Nona Mia

Nona Mia
MELAMARMU


__ADS_3

"Jadi, kalian akur sekarang?" Tanya Eve yang kini duduk bersama Bian di taman kompleks.


Galen dan Rachel sedang bermain bersama anak-anak lain di taman tersebut.


Ini sudah yang kesekian kalinya Galen menghabiskan waktu bersama Bian.


"Mia sudah banyak berubah sekarang. Dia bukan lagi gadis sombong dan pemarah," ujar Bian seraya menerawang.


"Abang jatuh cinta pada nona Mia?" Timpal Eve seraya terkekeh.


"Menurutmu?" Bian malah balik bertanya.


Eve mengendikkan bahu.


"Eve senang jika abang sudah benar-benar move on dari kak Dea dan mulai membuka hati untuk wanita lain. Abang juga berhak bahagia," tukas Eve bijak.


Bian merangkul adik kesayangannya tersebut.


"Apa kau keberatan jika abang melamar nona Mia dan menikah dengannya?" Tanya Bian dengan nada serius.


"Kenapa Eve harus keberatan? Apapun pilihan abang, Eve akan selalu mendukungnya" jawab Eve cepat.


Bian tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, abang titip Galen. Abang mau pergi sebentar," ujar Bian yang kini sudah beranjak dari duduknya.


Pria itu menghampiri Galen, dan mengatakan sesuatu. Galen terlihat mengangguk. Lalu Bian lanjut pergi meninggalkan taman dan memacu motornya.


Entah mau kemana abangnya itu, Eve akan membiarkannya saja.


****


Tepat pukul tujuh malam, mobil Eve sudah sampai di depan gedung apartemen Mia.


"Mau Eve tunggu, Bang?" Tanya Eve sekali lagi.


Bian terlihat rapi dan wangi malam ini.


Sepertinya papa dari Galen ini akan melancarkan misinya malam ini. Misi melamar nona Mia.


"Tidak usah, Eve! Kamu langsung pulang saja. Rachel terlihat sudah mengantuk. Abang akan pulang naik taksi nanti," jawab Bian santai.


Eve tersenyum,


"Abang akan pulang 'kan malam ini?" Eve mulai curiga.


"Tentu saja, Eve. Meskipun nona Mia menerima lamaran abang, abang tetap akan pulang ke rumah," sahut Bian cepat.


Eve terkekeh,


"Baiklah! Eve akan menunggu kabar baik setelah ini. Semoga semuanya berjalan lancar," Eve menepuk punggung Bian sebelum pria itu turun dari mobilnya.


"Bye tante Eve, bye Rachel," Bian melambaikan tangan pada Eve dan Rachel.


Bian segera membawa anak lelakinya itu turun dari mobil Eve, dan keduanya masuk ke lobi utama gedung apartemen.


Hati Bian benar-benar bahagia malam ini.


Bian sudah sangat yakin kalau Mia akan menerima lamarannya kali ini dan tidak menolaknya.


Bian dan Galen sudah sampai di ddpan unit apartemen Mia.


Bian baru saja akan menekan bel, namun pintu sudah dibuka dari dalam.

__ADS_1


Mia terlihat berdiri di depan pintu mengenakan terusan polos selutut berwarna putih.


Perasaan Bian saja atau nona direktur itu memang terlihat lebih cantik malam ini?


"Mommy!" Galen langsung memeluk sang mommy.


"Mommy baru saja akan menjemputmu ke bawah. Kau sudah sampai di sini," ujar Mia yang juga memeluk Galen erat.


"Ayo masuk!" Mia memberi kode pada Bian agar ikut masuk.


"Kalian sudah makan malam?" Tanya Mia lagi yang kini berjalan ke arah ruang makan sembari menggendong Galen.


Bian mengekori nona direktur tersebut.


"Aku sudah, tapi Galen hanya makan sedikit tadi," jawab Bian menjelaskan.


"Bagaimana kalau kita bertiga makan pizza sekarang?" Mia membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.


Ada satu pan pizza yang masih hangat di sana.


"Galen mau Galen mau" ucap Galen bersemangat.


"Aku sudah kenyang, Mia." Bian berusaha menolak, namun pizza itu juga terlihat menggoda selera.


Ngomong-ngomong soal pizza, Bian jadi ingat pertemuannya pertama kali dengan Mia dulu. Bukankah saat itu Bian juga adalah seorang kurir pizza?


Sebuah pertemuan konyol yang entah bagaimana bisa jadi serumit sekarang.


Tapi Bian tak akan membuatnya rumit lagi malam ini. Bian akan membuatnya berakhir dengan indah.


"Kau bisa makan sedikit," Mia sudah memberikan satu potong pizza ke piring Bian.


"Papa harus makan, bareng Galen!" Ucap Galen dengan mulut penuh pizza.


"Mommy, kata papa nanti akhir pekan papa mau mengajak Galen piknik ke tempat yang bagus kemarin itu," Galen mulai berceloteh,


"Oh, ya? Galen saja yang di ajak papa? Bagaimana dengan mommy? Apa mommy boleh ikut?" Cecar Mia menimpali celotehan Galen.


"Bagaimana, Papa?" Galen bertanya pada Bian yang masih mengunyah pizzanya.


"Tentu saja, kalau mommy tidak sibuk mommy boleh ikut juga," jawab Bian tersenyum lebar.


"Kita akan pergi bertiga. Hore!" Galen bersorak senang.


Bian mencuri pandang ke arah Mia yang sibuk membersihkan sisa-sisa pizza di mulut Galen.


Semoga setelah ini, Bian, Mia dan Galen juga akan segera tinggal bertiga didalam satu rumah.


"Papa akan membacakan dongeng untuk Galen lagi, kan?" Tanya Galen yang kini sudah bergelayut di pangkuan Bian.


"Tentu saja. Apa Galen sudah mengantuk?" Bian balik bertanya.


Rencananya, Bian akan melamar Mia saat Galen sudah tertidur nanti.


Tidak ada salahnya 'kan Bian melakukan moment romantis itu berdua saja dengan Mia tanpa gangguan dari Galen?


"Ayo papa, kita ke kamar Galen!" Galen menarik tangan sang papa agar mengikutinya.


Bian hanya menurut, setelah mencuri pandang sekilas ke arah Mia yang tengah membereskan sisa-sisa makan malam tadi.


Tunggu aku, Mia!


****

__ADS_1


Setelah cukup lama Bian menemani Galen mengobrol serta membacakan dongeng pengantar tidur, akhirnya bocah itu terlelap juga.


Huh, mendadak Bian jadi gugup.


Bian merapikan penampilannya sekali lagi. Tak lupa pria itu memeriksa kotak cincin yang ada di sakunya.


Bian tersenyum sendiri di depan kaca,


"Semoga Mia tidak menolakku malam ini," gumam Bian penuh harap.


Setelah menarik nafas panjang berulang kali, Bian membuka pintu kamar Galen perlahan. Ruang tengah yang ada di depan kamar Galen sepi. Mia tidak ada di sana.


Bian menyapukan pandangannya ke ruang makan yang juga sudah gelap.


Apa Mia sudah tidur?


Namun saat pandangan Bian mengarah ke ruang tamu, Bian mendapati Mia yang sedang duduk bersebelahan dengan Mike.


Tunggu, kapan asisten sialan itu datang?


Bukankah tadi pria itu tidak ada di rumah ini saat Bian datang mengantar Galen?


Mia dan Mike duduk berdekatan dan posisi keduanya membelakangi Bian.


Namun Bian bisa melihat dengan jelas saat Mike menyodorkan sebuah kotak cincin yang lebih besar ukurannya dari milik Bian pada Mia. Dan nona direktur itu langsung menerima kotak cincin tersebut dengan cepat dengan senyuman bahagia tersungging di bibirnya.


Sakit!


Mendadak hati Bian terasa sakit.


Apa ini artinya Bian sudah terlambat?


Mike sudah terlebih dahulu melamar Mia. Dan sudah bisa dipastikan kalau nona direktur itu juga menerima lamaran Mike.


Bian memejamkan matanya sejenak demi menahan rasa nyeri yang menyelimuti hatinya.


Bian berbalik dan memilih masuk kembali ke kamar Galen.


Bian memeluk erat putranya tersebut. Matanya tak berhenti meneteskan airmata.


Bian merasakan patah hati.


Ponsel Bian menyala menandakan ada pesan masuk.


Bian membuka pesan dan membacanya sejenak.


Baiklah! Kali ini keputusan Bian sudah bulat.


Bian akan pergi jauh saja dari kehidupan Mia dan Galen.


Bian yakin kalau Mia dan Galen akan bahagia bersama Mike.


.


.


.


Gimana... gimana...gimana?


Kita tunggu konfirmasi dari Nona Mia malam ini๐Ÿ˜ท


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ๐Ÿ’•


__ADS_2