Nona Mia

Nona Mia
EXTRA CHAPTER (2)


__ADS_3

Pesta pernikahan Kyara dan Mike,


Mia menggamit lengan Bian, yang sudah satu bulan terakhir ini resmi menyandang status sebagai suaminya. Suami yang sebenarnya tentu saja, bukan suami bayaran atau suami pura-pura.


Mereka berdua naik ke atas panggung pelaminan untuk memberi selamat kepada kedua mempelai.


"Kakakku yang kaya dan suami barunya akhirnya datang juga," sambut Kyara dengan nada lebay.


Mike dan Bian terkekeh bersamaan. Berbeda dengan Mia yang hanya memutar bola matanya.


Mia memberikan sebuah amplop pada Kyara,


"Ini kunci apartemen mewah dan tiket bulan madu untuk kalian berdua. Kau senang sekarang karena sudah menguras habis uangku?" Ucap Mia dengan nada kesal dan sedikit ketus.


Kyara tergelak,


"Kakakku yang kaya tidak mungkin jatuh miskin hanya karena membelikanku sebuah apartemen mewah. Bukankah kakak punya banyak uang?" Sahut Kyara masih dengan ekspresi yang lebay.


"Kalau aku tidak ingat ini adalah hari pernikahanmu, mungkin aku sudah menyentil keningmu yang lebar itu," ucap Mia dengan ekspresi wajah kesal.


"Mike, ajari istrimu ini untuk tidak bersikap mengesalkan seperti ini!" pesan Mia pada Mike yang masih terkekeh.


"Siap, Nona Mia. Saya akan mengajarinya dengan sangat baik," jawab Mike seraya merangkulkan lengannya pada Kyara.


"Sudah selesai yang marah-marah?" Bian berbisik di telinga Mia seraya melingkarkan lengannya di pinggang Mia.


"Aku tidak sedang marah-marah. Aku hanya sedang bicara pada adikku yang mengesalkan ini," sahut Mia galak seraya mendelik ke arah Bian.


"Baiklah, baiklah. Kendalikan emosimu itu! Kita sedang ada di depan umum," Bian ganti mendekap Mia yang sepertinya akan meledak diatas panggung pelaminan.


Mike dan Kyara tergelak menyaksikan tingkah konyol pasangan di depan mereka tersebut.


"Jadi, apa kalian juga masih suka berdebat dan baku hantam saat diatas ranjang?" Tanya Kyara yang belum berhenti tertawa.


Mia mendelik ke arah Kyara,


"Kami pasangan yang romantis. Jadi kami tidak mungkin baku hantam apalagi cakar-cakaran diatas ranjang," sahut Mia sedikit ketus.


Kyara semakin tergelak.


"Iya, iya. Aku percaya. Kalian memang pasangan yang serasi dan romantis. Sangat romantis," ucap Kyara dengan nada mengejek.


Mia sudah akan menyahut lagi, namun dengan cepat Bian membawa istri galaknya itu turun dari panggung pelaminan.


"Sudah cukup berdebatnya. Aku akan menciummu di depan orang banyak kalau kau terus-terusan bersikap konyol seperti tadi," omel Bian seraya memaksa Mia untuk turun dan bergabung dengan tamu undangan yang lain.


"Gadis itu menyebalkan sekali. Semoga Mike akan kuat menghadapi tingkah menyebalkan Kyara," gumam Mia seraya merapikan penampilannya.


"Kau juga sama menyebalkannya dengan Kyara. Tapi justru hal itulah yang membuatku jatuh cinta kepadamu," Bian hanya bergumam dalam hati seraya tersenyum sendiri.


Mia menjentikkan jarinya di depan wajah Bian yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


"Bian!" Panggil Mia sedikit khawatir.


Apa suaminya ini sudah mulai gila?


"Apa, Sayang?" Sahut Bian gelagapan.


"Apa kau sedang mabuk? Atau kau sudah mulai gila? Kenapa tersenyum-senyum sendiri seperti itu?" Cecar Mia yang sepertinya gemas melihat sikap aneh Bian.


Bian hanya tergelak,


"Ya, aku memang gila. Aku tergila-gila padamu, Nona Mia," jawab Bian dengan nada menggoda. Bian menggigit kecil telinga Mia karena gemas.


"Hentikan! Kita sedang ada di pesta orang. Jangan berbuat hal mesum seperti itu!" Gertak Mia yang merasa kegelian karena ulah Bian barusan.


"Ada banyak kamar di lantai atas. Kita bisa kabur dari pesta ini dan pergi ke salah satu kamar yang ada di atas sana," timpal Bian seraya mengendikkan dagunya ke arah pintu keluar ballroom hotel tersebut.


"Dasar mesum!" Mia memukul dada Bian.


"Tapi baiklah. Kau yang akan membayar tagihannya kali ini," imbuh Mia lagi seraya menarik tangan Bian menuju pintu keluar ballroom hotel.


Mungkin Mia dan Bian akan melanjutkan bulan madu mereka untuk yang kesekian kalinya di salah satu kamar yang ada di hotel berbintang ini.


****


Mia baru bangun dari tidur siangnya saat mencium aroma harum dari arah dapur apartemennya.

__ADS_1


Apa Bian sudah kembali dari kedai es krim?


Mia bergegas menuju ke arah dapur.


Dan Mia langsung bisa melihat Bian yang sedang asyik memasak di dapur seraya bersenandung. Sepertinya pria itu fokus sekali memasak, hingga tak menyadari kehadiran Mia yang sekarang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Sedang memasak apa?" Tanya Mia seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bian.


Terang saja, hal itu membuat Bian jadi terlonjak kaget.


"Kau mengagetkanku. Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?" Ucap Bian seraya terkekeh. Bian berbalik dan menatap ke arah mata indah Mia.


"Jadi, kau sedang memasak apa?" Tanya Mia yang kini ganti mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.


"Masak makanan spesial untuk istriku tercinta," jawab Bian seraya mengecup kening Mia.


"Hmmm, aku jadi penasaran," Mia hendak melongok ke arah meja dapur. Namun dengan cepat Bian menghalangi pandangan nona direktur tersebut.


"Kau duduk saja, aku yang akan menyiapkan semuanya," rayu Bian seraya membimbing Mia agar duduk di kursi yang ada di samping meja makan.


Mia hanya menurut dan segera duduk.


"Perutmu masih mual?" Tanya Bian khawatir.


"Sedikit," jawab Mia cepat.


Bian berlutut di hadapan Mia, dan mengusap perut buncit nona direktur tersebut,


"Hai, anaknya papa. Jangan nakal di dalam sana, oke! Kita akan bertemu dua bulan dari sekarang," ucap Bian yang seolah-olah sedang berbicara dengan bayi di dalam kandungan Mia.


Mia terkekeh,


"Kau yakin dia mendengar semua kata-katamu itu?" Tanya Mia yang masih terkekeh.


"Tentu saja dia pasti mendengarnya," sahut Bian cepat.


"Masakanmu sudah matang?" Mia tiba-tiba ingat pada masakan Bian yang masih ada di atas kompor.


"Sudah. Aku hanya tinggal menuangkannya ke dalam mangkuk, dan kau akan langsung bisa menikmatinya," ucap Bian seraya mencolek hidung Mia.


Bian beranjak menuju ke dapur dan menyiapkan makanan yang tadi ia olah.


Mia benar-benar tak sabar melihat apa masakan Bian siang ini.


"Silahkan, nona Mia," ucap Bian seraya meletakkan hidangan tadi di depan Mia.


Senyuman merekah yang sedari tadi terukir di bibir Mia langsung lenyap seketika saat Mia melihat hidangan yang disajikan oleh Bian.


"Singkong? Kau menyuruhku makan singkong rebus lagi?" Cecar Mia dengan nada yang terdengar kesal.


"Ini makanan kenangan kita, Sayang," Bian mencari pembenaran.


"Ayo! Kau harus mencobanya. Ini bukan singkong rebus biasa. Ini namanya singkong thailand," imbuh Bian lagi yang berusaha untuk membujuk Mia.


"Tetap saja ini adalah singkong yang direbus. Dan aku masih trauma dengan makanan ini," gerutu Mia yang kini bersedekap dan bibirnya mencebik.


Bian terkekeh,


"Yang ini rasanya tidak sangit. Aku memasaknya dengan sepenuh cinta," Bian mulai mengeluarkan gombalannya.


"Lihat! Kita tuangkan saus di atasnya," Bian menuangkan saus berwarna putih kental diatas singkong rebus tadi.


"Dan, voilla! Jadilah singkong rasa bintang lima," lanjut Bian dengan ekspresi wajah lebay.


Mia hanya memutar bola matanya,


"Aku tidak akan memakan makanan itu," sahut Mia ketus.


"Aku akan menyuapimu dengan mesra. Buka mulut!" Bian menyuapkan sepotong singkong thailand ke mulut Mia.


Namun nona direktur itu masih mengatupkan bibirnya dan enggan membuka mulut.


"Ayo, Sayang! Coba dulu!" Bujuk Bian yang sepertinya pantang menyerah.


"Aku tidak mau. Jangan memaksaku!" Gertak Mia galak.


"Mau aku suapi dengan mulutku?" Tanya Bian dengan seringai menggoda.

__ADS_1


Mia menghela nafas,


"Tidak!" Jawab Mia tegas.


"Ini enak, Mia!" Bian menyuapkan potongan singkong thailand tadi ke mulutnya sendiri lalu memejamkan matanya seolah sedang menikmati kelezatan dari makanan tersebut.


Mia yang tadinya kesal, mendadak jadi tertarik dengan rasa singkong di hadapannya setelah melihat ekspresi lebay Bian.


"Baiklah, berikan satu potongan kecil! Aku akan mencicipinya," pinta Mia akhirnya.


Bian mengambil satu potong kecil singkong dan menyuapkannya pada Mia.


Mia mencecap rasa dari makanan yang Bian sebut sebagai singkong thailand tersebut.


"Enak," gumam Mia yang masih menikmati sisa-sisa dari rasa singkong di mulutnya.


"Berikan lagi!" Pinta Mia seraya menunjuk ke arah piring.


Bian hanya tersenyum dan lanjut menyuapi istrinya tersebut.


Suap demi suap, potong demi potong, hingga akhirnya singkong di atas piring sudah habis tak bersisa. Semuanya sudah masuk ke perut Mia.


"Aku kenyang," ucap Mia seraya mengusap perutnya sendiri. Wanita itu beranjak menuju ke sofa ruang tengah.


Bian hanya terkekeh.


"Mau aku buatkan lagi besok?" Tanya Bian menawarkan.


"Ya. Aku rasa aku menyukai rasanya," sahut Mia cepat. Bian hanya tersenyum.


Setelah membereskan meja makan, Bian menyusul Mia ke sofa yang ada di ruang tengah. Saat ini, hanya ada mereka berdua di apartemen ini. Galen sedang di ajak jalan-jalan oleh Eve dan Steve.


Bian membaringkan kepalanya di pangkuan Mia dan berulang kali mengusap perut istrinya. Sesekali Bian juga mengajak bicara calon anaknya yang kini sudah berusia tujuh bulan tersebut.


Mia mengusap airmatanya yang mendadak meluncur tanpa permisi di kedua pipinya.


"Kau menangis?" Tanya Bian yang kini mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Mia.


Mia menggeleng dengan cepat.


"Aku mendadak ingat saat dulu hamil Galen. Aku selalu ingin dibelai seperti ini. Tapi saat itu kau tidak ada di sampingku," cerita Mia dengan nada sendu.


Bian segera bangun dan membawa Mia ke dalam pelukannya,


"Maafkan aku, Mia," ucap Bian lirih dengan rasa bersalah.


"Tidak. Itu bukan sepenuhnya salahmu. Kau sendiri tidak tahu kalau aku sedang hamil saat itu," Mia mengangkat kepalanya dari pelukan Bian dan mengusap wajah suaminya tersebut.


"Kau tahu, saat itu aku sering menangis diam-diam jika rindu padamu," imbuh Mia lagi yang masih menatap wajah Bian dengan intens.


"Sekarang kau tidak perlu menangis diam-diam lagi. Kapanpun kamu mau, kamu bisa melihat dan memandangi wajah tampanku," ucap Bian seraya menghapus sisa-sisa airmata di wajah Mia.


"Tuan sombong!" Mia memukul dada Bian.


"Tapi kamu suka, kan?" Timpal Bian dengan nada menggoda.


Mia hanya mencibir.


Bian kembali meraup Mia ke dalam pelukannya,


"Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan selalu ada di sampingmu. Menjagamu, menjaga Galen, dan menjaga calon anak kedua kita," Bian mengusap sekali lagi perut Mia.


Mia sendiri hanya mengangguk dan mengiyakan semua ucapan Bian.


.


.


.


Terima kasih yang sudah membaca cerita "Nona Mia" sampai chapter ini.


Ini benar-benar extra chapter yang terakhir. Tolong jangan ditagih lagi 😭


Sekian othor pamit.


Bhay!!

__ADS_1


Jangan lupa mampir juga di "Istri untuk Kenzo" dan kenalan sama Kenzo, Zhia, serta Flo.


Udah tamat jadi no gantung- gantung club.


__ADS_2