
Bian mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ini akan jadi sebuah perjalanan panjang.
Bian dan Mia memang berangkat pagi-pagi tadi, agar mereka bisa sampai di kota sebelum sore.
Mia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bian.
Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya mendadak membuat Mia menjadi mengantuk.
Sepertinya ini kali pertama Mia naik motor seperti ini.
Ah, Mia benar-benar ingin tidur dan memejamkan matanya sekarang.
Angin ini begitu sepoi-sepoi dan melenakan.
Bian yang merasakan gelagat aneh Mia segera mencubit tangan gadis itu,
"May!" Tegur Bian sedikit keras.
"Auuw! Sakit , Mas. Kenapa tangan May di cubit?" Protes Mia tak terima.
"Jangan tidur, May. Nanti kamu jatuh aku lagi yang repot" gerutu Bian pada Mia.
Gadis itu hanya mencibir.
"May ngantuk, Mas!" Mia mencari alasan.
"Iya, kamu bisa tidur nanti kalau udah sampai di kontrakan. Sekarang jangan tidur dulu!" Ujar Bian dengan nada sedikit galak.
Namun sepertinya Mia tidak mendengarkan kata-kata Bian barusan.
Sekarang gadis itu kembali memejamkan matanya lagi menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.
"Maymunah!" Bian kembali mencubit tangan Mia dan kali ini sedikit lebih keras.
Mia langsung menarik tangannya dari pinggang Bian dan mengelusnya.
Tangannya benar-benar terasa sakit sekarang. Ada bekas cubitan berwarna merah kebiruan di tangan putih tersebut.
"Mas, kamu kok KDRT, sih?" Protes Mia sambil memukul punggung Bian.
Mungkin sebentar lagi pasangan bukan suami istri itu akan baku hantam di atas motor butut Bian.
"Makanya jangan tidur, Maymunah! Jangan tidur!" Teriak Bian sekali lagi.
Pria itu sepertinya mulai hilang kesabaran.
"Iya, iya! May gak tidur. Bisa kita berhenti dan makan sekarang? Perut May keroncongan, Mas!" pinta Mia ikut-ikutan berteriak.
Sudah hampir tengah hari dan tadi pagi May hanya makan sepotong singkong rebus yang berbau sangit.
Bian mengedarkan pandangannya ke kiri kanan jalan. Sebentar lagi mereka akan masuk ke jalan utama antar kota, mungkin gadis di belakangnya ini benar.
Sebaiknya mereka beristirahat dulu.
Bian menghentikan motornya di emperan ruko tua yang sepertinya sudah lama ditinggalkan.
Mia segera turun dari motor butut itu, dan Bian juga segera menyusul turun. Ada bangku panjang di emperan ruko tersebut, jadilah Bian dan Mia duduk di bangku tersebut.
__ADS_1
Bian membuka kotak bekal yang berisi singkong rebus sisa sarapan pagi tadi.
Mia hanya menghela nafas dan menatap prihatin pada singkong yang sudah dingin tersebut.
Ada juga satu botol besar air putih yang tadi Bian bawa sebagai bekal.
Perut Mia sudah keroncongan, jadi Mia terpaksa memakan singkong yang rasanya semakin aneh tersebut.
Bian benar-benar harus menahan tawanya setiap kali melihat ekspresi Mia saat memakan singkong rebus.
Mungkin nona kaya di hadapannya tersebut belum pernah makan singkong rebus seumur hidupnya, dan sekarang mendadak si nona kaya harus berubah menjadi nona miskin yang makan singkong rebus setiap hari.
Tak terasa, Mia sudah menghabiskan dua potong singkong rebus. Sepertinya gadis itu benar-benar kelaparan.
Mia menutup makan siangnya dengan meneguk air minum di botol besar yang tadi juga dibawa oleh Bian.
Huh, perut Mia benar-benar terasa kenyang sekarang.
"Masih jauh ya, Mas?" Tanya Mia membuka obrolan.
Bian meneguk air minum sebelum menjawab pertanyaan dari Mia,
"Lumayan, mungkin satu sampai dua jam lagi kita sampai di kontrakan," jawab Bian mengira-ngira.
Mia hanya manggut-manggut seolah mengerti.
Setelah melepaskan penat dan mengisi perut, Bian dan Mia kembali melanjutkan perjalanan.
Mia sudah tak mengantuk lagi, karena sekarang motor Bian mulai memasuki kawasan perkotaan.
Mia menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Saat mulai masuk ke kawasan pusat kota, mobil-mobil mulai terlihat padat. Sesekali motor yang di kendarai Bian harus berhenti karena lampu merah.
Dan di lampu merah kali ini, pandangan Mia langsung tertuju ke gedung tinggi yang ada di sudut jalan.
Mia seolah familiar dengan gedung tinggi tersebut, namun Mia benar-benar tak bisa mengingat, gedung apakah itu?
"Mas, itu gedung apa sih?" Tanya Mia seraya menunjuk ke gedung dua puluh tingkat yang ada di sudut jalan tersebut.
Bian menoleh sebentar ke arah yang ditunjuk oleh Mia,
"Itu gedung kantor tempat Eve bekerja" jawab Bian singkat.
"Siapa Eve? Apa aku juga bekerja di gedung itu? Kok aku seperti familiar sekali dengan bangunannya" tanya Mia lagi.
Sesaat Bian terdiam.
Apa jangan-jangan Mia ini adalah nona kaya pemilik gedung tersebut?
Kalau hal itu benar, itu artinya Mia adalah atasan dari Eve.
"Mas!" Mia menepuk keras punggung Bian dan langsung membuyarkan semua lamunan Bian.
Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau, dan Bian segera melajukan motornya.
"Mas, kenapa melamun?" Tanya Mia lagi. Pertanyaan Mia yang tadi bahkan belum di jawab oleh Bian.
__ADS_1
"Gak papa, May" jawab Bian sekenanya.
Motor Bian masuk ke sebuah gang meninggalkan jalanan kota yang padat oleh kuda-kuda besi.
Motor terus masuk ke dalam gang sempit itu melewati beberapa lorong yang cukup membingungkan untuk Mia.
Mungkin Mia akan tersesat jika nanti dirinya keluar seorang diri dari rumah kontrakannya.
Setelah melewati sebuah jembatan sempit, motor Bian berhenti di depan sebuah rumah petak berukuran enam kali lima meter.
Rumah itu terlihat sangat kecil.
Apa ini rumah kontrakan yang Bian maksud?
"Sudah sampai, May. Cepat turun!" Perintah Bian dengan nada galak.
"Ini kontrakan kita, Mas?" Tanya Mia masih tak percaya.
Mia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah kontrakan tersebut. Semuanya terasa asing untuk Mia.
"Iya ini kontrakan kita, May. Masak kamu gak ingat?" Jawab Bian cepat.
Mia hanya mengendikkan bahu.
Mia sungguh tidak mengingat tempat kumuh ini di memori otaknya.
Setelah memarkirkan motornya di teras kontrakan yang sempit tersebut, Bian segera membuka pintu.
Pemandangan pertama yang terlihat oleh netra Mia adalah sebuah ruang tamu kecil.
Ada satu kamar di sudut rumah kontrakan tersebut, dan satu kamar mandi di sudut lainnya.
Dan sebuah dapur kecil yang ada di depan kamar mandi.
Kenapa rumah ini begitu sempit?
"Cuma ada satu kamar, Mas?" Tanya Mia masih bingung.
"Iya cuma satu kamar, May. Kamu bisa tidur bersama Eve nanti" jawab Bian santai.
"Siapa Eve? Istri simpanan mas Bian?" Tuduh Mia dengan wajah mencebik.
Bian langsung mengetuk keningnya sendiri. Ia lupa memberi tahu nona kaya ini tentang adiknya, Eve.
"Eve itu adikku, May. Apa kamu juga tak mengingatnya?" Tanya Bian seraya melotot ke arah May.
Gadis itu hanya menggeleng lemah.
Mia bahkan baru mendengar nama Eve kali ini.
Amnesia macam apa yang sebenarnya sedang Mia alami saat ini?
"Sebaiknya kamu beristirahat," ucap Bian akhirnya.
Pria itu pergi ke arah dapur untuk memeriksa apa ada nasi di dapur mungil tersebut.
Mia tak mau membantah lagi. Matanya memang sudah terasa berat.
__ADS_1
Mia masuk ke kamar Eve dan segera merebahkan tubuh lelahnya di kasur busa tersebut.
Setidaknya ini lebih empuk ketimbang kasur tua di kampung kemarin.