
Bian sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah gedung pertemuan.
Hari ini, kedai es krim milik Bian menerima pesanan dalam jumlah cukup besar untuk sebuah acara.
Bian memilih untuk meninjau langsung ke lokasi acara untuk memastikan semuanya sesuai dan tidak ada kekeliruan.
Mobil yang ditumpangi Bian berhenti di lampu merah, dan netra Bian tak sengaja menangkap sosok anak kecil berseragam TK yang menangis di pinggir jalan.
Tunggu...
Bukankah itu Galen?
Apa yang di lakukan Galen di pinggir jalan.
Bian segera meminta karyawannya yang sedang menyetir, untuk menghentikan mobil.
"Galen!" Bian buru-buru turun dari mobil dan setengah berlari menghampiri putranya tersebut.
"Papa!" Galen menangis sesenggukan seraya memeluk Bian.
"Galen bersama siapa di sini? Mommy mana?" Cecar Bian seraya melihat ke sekitar tempat tersebut.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Mia.
"Galen mau ketemu papa. Tapi kata Mommy tidak boleh," Galen mengadu di sela-sela isak tangisnya.
Bian menghela nafas panjang.
"Tadi Galen darimana?" Tanya Bian lagi. Pria itu segera membawa Galen ke dalam gendongannya dan mengajaknya naik ke mobil.
"Galen kabur dari sekolah," jawab Galen masih sesenggukan.
Mobil yang membawa Bian sudah kembali melaju.
"Galen papa antar pulang ke kantor mommy, ya!" Bujuk Bian lembut.
Galen menggeleng cepat.
"Galen mau sama papa. Galen gak mau sama mommy," Galen mengeratkan pelukannya pada Bian.
Papa juga ingin bisa terus bersama Galen.
Mobil sudah sampai ke gedung pertemuan.
Bian memerintahkan karyawannya agar menangani semuanya.
Mungkin Bian akan membawa Galen jalan-jalan sebentar hingga sore lalu mengantarnya pulang.
Bukankah Bian papanya Galen?
__ADS_1
Jadi Bian rasa ini tidak akan jadi masalah.
Salah Mia. Kenapa melarang Galen bertemu Bian, padahal anak ini juga merindukan Bian. Dasar, ibu tak punya perasaan!
"Galen mau jalan-jalan sama papa?" Tanya Bian seraya mengusap kepala Galen.
"Galen mau Galen mau." Jawab galen berbinar senang.
"Baiklah. Ayo kita jalan-jalan!" Bian segera memacu mobil membelah jalanan yang sedikit padat karena sebentar lagi jam makan siang.
Bian akan membawa Galen ke pusat rekreasi keluarga yang ada di pinggiran kota.
****
Mia memijit pelipisnya sendiri. Pikirannya benar-benar kacau.
Baru beberapa saat yang lalu Mia menerima kabar soal hilangnya Galen. Kata pihak sekolah, Galen menyelinap keluar dari gerbang saat jam olahraga.
Sekarang ibu muda itu terlihat khawatir.
"Tidak ada di kedai es krim Bian. Di rumahnya juga tidak ada. Kata karyawan di toko, Bian sedang keluar kota untuk mengurus stok," Mike memberi laporan pada Mia.
Nona direktur itu hanya berdecak putus asa.
"Kenapa kau sangat yakin kalau Bian yang membawa Galen? Bukankah kata gurunya, Galen menyelinap dari gerbang sekolah?" Tanya Mike bingung.
Raut kesedihan tampak sekali di wajah ibu muda itu.
"Seharusnya kau memberi waktu pada mereka untuk bertemu, Mia. Bagaimanapun juga Bian adalah papa kandung Galen." Tukas Mike menghakimi.
"Apa katamu barusan, Mike? Bian papa kandung Galen?" Suara papa Andri yang tiba-tiba ada di ruangan Mia membuat Mia dan Mike terlonjak kaget.
Sejak kapan papa Andri di sini?
"Tidak, om..." Mike baru saja akan membantah, namun papa Andri mengangkat tangannya dengan cepat sebagai isyarat agar Mike diam dan tak melanjutkan bantahannya.
"Benar itu Mia?" Papa Andri ganti bertanya pada Mia.
"Kalau benar papa mau apa? Apa papa mau ikut menghakimi Mia sekarang?" Tanya Mia emosi.
"Kau tidak pernah menceritakannya pada papa," lirih papa Andri merasa kecewa.
"Karena Mia memang sudah melupakan Bian. Mia pikir pria itu sudah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi ke sini. Lalu mendadak Bian pulang, menemui Galen dan sekarang Bian membawa pergi Galen," Mia terduduk di sofa dan menangis tersedu.
Papa Andri segera menghampiri putrinya tersebut dan meraupnya ke dalam pelukan.
"Kita akan menemukan Galen, Mia. Dan papa akan memberi pelajaran pada pria brengsek itu," janji papa Andri berusaha menenangkan Mia.
*****
__ADS_1
"Sial!" Bian menendang ban mobilnya yang mendadak kempes.
Hari sudah gelap, dan Bian belum mengantar Galen pulang.
Mia pasti khawatir setengah mati.
Atau mungkin nona direktur itu sudah lapor polisi sekarang?
"Papa!" Galen melongokan kepala dari jendela mobil.
"Iya, sayang. Bagaimana kalau kita naik taksi saja pulang ke rumah oma Galen," tawar Bian pada sang putra.
Mereka sudah masuk di kawasan kota. Sepertinya tidak akan kesulitan mencari taksi.
"Galen mau pulang ke rumah papa," rengek Galen dengan raut mencebik.
Mendadak Bian jadi ingat wajah Mia saat Bian mengejek wanita itu. Mia juga selalu mencebik seperti ini.
"Galen bisa main ke rumah papa lain kali. Sekarang Galen ke rumah oma dulu, ya! Papa akan mengantar Galen," Bian mengusap kepala anak lelaki tersebut.
Sepertinya Galen juga sudah lelah karena seharian tadi mereka berdua bermain dan berenang di tempat wisata.
"Tapi papa janji, ya. Nanti pas Galen libur kita berenang bersama lagi," Galen menyodorkan jari kelingkingnya untuk membuat janji.
Bian tertawa kecil namun tetap mengikuti apa yang dilakukan Galen dan membuat janji kelingking.
"Pak Bian!" Seorang karyawan Bian yang tadi Bian hubungi, akhirnya datang menjemput.
Sekarang Bian bisa mengantar Galen pulang ke rumah omanya.
Galen sudah terlelap di sepanjang perjalanan. Bian sesekali mengusap wajah anak lelakinya tersebut.
Bian senang karena hari ini ia bisa bermain hingga puas bersama Galen.
Mobil sudah sampai di depan rumah kedua orangtua Mia.
Semoga Bian tidak salah mengingat,
"Kalian langsung kembali saja ke toko. Aku akan pulang naik taksi," pesan Bian pada dua karyawan yang mengantarnya.
Karyawan tadi mengangguk.
Bian turun dari mobil seraya menggendong Galen yang sudah terlelap.
Setelah minta ijin pada security yang berjaga, Bian di persilahkan masuk ke halaman rumah serba putih tersebut.
Rupanya tidak banyak yang berubah dari rumah kedua orangtua Mia ini sejak terakhir kali Bian berkunjung.
Bian berjalan sedikit cepat menuju ke teras rumah.
__ADS_1