Nona Mia

Nona Mia
KAU BISA APA SEKARANG?


__ADS_3

Gedung itu tidak terlalu besar dan tidak pula terletak di pusat kota. Namun sekarang, gedung itu terlihat elok dengan dekorasi bunga serba putih khas pernikahan. Tamu yang datang tidak terlalu banyak. Hanya ada keluarga serta sahabat dari calon mempelai.


Mia turun dari mobil masih mengenakan kacamata hitam. Gaun sifon selutut yang mengembang di bagian bawahnya, terlihat anggun dan melekat sempurna di tubuh molek Mia.


Sebuah tas kecil dengan merk ternama melingkar di lengan kiri nona direktur tersebut.


Mia masuk ke dalam gedung dengan langkah pongah dan berbaur dengan para tamu yang hadir.


Deretan kursi serba putih berjajar rapi di bagian kiri dan kanan membentuk sebuah lorong yang menuju ke altar pernikahan yang terlihat indah dengan hiasan bunga-bunga. Tempat dimana Steve dan Eve akan mengikat janji sakral pernikahan mereka.


Mia duduk di deretan kursi paling belakang. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


Kita pasti akan menggelar pernikahan di gedung mewah dengan dekorasi yang glamour dan mewah, Steve.


Andai kamu mau menikah denganku.


Mia berdecak berulang kali.


"Jadi, apa kau juga ingin mengacaukan pernikahan Eve hari ini?" Sebuah suara yang Mia benci belakangan ini terdengar dari samping tempat duduk Mia.


Membuat semua lamunan Mia tentang pernikahan indahnya bersama Steve buyar seketika.


"Steve mengundangku, jadi aku memutuskan untuk datang ke pernikahan bodoh ini. Bukankah aku harus menghargai undangan seseorang?" Jawab Mia seraya menoleh ke arah Bian.


Astaga!


Kenapa pria brengsek ini terlihat tampan dan menawan mengenakan setelan jas warna putih. Lihatlah rambutnya yang tersisir rapi dan jambang tipis yang menghiasi wajahnya.


Mia seakan terhipnotis dengan penampilan Bian yang tampak berbeda hari ini.


Apa ini sungguh-sungguh Bian si pria brengsek dan kere itu?


"Halo, Nona kaya!" Bian menjentikkan jarinya di depan wajah Mia.


Sesaat Mia kembali sadar dari lamunannya. Gadis itu segera membuang pandangannya ke arah lain. Kemana saja asal bukan ke arah Bian brengsek yang entah kenapa bisa membuat seorang nona Mia terpesona.


Bian tertawa mengejek,


"Apa kau terpesona dengan wajah tampanku sekarang?" Tanya Bian penuh percaya diri.


Mia berdecak kesal,


"Jangan terlalu percaya diri. Aku yakin jas itu hanya pinjaman. Dan mungkin sepatu, dasi, kemeja, celana, itu semua juga hanya pinjaman. Jadi, kenapa aku harus terpesona pada pria kere sejenis dirimu?" Jawab Mia dengan nada sinis.


Bian terkekeh,

__ADS_1


"Kau benar, aku memang pria kere dan brengsek yang suka minta uang kepada para nona kaya sepertimu. Dan kau begitu murah hati sampai-sampai kau memberiku bonus sebuah ciuman dan nyaris merenggut keperjakaanku," timpal Bian dengan nada tak kalah sinis.


Mia langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Bian yang blak-blakan.


Dasar pria mesum!


"Apa kau begitu tergila-gila dengan tubuh indahku, hingga kau selalu membahas hal mesum itu setiap kali kita bertemu?" Tanya Mia menyindir.


Bian tergelak mendengar pertanyaan Mia barusan,


"Aku rasa hanya pria tidak waras yang tergila-gila pada seorang nona Mia, apalagi sampai berpikir untuk tidur dengan gadis macan sepertimu," ejek Bian seraya mempraktekkan gerakan hendak mencakar layaknya seekor macan.


Mia berdecak kesal,


"Aku juga tidak tertarik untuk tidur dengan pria berpenyakit seperti dirimu," balas Mia ketus.


"Hei nona kaya! Jaga ucapanmu! Aku ini pria sehat," Bantah Bian cepat.


Tentu saja Bian tidak terima dikatakan sebagai pria berpenyakit, apalagi yang dimaksud Mia di sini pastilah penyakit kelamin yang sebenarnya hanyalah bualan dari Bian dan Eve untuk menipu Mia waktu itu.


"Siapa yang tahu? Kau bahkan mengatakan secara terang-terangan kepadaku saat itu," sahut Mia masih sinis


"Apa kau ingin melihatnya sekarang?" Bian sudah bersiap menurunkan resleting celananya.


"Aku harap kamu masih punya rasa malu dan tidak benar-benar menunjukkan kemaluanmu itu dihadapan umum, apalagi di pesta pernikahan adik kesayanganmu," sindir Mia pedas.


Bian berdecak, dan segera membenarkan kembali risleting celana serta penampilannya.


"Kita bisa ke kamar mandi dan kau bisa melihatnya sendiri. Dan akan aku buktikan kalau aku pria sehat yang masih perjaka," tawar Bian dengan nada pongah.


"Apa aku juga boleh memotongnya menjadi dua bagian setelah kau memperlihatkan benda itu kepadaku?" Tanya Mia seraya mendelik ke arah Bian.


Seketika Bian langsung bungkam.


Dasar nona kaya kejam dan sadis!


Bisa-bisanya dia berpikir untuk memotong aset paling berharga milikku.


Bagaimana nasib masa depan dan garis keturunanku kelak, kalau dia sungguh-sungguh memotongnya?


Bian tak berhenti menggerutu dalam hati.


Kursi kosong di ruangan tersebut, kini sudah di penuhi oleh tamu undangan. Steve juga sudah berdiri di altar pernikahan, menunggu Eve sang mempelai wanita.


Mia memandang sekali lagi pada pria berkacamata tersebut, Steve terlihat sangat tampan hari ini. Sayangnya, bukan Mia yang akan menikah dengan pria tampan tersebut.

__ADS_1


"Eve dan Steve akan mengikat janji suci pernikahan di hadapan Tuhan hari ini. Semoga setelah ini kau tidak akan mengganggu kehidupan mereka lagi," Bian berbisik di telinga Mia.


Mia masih diam dan mencoba mengabaikan bisikan Bian yang lebih mirip bisikan setan tersebut.


"Lagipula, nona Mia yang terhormat tidak akan mungkin menjadi pelakor dalam kehidupan rumah tangga orang lain. Bukan begitu?" Imbuh Bian sekali lagi dengan nada menyindir.


Kali ini Mia mendengus,


"Tentu saja tidak. Aku adalah nona Mia yang murah hati, jadi aku akan membiarkan pria yang aku cintai menikah dengan seorang gadis miskin adik dari pria kere dan mata duitan," Mia menjeda kalimatnya.


"Aku jadi bertanya-tanya, apa Steve tahu kalau abang iparnya itu mata duitan dan suka moroti orang-orang kaya seperti diriku?" Lanjut Mia balik menyindir Bian.


Bian tertawa kecil,


"Steve adik iparku yang paling pengertian. Tanpa aku minta, dia akan memberiku uang secara cuma-cuma," jawab Bian pamer.


"Dasar pria bodoh! Mudah sekali dimanfaatkan," gumam Mia geregetan.


Eve sudah bersiap menuju ke altar. Gadis itu terlihat anggun mengenakan gaun pengantin putih panjang yang menyapu lantai.


Bian beranjak dari duduknya dan sedikit merapikan penampilannya.


Sepertinya pria itu akan mengantar Eve menuju altar pernikahan.


"Semoga kau menikmati upacara pernikahan mantan kekasihmu ini, Nona kaya. Jangan mempermalukan dirimu sendiri!" Bisik Bian sebelum berlalu dari samping Mia.


Mia memilih untuk mengabaikannya. Mia masih sempat melihat saat Eve yang di gandeng oleh Bian berjalan dengan anggun menuju altar pernikahan dan bertemu dengan Steve.


Dua sejoli itu akhirnya saling berpegangan tangan dan bersiap untuk mengucapkan janji suci pernikahan di depan Tuhan.


Mia mengenakan kacamata hitamnya dan segera berlalu dari ruangan tersebut, sesaat sebelum Eve dan Steve mengucapkan janji pernikahan. Saatnya melupakan Steve dan semua janji manis pria bodoh itu.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Terima kasih juga yang sudah like, komen, dan memberi vote.


Kalau merasa tanggung bacanya, bisa di rapel pas hari Minggu saja bacanya. Karena Senin sampai Sabtu author cuma up satu episode.


Hari Minggu baru double up.

__ADS_1


__ADS_2