Nona Mia

Nona Mia
MEREKA BERSAUDARA?


__ADS_3

Sudah tiga hari ini, Bian bekerja sebagai kurir makanan di sebuah restoran cepat saji.


Ya, pada akhirnya hanya pekerjaan seperti ini yang bisa Bian geluti. Bian bisa saja menjadi koki yang memasak di dapur restoran, namun karena pengalaman Bian hanya sebagai kurir atau bagian pengantaran, jadilah Bian juga tidak bisa berbuat banyak.


Masih syukur ada yang memberi Bian pekerjaan setelah selama sepekan pria itu menganggur. Bian merasa tak enak hati pada Eve yang langsung bekerja satu hari setelah gadis itu di pecat dari perusahaan si nona kaya.


Dan sekarang, Bian sedang lewat di depan gedung milik nona kaya tersebut. Bian melihat sekilas ke arah gedung pencakar langit tersebut, sebelum akhirnya tersenyum simpul.


"Aku juga akan punya gedung tinggi suatu hari nanti, Nona kaya," gumam Bian pada dirinya sendiri.


Apa Bian sedang bermimpi?


Mungkin,


Pria itu selalu bermimpi menjadi tuan kaya yang punya banyak cabang restorant di berbagai kota di seantero negeri.


Bukankah bermimpi itu gratis?


Jadi jangan salahkan Bian kalau dia hobi bermimpi dan berkhayal. Tapi Bian juga sedang berusaha sekarang. Buktinya Bian rela menerjang panas dan hujan demi mengantarkan pesanan kepada para pelanggannya.


Bian sedang bekerja keras demi mewujudkan mimpi-mimpinya tersebut.


Bian sudah sampai lagi di restoran cepat saji tempatnya bekerja.


"Ada pesanan lagi, Bi," ujar rekan Bian sambil menyodorkan satu kotak makanan yang siap di antar beserta nota dan alamat lengkapnya.


Bian membaca sekilas alamat tersebut.


Bukankah ini adalah kompleks apartemen mewah yang ada di kota ini?


Bian mungkin akan mendapat banyak uang tip saat mengantar pesanan ke sana. Lembar-lembar rupiah sudah menari-nari di otak Bian sekarang.


"Baiklah, aku pergi dulu!" Pamit Bian bersemangat.


Setelah memasukkan makanan tadi ke box yang ada di jok belakang motornya, Bian segera memacu motornya ke alamat tujuan.


Bian bersenandung sepanjang perjalanan. Jalanan sore ini lumayan padat, tapi Bian berhasil menyelip di antara kuda-kuda besi yang mengular memenuhi setiap ruas jalan yang ada.


Tak sampai lima belas menit, dan Bian sudah sampai di lobi apartemen mewah itu.


Setelah bertanya pada security yang berjaga, Bian segera naik lift untuk menuju ke unit apartemen tujuannya.


Bian tak berhenti mengagumi setiap interior yang ada di gedung apartemen mewah ini. Suatu hari nanti jika Bian sudah jadi tuan kaya dan punya banyak uang, Bian mungkin akan membeli salah satu unit apartemen yang ada di gedung ini.


Unit nomor sembilan puluh lima adalah alamat yang tertera di nota pesanan.


Bian menekan bel yang ada di samping pintu kokoh tersebut.


Tak berselang lama, daun pintu itu segera di buka dari dalam.


Seorang gadis yang mengenakan kaos longgar dan celana ketat sepaha berdiri di depan pintu untuk menyambut Bian.

__ADS_1


Tunggu,


Bian mengenali wajah itu. Bukankah itu nona kaya yang menabrak Bian tempo hari?


Jadi ini apartemen milik nona kaya itu?


"Selamat sore, nona. Saya mengantarkan pesanan anda," sapa Bian dengan nada sopan.


Sesaat Kyara terkejut melihat wajah tak asing di hadapannya tersebut.


Bukankah ini?


"Mas, mas kurir yang waktu itu kan?" Tanya Kyara memastikan.


"Iya, nona. Saya yang waktu itu tak sengaja jatuh karena kesenggol mobil nona," jawab Bian sambil cengar-cengir.


"Apa Masnya baik-baik saja?" Tanya Kyara masih saja khawatir.


"Iya, saya baik-baik saja. Lihat, saya masih hidup dan masih bisa mengantar pesanan nona Kyara," jawab Bian lagi masih dengan senyuman anehnya.


"Siapa, Kya?" Suara seorang wanita terdengar dari dalam apartemen.


Tunggu, suara itu sangat tidak asing di telinga Bian.


Selama dua minggu mendengar suara terkutuk itu setiap hari, membuat Bian masih mengingatnya dengan baik.


Itu suara nona Mia.


"Bukan siapa-siapa, Kak. Hanya kurir yang mengantar makanan," jawab Kyara sekenanya.


Bian tak sengaja melihat ke arah cermin besar di sisi lorong di belakang Kyara. Dan pantulan bayangan di cermin, membuat Bian membelalak tak percaya.


Ya, itu memang nona Mia. Gadis yang sangat Bian benci belakangan ini.


Dan apa baru saja Kyara memanggilnya 'Kak'?


Apa dua gadis yang berbeda kepribadian ini adalah kakak beradik?


Berbagai macam pertanyaan bercokol di benak Bian.


"Mas?" Kyara mengibaskan tangannya di depan wajah Bian yang tampak bengong.


"Eh, iya nona. Ini pesanannya. Silahkan di cek dulu!" Ucap Bian cepat sambil menyodorkan kantung makanan yang sedari tadi masih Bian pegang.


Kyara memeriksa isinya sebentar, sebelum lanjut mengangsurkan beberapa lembaran uang merah pada Bian.


"Terlalu banyak, Nona," ujar Bian malu-malu. Padahal jauh di dalam hati, Bian sedang bersorak gembira karena uang tip yang ia peroleh lebih dari harga makanan yang seharusnya di bayar oleh Kyara.


"Lebihannya buat mas aja. Sekalian sebagai tanda permintaan maaf saya karena tak sengaja menabrak mas waktu itu," jawab Kyara sambil tersenyum hangat.


Bian ikut tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


Oh, beruntung sekali Bian hari ini.


Semoga nona kaya ini sering-sering memesan makanan di resto, jadi Bian juga akan sering menerima uang tip sebanyak ini.


"Oh, ya. Apa ini apartemen anda, Nona?" Tanya Bian berbasa-basi.


"Bukan, ini milik kakakku. Aku hanya berkunjung, " jawab Kyara masih tersenyum hangat.


Dan Bian hanya ber oh ria.


"Kya!" Mia memanggil Kyara sekali lagi.


"Baiklah, terima kasih ya, Mas kurir. Aku masuk dulu," Kyara berpamitan, dan Bian hanya mengangguk.


Tak berselang lama, pintu apartemen mewah itu segera ditutup oleh Kyara.


Bian berbalik dan berjalan kembali menuju lift. Pria itu bersiul senang karena mendapatkan banyak uang tip hari ini dari nona Kyara.


Saat berada di dalam lift yang kosong, mendadak sebuah ide cemerlang mampir di kepala Bian.


Jika Kyara adalah adik dari nona kaya itu, mungkin Bian bisa memanfaatkan gadis polos itu untuk membalaskan dendamnya pada Mia.


Sebuah senyuman licik terkembang di bibir Bian sekarang.


*****


"Membeli makanan sampah lagi?" sinis Mia pada Kyara yang baru kembali dari pintu depan dan kini menenteng kantung makanan bergambar logo salah satu restoran cepat saji yang cukup terkenal di kota ini. Makanan yang baru saja diantar oleh Bian.


"Ini bukan makanan sampah, Kak!" bantah Kyara cepat.


Gadis itu segera duduk di sofa ruang tengah dan membongkar makanan yang tadi ia pesan.


"Apa kau tidak lihat, makanan itu hanya terdiri dari lemak dan kalori yang tinggi. Sama sekali tidak ada gizi di dalamnya." Mia sudah duduk di sofa di sebelah Kyara yang tetap menikmati makanan cepat saji tersebut dan mengabaikan kata-kata dari sang kakak.


"Ini enak, kakakku yang kaya. Cobalah!" Kyara menyodorkan satu buah burger kepada Mia.


Mia berdecak,


"Aku tidak mau terkena serangan jantung di usia muda. Jadi aku akan menghindari memakan makanan sampah seperti itu," tolak Mia pedas.


Daripada memakan makanan sampah seperti itu, Mia akan lebih memilih minum jus sayur yang rasanya pahit. Setidaknya lebih banyak kandungan nutrisi yang terkandung di dalam jus sayuran pahit tersebut.


Sontak Kyara langsung tergelak mendengar jawaban dari Mia.


"Kakak akan kena serangan jantung kalau sering marah-marah pada karyawan kakak," ejek Kyara sambil menjejalkan kentang goreng ke dalam mulutnya.


Mia menatap dengan ngeri cara makan adiknya tersebut. Sama sekali tidak ada unsur anggun dan elegant di sana.


Gadis jenis apa sebenarnya Kyara ini?


*****

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir, like, vote, dan komen


__ADS_2