
Bian mengedarkan pandangannya ke area kampus Kyara. Sebuah kampus swasta yang cukup bergengsi di kota ini. Mayoritas yang kuliah di sini memang berasal dari keluarga berada, termasuk juga Kyara adik dari nona Mia kaya yang galak itu.
Huh, semoga Bian tidak perlu bertemu lagi dengan wanita macan sialan itu.
"Melamun!" Tepukan dari Kyara langsung membuyarkan semua lamunan Bian tentang nona Mia galak.
Syukurlah, ada bidadari secantik Kyara yang menyelamatkan pikiran Bian dari virus bernama nona Mia.
"Hai, cantik. Sudah selesai kuliah hari ini?" Bian sedikit berbasa-basi pada Kyara. Tak lupa Bian juga mengusap ringan wajah gadis dua puluh tahun tersebut.
"Ya. Terima kasih sudah menjemputku. Bisa kita pulang sekarang?" Kyara balik bertanya pada Bian.
Bian mengangguk dan segera memakaikan helm yang ia bawa pada Kyara.
Setelah Kyara naik ke atas motor, bergegas Bian melajukan motor sport tersebut keluar dari area kampus.
"Bagaimana kafe kamu? Apa sejauh ini ramai?" Kyara membuka obrolan. Gadis itu sedikit berteriak agar suaranya tidak terbang tertiup anagin dan bisa didengar oleh Bian.
"Ya, sejauh ini ramai dan banyak yang datang. Terima kasih karena kamu sudah membantu mempromosikannya," jawab Bian ikut berteriak.
Angin yang berhembus sore ini cukup kencang, meskipun Bian mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang.
Motor Bian sudah berbelok ke jalan menuju perumahan.
"Di taman saja, Bi!" Kyara mengingatkan seraya menepuk punggung Bian.
Bian hanya mengangguk dan tak menjawab.
Sampai di taman kompleks, Bian menghentikan motornya.
"Kamu yakin, tidak mau aku antar sampai rumah?" Tanya Bian pada Kyara yang sedang melepas helm dari kepalanya.
Kyara menggeleng,
"Maaf kalau kamu tidak nyaman. Tapi aku belum siap memberitahu kakak dan kedua orang tuaku tentang hubungan ini. Kakak aku itu suka ikut campur kalau dia tahu aku pacaran dengan seorang cowok. Udah berkali-kali dia hancurin hubungan aku dengan mantan-mantan aku sebelumnya," tukas Kyara panjang lebar.
Bian terperangah tak percaya?
Apa nona Mia itu memang kurang kerjaan?
Dan ini adalah fakta baru yang cukup mengejutkan tentang nona Mia.
Selain galak dan sombong, wanita itu ternyata juga hobi menghancurkan kisah asmara orang-orang di sekitarnya.
Baiklah, mungkin Bian harus benar-benar menjaga hubungan Eve dan Steve agar nona kaya sialan itu tidak menghancurkannya.
Meskipun Bian yakin kalau Steve itu mencintai Eve, tapi Bian tetap harus berjaga-jaga. Sepertinya nona Mia itu punya pikiran yang licik dan suka menggunakan segala cara demi mencapai tujuannya.
Bian tidak boleh lengah.
__ADS_1
"Bi! Kok melamun?" Tegur Kyara menepuk punggung Bian sekali lagi.
"Eh enggak kok, Kya. Siapa yang melamun?" Bian buru-butu mengelak.
Kyara hanya terkekeh.
"Yaudah, makasih ya, Bi. Udah nganterin aku pulang." Kyara mengecup pipi Bian, membuat pria itu langsung tersenyum simpul.
"Sama-sama Kyara. Besok pagi mau aku jemput lagi?" Tanya Bian berbasa-basi. Pria itu memakai kembali helmnya.
"Kalau kamu gak sibuk, aku mau-mau aja sih," jawab kyara tersipu malu.
"Baiklah nona cantik, aku pamit pulang dulu." Bian sudah menghidupkan mesin motornya.
"Hati-hati, Bi! Jangan ngebut!" Pesan Kyara seraya melambaikan tangan pada Bian.
Bian membalas lambaian tangan Kyara dan sedikit tersenyum sebelum melajukan motornya meninggalkan tempat tersebut.
Dan semua pemandangan itu, tak lepas dari pandangan netra milik Mia. Sudah sedari tadi, Mia melihat pasangan yang sepertinya sedang kasmaran tersebut.
Tentu saja Mia mengenal siapa gadis lugu nan polos yang sekarang berjalan meninggalkan taman kompleks tersebut.
Tapi siapa pria bermotor yang mengantarnya?
Pria tadi sudah berbalik arah dan melintas di samping mobil Mia yang terparkir di pinggir jalan.
Mia seperti tak asing dengan motor sport berwarna hitam itu.
Bukankah itu mirip dengan motor milik Bian brengsek yang hampir Mia tabrak tempo hari?
Mia memperhatikan dengan seksama, saat pengendara itu melintas di samping mobilnya.
Sial!
Pria itu mengenakan helm fullface, jadilah Mia tidak bisa mengenali wajahnya.
Mia segera melajukan mobilnya dan menyusul Kyara yang masih berjalan santai menuju ke arah rumah mereka.
Bim bim
Mia menekan klakson kuat-kuat saat mobilnya sudah tepat berada di belakang Kyara.
Terang saja hal itu langsung membuat Kyara terlonjak kaget. Jantung Kyara nyaris melompat dari tempatnya karena klakson mobil sialan tersebut.
Kyara berbalik dengan cepat dan hendak memaki si empunya mobil.
Namun saat tahu mobil itu adalah mobil milik kak Mia, Kyara memilih untuk mengurungkan niatnya.
Mia menghentikan mobil dan membuka kaca jendela mobilnya,
__ADS_1
"Dari mana saja, nona muda?" Sapa Mia berlebihan.
Kyara berdecak,
"Pulang dari kampus. Memangnya dari mana lagi?" Jawab Kyara dengan nada malas.
"Masuk!" Perintah Mia seraya mengarahkan dagunya ke pintu mobil di sebelahnya.
Kyara mendengus,
Gadis itu sedang malas ribut, jadi Kyara menurut saja dan segera masuk ke dalam mobil kak Mia.
"Tadi pulang bersama siapa?" Tanya Mia membuka obrolan diantara mereka berdua.
"Teman." Jawab Kyara singkat.
Sesaat Kyara merasa khawatir. Apa jangan-jangan kak Mia tadi melihat saat Kyara mengobrol sebentar dengan Bian di taman kompleks?
Kyara dalam masalah besar kalau sampai kak Mia tahu tentang hubungan backstreet Kyara dan Bian.
Mia membelokkan mobilnya ke halaman rumah kedua orang tuanya.
Mereka sudah sampai.
Papa Andri dan mama Alin tampaknya sedang mengobrol di teras depan. Perasaan Mia saja atau kedua orang tuanya itu memang sedang puber kedua?
Mengobrol saja pakai acara rangkul-rangkulan seperti remaja yang sedang berpacaran.
"Oh, ya. Kafe temanmu itu apa sudah ada perkembangan?" Mia kembali bertanya pada Kyara.
Kyara yang tadinya sudah akan turun dari mobil sang kakak, segera mengurungkan niatnya.
"Sudah ramai sejauh ini. Apa kakak mau aku antar ke sana?" Tawar Kyara cepat.
"Beritahu saja alamatnya, dan kakak akan datang ke sana sendiri," jawab Mia menolak.
Kyara memutar bola matanya. Gadis itu mengambil ponsel di tasnya dan segera mengirimkan shareloc ke ponsel sang kakak.
"Sudah aku kirim alamatnya ke ponsel kakak," tukas Kyara seraya membuka pintu mobil.
Gadis itu sudah turun dari mobil dan segera menyapa mama dan papa yang sepertinya sedang berpacaran di teras rumah.
Mia menghela nafas sebelum turun dari mobil.
Kyara benar-benar tidak mau mengaku tentang pria yang tadi mengantarnya pulang.
Baiklah, Mia bisa mencari tahu sendiri.
Memangnya apa yang tidak bisa di lakukan oleh seorang nona Mia?
__ADS_1