
Bian duduk di ruang depan rumah kontrakannya dan masih sibuk dengan ponselnya. Pria itu sedang mencari-cari kontak milik Kyara yang seingatnya sudah ia simpan di dalam ponselnya.
"Ketemu!" Bian bersorak senang karena akhirnya berhasil menemukan nomor ponsel Kyara.
Baiklah, saatnya menyusun strategi. Bian akan memanfaatkan kepolosan seorang Kyara untuk menguras habis uang nona kaya itu.
Sudah bisa Bian bayangkan, pundi-pundi rupiah yang akan bisa ia kumpulkan jika dirinya berpacaran dengan Kyara.
Bian akan mulai mendekati gadis polos itu.
Bim bim,
Suara klakson mobil dari depan rumah, membuyarkan semua lamunan Bian tentang rencana liciknya pada Kyara.
Bian melongok sebentar ke jendela dan netranya segera menangkap mobil putih yang kini terparkir manis di depan rumah kontrakan.
Sudah satu bulan ini, dokter Steve selalu mengantarkan Eve pulang saat gadis itu selesai bekerja di kliniknya.
Apa mereka berdua pacaran?
Entahlah,
Eve selalu mengelak saat Bian menanyakan perihal hubungannya dengan Steve.
Kalau Bian jadi Eve, Bian pasti akan langsung mencari celah untuk mendekati dokter kaya tersebut.
Kapan lagi punya pacar dokter tampan yang juga tajir? Sayangnya adik kesayangan Bian itu terlalu lugu dan polos.
***
"Terima kasih, Dokter. Karena sudah mengantarku pulang," ucap Eve membuka obrolan.
Eve dan Steve sedang dalam perjalanan pulang dari klinik milik Steve
Entah sudah yang ke berapa kali, Steve mengantar Eve pulang ke rumah saat gadis itu sudah selesai bekerja di klinik milik Steve.
Eve sudah sering menolaknya, tapi Steve selalu saja memaksa.
"Steve. Just Steve. Jangan memanggilku dokter jika tidak sedang di klinik, Eve! Kamu bukan pasienku," pesan Steve sekali lagi.
Eve hanya mengangguk sambil menunduk.
"Kamu sudah memikirkannya?" Tanya Steve selanjutnya
"Memikirkan apa?" Tanya Eve pura-pura tidak tahu dan balik bertanya.
Steve berdecak,
"Tawaranku waktu itu, Eve. Ini sudah lebih dari satu pekan dan kamu belum memberikan jawaban," jawab Steve sedikit kecewa.
"Aku... aku tidak bisa menerimanya, Steve. Aku tidak mau merepotkanmu ataupun berhutang budi padamu," tukas Eve lirih. Gadis itu memilih untuk melempar padangannya ke jalanan di depan mereka
"Aku tidak akan menganggap itu sebagai hutang budi, Eve. Aku benar-benar ingin membantumu dan memberimu kesempatan itu." Ucap Steve bersungguh-sungguh.
Mobil Steve masuk ke gang rumah Eve yang tidak terlalu besar.
Eve masih diam dan tidak menanggapi kata-kata Steve barusan. Eve benar-benar dilema sekarang.
Hingga mobil Steve berhenti di depan rumah Eve, susasana di dalam mobil itu tetap hening.
"Eve," Steve menggenggam kedua tangan Eve.
"Aku bersungguh-sungguh ingin membantumu" lanjut Steve lagi.
"Steve kamu pria yang baik, kenapa kamu memilih diriku yang miskin ini? Aku tidak pantas untukmu, Steve," lirih Eve dengan nada sendu.
"Jangan bilang begitu. Kamu sudah berjanji kalau kita akan menjalani ini dan membiarkan semuanya mengalir. Aku tidak pernah menilai seorang gadis dari harta dan kedudukan, Eve. Aku mencintaimu. Apa salahnya?" Steve mengusap lembut wajah Eve.
Eve hanya menggeleng. Gadis itu segera melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil Steve tanpa berpamitan.
Flashback on
Beberapa minggu yang lalu,
Ini adalah hari Sabtu.
Seperti biasa, Eve datang ke klinik milik Steve setelah jam makan siang.
Sebenarnya, klinik ini baru buka pukul empat sore, namun Eve selalu datang setelah jam makan siang, agar bisa membersihkan klinik yang juga merangkap sebagai tempat tinggal Steve tersebut.
__ADS_1
Jam dua siang biasanya Steve baru kembali dari dinas di rumah sakit.
Dokter muda itu memang praktek di rumah sakit pagi hingga siang. Lalu praktek di kliniknya sendiri sore hingga malam. Benar-benar pria pekerja keras.
Di klinik kecil milik Steve itu, selain Eve ada dua pegawai Steve yang lain.
Satu di bagian obat, dan satu lagi seorang perawat sekaligus admin yang mengurus bagian pendaftaran.
Eve sendiri selain bertugas membersihkan klinik, kadang juga membantu di bagian pendaftaran, terutama jika pasien sedang membludak.
Eve memang gadis yang cerdas dan cepat belajar, karena itulah gadis itu cepat beradaptasi di klinik milik dokter Steve meskipun Eve bukanlah lulusan sekolah kesehatan.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, namun dua rekan Eve belum juga datang. Bukankah ini aneh?
Selama hampir satu bulan bekerja di klinik ini, dua rekan Eve itu belum pernah datang terlambat seperti sekarang ini.
Dokter Steve sendiri sudah pulang sejak tadi. Namun pria itu langsung naik ke lantai atas dan belum turun sampai sekarang.
Entahlah,
Eve menggonta-ganti channel televisi yang ada di ruang tunggu pasien. Semua yang menjadi pekerjaan Eve sudah sekesai dan sudah beres sejak satu jam yang lalu. Dan sekarang Eve mulai bosan karena tidak ada teman mengobrol.
"Eve!" Suara dari Steve membuat Eve terlonjak kaget. Entah sejak kapan, pria itu tiba-tiba sudah berdiri di dekat Eve.
"Eh, iya Dok. Apa klinik akan buka sekarang?" Tanya Eve gelagapan.
Namun Steve malah tertawa kecil.
"Klinik tutup hari ini, Eve. " jawab Steve dengan nada santai.
Berbeda dengan Eve yang menampilkan raut terkejut di wajahnya.
'Klinik tutup, dan dokter Steve tidak memberitahuku sejak kemarin?' sesaat Eve merasa sedikit kesal.
"Ayo, kita jalan-jalan sebentar. Lalu aku akan mengantarmu pulang," ajak Steve selanjutnya.
Dan hal itu sukses membuat Eve mengernyitkan kedua alisnya.
"Saya bisa pulang sendiri, Dok. Hari masih siang," jawab Eve cepat. Gadis itu sudah beranjak dari duduknya dan menyambar tasnya.
Namun saat Eve akan keluar dari ruangan itu, Steve malah merentangakn kedua tangannya di pintu seakan menghalangi langkah Eve yang akan meninggalkan ruangan tersebut.
Perasaan Eve saja atau memang gelagat Steve sedikit berubah belakangan ini?
Steve selalu tersenyum hangat setiap kali berbicara dengan Eve, dan cara pria ini memandang Eve, rasanya sangat sulit untuk di jelaskan.
Ada apa sebenarnya?
Apa Steve sedang menggoda Eve?
Tidak!
Eve memang mengagumi wajah tampan Steve serta sikapnya yang selalu lemah lembut. Tapi Eve juga sadar diri.
Eve itu gadis miskin, dan Steve adalah seorang dokter tampan dan juga punya karier yang mapan.
Sampai kapanpun, Eve tidak akan pantas untuk Steve.
Terlalu lebar jurang pemisah di antara keduanya, dan Eve tidak pernah bermimpi menjadi seorang cinderella yang menikah dengan pangeran tampan dan mapan seperti Steve.
"Eve, kamu melamun?" Tanya Steve yang kini mengibaskan tangan di depan wajah Eve.
Semua lamunan Eve langsung buyar. Gadis itu menggeleng dengan cepat.
"Dokter mau jalan-jalan ke mana memang? Kalau dokter memaksa mengantar saya pulang, baiklah saya tidak masalah. Tapi maaf, saya tidak bisa menemani dokter jalan-jalan. Saya...." Eve mendadak bingung harus memberi alasan apa.
"Apa ada yang cemburu jika aku mengajakmu jalan-jalan?" Tanya Steve dengan nada sedikit kecewa.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja saya tidak bisa, Dok," bantah Eve cepat.
"Apa kau punya pacar?" Tanya Steve lagi.
Sebuah pertanyaan singkat namun sukses membuat Eve terdiam.
Apa-apan ini? Kenapa dokter Steve menanyakan hal pribadi seperti itu pada Eve?
"Eve, apa kamu punya pacar?" Tanya Steve sekali lagi.
Eve menarik nafas panjang sebelum menggeleng samar.
__ADS_1
"Itu artinya tidak akan ada yang marah, kan? Kalau aku mengajakmu jalan-jalan atau makan di luar?" Tanya Steve lagi.
"Aku harus minta izin ke Abang Bian dulu, Dok," jawab Eve lirih.
"Aku sudah meminta izin. Dan abangmu mengijinkan." Steve menunjukkan chat singkatnya dengan abang Bian pada Eve.
Apa?
Sejak kapan Steve tahu nomor ponsel abang Bian?
Eve benar-benar ternganga tak percaya.
Akhirnya tak ada lagi alasan bagi Eve untuk menolak ajakan dari Steve.
Eve menurut saja saat Steve mengajaknya ke sebuah resto yang berkonsep outdoor.
Dan keterkejutan Eve sore itu, tak berhenti sampai di situ.
Perasaan Eve semakin tak karuan, saat Steve menyatakan perasaannya pada Eve.
"Eve, aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu. Maukah kamu menjadi pacarku?" Tanya Steve dengan nada bersungguh-sungguh.
Astaga!
Apa Eve boleh pingsan sekarang?
Seorang dokter tampan yang juga adalah bossnya sedang mengungkapkan perasaannya pada Eve.
Eve menatap netra milik Steve. Ada kesungguhan di sana.
Steve pria yang baik. Apa Eve pantas memiliki cinta dari pria baik ini?
"Aku..." Eve tiba-tiba merasa ragu.
Dalam hati, Eve juga mencintai Steve. Tapi sekali lagi Eve juga sadar jika jurang pemisah di antara mereka berdua terlalu lebar.
"Bolehkan aku memikirkan dulu jawabannya?" Tanya Eve sedikit ragu.
Raut wajah Steve seketika berubah.
Eve tahu, mungkin Steve sedikit kecewa dengan jawaban dari Eve.
"Dok, maksudku bisakah kita membiarkan semuanya mengalir saja dulu tanpa sebuah status?" Eve mengkoreksi kalimatnya.
"Steve. Panggil aku Steve saja, Eve! Kita tidak sedang di klinik," timpal Steve merasa keberatan.
"Bagaimana kalau aku langsung melamarmu dan memintamu untuk menikah denganku?" Tanya Steve lagi yang sontak membuat Eve semakin terkejut.
Ada apa sebenarnya dengan pria ini?
"Aku masih terlalu muda untuk menikah, Steve. Dan lagi aku masih punya mimpi yang masih ingin kuwujudkan" jawab Eve lirih. Gadis itu menundukkan kepalanya dan enggan menatap ke arah Steve.
"Kamu ingin melanjutkan kuliah, begitu?" Tebak Steve cepat.
Eve mengangguk samar.
"Bagaimana kalau aku membiayai kuliahmu? Kamu gadis cerdas, Eve. Kamu bisa mengambil kuliah keperawatan dan setelah lulus kamu bisa membantuku di klinik," lanjut Steve lagi.
Sebuah penawaran menggiurkan dari Steve. Haruskah Eve menerimanya?
Tapi apa itu artinya, Eve juga harus menjadi istri Steve setelah lulus kuliah nanti?
Tapi bukankah Steve pria yang tampan dan baik hati? Eve tentu tak keberatan jika harus menikah dan menjadi istri Steve.
Tapi apakah Steve tidak akan meninggalkan Eve suatu hari nanti? Bukankah Eve hanya seorang gadis miskin?
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Eve sekarang.
Ini semua terlalu mendadak, dan Eve masih bingung harus memberi jawaban apa pada Steve.
"Eve, aku mencintaimu." Steve menggenggam erat tangan Eve yang masih terlihat bingung.
"Bisakah aku minta waktu untuk memikirkan ini semua. Ini terlalu mendadak, Steve!" Pinta Eve dengan nada memohon.
Steve menghela nafas panjang,
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu memberi jawaban sekarang. Tapi tolong jangan menghindar dariku, Eve! Jangan resign dari klinikku, oke!" Steve mengajukan syarat.
Eve mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
Flashback off