
"Huh, akhirnya!" Seru Bian yang baru saja masuk ke dalam kamar Mia.
Kamar Mia?
Bukankah ini juga adalah kamar Bian sekarang?
Bian melihat ke arah tempat tidur, di mana Mia sudah memejamkan matanya dengan posisi miring.
Bian mendekati nona kaya yang kini sudah resmi menjadi istrinya tersebut untuk memastikan kalau ia memang sudah benar-benar tidur.
Apa nona kaya ini akan melewatkan malam pertama mereka?
Padahal Bian tadi hanya menidurkan Galen sebentar.
Bian berjongkok di samping tempat tidur atau lebih tepatnya di hadapan Mia dan mengulurkan tangannya yang kini terasa gatal ingin membelai wajah istrinya yang mulus tersebut.
Tidak ada reaksi.
Sepertinya Mia benar-benar sudah tidur.
Bian ganti merapikan anak rambut Mia yang berserakan menutupi wajahnya, lalu menyelipkannya di belakang telinga Mia.
Masih tidak ada pergerakan,
Bian tertawa sendiri.
Tangannya kembali membelai wajah Mia serta bibir merah merona milik nona direktur tersebut.
Mia akhirnya tak bisa lagi menahan bibirnya untuk tidak menyunggingkan sebuah senyuman meskipun matanya masih terpejam.
Sekarang Bian tahu kalau istrinya ini tidak benar-benar tidur.
Cup,
Bian mengecup singkat bibir Mia dan sukses membuat mata indah Mia terbuka.
"Apa Galen sudah tidur?" Tanya Mia seraya mengusap wajah Bian.
Mia menatap dalam dan penuh cinta pada pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu sekarang.
Bian mengangguk.
__ADS_1
"Galen sudah tidur. Jadi sekarang..." Bian membuka kaosnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Oh, astaga!" Mia menutup wajahnya yang kini semerah tomat dengan kedua tangannya.
"Bukankah kau sudah pernah melihatnya? Kenapa harus malu begitu?" Goda Bian yang kini sudah menindih tubuh Mia.
"Dasar mesum!" Mia memukul dada Bian berulang kali.
Namun netranya tidak berhenti menatap pada netra Bian yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Boleh aku tanya satu hal?" Bian buka suara
"Apa itu?" Sahut Mia cepat.
"Apa aku menyakitimu malam itu? Apa aku memperlakukanmu dengan kasar?" Tanya Bian ddngan wajah sendu.
"Apa kau sungguh tidak mengingatnya?" Mia malah balik bertanya.
Bian menggeleng,
"Selama enam tahun ini aku berusaha keras untuk mengingat apa yang sudah aku lakukan kepadamu malam itu. Tapi pikiranku selalu buntu. Aku sama sekali tak bisa mengingatnya." Bian menyusupkan kepalanya di ceruk leher Mia.
Mia mengusap kepala Bian dengan lembut,
"Maafkan aku Mia," ucap Bian dengan nada memelas,
Mia menggeleng,
"Kita tidak perlu membahasnya lagi. Aku akan menganggap kau mabuk berat malam itu dan tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan," mata Mia terlihat berkaca-kaca.
Bian dengan cepat menghapus butir bening di pelupuk mata Mia sebelum benar-benar jatuh.
"Aku mencintaimu, Mia. Aku hanya mencintaimu," ucap Bian bersungguh-sungguh.
Mia mengangguk,
"Aku tahu..." Mia tak jadi menyelesaikan kalimatnya karena Bian sudah membungkam bibirnya dengan bibir Bian.
Tangan Bian sudah membuka dan mengoyak gaun tidur Mia dengan paksa hingga gaun itu sobek.
Ya, ya, ya,
__ADS_1
Seharusnya Mia mengajari suaminya ini cara membuka gaun tidurnya dengan benar, agar Bian tidak merobek semua gaun tidur yang Mia miliki.
Atau mungkin Mia tidak perlu lagi memakai gaun tidur besok malam dan malam-malam selanjutnya?
Karena sepertinya suaminya ini benar-benar mesum dan brengsek.
"Aku mencintaimu, Mia!" Suara Bian menggema di dalam kamar yang kini terasa panas tersebut.
Apa Mia juga perlu menambah pendingin ruangan di kamarnya ini sekarang?
"Aku juga mencintaimu, Bian," balas Mia lirih sesaat setelah pergelutan panjang itu berakhir.
Bian meraup tubuh polos Mia ke dalam pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Pria itu berulang kali mengecup kening Mia.
"Terima kasih, Mia," bisik Bian mesra.
"Untuk apa?" Tanya Mia tak mengerti.
"Terima kasih karena sudah mengandung Galen, bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia ini, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang," ucap Bian tulus.
Mia mengulas senyum di bibirnya,
"Dan terima kasih karena sudah menungguku selama enam tahun ini. Aku mencintaimu," Bian mengecup kening Mia sekali lagi.
Mia hanya mengangguk dan tak berkata apapun. Nona direktur itu memilih untuk membenamkan dirinya semakin dalam ke pelukan Bian, pria brengsek yang kini sudah menjadi suaminya.
.
.
.
Udah ya...
Udah ku tambahin extra chapter buat kalian pembaca tersayang 💕
Jangan lupa mampir di karya aku yang lain.
Ada yang baru, ada juga yang lama mangkrak dan udah mulai aku lanjutin lagi pelan-pelan.
__ADS_1
Sekian,
Terima kasih semuanya 💕💕