mau di jodohkan? Tapi papa terus saja memaksa Mia. Jadi jangan salahkan Mia kalau akhirnya mengambil jalan itu!" Jawab Mia dengan nada ketus.
Papa Andri menghela nafas, mencoba mengendalikan emosinya.
Pria paruh baya itu juga memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.
"Lalu sekarang mau kamu bagaimana, Mia?" Tanya papa Andri seraya menatap tajam ke arah putri sulungnya tersebut.
Mia berdecak,
"Mia mau, Papa tidak perlu lagi mengurusi hal pribadi Mia. Papa tidak perlu repot-repot menjodohkan Mia dengan pria manapun apalagi memaksa Mia untuk segera menikah. Mia bisa mencari calon suami sendiri," tutur Mia mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
"Lalu kapan kamu akan mulai mencari calon suamimu itu?" Tanya papa Andri masih menatap Mia dengan tajam.
Mia tampak salah tingkah,
"Mia sedang mencarinya sekarang," sahut Mia sedikit gelagapan.
Kyara yang duduk di sofa dan mendengarkan percakapan diantara Mia dan papa Andri sedikit terkekeh.
"Bian sudah punya calon istri, kamu tidak ada niat untuk mengganggunya, kan?" Tanya papa Andri lagi.
"Tentu saja tidak!" Sergah Mia cepat.
"Lagipula, kenapa papa membawa-bawa Bian? Bukankah papa sudah tahu kalau Bian hanya pacar sewaanku?" Imbuh Mia lagi yang merasa tak terima.
__ADS_1
Papa Andri hanya mengendikkan bahu,
"Karena baru kemarin papa melihat seorang nona Mia yang phobia jarum rela ditusuk dengan jarum dan diambil darahnya hanya demi menyelamatkan seorang pria bernama Bian. Kau bahkan begitu keras kepala dan memaksa untuk mendonorkan darahmu," ujar papa Andri yang langsung membuat Kyara tergelak.
Berbeda dengan Mia yang kini wajahnya merah padam.
"Bian sudah menyelamatkan Mia dari kawanan begal. Jadi tidak ada salahnya, kan kalau Mia ganti menyelamatkan Bian dengan mendonorkan darah Mia?" Mia mencoba mencari pembenaran.
"Tentu saja tidak," sahut papa Andri seraya menahan tawanya karena melihat wajah Mia yang masih memerah.
"Sungguh pengorbanan yang luar biasa. Bahkan kakak sampai demam tiga hari karena menyelamatkan seorang pria yang selalu kakak sebut sebagai pria brengsek," Kyara ikut menimpali. Gadis itu masih saja tergelak.
Mia memutar tubuhnya dan sekarang mendelik ke arah Kyara yang masih tergelak. Namun seperti biasa, Kyara memilih untuk mengabaikan tatapan membunuh dari kak Mia. Gadis itu pura-pura sibuk dengan layar ponselnya.
Papa Andri tersenyum simpul,
"Papa harap kamu tidak jatuh cinta pada Bian karena dia sudah punya calon istri sekarang," nasehat papa Andri pada sang putri
Mia memejamkan matanya sebelum mengiyakan nasehat dari papa Andri
Sayangnya Mia sudah terlanjur jatuh cinta pada pria itu.
Mia ingin menolak dan membuang jauh rasa ini, tapi hati Mia tidak bisa.
Mia mencintai Bian.
"Tentu saja, Papa. Mia tidak akan menjadi penghancur hubungan orang lain. Bukankah itu yang selalu papa ajarkan ke Mia?" ujar Mia sedikit berdusta. Gadis itu memaksa untuk mengulas senyum di bibirnya, meskipun hati Mia berontak.
Mia sudah terlanjur mencintai Bian. Jadi Mia akan mengungkapkan perasaannya pada pria itu.
Mia sangat yakin kalau sebenarnya Bian juga mencintai Mia.
"Baiklah kalau begitu. Masalah selesai. Mama dan papa masih menunggu kamu membawa calon suami pilihanmu ke rumah. Sekarang, papa akan kembali ke kantor papa," papa Andri sudah beranjak dari duduknya. Mia ikut beranjak dan merangkul sang papa.
"Kyara!" Papa Andri memanggil Kyara yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Kyara masih ingin di sini, Pa. Nanti saja Kyara pulang bersama kak Mia," sahut Kyara tanpa memalingkan wajahnya dari layar ponsel.
"Kalian tidak akan bertengkar, kan?" Tanya papa Andri khawatir.
"Kami bukan anak kecil, Pa," dengkus Mia seraya memutar bola matanya.
Papa Andri terkekeh,
"Papa pergi dulu," papa Andri mengecup kening Mia dan segera keluar dari ruangan putrinya tersebut.
Sesaat suasana hening setelah kepergian papa Andri. Mia duduk di sofa di samping Kyara.
"Kakak tidak menjenguk Bian?" Tanya Kyara berbasa-basi.
Mia mengendikkan bahu,
"Sudah ada babysitter yang menjaga pria itu. Jadi aku rasa kehadiranku tidak terlalu dibutuhkan," jawab Mia dengan nada kecewa.
"Kakak sungguh jatuh cinta pada pria brengsek itu?" Kali ini Kyara menghadap ke arah Mia dan bertanya dengan nada serius.
Mia menangkupkan kedua tangannya hingga menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti, Kya. Aku terus saja memikirkan pria brengsek itu. Tapi hatiku juga sakit karena Bian sudah punya Dea sekarang," lirih Mia yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kakak jatuh cinta," timpal Kyara cepat.
"Lalu kenapa aku harus jatuh cinta pada pria brengsek seperti Bian? Seperti tidak ada laki-laki lain saja," keluh Mia yang kini duduk meringkuk di atas sofa. Nona direktur itu memeluk lututnya sendiri.
Kyara terkekeh.
"Kakak terlalu membenci pria brengsek itu. Jadilah sekarang rasa benci itu berubah jadi cinta," Kyara mulai berteori.
"Sok tahu kamu!" Mia mengacak rambut adik kesayangannya tersebut.
"Kakak sudah mengungkapkan perasaan kakak pada Bian?" Tanya Kyara kepo.
Mia menggeleng,
"Bian mencintai Dea. Mungkin dia akan langsung menolak mentah-mentah saat aku mengungkapkan perasaanku kepadanya," jawab Mia seraya tertawa sumbang.
Sepertinya nona direktur itu tengah menertawakan dirinya sendiri.
Bukankah ini seperti sebuah karma?
Kau dulu membenci semua pria dan menganggap mereka semua brengsek.
Lalu kau jatuh cinta pada satu pria brengsek itu, tapi ternyata cintamu hanya bertepuk sebelah tangan karena pria itu sudah mencintai gadis lain.
"Kakak belum mencobanya, kenapa sudah menyerah?" Timpal Kyara sekali lagi.
"Maksudmu? Kamu menyuruh kakakmu ini menjadi perusak hubungan orang, begitu?" Mia terlihat tidak senang.
"Bukankah kak Mia memang seperti itu? Coba aku hitung sudah berapa sekretaris kakak yang mengundurkan diri karena kakak ikut campur dengan urusan percintaan mereka," Kyara memainkan jarinya seakan mulai berhitung.
Mia berdecak,
"Itu masalalu, Kya," Mia mencoba mengelak.
"Dan sekarang kakak tidak ada nyali untuk memisahkan Bian dari Dea? Kakak takut jika Bian semakin membenci kakak, bukan begitu? Oh Tuhan, kakakku sudah berubah menjadi seorang bucin," sekali lagi Kyara terkekeh.
"Bian sudah membenciku sekarang. Menurutnya aku ini gadis jahat yang tidak akan pernah pantas untuknya. Bukankah itu menyakitkan?" Sahut Mia mulai kesal.
"Bian juga bukan pria baik. Dia brengsek, licik, dan suka sekali berbohong. Bukankah dia juga sama jahatnya seperti diriku?" Imbuh Mia masih dengan nada berapi-api.
Kyara tergelak,
"Dan dua orang jahat ini baru saja saling menyelamatkan. Hahaha, kenapa drama di antara kalian harus selucu ini?" Timpal Kyara yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Tertawalah sepuasmu!" Mia mulai kesal sekarang. Nona direktur itu beranjak dari sofa dan membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman.
"Janur kuning belum melengkung, kakakku yang bucin. Kakak masih bisa menemui Bian sekarang, berpura-pura berterima kasih karena dia sudah menyelamatkan kakak dari kawanan begal, dan sekalian saja kakak ungkapkan perasaan kakak kepadanya," Kyara memberi saran.
"Dia akan langsung menolakku," jawab Mia pesimis.
"Tapi setidaknya kakak sudah mengungkapkan perasaan kakak, keajaiban bisa terjadi kapan saja," sahut Kyara sok bijak.
Mia hanya mendengus.
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu! Biar saja rasa cinta bodoh ini menguap pergi saat Bian sudah berdiri di altar bersama Dea dan mengucapkan janji suci di depan Tuhan. Aku akan melupakan pria brengsek itu!" Tekad Mia dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Kyara hanya mencibir,
"Terserah kakak saja," sahut Kyara lirih.