
"Abang, ada apa?" Tanya Eve panik. Gadis itu segera membantu Bian yang jatuh tersungkur untuk bangkit berdiri.
Penampilan Bian sudah acak-acakan tak karuan. Di tambah nafas Bian yang ngos-ngosan seperti habis berlari puluhan kilometer.
Eve ganti menatap ke arah nona Mia yang kini berdiri sambil bersedekap di sudut ruang depan.
"Aku hanya ingin berbaring di sampingnya, dan dia lari ketakutan seperti di kejar setan," ujar Mia mengarang.
Mia seolah paham dengan pertanyaan yang ada di kepala Eve.
Bian berdecak tak percaya.
Apa-apaan ini?
Nona kaya itu mengarang cerita?
"Kau mau memperkosaku, May!" bantah Bian cepat.
"Mana ada istri yang memperkosa suaminya? Kita suami istri, Mas! Jadi wajar jika aku meminta hakku." Mia sudah mendekat ke arah Bian dan Eve.
Astaga!
Drama macam apa ini?
Eve benar-benar harus memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.
Eve ingin memarahi abang Bian habis-habisan karena sudah membuat drama konyol macam begini.
"Aku kan sudah bilang, May. Aku sedang sakit." Bian berucap dengan lirih.
"Sakit macam apa?" Mia benar-benar tak percaya sekarang.
"Sakit kelamin yang menular. Aku yakin kak May tidak mau melihatnya sekarang." Bukan Bian, melainkan Eve yang menjawab pertanyaan dari Mia.
Bian ternganga tak percaya. Akhirnya Eve mau juga bekerja sama, meskipun jujur kebohongan Eve barusan membuat Bian sangat tidak nyaman.
Yang benar saja?
Bian itu pria sehat dan masih perjaka tulen. Mana mungkin Bian punya penyakit kelamin yang menular.
"Kau tidak menceritakannya kepadaku." Kini Mia mulai protes.
"Aku pikir kamu masih mengingatnya, May. Karena sebelum kamu hilang ingatan kamu sudah mengetahuinya." Bian beralasan sambil mengendikkan bahunya.
Mia menghela nafas,
"Baiklah, terserah saja. Aku akan mencuci baju," ujar Mia akhirnya seraya berlalu dari hadapan Eve dan Bian.
Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah Mia tidak terlihat lagi, Eve langsung melotot tajam ke arah sang Abang.
"Makasih, Eve. Karena sudah membantuku" ucap Bian berbasa-basi.
Namun Eve tak menjawab dan masih melotot ke arah Bian.
"Aku akan lapor ke pak Andri hari ini juga," tekad Eve.
__ADS_1
Sepertinya gadis itu sudah mulai hilang kesabaran dengan drama-drama tak jelas diantara Bang Bian dan nona Mia.
"Jangan, Eve! Aku belum selesai balas dendam pada nona kaya itu" desis Bian menolak mentah-mentah niat Eve barusan.
"Mau sampai kapan abang bikin drama begini? Kedua orang tua nona Mia juga pasti khawatir setengan mati, Bang!" Eve benar-benar kesal pada sang abang sekarang.
"Tunggulah tiga hari lagi, dan abang akan mengantar nona kaya itu pulang ke rumahnya" jawab Bian cepat.
"Lalu selama tiga hari itu abang mau ngapain? Mau meniduri nona Mia?" Tuduh Eve dengan nada ketus.
"Jangan berpikiran mesum begitu, Eve! Aku benar-benar tidak tertarik dengan nona kaya itu" dengkus Bian sambil bersedekap.
Eve mencibir,
"Yakin? Sekarang mungkin abang belum tertarik. Tapi setelah tiga hari nanti bisa saja kan, abang jatuh cinta dan tergiur dengan tubuh molek nona Mia" sergah Eve mulai emosi.
"Aku bukan pria brengsek seperti itu, Eve" bantah Bian cepat.
"Kalau memang abang bukan pria brengsek, antarkan nona Mia pulang hari ini juga!" Eve menuding ke wajah Bian.
"Sudahlah! Aku tidak mau berdebat denganmu." Dengkus Bian seraya berlalu dan pergi keluar dari rumah kontrakan tersebut.
Entah akan pergi kemana pria itu, Eve tidak mau menghiraukannya.
Eve menuju ke arah kamar mandi. Ia ingin menengok apa yang sedang dilakukan oleh nona Mia.
Jangan sampai nona direktur itu membenamkan kepalanya ke dalam bak mandi atau menggantungnya di langit-langit kamar mandi karena mendengar tentang penyakit kelamin yang sebenarnya hanya bualan dari Eve dan Bian.
Eve melongok ke dalam kamar mandi, dan...
Gadis itu terperangah tak percaya.
Nona Mia mencuci tumpukan baju di kamar mandi menggunakan papan penggilasan?
Ya, di kontrakan mungil ini memang tidak ada mesin cuci. Biasanya Eve memang mencuci secara manual saat sedang libur kerja.
"Kak, biar Eve yang mencuci," ucap Eve lirih.
Mia menoleh sebentar ke arah Eve yang kini berdiri di ambang pintu kamar mandi, sebelum melanjutkan kembali kegiatan mencucinya.
"Mas Bian tidak akan memberiku makan, Eve. Kalau aku bermalas-malasan," tukas Mia dengan nada ketus.
Mia menggilas dengan kasar baju itu di atas papan. Sepertinya gadis itu tengah meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.
Eve terdiam.
Apa Abang Bian sekejam itu?
"Aku tidak akan lama. Jam berapa kau berangkat ke kantor?" Pertanyaan dari Mia membuyarkan lamunan Eve.
"Jam tujuh, Kak" jawab Eve sedikit ragu.
Sesaat Eve merasa iba sekaligus merasa bersalah karena dirinya seakan ikut andil dalam memanfatkan amnesia yang dialami oleh nona Mia.
"Kau tahu, aku hanya merasa asing pada rumah ini dan pada kalian berdua. Aku seperti belum pernah mengenal kalian berdua selama hidupku. Bukankah ini aneh?" Mia kembali mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya.
"Namun saat melewati jalanan di kota, aku seakan mengingat semuanya dengan jelas. Dan gedung di sudut lampu merah itu, aku seperti mengenalnya dengan baik. Tapi kata Mas Bian, aku baru sekali masuk ke gedung itu. Entahlah, aku merasa ini semua sangatlah aneh" lanjut Mia lagi.
__ADS_1
Gadis itu sudah selesai menggilas semua baju. Kini Mia mulai membilas cucian itu satu persatu di bak besar yang sudah terisi air penuh.
" Tangan kakak tidak sakit, mencuci sebanyak ini?" Tanya Eve khawatir.
Mia menggeleng,
"Sudah kebal" Mia menunjukkan tangan putihnya yang kini terdapat banyak bekas luka.
Eve sedikit terperanjat.
Apa semua ini ulah abang Bian?
Kenapa abangnya itu bersikap kejam terhadap nona Mia?
Dendam macam apa sebenarnya yang di pendam oleh abang Bian?
"Sudah selesai," seru Mia dengan ekspresi girang.
Eve segera membantu Mia mengangkat ember berisi baju-baju yang siap di jemur tersebut ke teras depan.
Bian sudah kembali dengan badan penuh peluh. Sepertinya pria itu habis berolahraga pagi.
"Abang dari mana?" Tanya Eve dengan nada galak.
Sedangkan Mia memilih untuk mengabaikan kakak beradik tersebut. Mia masih enggan menyapa Bian juga.
Entahlah, Mia mendadak merasa sebal pada pria yang mengaku sebagai suaminya tersebut.
"Olahraga pagi. Lihat! Abang membeli sarapan untuk kita bertiga." Bian menunjukkan kantong belanja yang ia bawa.
Eve hanya mendengus.
Mia sudah selesai menjemuri baju dan ikut masuk ke dalam rumah.
"Kak May, ayo sarapan!" Ajak Eve yang kini sibuk membuka bungkusan nasi di ruang depan.
Mia tersenyum tipis.
"Kalian duluan saja. Aku akan mandi dulu," jawab Mia sambil berlalu dan menghilang ke dalam kamar mandi.
Bian mengernyit bingung,
"Apa dia marah?" Tanya Bian pura-pura bodoh.
Bukannya langsung menjawab, Eve malah berdecak dan lanjut menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Abang antarkan nona Mia ke rumahnya hari ini, atau Eve bakalan lapor ke Pak Andri," ujar Eve dengan nada mengancam pada abangnya tersebut.
"Tiga hari lagi, Eve. Lagipula nona kaya itu tidak akan mati hanya karena menjadi pembantu di rumah ini. Abang memberinya makan setiap hari," sangkal Bian cepat sekaligus mencari pembenaran.
Eve kembali berdecak,
"Abang menyiksanya. Tangan nona Mia lecet semua gara-gara abang" Eve tak mau kalah.
"Ish! Lihat tanganmu! Banyak bekas luka juga, kan? Jangan terlalu di ambil pusing. Nona kaya itu harus belajar dan merasakan bagaimana hidup menjadi orang miskin" Bian masih pada pendiriannya.
"Abang mau ngapain sih sebenarnya?" Eve mulai kesal sekarang.
__ADS_1
"Kau akan tahu nanti." Jawab Bian dengan senyuman licik.