
"Steve, ada apa ini? " Bian datang dengan tergopoh-gopoh, setelah medapat laporan dari karyawannya tentang keributan yang terjadi di kafe miliknya.
Mia yang melihat kedatangan Bian brengsek, ganti mendelik ke arah Bian.
Apa ini?
Kenapa para gembel dan orang miskin berkumpul di kafe bodoh ini?
Apa mereka sedang menghadiri reuni orang-orang miskin?
"Eve, kamu kenapa?" Bian yang melihat wajah sang adik sembab dan berurai airmata buru-buru bertanya.
Drama apa ini yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ajarkan adik kesayanganmu itu, agar sadar diri dan tidak menggoda pria kaya seperti Steve agar mau menjadi tunangannya." Bukan Eve, melainkan Mia yang menjawab pertanyaan Bian dengan kata-kata pedas dan kasar.
Bian balik melotot ke arah Mia,
"Hei nona kaya! Jaga mulutmu yang tak sopan itu! Jangan membuat kerusuhan di kafe milikku. Pergi sana! Hush! Hush!" Bian mengusir Mia dengan nada tak kalah kasar.
Mia terbelalak setelah mendengar kata-kata Bian barusan.
Apa kata pria kere ini?
Kafe ini miliknya?
Apa pria ini sedang bermimpi atau berhalusinasi?
"Abang Bian benar, Mia. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Aku sudah malas bicara dengan gadis sombong sepertimu," Steve ikut-ikutan menimpali.
Pria itu masih memeluk Eve yang kini menangis sesenggukan karena menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh Mia.
"Kenapa kamu ikut-ikutan mengusirku, Steve? Apa kamu sudah menjadi dewa penolong sekarang, untuk dua orang gembel dan miskin ini?" Mia berkata dengan sarkas.
"Berhenti menghina dan merendahkan mereka berdua, Mia!" Steve menuding ke arah Mia.
"Asal kamu tahu, meskipun mereka bukan orang kaya, setidaknya mereka adalah orang baik dan tidak pernah menyakiti hati orang lain," imbuh Steve lagi.
Baik?
Baik dan licik, iya.
Apa Steve tidak tahu kalau dua kakak beradik ini pernah melakukan kejahatan pada Mia?
"Pergi kamu!" Bian sudah akan menarik tangan Mia dan membawanya keluar dari kafenya. Namun dengan cepat Mia mengelak.
"Jangan pegang-pegang!" Bentak Mia galak sambil menuding ke arah Bian.
'Dasar wanita macan!' Umpat Bian dalam hati.
"Kau tidak akan bisa menyingkirkanku, Steve! Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku dan meninggalkan gadis miskin ini." Mia meraih gelas berisi air putih di atas meja lalu dengan cepat menyiramkannya ke atas kepala Eve.
Sontak, Eve langsung menjerit karena kaget. Bian dan Steve juga tak menyangka kalau Mia bisa senekat ini.
Buru-buru Steve menyambar tisu di atas meja untuk mengeringkan rambut dan baju Eve yang basah kuyup.
Dan Bian langsung mencekal tangan Mia, lalu sedikit memaksanya untuk keluar dari kafe.
__ADS_1
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri, nona kaya!" Gertak Bian geregetan
"Lepaskan! Jangan coba-coba menyentuhku!" Bentak Mia sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Bian.
"Pergi dari kafeku, dan jangan pernah kembali lagi ke sini!" Usir Bian sekali lagi.
"Apa kau sedang bermimpi sekarang? Pria kere sepertimu tidak mungkin punya kafe seperti ini," sinis Mia meremehkan.
Bian berdecak,
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas ini adalah kafe milik Bian," ucap Bian dengan nada sombong.
Mia tertawa sinis,
"Aku tidak akan melepaskan Steve begitu saja, apalagi jika yang menjadi tunangannya adalah adikmu yang miskin itu. Aku akan membuat Eve menangis dan meratapi hidupnya karena sudah dengan lancang merebut pacar seorang nona Mia," ancam Mia sekali lagi sebelum berlalu dari hadapan Bian.
Dan Bian hanya mencibir tak peduli.
Terserah kau saja, nona kaya.
Steve yang tergila-gila pada Eve, jadi kamu mau jungkir balik merebut Steve juga aku rasa hanya akan sia-sia.
Kau sendiri yang akan menangis dan meratapi hidupmu yang kelabu itu.
Dasar nona kaya sombong yang tak laku!
Bian berulang kali menggerutu sendiri.
Benar benar wanita pembawa sial. Selalu saja ada masalah jika Bian bertemu dengan wanita itu.
*****
Bian segera menyusul Steve dan Eve yang kini ada di lantai dua dari ruko ini.
Bagian bawah ruko ini memang sebuah kafe, dan bagian atasnya adalah ruangan pribadi sekaligus kantor milik Bian.
Eve sudah tenang, meskipun wajahnya masih sembab. Dan Steve tetap setia merangkul tunangannya tersebut,
"Apa ini Steve?" Sergah Bian saat baru tiba di lantai dua.
"Aku sungguh minta maaf, Bang. Aku tidak tahu kalau Mia jadi segila itu sekarang," ucap Steve dengan nada menyesal.
"Ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dan nona kaya sinting itu?" Tanya Bian tak sabaran.
"Nona Mia mantan pacarnya Steve, Bang," bukan Steve, melainkan Eve yang menjawab pertanyaan Bian barusan.
"Apa!" Teriak Bian tak percaya.
Calon adik iparnya yang baik dan keren ini pernah berpacaran dengan nona kaya sinting itu?
Apa Steve sedang kurang kerjaan?
"Itu hanya masalalu, Bang. Dan itu sembilan tahun yang lalu saat aku dan Mia masih sama-sama duduk di bangku SMA," jelas Steve seraya membela diri.
Bian hanya menghela nafas. Entah kenapa semuanya bisa jadi serumit ini.
"Apa kamu baik-baik saja, Eve?" Tanya Bian yang kini sudah ikut duduk di sebelah Eve.
__ADS_1
Bian menatap prihatin pada adik perempuannya tersebut.
Baru saja Eve merasakan kebahagiaan, karena bertunangan dengan Steve dan bisa melanjutkan kuliahnya. Tapi mendadak muncul masalah baru yang ternyata masih ada hubungannya dengan nona Mia.
Apa ini karma karena Bian pernah membuat masalah dengan nona kaya itu?
Hidup Bian terasa tidak tenang sekarang, sejak dirinya bertemu dengan sesosok makhluk bernama nona Mia.
"Apapun yang dikatakan oleh Mia, jangan terlalu di pikirkan, Eve!" Steve mengusap lembut kepala Eve.
"Aku hanya mencintaimu. Dan aku sudah tak menyimpan perasaan apapun pada Mia." Lanjut Steve dengan nada bersungguh-sungguh.
Bian yang ikut mendengarkan kata-kata dari Steve hanya tersenyum simpul.
"Jangan terlalu dimasukkan ke hati, Eve. Kata-kata pedas dari nona kaya itu. Kamu harus jadi wanita yang kuat. Steve mencintaimu, apalagi yang kamu takutkan?" Bian ikut-ikutan menimpali.
Eve hanya mengangguk dan masih enggan untuk berkata-kata.
Entahlah...
Eve masih saja takut, jika tiba-tiba Steve meninggalkannya dan memilih untuk bersama dengan nona Mia.
*****
Mia membuka pintu apartemennya dengan kasar, lalu kembali membantingnya saat menutup pintu tidak berdosa itu.
Apa dunia ini sudah gila?
Kenapa pria tampan dan mapan seperti Steve lebih memilih Eve yang miskin dan lugu itu?
Memangnya Mia kurang apa?
Jika dibandingkan dengan Eve, Mia jauh lebih cantik, lebih kaya, dan lebih terhormat tentu saja.
Apa Steve sudah buta?
"Aaah!" Mia memporak porandakan semua benda yang ada di atas meja rias.
Segala jenis kosmetik dan parfum mahal Mia jatuh dan pecah berkeping-keping ke atas lantai.
Ini benar-benar sebuah penghinaan.
Mia tidak mungkin kalah dari gadis gembel itu.
"Akan aku buktikan, kalau aku lebih pantas untuk Steve." Mia berteriak di dalam kamarnya.
"Steve akan meninggalkanmu, gadis miskin!" Suara Mia kembali menggema di seluruh kamarnya.
Sejak dulu, Mia selalu mendapatkan semua keinginannya. Dan sekarang Mia juga akan mendapatkan Steve dan merebutnya dari Eve.
*****
Baru kali ini nulis novel yang tokoh utamanya jahat dan tokoh pendukungnya teraniaya 🙈
Perlu dikasih adegan cakar-cakaran gak sih?
Terima kasih yang sudah mampir, like, vote, dan komen.
__ADS_1