Nona Mia

Nona Mia
SEBUAH MISI


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Kyara di kafe, Bian sekarang semakin intens menghubungi Kyara.


Meskipun hanya sekedar berbasa-basi atau menanyakan kabar, namun Bian rutin melakukannya setiap hari.


Apa Bian jatuh cinta pada Kyara?


Hohoho tidak ada kata jatuh cinta di kamus seorang Bian. Apalagi pada gadis kekanakan sejenis Kyara.


Jika Bian sekarang begitu perhatian pada Kyara, tak lain dan tak bukan itu demi pundi-pundi rupiah yang mungkin akan Bian dapatkan sebentar lagi.


****


Bian baru kembali dari mengantar pesanan untuk pelanggan.


Kyara yang sudah duduk manis di salah satu bangku yang ada di dalam resto, segera melambaikan tangan pada Bian yang baru datang.


Tentu saja Bian terkejut, namun dengan cepat Bian menghampiri gadis itu,


"Hai, tumben datang ke sini?" Sapa Bian berbasa-basi.


"Aku kebetulan lewat sini, jadi aku sekalian mampir," jawab Kyara sambil tersenyum.


Bian sudah duduk di bangku yang ada di hadapan Kyara.


"Jam kerjaku belum selesai, jadi aku tidak bisa menemanimu lebih lama," Bian masih berbasa-basi.


Menggombali gadis ini lewat chat ternyata lebih gampang ketimbang harus bertatap muka seperti ini.


Kenapa mendadak Bian menjadi grogi begini?


Bian berkali-kali harus menarik nafas panjang demi mengusir jauh rasa groginya.


"Jam berapa kamu selesai bekerja? Aku bisa menunggu," ujar Kyara dengan nada santai.


Serius?


Apa gadis ini sudah tergila-gila dengan pesona Bian, sampai rela mendatangi Bian ke resto ini dan akan menunggu hingga jam kerja Bian selesai.


Bian melihat arloji di tangannya,


"Jam empat sore baru selesai, itu masih dua jam lagi. Apa kau tidak akan bosan?" Tanya Bian khawatir.


Kyara menggeleng dengan cepat.


"Sebenarnya, tadi aku kesini numpang mobil teman. Tapi teman aku langsung balik karena ada keperluan. Jadi aku tidak bisa pulang," Kyara mencari alasan.


Bagaimana dengan taksi?


Apa nona kaya ini begitu manja sampai tak berani naik taksi?


Atau dia tak tahu caranya naik angkutan umum kelas atas tersebut?


Ah, mungkin feeling Bian benar. Kyara sudah tergila-gila kepadanya dan kini sedang mencari perhatian pada Bian.


Baiklah, tidak masalah. Bian yang membawa jaring di sini dan Kyara adalah ikannya.


Kyara sudah masuk ke dalam jaring Bian, jadi Bian tinggal memanfaatkan gadis polos ini.


"Baiklah, jika kamu bersikeras menungguku. Kamu bisa memesan makanan dulu, aku yang traktir," tukas Bian sedikit sombong.


Tak apa Bian sedikit sok kaya hari ini. Sedang banyak diskon juga di resto. Dan Bian yakin, nona kaya ini tidak akan makan terlalu banyak.


Kyara tersenyum lebar,


"Kau serius? Baiklah, terima kasih, Bian," ujar Kyara masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan melanjutkan pekerjaanku. Nikmati makananmu, Kyara." Pamit Bian seraya berlalu dari hadapan Kyara.


Demi apapun, Bian tak sabar melihat ekspresi Kyara saat harus membonceng motor butut Bian saat pulang nanti.


Mungkin nanti Bian bisa berpura-pura mengatakan pada Kyara kalau motornya rusak dan mogok. Dan mungkin saja nona kaya itu akan langsung membelikan Bian motor keluaran terbaru.


Hahaha,


Sepertinya Bian mulai berkhayal lagi.


Bian segera menyambar beberapa kotak makanan yang sudah siap di antar kepada pelanggan yang kelaparan.


Bian tak mau membuang waktu lagi. Pria itu segera memacu motornya dan kembali bergelut dengan kemacetan, asap kendaraan, serta debu jalanan yang kadang terasa perih saat masuk ke mata.


Saatnya bekerja keras, Bian.


*****


Matahari mulai bergulir ke arah barat. Sinarnya sudah tak lagi menyengat.


Bian sudah selesai mengantarkan pesanan yang terakhir kepada pelanggan restonya.


Bian melirik arlojinya sebentar. Pukul empat lebih sepuluh menit.


Bian masuk ke resto, dan masih mendapati Kyara yang sibuk dengan ponsel serta headset yang disumpalkan di kedua telinganya.


Bian sungguh tak menyangka, jika gadis itu masih betah menunggu Bian selesai bekerja.


Bian masuk sebentar ke ruang khusus pegawai untuk sekedar mencuci muka dan mengganti seragam ala kurirnya dengan kaos biasa.


Baiklah, Bian sudah terlihat segar sekarang. Bian siap mengantar nona kaya itu pulang ke rumahnya, dan siap menjadi pacar matre untuk nona kaya itu.


"Kau bosan?" Bian menepuk lembut punggung Kyara sebelum duduk di bangku yang ada di hadapan Kyara.


"Kau sudah selesai?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Bian, Kyara malah balik bertanya.


Bian mengangguk dengan cepat.


"Ingin ku antar pulang sekarang?" Tanya Bian kembali berbasa-basi.


Kyara melihat sebentar ke arlojinya,


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar. Bukankah ini hari Sabtu?" Cetus Kyara memberikan sebuah ide.


"Terserah kau saja. Aku siap mengantarmu. Kemana saja," jawab Bian sedikit ragu.


Apa sekarang Bian akan jadi kang ojek untuk nona kaya ini?


Baiklah, terima saja dulu Bian!


Ini semua demi sebuah misi.


Misi mengeruk rupiah dari dua nona kaya yang bersaudara.


"Bagus. Ayo!" Kyara sudah beranjak dari duduknya, dan berjalan keluar dari resto menuju ke tempat parkir.


Bian hanya mengekor saja di belakang nona kaya itu.


"Dimana mobilmu?" Tanya Kyara celingukan.


Mobil?


Apa nona kaya ini sedang mengejek Bian sekarang?


"Maaf, Kyara. Tapi aku tidak punya mobil. Aku hanya punya motor butut ini." Bian menunjuk ke sebuah motor matic model lama berwarna merah pudar.

__ADS_1


Motor yang sama yang pernah dipakai Bian untuk membonceng nona Mia.


Kenapa Bian jadi memikirkan nona direktur itu?


Pergi! Pergi!


Dasar nona direktur pembawa sial!


Kyara mengernyit,


"Motor tua ini? Apa motor ini aman untuk dinaiki? Bagaimana kalau bannya lepas pas kita lagi di tengah jalan?" Tanya Kyara dengan raut polos.


Gadis itu menatap ngeri pada motor butut Bian.


Terang saja, pertanyaan polos dari Kyara membuat Bian langsung tergelak.


"Motor ini aman, Kyara. Hanya saja kadang mogok di tengah jalan terutama saat musim hujan. Tapi sore ini cuaca sedang cerah, jadi kamu tak perlu khawatir," jelas Bian panjang lebar.


"Memang harga motor baru berapa sih? Kenapa kamu tidak membeli motor yang lebih layak? Motor butut ini sangat tidak sepadan dengan wajah dan penampilan kerenmu, Bi!" Jadi ini sebuah pertanyaan atau sebuah pujian, atau malah sebuah sindiran?


"Sekitar dua puluh juta. Aku tidak punya uang sebanyak itu, Kya. Kau tahu sendiri, kan. Pekerjaanku hanya sebagai kurir." Jawab Bian dengan nada melas.


Kyara hanya manggut-manggut seakan paham dengan kondisi Bian.


"Baiklah, ayo kita membeli motor baru untukmu!" Ajak Kyara sambill menggamit lengan Bian.


Apa ini?


Apa nona kaya ini sedang bercanda?


Mengajak membeli motor baru seperti mengajak membeli jagung bakar saja.


Apa dia membawa uang dua puluh juta di tas mahalnya itu?


"Ta...tapi, Kya," Bian masih terlihat ragu-ragu. Meskipun dalam hati Bian sudah bersorak senang sekarang.


"Tapi apa, Bian? Cuma dua puluh juta kan? Aku ada kok uang segitu," ujar Kyara santai.


Apa katanya barusan?


Cuma dua puluh juta?


Apa gadis ini punya pohon berdaun uang di rumahnya yang bisa dia petik kapan saja, sehingga uang dua puluh juta hanya bernilai kecil baginya.


Oh,


Bian akan kaya raya jika benar-benar berpacaran dengan gadis royal ini.


"Ayo, Bian!" Ajak Kyara sekali lagi. Gadis itu berjalan ke tepi jalan raya.


"Kita akan jalan kaki?" Tanya Bian pura-pura bodoh.


"Tentu saja tidak. Kita akan naik taksi saja. Aku tidak berani naik motor jelekmu itu. Sebaiknya kau segera membuangnya setelah aku membelikan yang baru nanti," pesan Kyara sekali lagi.


Apa katanya?


Membuang motor tua itu?


Meskipun motor itu terlihat tua dan jelek, namun Bian bisa mendapatkan beberapa rupiah jika menjualnya.


Jadi Bian tak akan membuangnya begitu saja. Pasti ada orang yang mau membelinya.


Kyara dan Bian sudah naik ke dalam taksi.


Tak butuh waktu lama dan taksi segera meluncur ke dealer motor terdekat.

__ADS_1


__ADS_2