
"Apa ini?" Tanya Bian sembari menunjuk ke paperbag besar yang tadi dibawa oleh Mia.
"Jas, sepatu, dan perlengkapan lain yang akan kau pakai malam ini," jawab Mia yang masih fokus ke ponselnya.
"Kemarin kau bilang supirmu yang akan mengantarnya, kenapa mendadak kamu yang muncul dan mengantarnya?" Tanya Bian tak mengerti. Pria itu sepertinya masih kesal karena Mia mengacaukan pedekatenya pada Dea.
Mia tersenyum simpul,
"Jadi, siapa gadis polos yang tadi kamu goda? Mangsa barumu?" Bukannya menjawab pertanyaan Bian barusan, Mia malah balik bertanya hal lain pada Bian dengan nada mengejek.
"Bukan siapa-siapa. Namanya Dea dan dia akan mulai kerja di sini hari Senin nanti," jawab Bian sedatar mungkin.
"Aku lihat kau tertarik kepadanya. Dari caramu menatap gadis itu," tebak Mia sok tahu.
"Sok tahu kamu!" Bian mencoba mengelak.
"Dea gadis yang baik, lugu, lembut, dan pekerja keras. Bukankah gadis itu sangat cocok kalau dijadikan calon istri?" Bian meminta pendapat pada Mia.
"Kau sudah lama mengenal gadis itu? Bagaimana kau bisa tahu banyak tentang gadis itu?" Tanya Mia menyelidik.
Bian mengendikkan bahunya,
"Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu," jawab Bian jujur.
"Lalu bagaimana kau bisa tahu banyak tentang gadis itu? Apa kau menyelidikinya? Atau kau memata-matainya?" cecar Mia semakin penasaran.
Bian tergelak,
"Kau tidak tahu? Aku punya bakat terpendam, yaitu menilai kepribadian orang hanya dengan melihat wajahnya," jawab Bian dengan ekspresi wajah yang sungguh mengesalkan bagi Mia.
Mia berdecak,
"Kau mengarang!" Sanggah Mia cepat.
"Tentu saja tidak. Saat pertama kali aku melihat wajahmu, aku sudah bisa menebak kalau kau adalah nona kaya yang sombong, ketus, kejam, dan semena-mena. Dan ternyata aku benar, kan?" sahut Bian masih dengan nada pongah.
Terang saja hal itu langsung membuat Mia mendelik ke arah Bian,
"Aku nona Mia yang baik hati dan dermawan. Lihatlah buktinya, aku membantumu menyelamatkan kafe bodohmu ini dan meminjamimu kartu kredit unlimited," bantah Mia cepat.
Bian tertawa terbahak-bahak,
"Bukankah itu memang bayaran untukku karena sudah mau menjadi pacar halumu?" Sanggah Bian tak mau kalah.
Mia berdecak,
Berdebat dengan Bian hanya akan membuat Mia semakin kesal. Entah kenapa pria ini selalu saja pandai bersilat lidah.
"Tapi apa kau tidak takut disebut pedofil karena menggoda gadis di bawah umur?" Mia mengalihkan topik pembicaraan.
"Gadis di bawah umur? Siapa?" Bian balik bertanya tak mengerti.
"Dea," jawab Mia singkat.
Dan tawa Bian kembali meledak,
__ADS_1
"Hahaha, gadis itu sudah berusia dua puluh empat tahun, nona Mia. Jadi aku bukan pedofil," jawab Bian masih tergelak.
"Tubuhnya mungil, apa gadis itu kurang gizi?" Tanya Mia sinis.
"Tidak masalah setelah dia menjadi istriku nanti aku akan membuatnya menjadi sintal," Timpal Bian dengan nada santai.
"Heh, apa kau yakin gadis itu mau menjadi istri dari pria brengsek sepertimu?" Ejek Mia seraya terkekeh.
"Tentu saja. Aku akan berhenti menjadi pria brengsek dan mata duitan mulai sekarang," sahut Bian seraya menepuk dadanya.
Mia hanya mencibir,
Entah mengapa atmosfer di ruangan ini mendadak terasa panas.
Apa Bian lupa menyalakan pendingin ruangan?
"Apa kau akan mendukungku, jika aku mulai menjalin hubungan dengan Dea? " Tanya Bian meminta pendapat Mia sekali lagi.
Mia mendengus,
Mendadak Mia benci saat Bian menyebut nama Dea dengan mata yang berbinar. Apa tidak ada hal lain yang bisa di bahas oleh Bian selain Dea dan Dea?
"Terserah saja, kau masih aku kontrak sebagai pacar bayaranku hingga tahun depan," jawab Mia ketus.
"Apa?" Bian terlonjak dari duduknya.
"Bukankah katamu aku hanya menjadi pacar halumu sampai pesta perusahaan Alexander?" Protes Bian tak terima.
"Kontrak baru saja aku perpanjang. Aku akan menambah gajimu sebagai pacar bayaran," sergah Mia cepat.
Mia tertawa sinis,
"Kau tidak bisa menolaknya, Bian. Aku sudah menggelontorkan banyak uang untuk menyelamatkan kafe bodohmu ini. Jadi terima saja!" Mia menuding ke arah Bian.
Sesaat Bian bungkam. Pria itu seperti kehilangan kata-kata.
"Aku... aku akan mencicil hutangku padamu," ujar Bian sedikit ragu. Pria itu mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Ini! Aku kembalikan kartu kredit unlimitedmu," Bian menyodorkan benda plastik persegi panjang itu pada Mia.
Namun Mia menolak untuk menerimanya.
"Aku tidak memintamu menjadi pacar dua puluh empat jam untukku. Aku hanya memintamu untuk menemaniku ke acara-acara yang mengharuskanku membawa pasangan. Aku tidak mengekang hidupmu, jadi kenapa kau harus protes?" Mia bersedekap seraya menatap tajam pada Bian.
Bian mendengus,
"Apa itu artinya kau tidak akan mencampuri hubunganku dengan Dea nantinya?" Tanya Bian masih khawatir.
"Tentu saja tidak," sahut Mia dengan nada santai.
Lagipula, gadis polos itu juga belum tentu mau menjadi pacar apalagi istrimu. Kenapa kau sudah percaya diri sekali, Bian.
"Baiklah, deal!" Bian mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan bersama nona Mia.
Meskipun sedikit malas, Mia tetap membalas uluran tangan Bian. Dua musuh yang selalu berseteru itu kini saling berjabat tangan.
__ADS_1
Apakah setelah ini keduanya akan menjadi dua sahabat yang tak lagi berseteru?
"Kau bisa mencoba jas barumu sekarang. Dan akan kulihat apakah sudah pas atau belum," Mia mengarahkan dagunya ke paperbag di atas meja.
"Nanti saja aku mencobanya. Lagipula aku yakin kalau ukurannya pasti sudah pas. Pemilik butik itu kemarin mengukurku dengan sangat teliti," tolak Bian mencari alasan.
"Aku sudah membayar mahal untuk semua ini, aku ingin kau mencobanya sekarang! Jadi masih ada waktu jika ada yang kurang pas," Mia tak mau kalah dan tetap memaksa Bian.
Gadis itu menyambar paperbag yang ada di atas meja dan membawanya menaiki tangga menuju ke lantai dua kafe.
"Hei, nona kaya! Kau mau ke mana?" Tanya Bian tak mengerti.
Bian mengekori Mia dan ikut naik ke lantai atas.
Mia berhenti di depan kamar Bian dan dengan cepat memberikan paperbag tadi pada Bian.
"Ini! Kau harus mencobanya!" Perintah Mia dengan nada memaksa.
"Apa kau ingin berdiri di sini agar kau bisa mengintip tubuhku yang seksi ini saat aku sedang berganti pakaian?" Tebak Bian asal.
Mia berdecak seraya memutar bola matanya,
"Jika kau lupa, aku sudah pernah melihatmu bertelanjang dada saat aku tinggal di kontrakan kumuhmu. Jadi jangan terlalu percaya diri! Aku sungguh tidak tertarik dengan bentuk tubuhmu yang biasa saja itu," sangkal Mia seraya bersedekap.
Bian tergelak,
"Ototku sudah lebih berisi sekarang, nona Mia. Apa kau tidak ingin melihatnya lagi?" goda Bian seraya terkekeh. Dan Mia hanya mendengus kesal.
Ponsel Mia berbunyi,
Buru-buru nona direktur itu mengangkatnya.
Setelah berbicara sebentar di telepon, Mia kembali menghampiri Bian.
"Baiklah aku harus pergi sekarang. Aku akan menjemputmu malam ini," pesan Mia sebelum menuruni anak tangga.
"Siap, nona direktur. Aku akan menunggu kedatanganmu bersama Ferrari merahmu malam ini," sahut Bian sedikit terkekeh.
Mia memilih untuk tidak menanggapi gurauan mengesalkan dari Bian barusan.
Sepertinya gadis itu sedang terburu-buru.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen dan vote.
Besok hari Minggu mau double up apa crazy up?
Silahkan like dulu yess,
__ADS_1
Kalau hari ini likenya lebih dari 20 besok aku kasih crazy up 5 episode (sekali-kali nodong boleh dong ya 😂 emangnya kalian aja yang bisa nodong dan main keroyokan)