Nona Mia

Nona Mia
INGAT


__ADS_3

Mia mengerjapkan matanya berulang kali menatap pada langit-langit rumah yang terlihat asing tersebut.


Tidak ada eternit atau gypsium mewah seperti langit-langit kamar yang ada di apartemennya.


Hanya ada kerangka kayu dan genteng yang terlihat dengan sangat jelas di langit-langit ruangan tersebut.


Dimana Mia sekarang?


Mia mencoba untuk bangun. Kepalanya terasa sakit sekali serasa mau pecah.


Mia terus memegangi kepalanya yang terbalut perban tersebut agar tidak benar-benar pecah.


Mia duduk di kasur lantai tipis yang warnanya sudah kusam.


Berapa tahun kasur ini tidak di cuci?


Pasti banyak bakteri di atas kasur lusuh ini, dan apa Mia baru saja tidur di atasnya?


Sesaat Mia begidik ngeri.


Mungkin Mia harus berendam di dalam cairan antiseptik setelah ini. Mia benar-benar tidak mau terkena penyakit kulit gara-gara tidur di kasur lantai sialan tersebut.


Mia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan ini.


Tidak ada barang berharga maupun barang mewah lainnya.


Ini bukan ruangan di apartemen Mia, bukan pula di rumah mama papa.


Lalu, di mana Mia?


Dan bau busuk ini?


Bau apa ini?


Mia mencium baju lusuh yang ia kenakan, dan seketika Mia benar-benar ingin muntah.


"Astaga! Kenapa bauku busuk sekali?" Mia menggerutu sendiri.


"Dan baju ini juga lusuh, apa aku sedang jadi gembel sekarang?" Mia masih tak berhenti menggerutu.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Mia mencoba untuk berpikir keras, hingga ingatannya tertuju pada kecelakaan yang menimpanya saat itu.


Akhirnya Mia ingat dirinya yang mengalami kecelakaan, lalu ada seorang pria yang menolongnya...


Siapa pria itu?


"Maymunah, kamu sudah sadar?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Mia.


Buru-buru Mia menoleh ke arah sumber suara tersebut.


Seorang pria yang mengenakan kaus berwarna hitam dan celana kolor selutut dengan rambut yang masih basah serta handuk yang melingkar di lehernya, sedang menatap ke arah Mia.


Tunggu, Mia hafal dengan wajah pemuda di hadapannya ini.


Bukankah ini kurir pizza yang resek dan mata duitan itu?


Sedang apa dia di sini?


Dan tunggu,


Apa pria ini baru saja memanggil Mia dengan nama Maymunah?


Siapa dia memangnya? Mengganti-ganti nama orang seenak jidatnya.

__ADS_1


Mia tak mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu menatap tajam ke arah Bian


Saat melihat wajah Bian sekali lagi, tiba-tiba ingatan Mia tentang kejadian beberapa hari yang lalu kembali menari-nari di benak Mia.


Dan sialnya kejadian yang terekam jelas di benak Mia adalah ciuman hangat dari bibir Bian siang tadi.


Apa?


Pria brengsek ini sudah mencium bibir Mia?


Sesaat, hati Mia menjadi sangat sebal. Mia tidak tahu kalau pria mata duitan ini ternyata juga pria brengsek dan mesum.


Dan semua sikap Bian yang memperlakukan Mia seperti seorang pembantu, juga ikut berkelebat di benak Mia.


"Plak" Mia menampar pipi kanan Bian lumayan keras.


Pria itu tampak terkejut dan langsung mengelus pipinya.


"May ada apa?" Tanya Bian bingung. Tadi siang gadis ini masih baik-baik saja tapi kenapa mendadak gadis ini menampar Bian tanpa mengeluarkan sepatah kata pun?


Apa ingatan nona kaya ini sudah kembali?


"May? Namaku Mia, bukan Maymunah!" Mia menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Gadis itu sudah bersedekap sekarang dan melotot tajam ke arah Bian.


"Dan tamparan itu hadiah untuk sikap mesummu yang sudah dengan lancang mencium bibirku," tambah Mia lagi dengan wajah dingin dan ketus.


"Hey nona kaya, kau yang minta aku cium. Jadi jangan salahkan aku!" Bantah Bian membela diri.


Benar dugaan Bian. Ingatan nona kaya nan sombong ini sudah kembali.


Apa nona ini pikir Bian akan takut dengan sikap kejamnya? Bian bahkan bisa lebih kejam dari nona kaya sombong ini.


"Plak!" Mia ganti menampar pipi kiri Bian. Namun kali ini ekspresi pria itu hanya datar, seperti tak ada rasa sakit sekalipun Mia menamparnya dengan keras barusan.


Namun raut wajah Bian masih datar. Seperti tidak ada rasa takut di wajah pria itu.


Bahkan kini Bian malah tertawa mengejek ke arah Mia.


"Apa sekarang aku juga boleh menamparmu, karena kamu yang sudah mencoba untuk memperkosaku tempo hari?" Tanya Bian masih dengan nada mengejek.


Sontak, raut kejam di wajah Mia berubah menjadi raut terkejut.


Namun bukan Mia namanya jika tidak bisa berkata pedas dan menusuk pada seorang pria.


"Jangan terlalu percaya diri, aku bahkan tidak tertarik pada pria yang punya penyakit kelamin sepertimu," sinis Mia pedas.


Bian berdecak,


Sesaat pria itu menyesal karena sudah memakai penyakit kelamin sebagai tameng agar nona gatal ini tidak memperkosanya tempo hari. Bian tidak tahu jika nona kaya ini bakal mengingatnya seumur hidup.


"Aku juga akan melaporkanmu ke polisi karena sudah menculikku dan menipuku" ancam Mia serius.


Bian tersenyum simpul,


"Menculikmu? Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, nona kaya. Kalau aku tidak menolongmu , mungkin kamu sudah mati sekarang terbakar bersama mobil mewahmu itu." Bian membalas ancaman dari Mia dengan kata-kata yang tak kalah pedas.


Mia berdecak,


"Ooh! Jadi sekarang kamu mau berlagak sebagai seorang pahlawan begitu? Jadi berapa tarif pahlawanmu itu? Aku akan membayarnya, agar aku bisa segera menjebloskanmu ke dalam penjara." Mia berkata pehuh dengan emosi. Gadis itu bahkan sudah menunjuk-nunjuk ke arah wajah Bian.


Mia sebal, Mia geregetan, Mia benci pada pria di depannya ini.


Dasar pria sialan, mata duitan, brengsek, mesum, licik.


Bian menyodorkan sebuah kertas pada Mia,

__ADS_1


"Silahkan lapor polisi, dan aku sudah siap menggantikanmu menjadi direktur di perusahaanmu," ujar Bian dengan nada pongah.


Mia menyambar dengan cepat kertas yang tadi di sodorkan Bian, lalu membacanya.


Raut wajah Mia mendadak menjadi pucat. Apalagi tanda tangan manisnya yang juga bertangkring di atas materai di pojok kanan bawah.


Apa ini?


Bian benar-benar menipunya siang ini.


Kenapa Mia begitu polos dan bodoh siang ini, dan mau saja menandatangani kertas kosong bodoh itu hanya karena Bian menciumnya.


Bodoh!


Mia tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri.


Di surat itu tertulis jelas, jika Mia melaporkan Bian dan Eve ke kantor polisi, maka Mia akan memberikan ganti rugi pada Bian sebesar lima ratus milyar di tambah satu rumah untuk Bian dan Eve.


Meskipun itu bukan tulisan Mia, tapi nama serta tanda tangan Mia di pojok bawah itu sudah cukup membuat surat sialan itu menjadi sah.


'Ah, pria sialan!' Mia mengumpat dalam hati.


Mia merobek kertas bodoh itu, dan Bian langsung tertawa keras.


"Robek saja semuanya, nona kaya! Aku masih punya banyak." Bian mengeluarkan banyak kertas yang isinya sama seperti tadi. Tapi Mia tahu kalau itu semua hanya copyan.


Lalu dimana surat yang asli?


Mia melotot tajam ke arah Bian, pemuda itu masih tertawa licik. Mungkin dia sedang bahagia karena sudah berhasil membuat seorang nona Mia kehilangan kuasa dan tidak bisa berbuat apapaun.


"Kau..." Mia menuding ke arah Bian.


"Kau tidak akan mendapatkan uangku sepeser pun. Jangan bermimpi!" Bentak Mia penuh emosi.


Mia segera berlalu meninggalkan pria sialan dan rumah kontrakan sialan itu.


Namun di teras, Mia berpapasan dengan Eve yang baru pulang kerja.


Mia langsung bisa mengenali seragam yang dikenakan oleh Eve,


Oh, ternyata gadis ini bekerja sebagai office girl di kantor Mia.


Baiklah, mungkin Mia tidak bisa menjebloskan kakak beradik ini ke penjara, tapi Mia akan membuat perhitungan pada dua orang ini, hingga mereka menyesal dan menangis darah karena sudah mengerjai seorang nona Mia.


"Kak May, apa semuanya baik-baik saja?" Eve yang melihat wajah merah padam Mia, segera menyapanya. Ada raut kekhawatiran di nada bicara Eve.


Mia tidak menjawab sapaan dari Eve, dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan gadis yang mungkin seusia dengan Kyara tersebut.


Terang saja, hal itu langsung membuat Eve melongo.


Mia berjalan cepat meninggalkan kontrakan kumuh Bian untuk selanjutnya pulang ke rumah mama dan papanya.


*****


**Terima kasih yang hanya mampir.


Terima kasih yang mampir dan like.


Terima kasih yang mampir, like, dan vote.


Terima kasih yang mampir, like, vote, dan komen.


Yang mampir doang tapi belum like, mungkin jempolnya masih cantengan. Semoga lekas sembuh biar bisa like 😄


Happy Reading😙**

__ADS_1


__ADS_2