
"Demam tifoid," ujar dokter anak yang menangani Galen.
"Apa?" Lirih Mia yang kini menatap nanar ke arah Galen yang terbaring lemah.
Mama Alin mendekat ke arah Mia dan mengusap punggung putrinya tersebut untuk memberi kekuatan.
"Galen akan segera sembuh dan pulih, Mia." Ucap mama Alin yang berusaha berpikir positif.
Setelah menjelaskan sedikit tentang sakit Galen pada papa Andri, dokter tadi pun undur diri dan segera keluar dari kamar perawatan Galen.
****
Tengah malam yang sunyi,
Galen terbangun dan menepuk-nepuk pipi sang mommy yang tidur di samping ranjangnya,
"Mommy!" Panggil Galen lirih.
Mia sedikit berjenggit dan langsung terbangun setelah merasakan tepukan dari Galen.
"Galen, kamu sudah bangun sayang?" Mia langsung mengusap kepala putranya tersebut.
"Mommy, dimana papa?" Tanya Galen masih dengan suara lirih yang nyarus tak terdengar.
Mia terdiam.
Apa yang harus ku katakan?
Kenapa Galen menanyakan papanya?
"Papa sedang ada pekerjaan malam ini, sayang. Jadi papa belum bisa menjenguk Galen," jelas Mia sedikit berdusta.
Mia yakin, besok pagi Galen tidak akan menanyakan tentang papanya lagi.
"Galen pengen ketemu papa. Bisakah mama telpon papa dan minta papa segera pulang?" Pinta Galen dengan raut memohon.
"Besok saja mama telpon ke papa. Sekarang, Galen mau apa?" Mia mencoba mengalihkan perhatian Galen.
"Galen mau papa!" Galen kini sudah terisak.
Bocah itu memalingkan wajahnya dari Mia demi menunjukkan kemarahannya.
Mia menarik nafas panjang sambil terus mengumpat dalam hati,
Dasar pria brengsek!
Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku?
Kenapa dia jadi bergantung padamu seperti ini?
"Galen kenapa, Mia?" Papa Andri terbangun karena mendengar isak tangis dari Galen.
"Opa, Galen mau ketemu papa?" Ucap Galen di sela-sela isak tangisnya.
Papa Andri melempar pandangannya ke arah Mia yang kini wajahnya merah padam.
Mia memilih untuk membuang wajahnya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
Mia tidak mau meledak di depan Galen.
__ADS_1
"Galen bobok dulu, ya. Besok pasti papa datang menjenguk Galen," bujuk papa Andri dengan suara lembut.
Namun Galen tetap terisak sambil terus memanggil sang papa. Dan bocah itu akhirnya tertidur karena lelah menangis.
Namun sesekali Galen masih mengigau dan memanggil-manggil papanya.
Tadinya Mia mengira kalau Galen akan segera lupa pada permintaannya untuk bertemu dengan Bian.
Nyatanya, hingga tiga hari Galen di rawat, bocah itu tak berhenti merengek minta bertemu papanya. Bahkan Galen beberapa kali menolak makan sebelum berjumpa dengan sang papa.
Terang saja, hal itu membuat kondisi Galen tidak ada kemajuan meskipun sudah tiga hari Galen dirawat di rumah sakit.
Mia sungguh jengkel dan frustasi.
"Mungkin sebaiknya papa menemui Bian dan berbicara baik-baik, lalu meminta Bian datang kesini demi Galen," putus papa Andri akhirnya.
"Tidak, Pa! Mia tidak mau Galen terus-terusan bergantung pada Bian," sahut Mia ketus.
"Bian papa kandung Galen Mia. Papa rasa ikatan batin di antara mereka sudah terlanjur kuat. Kita bisa apa sekarang?" Papa Andri berteori.
"Papa masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi diantara kamu dan Bian malam itu. Apa Bian memperkosamu? Hingga kamu begitu membencinya?" Selidik papa Andri.
Mia bisa saja mengarang cerita,
Tapi yang terjadi malam itu bukanlah sepenuhnya salah Bian.
Bian mabuk, dan Mia malah datang ke kafe dengan baju kurang bahan.
Bukankah itu artinya Mia juga ikut andil dalam kesalahan yang dilakukan oleh Bian? Mia yang terlalu tergila-gila pada Bian hingga berbuat hal nekat hanya demi meluluhkan hati Bian.
Namun nyatanya, Mia malah mendapatkan sebuah luka dan sakit hati yang mendalam.
Papa Andri mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
Sebuah penyesalan mendadak memenuhi dada papa Andri. Kemarin papa Andri sudah menghakimi Bian secara sepihak
"Lalu kenapa kamu begitu membencinya, kalau memang awalnya kamu yang jatuh cinta kepadanya?" Cecar papa Andri lagi.
Karena dia mendesahkan nama wanita lain malam itu.
Bian sedang mabuk, jadi mungkin dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Aku mabuk malam itu, Mia. Aku minum tiga botol bir sebelum kamu datang. Dan aku sama sekali tidak ingat dengan apa yang aku lakukan kepadamu malam itu
"Entahlah. Mia tidak mau membahasnya," Mia beranjak dari duduknya dan memilih untuk kembali menemui Galen yang masih murung mencari papanya.
Terdengar suara pintu kamar perawatan dibuka,
"Halo Galen sayang! Aunty sudah datang membawa mainan untuk Galen," Kyara yang baru datang langsung menyapa dengan lebay dan memberikan satu paperbag besar pada Galen.
Mia yang melihat tingkah lebay Kyara hanya memutar bola matanya.
Berbeda dengan Galen. Bocah yang tadinya murung itu, langsung tersenyum senang saat membuka paperbag dari Kyara.
Aunty dan keponakan itu pun mengobrol sambil bermain.
****
"Jadi, benar dugaanku. Bian brengsek adalah papa kandung dari Galen?" Ujar Kyara sedikit terkekeh.
__ADS_1
Kyara dan Mia sedang duduk di taman rumah sakit yang ada di depan ruang petawatan Galen.
Galen sudah tertidur setelah Kyara berhasil membujuknya untuk makan dan minum obat.
"Kau juga mau mengejekku sekarang?" Sahut Mia ketus.
Kyara masih terkekeh.
"Tentu saja tidak. Sejak Galen lahir bukankah aku sudah menebaknya? Karena wajah Galen yang sekilas mirip dengan Bian. Tapi kakak terus saja menyangkal dan membantah. Ya sudah aku diam. Sekarang semuanya sudah terbongkar," ujar Kyara panjang lebar.
Mia mendengus kasar.
"Galen masih menanyakan papanya tadi. Apa tidak sebaiknya kakak menghubungi Bian brengsek itu agar datang ke sini dan menemui Galen?" Saran Kyara selanjutnya.
"Tidak! Galen akan segera sembuh. Kakak akan membayar dokter dan memberikan perawatan terbaik untuk Galen agar anak itu segera sembuh," Mia masih keras kepala.
"Ayolah, kakakku yang egois. Galen butuh papanya, bukan dokter atau rumah sakit mahal.
Sudah hampir satu pekan Galen dirawat dan lihatlah sendiri! Belum ada kemajuan apapun," cecar Kyara berasumsi.
Mia kembali berdecak.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Mia frustasi.
Kyara menepuk keningnya sendiri.
Astaga!
Apa kakakku ini sudah berubah menjadi wanita bodoh?
"Temui Bian, katakan kalau anaknya sakit. Bian pasti akan langsung di sini menjenguk Galen. Apa aku perlu mengantar kakakku yang gengsian ini?" Ujar Kyara sedikit mengejek.
Mia mendengus seraya mendelik ke arah Kyara.
"Demi Galen, kak Mia. Bukankah Galen adalah segalanya? Bukankah kakak menyayangi Galen lebih dari apapun di dunia ini?" Imbuh Kyara lagi dengan nada yang sedikit lebay.
Mia kembali menghela nafas.
Kata-kata Kyara memang benar. Mia tidak bisa terus-terusan menuruti egonya. Papa Andri juga sudah menyarankan hal ini sejak beberapa hari yang lalu.
Tapi Mia saja yang terlalu egois.
"Baiklah, kau menang! Aku akan menemui pria brengsek itu demi Galen. Aku melakukannya demi Galen! Jadi tak perlu menghakimiku!" Mia menuding ke arah Kyara.
Nona direktur itu beranjak dari duduknya dan kembali masuk ke ruang perawatan Galen.
Kyara hanya terkekeh,
"Masih saja gengsi dan jual mahal, padahal sudah pernah tidur bersama. Aku tidak akan menghakimi meskipun kamu menikah dengan Bian, kakakku yang bucin. Aku hanya akan menagih apartemen mewah yang kau janjikan waktu itu," Kyara bergumam sendiri sebelum menyusul Mia masuk ke ruang perawatan Galen.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
__ADS_1