
"Mia, Bian! " Teguran dari papa Andri membuat Bian buru-buru melepaskan tangannya yang masih membelit pinggang Mia sedari tadi.
"Selamat malam, Om," sapa Bian cepat seraya meraih punggung tangan papa Andri untuk ia cium.
"Papa baru datang?" Mia segera memeluk papa Andri dengan manja.
"Selamat malam, tante Alin. Anda cantik malam ini, " Bian ganti menyapa sekaligus memuji mama sambung Mia tersebut.
Mama Alin tertawa kecil,
"Kamu juga terlihat tampan malam ini, Bian. Tante hampir tidak mengenalimu," sahut mama Alin sedikit terkekeh.
"Mama dan papa dari mana? Kenapa baru datang?" Cecar Mia yang kini sudah melepaskan pelukannya pada papa Andri.
"Ada acara di tempat lain yang juga harus kami datangi, Mia," jelas mama Alin.
Mia hanya mengangguk.
"Kau sudah memperkenalkan Bian pada Abram?" Papa Andri ganti bertanya pada Mia.
"Ya, mereka sudah berkenalan. Dan apa papa percaya? Mereka langsung jadi teman yang akrab," ujar Mia melebih-lebihkan.
Akrab apanya?
Pria bernama Abram itu terus saja menatap Bian dengan pandangan tidak bersahabat.
"Bukankah itu berita bagus?" Timpal papa Andri seraya tersenyum hangat.
Sepertinya papa dari nona kaya ini memang orang yang ramah dan murah senyum. Sangat berbeda dengan nona Mia yang selalu ketus dan kata-katanya juga pedas.
*****
Menjelang tengah malam, Bian dan Mia baru tiba di depan kafe Bian. Suasana sudah sepi. Sepertinya Eve dan Steve sudah pulang ke rumah mereka.
Bian membuka sabuk pengamannya,
"Terima kasih sudah mengantarku pulang malam ini, nona Mia," ucap Bian berbasa-basi.
Bukannya menjawab basa-basi dari Bian, Mia malah menyodorkan sebuah map pada Bian.
"Apa ini?" Tanya Bian cepat.
"Buka saja," jawab Mia singkat.
Bian membuka map yang tadi diangsurkan Mia dan membacanya sejenak. Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir pria tersebut.
"Kau melunasi semuanya? Terima kasih banyak nona Mia," ucap Bian dengan nada tulus.
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku. Terima kasih juga karena kau sudah menyelamatkanku dari sebuah perjodohan konyol," Mia menatap ke arah Bian.
"Ada surat kontrak tentang hubungan di antara kita di dalam map itu," Mia menunjuk ke arah map yang masih di pegang oleh Bian.
Dengan cepat Bian mencari surat kontrak yang dimaksud Mia.
Setelah menemukannya, Bian segera membacanya.
__ADS_1
Di dalam surat itu tertulis, Bian akan menjadi pacar pura-pura Mia selama enam bulan ke depan. Dan selama itu pula, Bian harus siap kapanpun Mia memintanya untuk menemani nona direktur itu ke berbagai pesta perusahaan.
"Enam bulan? Itu terlalu lama, nona Mia!" Bian mengajukan protes.
"Perjanjian bisa berakhir lebih cepat jika aku menemukan pangeran impianku," balas Mia santai.
"Bagaimana jika aku yang menemukan gadis impianku? Apa perjanjian juga bisa langsung berakhir?" Sergah Bian sedikit memohon.
"Tentu saja tidak! Aku yang membuat perjanjian ini. Jadi hanya aku yang bisa membatalkannya kapanpun aku mau," tukas Mia seraya bersedekap.
Curang sekali!
"Apa yang akan terjadi setelah enam bulan dan ternyata kau belum menemukan pangeran impianmu itu?" Tanya Bian penasaran.
"Kau berselingkuh dengan wanita lain, aku memergokimu, lalu kita putus," jawab Mia dengan nada santai.
"Apa!" Seru Bian yang merasa tak terima.
"Kenapa kau menjatuhkan imejku sebagai pria baik-baik?" Protes Bian sekali lagi.
"Imej yang mana? Memangnya kau siapa? Artis terkenal?" Cecar Mia dengan nada sinis.
"Tapi kenapa harus aku yang berselingkuh. Kenapa bukan kau saja yang berselingkuh dan meninggalkanku karena aku pria miskin?" Bian memberikan usul.
Mia memutar bola matanya.
"Jika kau yang berselingkuh, aku bisa memberi alasan pada papaku kalau aku terluka dan trauma pada seorang pria. Jadi papaku tidak akan merencanakan sebuah perjodohan konyol lagi untukku," jelas Mia panjang lebar.
Bian mendengus,
Ya, ya, ya
Terserah saja, nona kaya!
"Apa aku boleh membantu mencari pangeran impianmu yang masih tersesat itu?" Tawar Bian sedikit ragu.
Bian masih keberatan jika akhir dari kontraknya bersama nona Mia harus dengan skenario berselingkuh. Bian ingin tetap mempertahankan imej dirinya sebagai pria baik-baik yang hanya setia pada satu gadis seumur hidupnya.
Jadi Bian akan memilih opsi kedua. Bian akan membantu nona kaya ini menemukan seorang pangeran impian.
Entah pangeran yang bagaimana yang sebenarnya diinginkan oleh Nona Mia yang terhormat ini.
"Kau mau mencari di mana memangnya?" Sahut Mia sinis.
"Akan aku pikirkan nanti. Yang terpenting kau beritahu dulu pangeran bagaimana yang sebenarnya ingin kau cari," tukas Bian dengan wajah seserius mungkin.
Mia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu menunjukkannya di depan wajah Bian.
"Seperti ini, " ujar Mia singkat.
Bian mengernyit bingung,
"Kaca? Kau ingin menikah dengan sebuah kaca?" Ucap Bian sedikit ragu.
Apa nona kaya ini memang gila?
__ADS_1
Dia ingin menikah dengan sebuah kaca?
Mia berdecak sebal.
"Lihatlah ke dalam kaca itu, bodoh!" Geram Mia masih berdecak.
"Wajahku yang tampan?" Gumam Bian lirih seraya mengusap wajahnya sendiri.
"Tunggu, kau ingin menikah dengan wajahku yang tampan ini?" Tebak Bian mulai khawatir.
Mia tergelak,
"Kau sendiri bagaimana? Mau menikah denganku?" Sahut Mia masih tergelak.
"Tidak!" Jawab Bian cepat dan setengah berteriak.
"Kalau begitu tidak perlu sok-sokan ingin mencarikan pacar untukku!" Dengkus Mia mulai kesal.
"Aku hanya ingin membantumu, nona kaya." Ujar Bian memberi alasan.
"Aku tidak butuh bantuanmu. Aku bisa mencari pangeran impianku sendiri. Kau paham?" Gertak Mia dengan tatapan mata yang tajam.
Bian hanya mencibir seraya mengendikkan bahu.
"Tentu saja saya paham, nona Mia yang terhormat," jawab Bian berlebihan.
"Silahkan turun dari mobilku kalau urusanmu sudah selesai!" Usir Mia pada pacar sewaannya tersebut.
Bian membuka jas yang ia kenakan dan menutupkannya ke dada Mia.
"Hari sudah malam nona kaya, dan kau menyetir mobil sendirian. Bagaimana jika nanti di lampu merah ada yang mengintip ke dalam mobilmu dan melihat pay*daramu yang nyaris keluar itu?" Ujar Bian setengah berbisik di telinga Mia.
Blush!
Seketika wajah putih Mia jadi merona merah.
Kenapa Bian perhatian sekali?
"Lagipula, kau yang membelikan jas mahal itu untukku kemarin, jadi anggap saja aku mengembalikannya padamu karena aku sudah selesai memakainya," imbuh Bian lagi yang seketika membuat Mia merasa kesal.
Sial!
Kenapa aku jadi berpikir macam-macam?
Mia mengumpat dalam hati.
Bian sudah turun dari mobil Mia.
"Terima kasih tumpangan gratisnya, nona Mia. Selamat malam," pamit Bian seraya berlalu masuk ke dalam kafenya.
Mia masih mematung di dalam mobilnya. Gadis itu memandang Bian melalui kaca spion mobilnya, hingga pria tersebut menghilang di balik pintu kafe.
Mia membenarkan jas Bian yang menutupi dadanya.
Masih bisa Mia hirup aroma khas dari Bian yang menempel di jas tersebut.
__ADS_1
Astaga!
Perasaan macam apa ini?