Nona Mia

Nona Mia
SIAPA MIA?


__ADS_3

"Mas, Siapa Mia?" Tanya Mia dengan raut wajah serius.


Bian sontak terkejut, namun pria itu langsung bisa menutupi rasa terkejutnya.


Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mia siapa?" Bian balik bertanya pada Mia.


Mia mengernyitkan kedua alisnya sebelum akhirnya mengendikkan bahunya karena bingung.


"Udah, gak usah May biar aku nanti yang nulis nama kamu," Bian mencegah Mia yang baru akan menuliskan nama Maymunah di bawah tanda tangannya tersebut.


"Kenapa memang? Tulisan May jelek, ya?" Tanya Mia polos.


Bian tertawa kecil.


"Sedikit. Tapi kamu cantik kok." Puji Bian dengan rayuan gombalnya.


Mia tersenyum mendengar gombalan dari Bian. Seketika hatinya langsung berbunga-bunga bahagia.


Apa Mia sedang jatuh cinta pada Bian sekarang?


"Eh, jam istirahatku sudah habis, May. Aku balik kerja dulu ya!" Pamit Bian sambil mengacak rambut Mia.


Mia mengantar Bian ke teras rumah.


"Kamu mau aku bawain sesuatu nanti sore?" Bian yang sudah naik di atas motor kembali bertanya pada Mia.


"Terserah kamu aja, Mas," Jawab Mia sekenanya.


"Baiklah. Aku jalan dulu, May. Bhay!" Bian melambaikan tangan pada Mia sebelum melajukan motornya meninggalkan rumah kontrakan tersebut.


Mia balas melambaikan tangan pada Bian, dan memandang motor Bian hingga motor itu menghilang di ujung gang.


*****


Mia masih termenung di teras rumah kontrakan yang sempit itu.


Siapa Mia?


Kenapa nama itu terus saja berkelebat di benak Mia.


Mia seperti familiar dengan nama itu.


Mia?


Mia siapa?


Siapa Mia?


Ah, sudahlah!


Kepala Mia jadi sakit lagi sekarang gara-gara memikirkan satu nama itu.


Baiklah, mungkin sebaiknya Mia mengabaikannya saja.


'Masa bodoh denganmu, Mia. Aku tidak peduli!' Gumam Mia menggerutu tentang namanya sendiri.


Mia masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang yang diberikan Eve tadi pagi. Mia akan ke warung dekat rumah untuk berbelanja sayur.

__ADS_1


*****


Bian membaca sekali lagi isi surat perjanjian yang sudah ada tanda tangan Mia di bagian bawahnya.


Bian tersenyum licik.


Bian berencana mengantar nona kaya itu pulang ke rumahnya besok pagi.


Bian rasa sudah cukup ia balas dendam dan mengerjai nona kaya nan sombong itu.


Dan surat perjanjian ini, akan Bian jadikan tameng jika ingatan nona kaya itu kembali lalu dia macam-macam pada Bian dan Eve.


Apakah sekarang Bian boleh sombong pada pemikirannya yang cerdas ini?


"Bi!" Seorang rekan kerja Bian menepuk punggung Bian, membuat Bian tersentak kaget dan tak sengaja menumpahkan minuman soda di hadapannya.


"Sial! Sial! Sial!" Cepat-cepat Bian menyelamatkan kertas-kertas berisi perjanjian tadi dari tumpahan air soda.


Terlambat.


Satu kertas berhasil Bian selamatkan, namun kertas lainnya yang berisi angka dan nominal uang sudah basah kuyup terkena tumpahan air soda.


Bahkan tanda tangan nona Mia sudah pudar.


Ah, sial!


"Brengsek loe!" Bian mengumpat pada rekan kerjanya tersebut. Pria itu tampak emosi.


"Orderan numpuk, Bi!


Anterin cepat! Gak usah berlagak seperti direktur yang ngurusin berkas." rekan Bian tadi ikut-ikutan emosi.


Bian mendengus, lalu bangkit dari duduknya.


Bian melanjutkan pekerjaannya sebagai kurir pengantar pizza.


Sambil mengantarkan pesanan pelanggan, Bian berpikir untuk meminta tanda tangan lagi pada Mia sore ini.


Bian bisa menulis ulang surat yang basah dan rusak tadi.


Baiklah,


Semoga gadis itu tidak akan menolaknya lagi, Bian akan kembali mengeluarkan jurus gombalannya malam nanti.


*****


Bian baru saja sampai di rumah kontrakannya, saat melihat beberapa tetangganya berkerumun di depan kontrakan mungil tersebut.


Ada ibu pemilik kontrakan juga di sana.


Ada apa ini?


Apa nona kaya itu membawa pulang pria asing ke rumah dan kena grebek warga?


Berbagai macam pertanyaan bercokol di kepala Bian.


"Bian, untung kamu sudah pulang. " Ibu pemilik kontrakan segera menyapa Bian yang baru datang.


"Ada apa ini, Bu?" Tanya Bian bingung.

__ADS_1


"Maymunah, istri kamu, nyusruk di got depan gara-gara di kejar anjing. Sekarang masih pingsan" jelas ibu pemilik kontrakan panjang lebar.


"Apa?" Bian langsung terbelalak tak percaya.


Cepat-cepat Bian masuk ke dalam rumah untuk memeriksa kondisi nona kaya itu.


"Kepalanya terbentur pinggiran got dan berdarah, tapi kami sudah mengobatinya" jelas tetangga Bian yang lain.


Bian melihat sekilas ke arah Mia yang kini kepalanya berbalut perban.


"Terima kasih, ibu-ibu dan bapak-bapak semua karena sudah menolong istri saya. Sekarang saya sudah di rumah, jadi biar saya yang merawatnya," ucap Bian panjang lebar.


Para tetangga Bian mengangguk dan segera membubarkan diri setelah berpamitan ala kadarnya pada Bian.


Ibu pemilik kontrakan juga menyarankan agar Bian segera membawa Maymunah alias Mia ke rumah sakit.


Bian mengangguk saja meskipun dalam hati Bian menggerutu.


Bian tidak akan membawa nona kaya ini ke rumah sakit.


Buang - buang uang saja.


Mia masih belum sadar dari pingsannya.


Bian memilih untuk mandi dan membersihkan diri dulu. Bau badannya benar-benar tidak sedap. Kontaminasi dari bau keringat, bau matahari dan bau asap kendaraan menempel di tubuh Bian, membuat pria itu merasa sungguh tidak nyaman.


Bian akan membiarkan nona kaya itu. Palingan sebentar lagi juga sadar.


Flashback on


Mia berjalan santai menuju ke rumah kontrakan sambil menenteng kresek belanjaan berisi satu ikat kangkung dan satu papan tempe.


Namun saat tinggal beberapa meter lagi dari kontrakan, ada seekor anjing yang berdiri di tengah jalan sambil melotot tajam ke arah Mia.


Anjing itu ukurannya besar sekali. Mia sungguh tidak tahu jika ada warga sini yang memelihara anjing besar dan galak seperti ini.


Mia berbalik arah, tapi anjing itu malah mengikuti langkah Mia.


Mia mempercepat langkah kakinya dan sudah setengah berlari sekarang, dan anjing itu juga ikut berlari dan terus mengikuti Mia.


Mia berteriak ketakutan sambil minta tolong pada siapa saja yang bisa menolongnya.


Namun entah ke mana para warga di lingkungan ini, kenapa tidak ada satupun yang keluar untuk menolong Mia?


Apa para warga juga takut pada anjing besar dan galak ini?


Mia terus berlari sambil beberapa kali menengok ke arah belakang. Mia tak lagi memperhatikan langkahnya, hingga akhirnya kakinya terperosok ke dalam got yang lumayan dalam.


Mia kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh tercebur ke dalam got yang airnya berwarna hitam dan baunya sungguh menyengat tersebut.


'Jedug'


Kepala Mia terbentur lumayan keras di pinggiran got yang terbuat dari semen hingga mengucurkan darah segar.


Semuanya menjadi gelap sekarang. Mia jatuh pingsan sambil berendam di air got yang hitam dan bau tersebut.


Anjing yang tadi mengejar Mia sudah pergi.


Kini para warga berdatangan untuk membantu Mia yang malang.

__ADS_1


Mereka mengangkat tubuh Mia yang kini sudah hitam legam terkena air got dan warga segera membawa Mia pulang ke kontrakannya.


Flashback off


__ADS_2