Nona Mia

Nona Mia
RUMIT


__ADS_3

Steve segera menyusul Eve yang sudah turun dari mobilnya. Gadis itu sudah sampai di teras mungil rumah kontrakan sederhana tersebut.


"Eve!" Panggilan dari Steve hanya diacuhkan begitu saja oleh Eve.


Bian sudah berdiri di teras seakan menyambut kedatangan Eve.


Tentu saja Bian sedikit heran dengan tingkah Eve dan Steve yang sepertinya sedang ada masalah.


Ditambah lagi Eve yang datang dengan wajah mencebik, seperti memperjelas saja kalau sedang ada yang tidak beres di antara boss dan bawahan tersebut.


Apa mereka berdua baru saja bertengkar?


"Ada apa ini, Steve?" Tanya Bian sambil berkacak pinggang dan melotot tajam ke arah Steve.


Eve yang tadinya ingin segera masuk ke dalam rumah, memilih untuk mengurungkan niatnya dan kembali lagi ke teras untuk menjelaskan pada abang Bian.


Eve tidak mau ada kesalahpahaman di antara abang Bian dan Steve.


"Bang, jangan marah-marah ke Steve! Kami berdua baik-baik saja." bukan Steve, melainkan Eve yang menjawab pertanyaan Bian barusan.


"Memang yang bilang kalian berdua habis bertengkar siapa?" Bian malah memutar-balikkan fakta.


Eve menghela nafas dan Steve terlihat mengulum senyum.


"Eve, tolong pikirkan sekali lagi!" Pinta Steve dengan nada memohon.


"Aku tidak bisa, Steve! Maaf," jawab Eve dengan nada menyesal.


Bian mengernyit bingung,


"Memikirkan apa? Apanya yang tidak bisa?" Bian menatap bergantian pada Eve dan Steve. Sepertinya pria itu benar-benar bingung dengan perdebatan yang terjadi di antara Eve dan Steve.


"Bang, aku ingin Eve melanjutkan kuliah dan aku yang akan membiayainya. Tapi sepertinya Eve merasa keberatan." Steve mengadu pada Bian.


"Benar itu, Eve?" Bian menatap tajam ke arah adik perempuannya tersebut.


"Eve hanya tidak mau berhutang budi pada Steve, itu saja. Lagi pula Eve belum mau menikah dalam waktu dekat, Bang!" Eve memberi alasan.


"Aku tidak memaksamu untuk menikah denganku sekarang, Eve. Kamu bisa kuliah dulu lalu setelah lulus kita baru akan menikah." Steve ikut-ikutan memberi alasan. Sepertinya pria itu pantang menyerah.


Bian mengangkat tangannya ke arah Steve.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu! Kamu mau menikahi Eve tapi tidak meminta ijin kepadaku?" Bian melotot tajam ke arah Steve.


"Baru rencana, Bang." Steve menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit tak enak hati pada Bian yang mungkin akan mengomelinya sebentar lagi.


"Rencana bagus, aku tidak akan menghalangi niat baikmu itu," ucap Bian sok bijak.


Kapan lagi Bian punya adik ipar seorang dokter muda yang kariernya cukup mapan?


Jika Eve benar-benar menikah dengan Steve, setidaknya Bian bisa hidup tenang karena kehidupan sang adik akan membaik, dan Eve tak perlu lagi terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang entah kapan akan berakhir.


Bukankah kebahagiaan Eve adalah kebahagiaan Bian juga?


"Kenapa abang Bian jadi ikut-ikutan, sih?" Eve merasa tak terima.


"Eve, bukankah ini mimpi kamu? Kamu selalu bilang ke abang kalau kamu ingin melanjutkan kuliah suatu hari nanti. Dan sekarang, saat ada pria baik yang ingin membiayai kuliahmu, kenapa kamu menolaknya?" Ujar Bian panjang lebar.


Eve menghela nafas,


"Eve takut, Bang," jawab Eve lirih.


"Takut kenapa, Eve?" Bian masih belum paham dengan jalan pikiran adik perempuannya tersebut.


"Steve, kamu pria baik dan tampan. Kenapa harus memilihku yang hanya gadis miskin ini?" Eve ganti menatap ke arah Steve yang sejak tadi masih berdiri di samping abang Bian.


Bian menatap bergantian pada dua anak manusia yang sedang di landa kebucinan tersebut.


Si gadis yang sok jual mahal, dan si pemuda yang pantang menyerah demi meyakinkan gadis pujaan hatinya.


Apa ini adalah bucin yang sebenarnya?


"Terima saja, Eve! Steve mencintaimu, dan abang yakin kamu juga mencintai Steve," timpal Bian sok tahu yang langsung membuat Eve memukul bahu abangnya tersebut.


"Abang sok tahu!" Eve mencebik.


"Bukan sok tahu, abang memang tahu segalanya. Aku ini abangmu, Eve," ucap Bian penuh percaya diri.


Eve hanya berdecak. Benar-benar abang Bian yang sombong.


Apa abangnya ini sudah tertular penyakit sombong dari nona Mia?


"Jadi?" Steve masih menantikan jawaban dari Eve. Namun gadis itu sepertinya masih saja merasa ragu.

__ADS_1


"Begini saja..." Bian yang sudah merasa gemas memilih segera menengahi, kenapa Eve lama sekali memberi jawaban. Tinggal bilang 'iya' saja apa susahnya?


"Steve, apa kamu benar-benar mencintai Eve dan ingin menikahinya?" Bian bertanya serius pada Steve.


"Iya, Bang. Aku serius," jawab Steve dengan nada penuh keyakinan.


"Bagaimana kalau kalian bertunangan dulu, lalu biarkan Eve melanjutkan kuliah dan setelah Eve lulus kalian bisa langsung menikah," Bian menumpahkan semua ide cemerlang di otaknya.


"Bertunangan? Ini terlalu cepat, Bang!" Bantah Eve cepat.


"Baiklah aku setuju," berbeda dengan Eve yang membantah ide konyol dari sang abang, Steve memilih untuk langsung mengiyakan ide dari calon kakak iparnya tersebut.


"Steve!" Seru Eve merasa tak terima.


"Apa? Aku benar-benar ingin menjalin hubungan serius denganmu, Eve." Steve mencari pembenaran.


"Ayolah, Eve! Tak perlu jual mahal begitu. Steve sungguh-sungguh mencintaimu. Jika dia menyakitimu, abang yang akan memberinya pelajaran." Bian membujuk Eve sekali lagi.


Bian sepertinya paham dengan ketakutan yang dirasakan oleh Eve.


Eve pasti takut jika Steve meninggalkannya.


"Baiklah, terserah kalian saja," gumam Eve isambil menunduk malu.


Steve segera mendekat ke arah Eve.


"Jadi, kamu menerima lamaranku?" Tanya Steve sekali lagi.


Eve segera mengangguk meskipun masih sedikit malu-malu.


Namun hal itu sudah cukup untuk Steve. Pria itu segera meraup Eve ke dalam pelukannya.


Dan Bian yang menyaksikan semua adegan bucin itu hanya mendengus.


Semudah ini, kenapa Eve harus membuatnya menjadi rumit?


Bukankah seharusnya Eve langsung bilang 'iya' saja sejak awal?


Dasar wanita, isi kepalanya selalu saja rumit.


*****

__ADS_1


Masih di tunggu like, komen, dan vote nya...


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


__ADS_2