Nona Mia

Nona Mia
KENAPA?


__ADS_3

Ting,


Suara pintu kafe yang dibuka dari luar membuat Dea mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kafe. Seorang pria berpakaian ala kurir datang membawa sebuah box besar masuk ke kafe dan segera menyapa Dea.


"Selamat sore, dengan nona Dea?" Sapa kurir tersebut.


"Iya, saya sendiri. Ada apa?" Tanya Dea sedikit bingung.


Dea merasa tidak memesan paket apapun.


"Ada paket untuk anda, Nona. Silahkan tanda tangan!" Kurir tadi menterahkan secarik kertas tanda terima pada Dea.


Tidak ada nama pengirim di kertas tersebut.


Siapa yang mengirim paket sebesar ini?


"Maaf, Pak. Ini dari siapa?" Dea tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.


"Ada suratnya di dalam, Nona. Saya permisi dulu," kurir itu segera undur diri dan keluar dari pintu kafe dengan cepat.


Dea semakin mengernyit bingung.


Dea memutuskan untuk membuka kotak besar tersebut dengan sedikit kewalahan.


"Hai, Dea. Kotak apa itu? Kenapa besar sekali?" Bian yang baru turun dari lantai atas segera bertanya pada Dea dan ikut penasaran.


"Aku juga tidak tahu, Bian. Seorang kurir mengantarkannya untukku. Bisakah kau membantuku membukanya?" Sahut Dea yang masih kesulitan membuka kotak tersebut.


Bian hanya tersenyum tipis dan dengan sigap membantu Dea membuka kotak berukuran lumayan besar tersebut.


Saat tutup kotak diangkat, langsung bisa Bian lihat ada hamparan gaun pengantin berbahan tile berwarna putih tulang dan sebuah map di atasnya.


Bian seperti familiar dengan gaun pengantin ini,


"Kau akan membeli yang seperti ini?"

__ADS_1


"Tentu saja aku akan membelinya dan memakainya suatu hari nanti saat aku sudah bertemu pangeran impianku"


Kata-kata Mia waktu itu kembali terngiang di telinga Bian.


"Bukankah ini sebuah gaun pengantin?" Pertanyaan dari Dea langsung membuyarkan semua lamunan Bian tentang Mia.


Tapi berbagai macam pertanyaan masih bercokol di benak Bian.


Kenapa Mia memberikan gaun pengantin impiannya pada Dea?


Bian mengambil map yang ada di atas gaun pengantin tersebut dan membukanya. Bian membaca sekilas isi dari map tersebut.


Dan mata Bian langsung terbelalak tak percaya.


Ada sebuah formulir lengkap dengan nama Bian di atasnya. Di kertas lain juga ada bukti pembayaran lunas kursus chef selama dua tahun ke depan.


Apa-apaan ini?


Kenapa nona direktur itu memberikan semua ini pada Bian dan Dea?


"Apa itu, Bian?" Tanya Dea penasaran.


"Bukan apa-apa. Hanya sebuah kertas yang tidak penting," Bian menggulung map tadi dan berniat untuk membakarnya nanti.


"Tapi siapa yang sudah mengirim gaun pengantin mewah ini? Harganya juga pasti sangat mahal," gumam Dea masih tak mengerti.


"Kau tidak harus memakainya, Dea. Aku rasa hanya orang iseng yang mengirimkan gaun tanpa menyebutkan nama atau identitasnya. Kita akan membeli gaun lain untukmu besok," ujar Bian seraya menutup kembali kotak besar tersebut.


Namun Dea mencegahnya, Dea masih ingin memandangi gaun mewah nan elegant tersebut.


"Tapi gaun ini sungguh cantik, Bian. Apa kau keberatan jika aku memakainya saat kita menikah nanti?" Pinta Dea dengan mimik wajah memohon.


Bian menghela nafas dan akhirnya mengangguk. Bian tidak mau menolak keinginan calon istrinya tersebut. Dan Bian rasa Dea juga tak perlu tahu siapa yang telah mengirimkan gaun mewah ini.


Dea merapikan kembali gaun pengantin itu ke kotaknya.

__ADS_1


Bian yang sejak tadi memperhatikan wajah Dea sedikit heran karena wajah itu begitu pucat tidak seperti biasanya.


"Dea, apa kamu sakit?" Bian mengangkat dagu Dea untuk melihat lebih dekat dan memastikan kalau Dea tidak sedang sakit.


"A...apa Bian?" Dea tergagap.


"Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit?" Bian mengulangi pertanyaannya.


Dea memaksa tersenyum,


"Aku baik-baik saja, Bian. Aku hanya sedikit kurang tidur," jawab Dea memaksa untuk mengulas senyuman di bibirnya yang pucat.


"Tapi wajah kamu pucat, Dea. Bagaimana kalau kamu istirahat saja di atas?" Saran Bian yang merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja, Bian. Jangan khawatir berlebihan begitu!" Dea sudah akan mengangkat kotak berisi gaun pengantin itu dan memindahkannya.


Namun tiba -tiba tubuh mungil Dea sedikit terhuyung dan kotak itu jatuh dari tangan Dea. Dengan sigap Bian menahan tubuh mungil Dea


"Ayo ke atas dan istirahat!" Bian membimbing Dea untuk menaiki tangga menuju lantai dua.


"Aku baik-baik saja, Bian!" Dea mencoba mengelak.


"Tunggu, hidung kamu?" Bian mulai panik saat melihat darah segar mengucur dari hidung Dea.


Pandangan Dea mulai berkunang-kunang sebelum akhirnya gadis itu jatuh pingsan di pelukan Bian.


"Dea!!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2