Nona Mia

Nona Mia
UNDANGAN


__ADS_3

Steve keluar dari lift yang membawanya ke lantai paling atas dari gedung kantor milik Mia. Steve memang berencana mengunjungi Mia untuk menyelesaikan semua salah paham di antara mereka sekaligus mengantarkan undangan pernikahannya.


Steve berharap, Mia tidak akan mengganggu hubungannya dengan Eve lagi setelah ini.


Steve menyapa sekretaris Mia yang masih berkutat dengan layar komputer di hadapannya,


Tapi tunggu, Steve tidak asing dengan wajah itu...


"Anggi?" Sapa Steve sedikit terkejut. Steve tidak tahu kalau Anggi adalah sekretaris Mia.


"Hai, Steve! Apa yang kamu lakukan di sini?" Anggi membalas sapaan Steve dan balik bertanya.


"Aku... aku ingin bertemu dengan Mia. Apa kamu sekretaris Mia?" Tanya Steve sedikit ragu.


Anggi tertawa ringan sebelum menjawab pertanyaan dari Steve,


"Aku pikir kamu sudah tahu. Apa Eve tidak mengatakannya kepadamu? Oh ya, aku dengar kalian akan menikah sebentar lagi?" Cecar Anggi masih tertawa.


Steve menggaruk kepalanya yang tak gatal. Steve dan Anggi memang masih saudara sepupu, namun keduanya jarang sekali bersua.


Yang Steve tahu, Anggi memang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan, namun Steve tidak tahu kalau Anggi bekerja di perusahaan milik Mia.


Steve mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tas yang ia bawa,


"Aku harap kamu menyempatkan waktu untuk datang. Maaf belum ada namamu di undangan itu. Kamu bisa menulisnya sendiri," ujar Steve sedikit terkekeh.


Anggi ikut-ikutan terkekeh.


"Aku pasti datang Steve. Selamat ya sekali lagi." Anggi segera memeluk sepupunya tersebut.


"Terima kasih, Anggi. Kamu sendiri bagaimana? Kapan menikah dengan David?" Tanya Steve berbasa-basi.


"Mungkin beberapa bulan lagi, saat David pulang kami akan menikah," jawab Anggi seraya mengendikkan bahu.


Dan Steve hanya mengangguk paham.


"Oh, ya. Bukankah kamu tadi ingin bertemu nona Mia?" Ujar Anggi mengingatkan.


"Ya, apa dia ada di dalam?" Tanya Steve seraya menunjuk ke arah ruangan Mia.


"Aku akan menghubunginya dulu. Dia paling tidak suka ada tamu mendadak," jawab Anggi seraya terkekeh.


Steve ikut terkekeh.


Mungkin Mia memang nona direktur yang galak.


Anggi segera menghubungi Mia lewat interkom,


"Ada apa Anggi?" Tanya Mia diseberang sana. Terdengar nada sedikit ketus.


"Maaf nona, ada tamu yang ingin bertemu anda," jawab Anggi cepat.


"Siapa?" Tanya Mia masih ketus.


"Dokter Steve..." Anggi belum menyelesaikan kalimatnya,


"Suruh dia masuk!" Dan Mia sudah memotong dengan cepat.


Sambungan terputus.


"Masuklah Steve!" Ujar Anggi mempersilahkan sepupunya tersebut.

__ADS_1


Steve hanya mengangguk seraya tersenyum sebelum masuk ke dalam pintu kaca yang mengantarnya ke dalam ruangan nona Mia.


*****


Mia merapikan penampilannya dan sedikit memoles lipstik ke bibirnya, saat tahu Steve datang ke kantor untuk menemuinya.


Apa Steve ingin minta maaf?


Apa Steve akhirnya sadar kalau Mia itu lebih pantas untuknya ketimbang Eve, si gadis miskin itu?


Oh,


Hati Mia terasa berbunga-bunga sekarang.


Steve akhirnya bertekuk lutut pada nona Mia yang sempurna.


Steve mengetuk pintu kaca itu perlahan, sebelum membukanya.


Mia sudah berdiri dengan anggun di samping meja kerjanya, seakan siap menyambut kedatangan Steve. Sebuah senyuman juga tersungging di bibir nona direktur tersebut.


"Hai, Steve!" Sapa Mia ramah. Gadis itu mendekat ke arah Steve dan sudah akan memeluk mantan kekasihnya tersebut.


Namun dengan cepat Steve menolaknya.


Mia hanya bisa menelan kekecewaan.


Baiklah, tidak apa. Mungkin Steve masih canggung atau masih malu-malu.


"Maaf, Mia. Aku ke sini ingin bicara hal penting," ujar steve menyampaikan tujuannya.


Mia masih tersenyum,


"Tentu. Ayo duduk!" Mia mempersilahkan Steve duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Baiklah, terserah saja.


Steve akan menyelesaikan semuanya hari ini.


"Jadi, apa kau berubah pikiran dan ingin kembali kepadaku?" Tebak Mia seraya mengalungkan lengannya ke leher Steve.


Apa boleh jika Steve tertawa sekarang?


Kenapa nona direktur ini begitu percaya diri?


Steve melepaskan lengan Mia dengan lembut dan perlahan. Steve sungguh tidak ingin membuat ini semua menjadi rumit.


Mungkin seharusnya Steve ke sini bersama Eve dan tidak datang sendiri.


Sesaat Steve merutuki kebodohannya sendiri.


"Aku... aku akan menikah dengan Eve satu minggu lagi, Mia," ujar Steve to the point.


Dan senyuman di bibir Mia langsung lenyap seketika.


Steve menyodorkan sebuah kartu undangan pada Mia.


"Aku harap kamu mau datang, Mia. Bagaimanapun juga aku masih menganggapmu sebagai temanku," imbuh Steve lagi.


Mia belum menerima kartu undangan yang di sodorkan oleh Steve, wajah gadis itu mendadak berubah menjadi merah padam.


Apa Mia sedang marah sekarang?

__ADS_1


"Apa ini lelucon, Steve?" Tanya Mia tidak percaya.


Nada bicara Mia mulai meninggi.


"Ini bukan lelucon, Mia. Aku dan Eve akan menikah satu minggu lagi. Kau bisa membaca sendiri undangannya." Steve menyodorkan sekali lagi undangan pernikahannya pada Mia.


Mia mengambil undangan itu dengan cepat dari tangan Steve, lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.


"Kamu tidak boleh menikah dengan Eve, Steve! Aku mencintaimu. Kamu harus menikah denganku!" Murka Mia penuh emosi. Gadis itu bak orang kesetanan sekarang.


Steve beranjak dari duduknya dan memilih untuk mundur menuju ke arah pintu.


"Steve! Kau tidak bisa menolakku seperti ini, aku mencintaimu!" Mia mengejar Steve dan menarik-narik kemeja pria itu.


"Maaf, Mia. Tapi aku sudah tidak punya perasaan apapun kepadamu. Aku hanya mencintai Eve, hanya Eve!" tegas Steve sekali lagi. Pria itu berusaha melepaskan kemejanya dari cengkeraman Mia yang masih kesetanan.


"Lalu bagaimana dengan janjimu dulu? Bukankah dulu kamu selalu bilang kalau kamu mencintaiku, kamu ingin menikah denganku?" Sergah Mia seraya mendelik ke arah Steve.


Steve mengendikkan bahu,


"Anggap saja saat itu aku masih labil dan tidak bersungguh-sungguh. Dulu mungkin aku mencintaimu, tapi rasa cinta itu sudah menguap sekarang, Mia. Aku tak memiliki perasaan apapun lagi kepadamu," tutur Steve panjang lebar.


Mia jatuh terduduk di atas sofa.


"Lalu kenapa harus Eve? Kenapa harus gadis miskin itu yang kamu cintai? Aku jauh lebih sempurna ketimbang Eve. Apa kamu buta, Steve?" Cecar Mia kembali emosi.


"Ya. Mungkin aku sudah dibutakan oleh cinta..." Steve menghela nafas,


"...Eve gadis yang baik, lugu, dan pendiam. Itulah yang membuatku jatuh cinta kepadanya," lanjut Steve lagi seraya menerawang.


Mia tersenyum sinis,


"Heh, jadi menurutmu aku bukan gadis yang baik, begitu?" Tanya Mia dengan nada membentak.


"Kamu juga gadis yang baik, Mia. Kamu akan mendapatkan pria baik suatu hari nanti. Tapi pria itu bukanlah diriku," jawab Steve selembut mungkin.


"Kamu sudah menyakiti hatiku, Steve!" Desis Mia dengan emosi tertahan,


"Maaf, Mia. Tapi ini sudah menjadi keputusanku," ujar Steve sekali lagi.


"Aku tidak akan datang ke pesta pernikahan bodohmu itu!" Teriakan Mia menggema di seluruh ruangan tersebut.


"Terserah saja. Aku ke sini hanya mengantarkan undangan karena kamu adalah temanku. Selamat siang, Mia," pamit Steve seraya berlalu keluar dari ruangan Mia.


Sesaat setelah kepergian Steve, Mia segera bangkit dari duduknya.


"Aku membencimu Steve! Dasar pria brengsek!" Mia meluapkan emosi yang membuncah di dadanya.


Nona direktur itu memporak-porandakan meja kerjanya.


Tumpukan kertas serta benda lain yang ada di atas meja kerja Mia jatuh berhamburan ke lantai.


Mia mengamuk bak orang kesetanan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Terima kasih juga yang sudah ngasih like, komen, dan vote.


__ADS_2