Nona Mia

Nona Mia
MY DEA


__ADS_3

Hari Senin,


Kafe Analogy milik Bian yang sudah tutup hampir satu bulan, kini mulai beroperasi kembali.


Bian sibuk mondar-mandir di kafenya untuk memeriksa semua hal. Namun sesekali Bian masih mencuri pandang ke arah Dea yang duduk di meja kasir.


Oh, gadis itu terlihat semakin cantik dan menggemaskan saja.


Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?


Bian ingin selalu memandang wajah teduh Dea setiap detik, setiap menit.


Dea oh Dea.


*****


"Kau ingin makan siang apa, Dea?" Bian berbasa-basi pada Dea yang terlihat melamun.


Jam makan siang sudah berakhir satu jam yang lalu dan kafe sudah cukup sepi.


"Eh, pak Bian. Apa saya sudah boleh istirahat?" Tanya Dea gelagapan.


Bian tersenyum,


"Tentu saja Dea. Kau ingin makan siang bersamaku?" Tawar Bian sekali lagi.


"Sebenarnya saya membawa bekal sendiri, Pak." Dea menolak halus.


"Tapi kalau bapak tidak keberatan, kita bisa makan bersama. Saya bawa bekal cukup banyak tadi." Imbuh Dea lagi seraya menawarkan makanan yang ia bawa pada Bian.


"Tentu saja, ayo kita duduk di sana!" Ajak Bian sumringah.

__ADS_1


Bos dan kasirnya tersebut menuju ke salah satu meja yang ada di sudut kafe untuk menikmati makan siang.


Dea membuka kotak bekal yang ia bawa. Ada ayam goreng tepung, oseng oseng buncis jamur, dan nasi putih.


Bukan menu mewah, tapi cukup bisa membuat perut Bian yang lapar semakin keroncongan.


"Apa kau memasaknya sendiri?" Tanya Bian seraya menyendok nasi ke atas piringnya.


"Iya, Pak." Jawab Dea seraya tersipu malu.


"Silahkan, pak Bian," Dea menyodorkan kotak yang berisi oseng buncis jamur pada Bian.


Dengan cepat Bian menerimanya, dan menyendokkan sedikit ke atas piringnya.


Bian dan Dea sudah seperti sepasang pengantin baru yang makan siang bersama saja.


"Kau suka memasak?" Tanya Bian berbasa-basi.


"Sudah jadi rutinitas di panti, Pak. Saya harus membantu ibu panti menyiapkan makan untuk adik-adik saya di panti," jelas Dea seraya menunduk. Gadis itu hanya sesekali menatap wajah Bian dan lebih banyak menunduk.


Dan wajahnya yang putih pucat selalu saja tampak merona merah.


Apa Dea malu berbicara dengan Bian?


"Pasti calon suamimu kelak akan jadi pria yang paling beruntung. Memiliki istri yang cantik, penyayang, dan pandai memasak sepertimu. Kau juga gadis yang rajin dan pekerja keras, apa kau sudah punya pacar?" Tanya Bian setelah memuji kasirnya tersebut.


"Eh, apa, Pak?" Dea tampak salah tingkah dengan pertanyaan dari Bian tentang pacar.


"Pacar, Dea. Apa kau sudah punya pacar?" Bian mengulang sekali lagi pertanyaannya barusan.


"Saya... saya belum pernah berpacaran, Pak" jawab Dea seraya menunduk.

__ADS_1


Berbeda dengan Bian yang kini tersenyum sumringah.


Bukankah ini sebuah kabar baik untuk Bian?


Dea belum punya pacar. Itu artinya kesempatan Bian untuk menjadikan gadis ini sebagai pacar,


tidak


maksud Bian sebagai calon istri masih terbuka lebar.


Ya, Bian akan mulai menjalin hubungan serius dengan Dea. Bian ingin gadis polos nan lugu ini yang menjadi pasangan hidupnya.


Mungkin Bian memang pernah menjadi pria brengsek, namun sebisa mungkin Bian akan mulai berubah menjadi pria baik sekarang.


Demi Dea.


.


.


.


Done,


Sudah beres ya crazy up nya.


Terima kasih yang udah mampir dan kasih like kemarin.


Jangan lupa kasih like, komen, dan vote lagi ya hari ini 💕


Ini ceritanya masih lumayan panjang, like dari kalian jadi penyemangat buat author 😆

__ADS_1


__ADS_2