Nona Mia

Nona Mia
MISI PENCARIAN


__ADS_3

Mia sedang duduk di sofa yang ada di lobi kantornya. Gadis itu masih berkutat dengan ponsel di tangannya.


Entahlah, Mia sedang pening belakangan ini. Hari Sabtu tinggal tiga hari lagi, dan Mia belum menemukan seorang pria untuk ia jadikan sebagai pacar bayaran.


"Tahu kafe Analogy yang di sudut jalan itu?" Suara seorang karyawan yang melintas di belakang Mia langsung bisa mengalihkan perhatian Mia.


Apa karyawan Mia tersebut baru saja menyebut kafe Analogy milik Bian brengsek?


"Yang makanannya murah dan enak itu? Sudah beberapa hari ini tutup kayaknya," sahut karyawan yang satu lagi.


Mia mendadak tertarik dengan pembicaraan dua karyawan tersebut. Nona direktur itu segera memasang pendengarannya baik-baik.


"Aku dengar kafe itu sedang bermasalah, jadi memang tutup belakangan ini." Timpal karyawan yang mengenakan blouse warna biru tersebut.


"Sayang sekali, padahal tempatnya asyik buat nongkrong dan harga makanannya juga murah," ujar karyawan lainnya.


Dan dua karyawan itu sudah berlalu dari belakang Mia sekarang.


Kafe milik Bian bermasalah?


Apa kafe itu sudah bangkrut sekarang?


Mia memang tidak pernah lagi bertemu dengan Bian sejak beberapa bulan terakhir. Pertemuan terakhir Mia dengan pria brengsek itu adalah saat pernikahan Eve dan Steve. Jadi Mia juga tidak tahu-menahu dengan apa yang terjadi pada kafe Bian.


Mia berpikir sejenak, hingga tiba-tiba sebuah ide konyol melintas di pikirannya.


Mia segera menghubungi supir pribadinya, sebelum beranjak dari duduknya dan keluar dari lobi kantor tersebut.


*****


Mia sudah tiba di kafe Analogy milik si Bian brengsek.


Kafe itu terlihat sepi dan pintu depannya terkunci.


Mia melongok ke dalam kafe dan sedikit memeriksa. Mia hanya ingin memastikan kalau Bian si pria brengsek itu tidak sedang menggantungkan kepalanya ke langit-langit kafe karena merasa putus asa.


"Mau mencuri di kafeku, Nona kaya?" Suara Bian yang entah darimana datangnya sukses membuat Mia terlonjak kaget.


Mia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati pria kere mata duitan itu masih bertangkring diatas motor sportnya.


Bukankah itu motor yang dulu dibelikan oleh Kyara menggunakan uang Mia?

__ADS_1


Dan pria itu masih memakainya dengan pongah, setelah menyakiti hati Kyara?


Dasar pria kere tak tahu diri!


"Apa kafemu sudah bangkrut sekarang? Kenapa sepi dan masih tutup padahal sudah jam makan siang?" Tanya Mia dengan nada mengejek.


Bian mendengus,


Apa nona kaya ini sudah tahu tentang nasib kafeku yang kini di ujung tanduk?


Tapi darimana dia tahu?


Apa dia memata-matai kafeku selama ini?


Berbagai macam pertanyaan mendadak bercokol di kepala Bian.


"Jangan sok tahu! Aku hanya sedang meliburkan beberapa karyawanku," jawab Bian sedikit salah tingkah. Pria itu turun dari motornya dan berjalan mendekat ke arah Mia.


Dan Mia langsung memasang senyum mengejek sekarang,


"Kenapa tidak berterus terang saja? Padahal aku datang ke sini ingin menawarkan bantuan untuk kafemu yang sudah sekarat ini," ujar Mia seraya bersedekap dan menatap tajam ke arah Bian.


"Baiklah, baiklah, kau benar nona kaya. Kafeku bangkrut dan sebentar lagi kafe ini mungkin akan disita oleh bank. Apa kau ingin menertawakanku sekarang?" Sergah Bian mulai emosi.


"Mengurus kafe kecil saja tidak becus, tapi bermimpi jadi pengusaha sukses," gumam Mia masih dengan nada mengejek.


"Jadi, kau kesini benar-benar ingin menawarkan bantuan atau hanya ingin menertawakan kebangkrutanku?" Tanya Bian yang mulai kesal dengan sikap Mia.


"Tentu saja aku ingin menawarkan bantuan dan membuat sebuah kesepakatan. Tapi kita bisa membicarakannya setelah kamu mempersilahkan aku masuk ke dalam kafemu dan tidak mengajakku berbicara di pinggir jalan seperti gembel begini," gerutu Mia dengan nada sinis.


Bian hanya terkekeh,


Bergegas pria itu membuka pintu kafe yang terkunci dan membuka daun pintunya dengan lebar,


"Silahkan masuk, nona Mia yang terhormat," ucap Bian berlebihan saat mempersilahkan Mia.


Mia hanya memutar bola matanya dan segera masuk ke dalam kafe. Bian mengekori nona kaya tersebut dan ikut masuk ke kafe miliknya.


Dua musuh yang saling membenci itu kini duduk berhadapan, dipisahkan oleh satu meja bulat kecil.


"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Mia berbasa-basi.

__ADS_1


Bian mengendikkan bahu,


"Aku tertipu oleh karyawanku yang tidak tahu berterima kasih," jawab Bian ketus.


"Seorang penipu bisa tertipu juga, ya. Apa ini yang disebut karma?" Timpal Mia yang kini tergelak.


Nona direktur itu tertawa dengan puas dan Bian hanya bisa mendengus kesal.


"Sudah puas yang tertawa, Nona kaya?" Sahut Bian sinis.


Mia segera menghentikan tawanya.


"Baiklah, kita mulai pembicaraan serius. Jadi kau butuh uang untuk melunasi tunggakan hutangmu di bank begitu?" Tanya Mia dengan nada serius kali ini.


Bian menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk.


"Baiklah, tidak masalah. Aku akan melunasi semua hutangmu di bank dan kamu akan mendapatkan kembali kafe ini," Mia menjeda kalimatnya dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kafe kecil tersebut.


"Tapi itu semua tidaklah gratis. Aku ingin membuat sebuah kerjasama, " lanjut Mia lagi seraya menatap tajam pada Bian.


Kenapa pria ini tampak berantakan dan tidak terawat?


Lihatlah jambang di wajahnya yang panjang itu, seperti sudah berminggu-minggu tidak di cukur.


Apa hidupnya terlalu mengenaskan hingga ia tak sanggup merawat dirinya sendiri?


"Kerjasama macam apa memangnya? Kau tidak akan memintaku bekerja sebagai ****** atau menjual organ tubuhku, kan?" Tebak Bian merasa curiga.


Mia berdecak sekaligus memutar bola matanya.


Apa pikiran pria ini selalu di penuhi oleh hal-hal negatif?


"Memangnya wajahku terlihat seperti mucikari atau mafia penjual organ dalam?" Sahut Mia mulai kesal.


Bian tergelak,


"Baiklah aku hanya bertanya. Kau ingin kerjasama macam apa?" Bian memasang raut wajah seserius mungkin.


"Aku ingin kamu menjadi pacarku," jawab Mia singkat.


Namun jawaban itu sukses membuat Bian kaget hingga pria itu nyaris terjungkal dari duduknya.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2