Nona Mia

Nona Mia
TAKUT


__ADS_3

Mia masih duduk termenung di deretan kursi yang ada di ruang tunggu di depan IGD rumah sakit. Penampilan nona direktur itu sudah kacau tidak karuan. Ada dua polisi yang berjaga tak jauh dari Mia.


"Nona Mia, apa yang terjadi?" Eve yang baru datang bersama Steve segera bertanya pada Mia yang wajahnya terlihat sembab.


Mia mendongakkan wajahnya dan menatap Eve sesaat, bibir nona direktur itu bergetar dan airmatanya kembali jatuh.


"Eve, Bian..." Mia bahkan tak mampu untuk menceritakan pada Eve apa yang sudah terjadi.


Eve dan Steve saling melemparkan tatapan bingung.


Tak berselang lama, terdengar derap langkah yang mendekat ke arah mereka bertiga.


"Mia!" Papa Andri yang datang bersama mama Alin, setengah berlari dan langsung menghampiri Mia.


"Papa!" Tangis Mia langsung pecah. Gadis itu menghambur ke pelukan sang papa dan menangis tersedu-sedu.


"Apa yang sudah terjadi, Mia?" Papa Andri membimbing Mia agar duduk kembali dan bertanya dengan sabar pada sang putri yang sepertinya sangat terpukul.


"Kami...kami dibegal. Dan mereka menusuk Bian dengan pisau," Mia bercerita dengan terbata-bata di tengah isak tangisnya.


Eve yang mendengar cerita Mia tentang Bian yang terkena tusukan pisau langsung ikut terisak. Steve segera merengkuh istrinya tersebut ke dalam pelukan untuk menenangkan Eve.


"Mia takut, Pa." Cicit Mia sekali lagi masih terisak.


"Bian akan baik-baik saja, Mia." Ucap Mama Alin yang duduk di samping Mia seraya mengusap punggung putri sambungnya tersebut.


Pintu ruang IGD dibuka dari dalam. Seorang perawat keluar.


"Apa ada keluarga dari Bian?" Tanya perawat tersebut.


Eve dan Steve dengan cepat menghampiri perawat tadi.


"Saya adiknya, Suster. Bagaimana abang saya?" Tanya Eve khawatir.


"Pasien kehilangan banyak darah dan butuh donor secepatnya. Tapi stok darah AB sedang kosong, " jelas suster tersebut.


Eve berdecak,


"Golongan darah saya bukan AB, suster" jawab Eve dengan nada sedih.


Steve kembali merangkul istrinya tersebut.


"Kita akan mencari donor yang sesuai, Eve" ujar Steve mencoba menenangkan Eve.


Steve mengambil ponsel di sakunya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Suster, darah saya AB," Mia sudah bangun dari duduknya dan menghampiri perawat tadi.


"Mia, kamu tidak bisa mendonorkan darah kamu. Kondisimu sedang kacau begini," papa Andri mencoba mencegah sang putri.


Tentu saja papa Andri juga paham kalau Mia sangat takut dengan jarum suntik. Gadis itu bisa pingsan saat nadinya ditusuk jarum dan darahnya diambil.

__ADS_1


"Mia baik-baik saja, Pa! Mia tidak akan mati hanya karena mendonorkan darah untuk Bian!" Sergah Mia penuh emosi.


Papa Andri dan mama Alin saling berpandangan.


"Jadi bagaimana, nona mau mendonorkan darah untuk pasien?" Perawat bertanya sekali lagi.


"Iya..."


"Tidak!"


Mia dan papa Andri menjawab bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda.


Perawat menjadi bingung.


"Kita bisa mencari donor lain untuk Bian, Mia," mama Alin mencoba menengahi.


"Tidak, Ma! Mia akan mendonorkan darah Mia untuk Bian titik," Mia tetap keras kepala.


Mama Alin dan papa Andri menghela nafas bersamaan.


"Ini suster! Ambil saja darah saya untuk Bian dan selamatkan nyawa pria itu!" Mia menyodorkan tangannya ke arah perawat yang masih kebingungan.


Perawat tadi mengangguk dengan cepat,


"Mari ikut saya, Nona" perawat tadi segera berlalu dan memberi isyarat pada Mia agar mengikuti langkahnya.


"Mama akan menemanimu," ucap mama Alin cepat yang langsung merangkul bahu Mia dan mengikuti langkah perawat tadi.


"Mia sedikit phobia dengan jarum suntik, om hanya takut gadis itu akan pingsan saat perawat mengambil darahnya," jawab papa Andri lirih.


Eve dan Steve saling melempar pandang.


Seorang nona Mia yang ketus dan selalu semena-mena ternyata takut pada jarum suntik. Tapi sekarang nona kejam itu memilih melawan rasa takutnya demi menyelamatkan nyawa Abang Bian, pria yang selalu berseteru dengannya.


Jadi, ada hubungan apa sebenarnya di antara nona Mia dan Abang Bian?


*****


Mia dan mama Alin mengikuti perawat masuk ke sebuah ruangan dengan bau obat yang menyengat.


Mia mengeratkan gamitannya di lengan mama Alin saat melihat berbagai peralatan medis yang ada di meja putih di samping ranjang.


Perawat tadi meminta Mia berbaring. Perawat itu akan mengambil sampel darah Mia terlebih dahulu untuk dilakukan pengecekan.


Mama Alin segera duduk di samping Mia dan memeluk putrinya tersebut.


"Jangan dilihat!" Pesan mama Alin.


Mia hanya mengangguk dan membenamkan wajahnya ke pelukan mama sambungnya tersebut.


"Apa ada masalah?" Tanya perawat yang sedikit bingung dengan tingkah Mia.

__ADS_1


"Dia hanya sedikit takut dengan jarum, Sus," jelas mama Alin. Dan perawat tadi hanya mengangguk seraya tersenyum.


Setelah pemeriksaan sampel selesai, dan ternyata golongan darah Mia dan Bian sesuai, proses pengambilan darah pun di mulai.


Mia terus membenamkan wajahnya di pelukan mama Alin dan sekuat tenaga melawan rasa takutnya. Samar-samar terdengar isak tangis dari nona direktur tersebut.


Mama Alin hanya bisa mengusap punggung Mia demi menguatkan putri sambungnya tersebut.


Setelah hampir satu jam berada di ruangan tadi, Mia akhirnya keluar bersama mama Alin.


Kepala Mia terasa berdentum-dentum dan langkahnya sedikit sempoyongan. Mama Alin terus memapah Mia untuk kembali ke ruang tunggu IGD di mana ada papa Andri, Eve, dan Steve yang masih menunggu perkembangan dari kondisi Bian.


"Apa semuanya baik-baik saja?" Papa Andri langsung menghampiri Mia dan ikut memapah putrinya tersebut.


Sekarang Mia sudah duduk di kursi ruang tunggu.


"Hanya sedikit pusing," jawab Mia seraya memegang kepalanya yang masih terasa berdentum.


"Terima kasih nona Mia karena sudah mendonorkan darah untuk Abang Bian," Eve menghampiri nona direktur tersebut dan berterimakasih dengan tulus.


Mia hanya mengangguk samar.


"Maaf, Om. Sebaiknya Mia istirahat saja di rumah agar kondisinya kembali membaik," Steve memberikan saran.


"Aku baik-baik saja, Steve! Apa kau mengusirku?" Sahut Mia ketus.


Steve langsung diam.


"Steve benar, Mia. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat di rumah. Sudah ada Eve dan Steve yang menjaga Bian di sini," mama Alin ikut-ikutan membujuk Mia.


"Kami akan mengabari nona Mia jika abang Bian sudah sadar," Eve mencoba menengahi.


Mia menghela nafas dengan berat. Kepalanya terasa semakin sakit saja. Mia ingin berbaring dan tidur.


"Baiklah, Ma. Mia akan istirahat di rumah," ujar Mia akhirnya.


"Sekali lagi terima kasih banyak, nona Mia," Eve masih tak berhenti berterima kasih.


Setelah berpamitan pada Eve dan Steve, papa Andri, mama Alin, dan Mia segera meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah mereka.


Sinar matahari sudah terlihat di ufuk timur. Tak terasa, pagi sudah menjelang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕

__ADS_1


__ADS_2