
Hari beranjak sore,
Mia baru saja keluar dari lift yang mengantarnya ke lobi kantor. Gadis dua puluh lima tahun itu mengenakan setelan baju kerja dan celana panjang berwarna pink lembut, membuatnya terlihat anggun dan berkelas.
Mia mengenakan kacamata hitamnya sebelum berjalan menuju ke arah pintu utama yang ada di lobi tersebut.
Semua karyawan yang berpapasan nona direktur tersebut, segera menunduk hormat dan menyapa dengan sopan.
Saat Mia sudah akan keluar dari pintu utama, seseorang yang mengenakan jaket hoodie berwarna hitam menghalangi jalan Mia.
Seseorang yang entah pria entah wanita tersebut sepertinya kurang ajar sekali.
Apa orang ini tidak tahu, kalau yang ia cegat adalah seorang nona direktur?
Orang tak tahu diri itu membuka hoodie jaket yang menutupi kepalanya.
Kini Mia tahu kalau itu adalah seorang gadis yang mengenakan masker dan kacamata tebal.
"Kyara?" Tebak Mia cepat.
Gadis itu mendengus.
"Aku akan mengikuti permainanmu, nona kaya," ujar Kyara ketus.
Gantian Mia yang berdecak,
"Gadis pintar," puji Mia dengan nada meremehkan.
"Tapi sebaiknya kau siapkan hatimu juga, karena aku yakin sebentar lagi hatimu akan patah berkeping-keping," imbuh Mia sinis.
"Bagaimana jika semua omongan kakak itu bohong dan Bian tidak seperti yang kakak katakan? Apa kakak mau minta maaf pada Bian?" Kyara menantang sang kakak.
Astaga! Apa gadis ini masih saja bodoh dan percaya kepada Bian?
"Jika omonganku salah, aku akan minta maaf pada Bian dan mencium kaki pria brengsek itu. Kau senang sekarang?" Jawab Mia pongah.
Mia tidak akan pernah mencium kaki pria brengsek itu, karena semua omongan Mia tentang Bian memang benar adanya.
Kyara saja yang bodoh dan terus percaya pada pria brengsek itu.
Apa cinta memang sebodoh itu?
"Baiklah, deal!" Kyara mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan.
Sedikit malas, namun Mia terap menyambut uluran tangan dari Kyara.
Kekanak-kanakan sekali.
"Ikut aku, dan pakai dengan benar maskermu itu!" Perintah Mia ketus sambil berlalu keluar menuju pintu utama gedung.
Mobil beserta supir Mia sudah siap di depan lobi.
Tak butuh waktu lama, dan kakak beradik itu segera meluncur ke kafe milik Bian.
*****
Kyara masuk duluan ke kafe Bian.
Hoodie jaket yang menutupi kepala, masker, serta kacamata tebal, membuat Kyara sekilas seperti seorang pria. Tentu saja Bian tak akan tahu kalau itu adalah Kyara.
Tak berselang lama, Mia menyusul masuk ke kafe sialan tersebut.
__ADS_1
Kafe yang sebenarnya sangat malas Mia datangi.
Tapi kalau di pikir-pikir, bukankah kafe ini juga milik Mia? Secara tak langsung, Mia juga yang menggelontorkan dana untuk modal kafe terkutuk ini.
Mia duduk di meja yang dekat dengan Kyara. Keduanya seakan tak saling mengenal sekarang.
Seorang pelayan kafe menghampiri Mia dan menanyakan tentang pesanan,
"Aku ingin bertemu dengan pemilik kafe ini. Apa dia ada?" Tanya Mia pada pelayan tersebut setelah menyebutkan pesanannya.
"Pak Bian sedang keluar, Nona." Jawab pelayan itu sopan.
Sedetik kemudian, terdengar suara pintu kafe yang di buka. Bian masuk dengan wajah yang menurut Mia sungguh mengesalkan.
Panjang umur sekali orang itu.
Pelayan yang tadi berbicara dengan Mia, segera menghampiri Bian dan menyampaikan pesan Mia barusan.
Bian melihat sekilas ke arah meja Mia, dan saat tahu siapa yang mencarinya, pria itu langsung berdecak kesal.
Dengan malas, Bian menghampiri musuh bebuyutannya tersebut.
"Mau membuat kerusuhan lagi, nona kaya?" Sapa Bian sarkas. Pria itu duduk di hadapan Mia.
Sedangkan Kyara masih duduk di kursi yang kini ada di belakang Bian. Sepertinya Bian benar-benar tidak tahu kalau pengunjung kafe yang duduk di belakangnya adalah Kyara.
"Aku mengunjungi kafe milikku, jadi kenapa kamu harus merasa keberatan?" Mia balik berkata sarkas.
Bian berdecak,
"Milikmu? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Bian sinis.
"Kau mencuri uangku untuk modal membuka sebuah kafe. Aku jadi bertanya-tanya, apa tidurmu selalu nyenyak setiap malam?" Mia menunjukkan bukti transfer uang dua ratus juta di ponselnya pada Bian.
"Kau mentransfernya ke rekening Kyara. Kenapa jadi menuduhku mencurinya?" Bian mengelak dan mencari pembenaran.
Mia mendengus kesal. Pria ini benar-benar licik dan selalu pandai mengelak.
"Baiklah, kita lupakan saja uang dua ratus juta yang tidak berguna itu. Anggap saja aku sedang berdonasi untuk kaum gembel sepertimu," ucap Mia mulai kesal.
Gadis itu menarik nafas panjang demi menahan emosinya agar tidak meledak. Misi Mia belum selesai. Mia tidak boleh gegabah.
"Kau juga masih berhutang budi padaku, nona kaya. Aku pernah menyelamatkan nyawamu. Jadi anggap saja uang itu sebagai tanda balas budi serta permintaan maafmu karena pernah menamparku dua kali," Bian kembali mengingatkan Mia kejadian beberapa bulan yang lalu saat Mia mengalami kecelakaan.
Mia tertawa sinis,
"Seharusnya saat itu aku langsung melemparmu ke dasar jurang saja dan tidak perlu menamparmu. Jadi aku tak perlu mengotori tanganku yang mulus ini," dengkus Mia mulai geregetan.
Tahan Mia, tahan! Kendalikan dirimu!
Kamu harus membuktikan pada Kyara kalau pria ini benar-benar brengsek.
Mia menarik nafas panjang sekali lagi.
"Baiklah sudah cukup basa-basinya. Langsung saja, mau apa kamu datang ke kafeku?" Bian memilih untuk menyudahi drama bodoh ini.
Mengingat semua hal yang pernah terjadi antara dirinya dan Mia hanya akan membuat Bian kembali ingat dengan ciuman terkutuk itu.
Bian menatap tajam ke arah wajah Mia, tapi entah kenapa netra Bian malah fokus ke bibir Mia yang tampak merah merekah.
Sesaat bayangan ciuman antara bibirnya dan bibir Mia waktu itu kembali berputar-putar di kepala Bian.
__ADS_1
Sial!
Apa Bian jatuh cinta pada bibir nona kaya itu sekarang?
"Ada hubungan apa antara kamu dan Kyara?" Tanya Mia dengan nada menyelidik.
"Kau belum tahu? Aku pacar dari adik kesayanganmu itu, nona Mia," jawab Bian santai.
Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Mia tersenyum simpul,
"Apa kau sungguh-sungguh mencintainya? Atau kau hanya memanfatkan kepolosan Kyara untuk membalaskan dendammu itu padaku?" Cecar Mia tak sabar.
Bian tak langsung menjawab, pria itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kafe.
Terakhir pria itu menatap ponsel yang ada di tangan Mia.
"Apa kamu sengaja bertanya, agar kamu bisa merekam jawabanku dengan ponsel mahalmu itu, lalu melaporkannya pada Kyara?" Tebak Bian seraya menunjuk ke ponsel milik Mia.
Skakmat!
Mia benar-benar kehilangan kata-kata sekarang.
Penjahat jenis apa Bian ini? Kenapa dia begitu cerdas dan seakan bisa membaca pikiran Mia.
"Aku tidak merekam pembicaraan kita. Lihat! Aku mematikan ponselku" Mia menekan tombol power di ponselnya. Tak butuh waktu lama, dan ponsel itu sudah mati sekarang.
"Bisa saja kamu membawa alat perekam lain di dalam tas mahalmu itu, atau di dalam saku baju mahalmu itu. Siapa yang tahu?" Bian berkata seraya mencibir.
Mia mendengus kasar.
Sepertinya rencana bodoh ini tidak akan berjalan sesuai perkiraannya.
"Aku menyayangi Kyara lebih dari apapun, jika sampai kamu mempermainkan perasaan Kyara demi membalaskan dendammu padaku, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan kepadamu!" Mia menuding ke arah Bian.
"Kamu mengancamku?" Tuduh Bian tak terima.
Mia hanya mengendikkan bahu
"Memangnya kamu mau apa? Melaporkanku ke polisi?" Cecar Bian sekali lagi. Tampaknya pria itu mulai emosi.
"Mungkin saja." Jawab Mia lirih. Gadis itu sudah beranjak dari duduknya.
Rencana Mia sore ini sepertinya gagal. Jadi Mia akan pergi saja dari kafe sialan ini.
"Aku masih memiliki surat perjanjian yang ada tanda tanganmu itu, nona Mia. Jika kamu melaporkanku ke polisi, kamu tahu sendiri kan apa konsekuensi yang harus kamu tanggung?" Bian berkata dengan pongah.
Mia menarik nafas panjang sekali lagi,
"Kalau begitu, aku tidak perlu melaporkanmu ke polisi. Aku akan langsung menghancurkan saja hidup Eve, adik kesayanganmu itu." Pungkas Mia seraya berlalu dari hadapan Bian.
"Jangan coba-coba mengusik hidup Eve!" Bian mencekal lengan Mia dan mencegah gadis itu pergi.
"Kalau begitu, mulailah untuk jujur dan berhenti mempermainkan perasaan seorang gadis polos hanya demi melampiaskan semua dendammu!" Mia mendelik ke arah Bian.
Gadis itu bahkan menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Bian sudah melepaskan cekalannya pada tangan Mia.
Pria itu hanya diam dan tak menjawab sepatah kata pun.
__ADS_1
Mungkin Mia benar, sudah saatnya Bian mengakhiri semua drama ini.
Mau sampai kapan Bian menyakiti hati Kyara?