
Bian sedang off kerja hari ini.
Satu pekan berjibaku dengan aspal dan asap kendaraan, membuat otak dan pikiran Bian lumayan suntuk.
Hari ini Bian memilih untuk nongkrong di kafe yang ada di dekat kampus Kyara. Bian ingin sekalian memulai perjuangannya mendekati adik dari nona Mia tersebut.
Sebuah rencana licik sudah tersusun rapi di kepala Bian.
Cukup lama Bian menunggu, hingga akhirnya Kyara terlihat keluar dari gerbang kampus bersama beberapa temannya.
Bian sudah beranjak dari duduknya dan hendak menghampiri gadis itu.
Namun entah darimana datangnya ada sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir menabrak Kyara yang hendak menyeberang.
Secepat kilat Bian meraih Kyara dan menariknya ke tepi jalan agar tidak tertabrak oleh pengendara yang mungkin sudah gila tersebut.
Bian dan Kyara jatuh bersamaan ke atas trotoar jalan. Kyara menjerit karena kaget. Sesaat gadis itu mengira kalau dirinya sudah sekarat karena tertabrak sepeda motor yang melaju kencang.
Namun saat Kyara membuka matanya dan mendapati Bian yang tengah merangkul sekaligus melindungi tubuh mungilnya dari benturan aspal, barulah Kyara sadar kalau ia selamat.
Buru-buru Kyara bangun dan melihat sekali lagi ke arah Bian yang kini masih tersungkur di atas trotoar.
"Mas, apa mas baik-baik saja?" Kyara mengulurkan tanganya pada Bian dan membantu pria itu berdiri.
Bian sedikit meringis karena rasa nyeri di punggung serta bahunya. Mungkin sekarang bahu dan punggung Bian sudah memar karena terbentur trotoar sekaligus tertimpa tubuh Kyara barusan.
"Saya baik-baik saja, Nona," jawab Bian sambil tersenyum lebar.
Tak apa bahu dan punggungnya memar, itu sangat sepadan dengan hasil yang Bian dapatkan hari ini.
Setidaknya, Bian akan berhasil mendekati Kyara dengan dalih balas budi.
"Loh, bukannya mas yang kurir makanan waktu itu?" Tebak Kyara cepat.
Perasaan Kyara saja atau pria ini memang selalu ada di mana-mana?
Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal,
"Hehe, iya Nona. Kita bertemu lagi. Mungkin kita memang berjodoh," jawab Bian ngawur sambil nyengir tanpa dosa.
Kyara hanya terkekeh dengan kata-kata Bian barusan. Kyara akan menganggap itu sebagai candaan saja dan tidak mau terlalu ambil pusing.
"Jadi, Masnya ngapain di sini?" Tanya Kyara berbasa-basi.
"Bian, nama saya Bian, Nona." Bian memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya pada Kyara.
Kyara segera menyambut uluran tangan Bian dan tersenyum hangat.
"Aku Kyara," jawab Kyara cepat.
"Kamu benar gak papa, Bian?" Tanya Kyara khawatir.
"Iya aku baik-baik saja," jawab Bian bersungguh-sungguh. Bian memilih mengabaikan nyeri di bahu dan punggungnya.
Bian harus jadi pria yang kuat demi misi pedekatenya pada gadis bernama Kyara.
"Bagaimana kalau aku mentraktirmu?" Tawar Kyara pada Bian.
__ADS_1
Ah, gayung bersambut.
Sepertinya Bian sedang beruntung hari ini.
"Apa nona..." Bian belum menyelesaikan kalimatnya,
"Kyara. Panggil saja aku Kyara, oke!" Kyara sudah memotong kalimat Bian dengan cepat.
Bian mengangguk,
"Baiklah, Kyara. Apa tidak merepotkan jika kamu mentraktirku sekarang?" Tanya Bian berbasa-basi.
"Tentu saja tidak. Aku sudah tidak ada kelas lagi. Ayo!" Tanpa sungkan Kyara langsung menggamit lengan Bian dan mengajak pria itu masuk ke kafe yang tadi digunakan Bian untuk memata-matai Kyara.
Dua anak manusia yang baru saja saling mengenal itu sudah duduk di dalam kafe.
Setelah memesan minuman dan makanan, keduanya mengobrol ringan.
"Jadi, apa pekerjaanmu selain menjadi kurir makanan?" Kyara membuka obrolan.
Bian mengendikkan bahu,
"Apa saja. Asal itu bisa menghasilkan uang," jawab Bian sok-sokan.
Memangnya apa pekerjaan Bian selain menjadi kurir?
Menguntit nona kaya seperti Kyara dan Mia mungkin, agar Bian bisa mengeruk habis uang mereka hingga ke dasar-dasar rekening.
"Apa itu artinya kau seorang pekerja keras? Aku selalu kagum dengan pria-pria seperti dirimu," puji Kyara berlebihan.
Dan Bian langsung menampilkan senyuman aneh di wajahnya.
"Jadi, kau kuliah jurusan apa?" Bian memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan. Mencoba membuang kekakuan di antara dirinya dan Kyara.
Sepertinya gadis ini lebih mudah di dekati ketimbang kakaknya yang galak dan sombong itu.
"Jurusan bisnis," jawab Kyara sambil menunduk malu.
Bian bersiul ringan.
Apa keluarga ini memang kaya tujuh turunan dan punya banyak perusahaan?
Sampai-sampai semua anak gadisnya wajib sekolah bisnis dan menjadi calon nona direktur.
"Sudah punya pacar?" Tanya Bian to the point.
"Hah? Apa?" Kyara langsung gelagapan dan pura-pura tak mendengar. Gadis itu juga tampak salah tingkah.
Baru kali ini Kyara bertemu pria yang langsung menanyakan status percintaannya di awal pertemuan.
Blak-blakan sekali pria ini.
Tapi kalau Kyara lihat sekilas, wajah Bian memang cukup tampan.
Kyara sendiri tidak pernah mempermasalahkan strata sosial dari pria yang berkenalan dengannya.
Asal wajah pria itu lumayan tampan dan bisa membuat Kyara nyaman, maka Kyara tidak akan menolak untuk menjadikannya pacar.
__ADS_1
Kyara bukan cewek matre yang hanya suka pada pria -pria tajir.
Mungkin Kyara hanya matre jika berhadapan dengan kak Mia. Uang kakaknya itu terlalu banyak, jadi rasanya tak masalah jika Kyara menghambur-hamburkannya untuk kesenangan.
"Maksudku, apa tidak ada yang marah, kalau kamu bertemu denganku di sinj?" Bian mengkoreksi kalimatnya.
"Hahaha" Kyara tertawa sumbang.
"Aku sedang tidak punya pacar, jadi aku rasa tidak akan ada yang marah," lanjut Kyara dengan nada santai.
Kecuali kak Mia tentu saja.
Kakak sambungnya itu selalu saja ikut campur setiap Kyara menjalin hubungan dengan seorang pria.
Terakhir saat Kyara berpacaran dengan Gio, kak Mia dengan seenaknya memporak-porandakan hubungan Kyara dan Gio.
Sejak saat itu, Kyara bertekad tidak akan go public lagi jika punya pacar.
Kyara akan menjalin hubungan diam-diam tanpa memberitahu kak Mia ataupun mama dan papa.
Kyara tidak mau kalau hubungannya kembali hancur gara-gara ulah kak Mia.
"Apa itu artinya aku punya kesempatan untuk menjadi pacarmu?" Tanya Bian blak-blakan.
Terang saja hal itu langsung membuat Kyara tercengang.
Kenapa pria ini begitu blak-blakan?
Ah, jantung Kyara jadi berdebar-debar tak karuan sekarang.
Tidak mungkin 'kan Kyara jatuh cinta pada mas kurir ini?
Bagaimana kalau Kyara benar-benar jatuh cinta pada Bian?
Apa nantinya Kyara bakal sering order makanan yang di antar oleh Bian agar mereka bisa sering-sering bertemu?
Dan jika hal itu benar terjadi, mungkin Kyara harus membeli baju baru yang lebih longgar karena pasti badan Kyara juga akan semakin melebar.
Kenapa Kyara jadi melantur sejauh ini?
"Mungkin kita bisa memulai hubungan sebagai teman saja. Kita bahkan baru saja saling mengenal, dan aku belum berpikir sampai sejauh itu," ujar Kyara berusaha diplomatis. Meskipun jantungnya tetap berdegup kencang sekarang saat memandang wajah manis Bian.
Tiba-tiba Bian tertawa keras,
"Hahaha, aku hanya bercanda, Ky. Jangan terlalu serius seperti itu," ujar Bian masih belum berhenti tertawa.
Terang saja hal itu langsung membuat wajah putih Kyara menjadi merona merah.
Sepertinya gadis itu sedang tersipu malu.
'Astaga!
Bian hanya bercanda, kenapa aku jadi salah tingkah tak karuan begini?' Kyara tak berhenti merutuki perasaannya sendiri.
Seorang pelayan kafe datang mengantarkan pesanan Bian dan Kyara.
Dua orang yang baru saja bertemu dan berkenalan tersebut segera menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja.
__ADS_1
Sesekali keduanya masih melanjutkan obrolan membahas hal-hal ringan seputar film atau makanan yang sedang kekinian.