
Suasana di ruang tamu itu sesaat menjadi hening,
"Om, bukankah om pemilik toko es krim besar itu?" Galen memperhatikan dengan seksama wajah Bian yang masih diam mematung.
"Eh, iya. Galen. Bagaimana kabar kamu?" Bian mengusap kepala anak lelakinya tersebut.
"Galen baik om. Apa om membawa es krim untuk Galen?" Tanya Galen polos.
Dan Bian langsung terkekeh,
"Maaf ya, sayang. Tapi om tidak membawanya. Kamu bisa datang ke kedai es krim bersama mommy kapanpun kamu mau. Dan kamu bisa makan es krim sepuasmu," jawab Bian masih menyunggingkan senyuman di bibirnya.
Mike tak berhenti memperhatikan kemiripan antara Bian dan Galen yang kini duduk di hadapannya. Mungkinkah pria ini adalah ayah kandung dari Galen?
Sedangkan Mia memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain. Nona direktur itu masih menahan emosi di hatinya dan tidak mau melihat ke arah Bian.
Ingin rasanya Mia mengusir pria brengsek tak tahu diri ini dari apartemennya. Namun sekali lagi, kehadiran Galen di ruangan ini membuat Mia memilih untuk mengurungkan niatnya. Mia tidak mau bersikap kasar di hadapan Galen.
"Galen, bagaimana kalau Galen masuk kamar sekarang, ganti baju, lalu tidur.
Om Mike akan membacakan dongeng untuk Galen," Mia berlutut di hadapan Galen dan berusaha membujuk putranya tersebut.
"Galen tidak mau, Mommy. Galen masih ingin mengobrol bersama om baik hati ini," Galen langsung meloncat ke pangkuan Bian.
Dengan cepat Bian menangkap Galen dan mengusap kepala anak lelakinya tersebut.
Mia benar-benar harus menarik nafas panjang demi menahan emosi di dadanya yang sudah siap meledak.
"Ehm. Begini saja. Bagaimana kalau om Bian yang membacakan dongeng untuk Galen malam ini?" Mike memilih untuk menengahi dan memberikan solusi.
Namun ide yang baru saja di lontarkan oleh Mike, langsung membuat Mia mendelik ke arah asistennya tersebut.
"Galen mau! Galen mau!" Jawab Galen bersemangat. Netra bocah lima tahun itu terlihat berbinar bahagia.
"Apa kau tidak keberatan, Bian. Membacakan dongeng untuk Galen?" Mike berusaha mengabaikan tatapan tajam dari Mia dan bertanya pada Bian.
Bian mengangguk cepat,
"Tentu saja. Aku akan membacakan dongeng untuk Galen," jawab Bian ikut berbinar senang.
Mike beranjak dari duduknya dan segera mengantar Bian ke kamar Galen.
Sedangkan Galen, bocah itu masih asyik bergelayut di gendongan Bian.
"Piyama Galen ada di dalam lemari, dan buku dongeng ada di rak atas," Mike menunjukkan pada Bian apa-apa saja yang biasa dilakukan Galen sebelum tidur.
Bian hanya mengangguk.
Namun di dalam hati, Bian merasakan sebuah kecemburuan.
Kenapa Mike bisa sehafal ini dengan semua kebiasaan Galen?
Apa benar Mike adalah papa sambung dari Galen?
Bian bisa saja bertanya, namun Bian merasa masih belum siap jika harus mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Setelah menjelaskan semua hal pada Bian, Mike pun pamit keluar. Pria itu tidak mengatakan apapun tentang statusnya di rumah ini.
Entahlah, Berbagai pertanyaan benar-benar berkecamuk di benak Bian sekarang.
****
Mia meneguk segelas air mineral dingin untuk mendinginkan hati dan otaknya yang terasa panas.
Mike sudah keluar dari kamar Galen dan menghampiri nona direktur tersebut.
"Jadi, pria itu ayah kandung Galen?" Tanya Mike yang kini duduk di kursi di hadapan Mia.
Mia berdecak kesal.
"Mereka baru bertemu dua kali dan sudah seakrab itu. Aku benar-benar tak paham," keluh Mia yang kembali meneguk air minum di gelasnya hingga tandas.
Mike tergelak,
"Ikatan batin, Mia. Bukankah aku pernah mengatakannya kepadamu?" Timpal Mike masih tergelak.
"Dia memaksaku untuk mengatakan pada Galen kalau dia ayah kandungnya. Bukankah itu menyebalkan?" Keluh Mia lagi.
"Dia tidak mengajakmu menikah?" Tanya Mike dengan nada menggoda.
"Aku akan langsung melemparnya dari jendela apartemen ini jika dia melakukan hal itu," sahut Mia dengan nada ketus.
Sontak, tawa Mike langsung meledak,
"Kenapa kau begitu membencinya? Aku lihat Bian pria yang baik," tanya Mike penasaran.
"Dia mendesahkan nama wanita lain saat bercinta denganku, bukankah itu menyakitkan?" Jawab Mia seraya bersedekap kesal.
"Apa dia sedang mabuk?" Tanya Mike lagi.
Mia mengendikkan bahu,
"Dia minum tiga botol bir sebelum tidur denganku," jawab Mia lirih.
"Dia sedang mabuk. Itu artinya dia tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Kenapa kau tidak memaafkannya saja dan menikah dengannya? Aku yakin kau masih mencintai pria brengsek itu," Mike memberikan saran.
"Jangan sok tahu!" Sergah Mia cepat.
"Galen membutuhkan sosok seorang ayah, Mia. Cobalah untuk membuang egomu itu dan memikirkan perasaan Galen. Kau tidak bisa terus-terusan berbohong pada anak itu," nasehat Mike bijak.
"Bukankah sudah ada kau yang menjadi sosok ayah untuk Galen selama lima tahun ini?" Ujar Mia seraya menatap dalam ke arah netra milik Mike.
Pria itu terdiam.
Apa maksud dari perkataan nona direktur ini?
Kenapa mendadak hati Mike terasa menghangat?
****
Bian sudah selesai mengganti baju Galen dengan piyama biru bergambar kartun mobil. Galen juga sudah gosok gigi dan mencuci tangan serta kakinya. Sekarang ayah dan anak itu berbaring di ranjang yang ada di kamar Galen.
Bian mengambil satu buku cerita dan akan mulai membacakannya untuk Galen.
"Galen, boleh om tanya sesuatu?" Bian benar-benar ingin tahu ada hubungan apa sebenarnya di antara Mike dan Mia. Mungkin tak ada salahnya jika Bian bertanya saja pada Galen.
Bukankah anak-anak biasanya lebih jujur ketimbang orang dewasa?
Galen mengangguk,
"Om mau tanya apa?" Tanya Galen dengan ekspresi wajah sok serius yang langsung membuat Bian merasa gemas.
__ADS_1
"Apa om Mike tinggal di rumah ini?" Tanya Bian sedikit ragu.
"Eh, maksud om apa om Mike itu papanya Galen?" Bian mengkoreksi kalimatnya.
Bian sedikit bingung bagimana harus menyusun kalimat yang pas. Semoga anaknya ini bisa mengerti.
Galen menggeleng,
"Om Mike itu temannya Galen, om," jawab Galen polos.
Bian sedikit bernafas lega.
"Lalu di mana papanya Galen?" Tanya Bian lagi.
Apa benar Mia mengatakan pada Galen kalau papanya sudah meninggal?
Semoga nona direktur itu tidak benar-benar melakukannya.
"Kata mommy, papanya Galen sedang ada di tempat yang jauuuuuh," Galen menunjuk dengan tangannya.
"Jauh?" Bian sedikit mengernyit.
"Kata mommy papa sedang meraih cita-citanya. Jadi Galen tidak boleh gangguin papa. Galen harus jadi anak baik di sini agar Galen bisa bertemu papa satu hari nanti" cerita Galen masih dengan raut polosnya.
Bian terdiam,
Ternyata Mia tidak benar-benar membencinya selama ini.
"Apa Galen pernah bertemu dengan papa?" Tanya Bian lagi.
Galen menggeleng,
Anak itu bangun dari kasurnya dengan cepat dan membuka laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
Galen mengambil sebuah kotak dari dalam laci tersebut, lalu membukanya. Galen mengeluarkan selembar foto dari dalam kotak tersebut,
"Tapi Galen pernah menemukan foto ini di kamar mommy," Galen memberikan foto tadi pada Bian.
Bian dengan cepat membalik foto itu dan langsung bisa Bian lihat ada gambar wajahnya di sana.
Ya, itu adalah foto Bian.
Mia menyimpan foto Bian?
Apa itu artinya selama ini Mia tidak pernah melupakan Bian.
"Foto ini sangat mirip dengan om Bian. Apa om papanya Galen?" Tanya Galen seraya mengusap pipi Bian.
Mendadak rasa haru melingkupi hati Bian. Mata pria itu berkaca-kaca.
"Iya Galen, aku papamu," Bian langsung meraup Galen ke dalam pelukannya. Airmata Bian sudah jatuh tidak terbendung.
"Papa, akhirnya Galen bertemu dengan papa," Galen menangis di pelukan Bian.
Ceklek,
Pintu kamar terbuka.
"Kau sudah selesai membacakan dongeng untuk Galen?" Tanya Mia yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar Galen.
Cepat-cepat Bian menyeka airmata di kedua pipinya.
Mia mendelik ke arah Bian,
"Mommy, papa akan tidur bareng Galen kan malam ini? Papa akan tinggal di rumah kita kan mulai sekarang?" Tanya Galen masih bersemangat.
Netra bocah itu menyiratkan sebuah kebahagiaan.
Mia menarik nafas panjang dan berlutut untuk mensejajarkan dirinya dengan Galen,
"Galen sayang, papa ada pekerjaan malam ini. Jadi papa akan tidur di tempat kerjanya dan tidak bisa menemani Galen malam ini," dusta Mia seraya mengusap kepala Galen.
Seketika raut ceria di wajah Galen berubah menjadi raut mencebik.
"Tapi Galen mau tidur bersama papa," rengek Galen yang kini sudah kembali mendekati Bian dan memeluk kembali papanya tersebut.
"Galen bisa tidur bareng mommy dulu malam ini. Besok papa ke sini lagi dan kita main bareng lagi. Bagaimana?" Bian berusaha membujuk Galen.
Mia masih menatap Bian dengan tatapan membunuh.
Bian sungguh tidak ingin menabuh genderang perang malam ini. Biarlah Bian mengalah dulu. Bian masih bisa mengunjungi Galen kapan saja.
"Papa akan tinggal di sini kan? Bersama Galen dan mommy?" Tanya Galen sekali lagi.
"Te...." Bian baru saja akan menjawab,
"Tidak Galen!" Namun Mia sudah memotong dengan cepat.
"Maksud mommy, papa harus kembali ke luar kota. Jadi papa tidak akan tinggal di sini bersama kita," jelas Mia dengan suara selembut mungkin.
Bian benar-benar terperangah dengan pembohongan yang dilakukan oleh Mia.
Ada apa dengan wanita ini?
Jelas-jelas Bian tinggal di kota ini dan tidak akan pergi kemana-mana. Apa Mia mau memisahkan Galen dari Bian lagi?
"Tapi mommy..." Galen tak jadi membantah karena bocah itu sudah menguap lebar.
"Baiklah, saatnya tidur," Mia membenarkan selimut Galen dan memaksa anaknya tersebut agar segera tidur.
"Maukah mommy memeluk Galen?" Tanya Galen seraya menepuk ruang kosong di atas tempat tidurnya.
Mia menghela nafas dan segera naik ke atas ranjang putranya tersebut. Mia memeluk Galen agar anaknya ini segera tidur.
Bian sudah beranjak dan akan keluar, namun Galen menarik tangan papanya tersebut.
"Papa bacain dongeng untuk Galen," pinta Galen dengan mimik memohon.
Bian menatap sejenak ke arah Mia untuk minta persetujuan. Namun wanita itu malah memejamkan matanya dan pura-pura mengabaikan Bian.
Bian akhirnya meraih satu buku dari rak dan duduk ditepi ranjang Galen.
Bian mulai membacakan dongeng pengantar tidur untuk Galen.
Tak sampai lima belas menit, Galen sudah tertidur lelap. Bian melihat sebentar ke arah Mia yang masih memejamkan matanya.
Mungkin nona direktur itu juga sudah tertidur.
Bian segera beranjak dan mematikan lampu.
Mungkin Bian akan pulang saja.
__ADS_1
Atau mengobrol bersama Mike?
Astaga!
Bian lupa kalau di rumah ini juga ada pria itu.
Mungkinkah selama ini Mike yang membacakan dongeng untuk Galen saat Mia memeluk Galen agar tidur seperti tadi?
Hati Bian mendadak terasa panas saat membayangkannya.
Secara tak langsung kedudukan Bian sebagai papa kandung dari Galen sudah tergantikan oleh seorang pria asing yang entah memiliki hubungan apa dengan Mia.
"Galen sudah tidur?" Pertanyaan dari Mike membuat Bian terlonjak kaget.
Astaga!
Apa pria ini tidak pulang ke rumahnya?
"Ya, dia sudah tidur. Dan Mia..." Bian belum menyelesaikan kalimatnya, namun Mike sudah memotong dengan cepat.
"Mia ikut tidur juga?" Tebak Mike cepat.
Bian mengangguk sedikit ragu.
Mike terkekeh seakan itu adalah hal yang lucu.
"Itu hal biasa. Mia memang selalu ikut terlelap saat sedang menidurkan Galen," ujar Mike masih terkekeh.
Hal biasa?
Kenapa pria ini seperti sudah hafal dengan kebiasaan Mia tersebut?
Apa mereka memang tinggal bersama di apartemen ini?
Hati Bian kembali terasa panas.
Berarti benar, Mia menjalin hubungan dengan pria bernama Mike ini.
Baru saja hati Bian menghangat karena mengetahui fakta bahwa Mia masih menyimpan fotonya. Sekarang dalam waktu sekejap, kehangatan itu sudah berubah menjadi api cemburu yang membakar hati Bian.
"Mungkin sebaiknya aku pulang sekarang. Hari sudah malam," Bian tersenyum canggung ke arah Mike.
Mike mengangguk,
Pria itu mengantar Bian hingga ke pintu depan.
Bian bahkan tidak punya nyali untuk bertanya ada hubungan apa sebenarnya di antara Mike dan Mia.
Tapi pria itu terlalu sempurna untuk menjadi saingan Bian.
Bian sangat yakin kalau Mike pasti juga seorang tuan direktur yang sekelas dengan Mia.
Sedangkan Bian?
Bian hanyalah pria kere yang jatuh cinta pada gadis kaya bernama Mia.
Setelah berpamitan ala kadarnya pada Mike, Bian melangkah gontai menuju ke arah lift.
Hati Bian terasa nyeri.
Mia nya sudah menjadi milik orang lain.
****
Sesaat setelah kepergian Bian, Mia keluar dari kamar Galen.
"Pria brengsek itu sudah pulang?" Tanya Mia pada Mike yang baru kembali dari ruang tamu.
"Aku kira kau sudah tidur," jawab Mike berbasa-basi.
"Aku akan membawa Galen ke rumah mama besok. Kami akan tinggal saja di sana," ujar Mia cepat. Nona direktur itu mendaratkan bokongnya di kursi ruang makan.
"Kenapa mendadak kau ingin pindah?" Mike ikut duduk di depan Mia.
Pria itu menyodorkan sepiring irisan buah pada nona direktur tersebut.
"Aku tidak mau Bian brengsek itu terus-terusan datang ke sini. Dia akan terus memakai Galen sebagai alasan untuk terus datang ke apartemen ini." Mia berdecak kesal.
Nona direktur itu memasukkan potongan mangga ke dalam mulutnya.
"Lalu apa masalahnya? Dia papa kandung Galen. Apa kau takut jika kau akan kembali jatuh cinta pada pria brengsek itu?" Cecar Mike dengan nada menggoda.
"Diam! Jangan sok tahu!" Mia memukul bahu Mike yang sontak membuat pria itu mengaduh kesakitan.
Mia beranjak dari duduknya.
"Tidurlah di sini malam ini, Mike! Agar kau bisa membantuku berkemas besok pagi sekalian mengantar aku dan Galen ke rumah mama," pesan Mia yang kini berjalan menuju ke kamarnya.
Mike mengekori nona direktur tersebut,
"Apa kau juga akan mengajakku tidur di kamarmu?" Tanya Mike lagi saat keduanya sudah sampai di depan pintu kamar Mia.
"Dalam mimpimu!" Jawab Mia cepat seraya menutup pintu kamarnya.
Sedetik kemudian, terdengar suara pintu yang di kunci dari dalam.
Mike hanya mengendikkan bahu,
"Baiklah, aku rasa aku akan tidur di sofa saja." Seru Mike seraya berlalu menuju ke ruang tengah.
Pria itu merebahkan dirinya di sofa lebar yang ada di ruang tengah dan segera terlelap ke alam mimpi.
Tengah malam, Mia keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum dan memeriksa Galen.
Mia yang melihat Mike tidur di sofa ruang tengah sedikit terkejut,
"Padahal aku tadi tidak serius, kenapa dia sungguh-sungguh tidur di sini?" Mia bergumam sendiri.
Mia masuk ke kamarnya dan mengambil selimut untuk Mike.
Setelah menyelimuti sahabatnya tersebut, Mia kembali lagi ke kamarnya dan melanjutkan tidur malamnya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
__ADS_1