
Sementara itu di kontrakan Bian,
"Bang! Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Eve bingung, karena mendadak nona Mia tadi bersikap cuek dan dingin pada Eve.
Dan lagi sampai hari menjelang malam, nona direktur itu belum juga kembali.
"Ingatan nona kaya itu sudah kembali," jawab Bian singkat.
"Apa? Apa nona Mia tadi mengamuk?" Cecar Eve bertubi-tubi. Ada nada khawatir di sana.
Bian tersenyum simpul,
"Hampir. Tapi abang sudah menyiapkan tameng, jadilah nona kaya itu tak bisa berkutik dan memilih kabur," jawab Bian dengan nada pongah.
"Bagaimana kalau dia memecat Eve dari perusahaannya?" Tanya Eve ketakutan.
"Kamu masih bisa mencari pekerjaan di tempat lain, Eve! Jangan cengeng begitu!" jawab Bian dengan nada enteng.
Eve berdecak,
Langsung di pecat oleh Nona Mia bukanlah masalah besar, tapi bagaimana kalau Eve mendapat caci maki sebelum nona direktur itu menendangnya keluar dari perusahaan bonafide tersebut.
Pasti akan sangat memalukan.
"Mandi sana! Abang akan keluar membeli makanan," ujar Bian sambil berlalu dan menghilang di pintu depan.
Tak lama kemudian, terdengar deru sepeda motor butut Bian yang semakin lama semakin menjauh.
Eve hanya mengendikkan bahu sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya sungguh terasa lelah dan gerah hari ini.
****
Dokter Ben sudah selesai memeriksa Mia.
Luka di kepala gadis itu cukup serius, jadi dokter Ben meminta Mia untuk ke rumah sakit besok dan melakukan scan kepala.
Mia hanya mengangguk malas.
Mia benci rumah sakit, jadi mungkin besok Mia tidak akan datang. Toh ingatannya sudah kembali seperti semula.
Apalagi yang perlu Mia khawatirkan?
Mama Alin menyuapi Mia dengan sabar, dan papa Andri masih menginterogasi Mia demi mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi pada putri sulungnya tersebut.
"Mia hilang ingatan, Pa. Dan seorang pria asing membawa Mia ke rumahnya untuk di jadikan budak," jawab Mia akhirnya.
"Apa!" Papa Andri sudah telonjak dari duduknya sekarang.
Putri kesayangannya dijadikan budak?
__ADS_1
Pemuda mana yang berani melakukan itu pada Mia?
Mungkin papa Andri akan memberinya pelajaran.
"Siapa pemuda itu?" Tanya papa Andri mulai emosi.
"Mia rasa kita tidak perlu membahasnya. Mia sudah memberinya pelajaran. Dia akan menangis darah sebentar lagi. Jadi papa tak perlu khawatir." Mia mengibaskan tangannya dengan santai.
Sudah tersusun dengan rapi di kepala Mia, apa saja yang akan Mia lakukan pada Bian dan Eve. Dua orang miskin itu akan menangis darah mulai besok.
Mia tak akan memberi ampun. Biar saja mereka menderita seumur hidup.
Biar mereka tahu kalau nona Mia adalah wanita kejam yang tidak bisa sembarangan mereka ganggu.
"Boleh saja memberi mereka pelajaran, Mia. Tapi jangan jadi gadis yang kejam." Nasehat mama Alin bijak.
Mia memutar bola matanya.
Apa mama sambungnya ini sudah berubah menjadi ibu peri sekarang? Hatinya selalu lembut dan penuh kasih sayang.
Sayangnya Mia enggan bersikap seperti itu. Mia lebih suka menjadi gadis kejam dan tegas agar tidak ada yang menginjak-injak ataupun meremehkannya.
Sesaat ruangan itu menjadi hening. Hanya ada suara detak jarum jam.
"Kak Mia!" Kyara yang baru saja keluar dari kamarnya tiba-tiba langsung menghambur dan memberi pelukan lebay kepada Mia. Membuat Mia harus kembali memutar bola matanya.
Gadis berusia dua puluh tahun tersebut sepertinya baru bangun dari tidur sorenya.
Jadwal hidup yang aneh.
Mia segera melepaskan pelukan lebay dari Kyara karena itu sungguh membuat Mia merasa kurang nyaman.
"Baiklah nona muda. Aku masih sehat dan masih hidup. Jadi hentikan tingkah lebaymu itu!" Ucap Mia dengan nada ketus.
"Kyara kangen sama kak Mia." Jawab Kyara masih dengan nada lebay.
"Jadi, kakak kemana saja dua pekan ini?" Kyara sudah duduk di sofa di samping Mia.
Mia memutar bola matanya entah untuk yang keberapa kali.
Haruskah Mia mengulangi ceritanya? Kenapa semua orang selalu menanyakan pertanyaan yang sama?
"Kakakmu sedang lelah, Ky. Nanti mama yang akan menceritakannya kepadamu." mama Alin yang melihat raut kesal di wajah Mia memilih untuk menengahi.
Anak sambungnya itu seperti sedang menahan amarah di hatinya.
Tapi pada siapa? Entahlah.
Sudah menjadi tabiat Mia sejak dulu. Jika sedang kesal dengan seseorang, gadis itu pasti memilih untuk menyimpannya sendiri, lalu menyelesaikan dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Meski kadang cara yang ditempuh Mia itu adalah cara yang salah, tapi Mia tak akan mau peduli.
Huh, kenapa gadis ini bisa tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala begini? Apa karena Alina yang selalu memanjakan Mia sejak kecil, dan menuruti semua kemauan gadis itu?
Alina hanya berusaha untuk menjadi ibu sambung yang baik untuk Mia. Lalu apa masalahnya?
Andri baru saja mengantar dokter Ben ke teras depan. Dokter keluarga itu memilih untuk berpamitan setelah selesai memeriksa Mia.
Kini papa Andri sudah kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa di sebelah Mia.
"Apa kepalamu masih sakit?" Tanya papa Andri pada putri sulungnya tersebut.
"Sedikit. Bagaimana dengan proyek Jogja? Apa aku mengacaukannya?" Tanya Mia serius.
"Papa sudah mengurus semuanya, Mia. Jangan terlalu di pikirkan. Yang terpenting sekarang adalah kamu harus pulih," ujar papa Andri panjang lebar.
"Mia akan ke kantor besok dan mengurus semua hal," tukas Mia yang langsung disambut decakan dari papa Andri dan mama Alin.
"Papa masih bisa mengurus semuanya, Mia. Jadi kamu jangan khawatir berlebihan seperti itu!" Papa Andri kembali menasihati Mia.
"Kakak tidak akan jatuh miskin, hanya karena tidak ke kantor selama dua pekan." Kyara ikut menimpali.
Mia berdecak,
"Kau tidak akan paham. Dasar anak kecil!" Mia menyentil kening Kyara, membuat gadis itu langsung mencebik.
Andri dan Alina hanya tertawa kecil.
"Tidak perlu buru-buru ke kantor, Mia. Kamu istirahahat saja dulu di rumah sampai luka di kepalamu itu sembuh. Mama akan merawatmu. " mama Alin ikut menasihati.
Mia menghela nafas.
Mungkin sebaiknya Mia menuruti perkataan kedua orang tuannya tersebut. Meskipun jujur, Mia sudah tidak sabar untuk segera mengomeli serta memecat Eve.
Ah, biarkan saja dulu.
Biarkan gadis itu menikmati dulu pekerjannya sebelum menjadi seorang pengangguran.
Dan Bian?
Pria itu juga bakal jadi pengangguran sebentar lagi.
Hahaha, Mia sungguh tidak sabar menyaksikan saat kakak beradik itu menangis karena kehilangan pekerjaan.
Malam semakin larut. Mia yang sudah lelah akhirnya masuk ke kamarnya dan merebahkan di ranjangnya yang empuk dan lebar.
Mungkin malam ini Mia akan bisa tidur nyenyak serta bermimpi indah.
Tak ada lagi kasur yang keras, tempat tidur yang sempit ataupun singkong rebus berbau sangit.
__ADS_1
Mia sudah kembali ke kehidupan normalnya sebagai nona Mia yang kaya dan bergelimang kemewahan.