Nona Mia

Nona Mia
PENGANGGURAN


__ADS_3

Bian yang sedang duduk termenung di dalam rumah kontrakan sederhana tersebut kaget, karena tiba-tiba ada amplop coklat berisi lembaran-lembaran rupiah melayang ke wajahnya.


Dengan cepat Bian memunguti uang yang berceceran tersebut, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop.


Eve duduk dengan kasar di samping abangnya tersebut. Raut wajah Eve terlihat sedih dan bibirnya mencebik.


"Eve, kenapa mencebik begitu? Habis gajian seharusnya kamu tersenyum lebar" ucap Bian sok tahu.


"Ini semua gara-gara abang!" Jawab Eve dengan nada ketus.


Sontak, Bian langsung mengernyit bingung.


"Eve di pecat, Bang!" Eve berkata seraya mencebik. Tampak sekali raut kekecewaan di wajah gadis dua puluh satu tahun tersebut.


"Baguslah, kau tak perlu lagi melihat wajah sombong nona kaya itu mulai sekarang," timpal Bian cengengesan.Bian menghitung uang yang ada di amplop tadi.


Ini adalah amplop ketiga yang Bian terima hari ini.


Uang Bian sedang banyak hari ini, jadi kalaupun dirinya menganggur sebulan kedepan, Bian tetap akan bisa membayar kontrakan dan makan dengan enak.


"Kerjaan abang gimana?" Eve mengalihkan topik pembicaraan.


"Kerjaan yang mana? Abang juga baru saja dipecat sore tadi," jawab Bian sambil merebahkan tubuhnya di atas karpet tipis yang sedari tadi ia duduki bersama Eve.


"Apa? Jadi maksud abang, kita berdua sekarang menjadi pengangguran, begitu?" Eve langsung menaikkan nada bicaranya.


Bian hanya menerawang sambil menatap ke arah langit-langit rumah kontrakan tersebut.


"Gak usah lebay begitu, Eve! Kita tidak akan kelaparan. Kita punya banyak uang sekarang" jawab Bian dengan nada santai.


"Kita harus berhemat, Bang! Kita harus membayar uang kontrakan setiap bulan, dan belum tentu bulan depan abang dapat pekerjaan tetap" Sergah Eve cepat.


"Uang kontrakan sudah abang lunasi sampai bulan depan. Jadi kamu tenang saja," Bian menjeda kalimatnya.


"Dan gajimu itu bisa kita pakai untuk makan sehari-hari sampai kita berdua dapat pekerjaan baru" lanjut Bian dengan nada enteng.


Tentu saja Eve langsung kaget saat abangnya itu bilang kalau uang kontrakan sudah lunas.


Bukankah bulan kemarin mereka masih menunggak satu bulan?


Itu artinya abang Bian membayar kontrakan untuk tiga bulan.


Tunggu...

__ADS_1


Dari mana abang Bian mendapat uang sebanyak itu?


Bahkan gaji bulanan abang Bian hanya separuh dari gaji Eve di perusahaan nona Mia.


"Abang dapat uang dari mana?" tanya Eve curiga.


Bian sudah bangun dan kini duduk di dekat Eve,


"Kau tidak akan percaya, Eve! " Bian bercerita dengan nada serius sambil menatap serius pada Eve.


Eve mengernyit.


"Tadi sore, motor abang tidak sengaja di tabrak oleh sebuah mobil nona kaya..." Bian yang belum menyelesaikan kalimatnya, langsung terdiam saat Eve memotong dengan cepat.


"Lalu nona kaya itu memberi uang ganti rugi pada abang, begitu?" Potong Eve cepat. Nada bicara gadis itu terdengar ketus.


Bian seperti paham kalau adiknya itu sedang tidak suka dengan cerita Bian. Pasti Eve mengira kalau Bian sedang mengarang cerita.


"Memang seberapa tampan sih, wajah Abang? Kenapa semua gadis yang menabrak abang langsung memberikan abang uang ganti rugi dengan nominal besar?" Tanya Eve bersungut-sungut.


"Apa abang juga memberikan bonus pada mereka?" Tambah Eve sarkas.


"Eve, abang bicara apa adanya. Abang hanya punya banyak keberuntungan, itu saja." Bian mencari pembenaran.


Eve berdecak,


Bian mengernyit tak mengerti.


Sejak kapan Eve suka berpikiran negatif dan berprasangka buruk seperti ini?


"Dengar ya, Bang! Sudah cukup nona Mia saja yang abang ganggu. Jangan mencari masalah dengan nona kaya lain!" Eve menuding ke arah sang abang.


"Masalah apa, Eve? Aku tidak pernah mencari masalah." Bian menyangkal dengan cepat.


Eve berdecak,


"Lalu apa yang abang lakukan dengan nona Mia kemarin kalau bukan mencari masalah? Lihat sekarang akibatnya! Eve dan abang jadi di pecat dari pekerjaan gara-gara ulah abang kemarin." Eve mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya.


"Baiklah, baiklah! Sudah cukup berdebatnya. Abang mau pergi." Bian beranjak berdiri dan dengan cepat menghilang ke arah pintu depan.


Eve mendengus dan tak berkomentar lagi. Eve lelah sekarang.


Mungkin sebaiknya Eve mandi agar kepalanya sedikit dingin.

__ADS_1


*****


Pagi-pagi Eve sudah rapi, gadis itu berniat pergi ke alamat yang kemarin diberikan oleh Anggi. Eve tidak bisa terus-terusan berdiam diri di rumah, meskipun uangnya masih lebih dari cukup jika hanya sekedar untuk makan atau membeli kebutuhannya.


"Eve, mau kemana? Bukannya kamu pengangguran sekarang?" Tanya Bian yang baru saja datang.


Pria itu membawa satu kantung plastik yang sepertinya berisi makanan.


Eve memang tidak memasak sejak semalam.


Eve sedang kesal dengan abang tersayangnya itu.


"Silahkan abang saja yang jadi pengangguran. Eve masih punya banyak mimpi untuk diwujudkan. Jadi Eve akan mulai bekerja keras." jawab Eve sarkas.


Bian hanya mengendikkan bahu,


"Abang juga akan mencari pekerjaan hari ini, abang juga punya banyak mimpi untuk di wujudkan." Bian menirukan kata-kata Eve barusan.


Eve hanya memutar bola mata, sepertinya gadis itu masih kesal.


"Makanlah dulu, Eve! Abang sudah membelikan sarapan untuk kita berdua" Bian pergi ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.


Meskipun kesal, Eve menurut saja dan membuka sarapan yang tadi dibawa oleh Bian.


Kakak beradik itu menikmati sarapan dengan suasana hening. Tak ada obrolan apapun.


Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tak butuh waktu lama dan kedua kakak beradik itu sudah menyelesaikan sarapan mereka.


Bian memilih untuk membereskan semuanya, karena sepertinya Eve masih kesal.


"Eve, kamu mau melamar pekerjaan ke mana? Abang antar ya?" Tawar Bian mencoba mencairkan keheningan di antara dirinya dan adik perempuannya tersebut.


Eve berpikir sejenak.


Alamat klinik yang kemarin di berikan Anggi lumayan jauh dari rumahnya. Kalaupun Eve naik angkutan umum, Eve harus berpindah angkutan juga. Jadi mungkin sebaiknya Eve menerima tawaran dari abangnya ini.


"Baiklah, kalau abang memaksa. Eve akan menunggu di teras," jawab Eve lirih sambil berlalu keluar dari pintu depan.


Bian cepat-cepat menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya.


Tak butuh waktu lama, dan Bian sudah siap mengantar Eve dengan motor bututnya.

__ADS_1


Kakak beradik itupun segera berlalu meninggalkan kontrakan sederhana mereka.


__ADS_2