Nona Mia

Nona Mia
SALAH


__ADS_3

Mia terlonjak kaget saat mendengar suara bel pintu depan.


Papa Andri segera beranjak dari duduknya dan bergegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


Tadinya, keluarga itu sedang berkumpul di ruang tamu untuk menunggu kabar tentang Galen.


Saat pintu terbuka, papa Andri langsung bisa melihat Bian yang sedang menggendong Galen.


"Selamat malam, Om. Saya mau mengantar Galen," sapa Bian sedikit ragu.


Wajah papa dari nona Mia itu sudah merah padam seakan menahan amarah. Tatapan matanya juga tajam mengerikan.


"Mia!" Panggil papa Andri tanpa memalingkan tatapan tajamnnya dari Bian.


Mia datang dengan tergesa. Ada Mike dan mama Alin yang mengekor di belakang Mia.


"Galen," Mia segera mengambil Galen dari gendongan Bian.


Wajah nona direktur itu sama mengerikannya dengan wajah papa Andri.


Sepertinya Bian dalam masalah besar sekarang.


"Bawa Galen masuk!" Perintah papa Andri pada Mia.


Setelah melemparkan tatapan membunuh ke arah Bian, Mia segera membawa Galen masuk. Mama Alin ikut masuk ke dalam.


Papa Andri masih menatap marah pada Bian.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Bian.


Bian merasakan sakit dan panas secara bersamaan di pipi kirinya.


"Om, saya bisa menjelaskan," Bian berusaha untuk memberi penjelasan.


Namun sebelum Bian menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogem mentah dari papa Andri sudah mendarat di wajahnya.


Bian jatuh tersungkur ke lantai.


"Itu pelajaran untukmu karena sudah menyakiti hati Mia, menghancurkan masa depannya, dan menculik Galen malam ini" Gertak papa Andri dengan emosi yang meluap.


Papa Andri masih akan melayangkan sebuah pukulan lagi pada Bian, namun dengan cepat Mike mencegahnya.


"Om, sudah!" Mike tahu kalau papa Andri pasti emosi dan marah pada Bian. Namun tindakan papa Andri ini juga tidak bisa di benarkan.


Papa Andri akhirnya menahan kemarahannya. Namun tatapannya masih tajam ke arah Bian.


"Pergi dari sini! Dan jangan pernah menemui Mia atau Galen lagi! Atau aku akan menjebloskanmu ke penjara!" Usir papa Andri masih dengan nada yang marah.


Pria paruh baya itu pun segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mike membantu Bian untuk berdiri.


Wajah Bian lebam dan babak belur. Ada darah yang mengalir di sudut bibir serta di hidung pria itu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Mike khawatir.


"Ya, aku tidak apa-apa. Aku memang pantas menerima semua ini," Bian tersenyum kecut.


"Aku akan pulang," lanjut Bian yang kini melangkah gontai meninggalkan rumah Mia.


Sekarang entah bagaimana Bian akan menemui Galen lagi. Hati Bian terasa sakit karena harus kembali berpisah dengan anaknya.


"Bian! Kau tidak membawa kendaraan?" Mike sudah menyusul langkah Bian.


"Aku akan naik taksi," jawab Bian cepat.


Bian sungguh merasa canggung pada Mike.


Kenapa pria ini selalu ada di mana-mana?


Kemarin di apartemen Mia, lalu di kantor Mia, dan sekarang di rumah orang tua Mia.


Apa dia suami Mia?


"Hei, tunggulah sebentar! Aku bisa mengantarmu," Mike berlari ke dalam rumah Mia, lalu keluar dengan cepat dan mengambil mobilnya.


"Ayo masuk!" Ajak Mike yang sudah membuka pintu mobilnya untuk Bian.


"Aku juga sekalian ingin pulang. Jadi tak apa aku mengantarmu," ajak Mike sekali lagi kali ini dengan nada memaksa.


Bian akhirnya mengalah dan memilih ikut saja dengan pria yang memiliki hubungan misterius dengan Mia tersebut.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit dulu. Lukamu perlu diobati," tawar Mike membuka percakapan.


Bian menyeka darah yang mulai mengering di sudut bibirnya.


"Tidak usah, Mike. Aku bisa mengobati lukaku sendiri," tolak Bian cepat.


Bian hanya ingin cepat sampai di rumahnya sekarang. Agar Bian bisa menumpahkan semua sesak yang memenuhi dadanya.


Bukan karena sakit di badannya, tapi karena sakit di hatinya.


Kata-kata papa Andri yang melarangnya bertemu lagi dengan Galen dan Mia membuat hati Bian benar-benar terasa sakit dan sesak.


Bian hanya ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Bian benar-benar ingin menjadi suami dan papa yang baik untuk Mia dan Galen.


Apa itu salah?


"Aku kira kau tinggal bersama Mia," Bian memecah keheningan di antara dirinya dan Mike yang fokus mengemudi.


Mike terkekeh,

__ADS_1


"Aku hanya asisten dari nona direktur itu. Aku punya rumah sendiri. Jadi jangan salah paham," ujar Mike masih terkekeh.


"Aku lihat hubunganmu sedikit rumit dengan Mia. Apa kalian pernah berpacaran?" Gantian Mike yang melontarkan pertanyaan.


Bian menggeleng,


"Kami hanya berpacaran pura-pura waktu itu agar Mia tidak dijodohkan oleh orang tuanya. Dan setelah itu semuanya mendadak menjadi rumit," Bian kembali menerawang.


Bian sendiri tak tahu bagaimana awalnya Mia bisa jatuh cinta pada pria kere seperti dirinya.


Andai Bian juga menyadari perasaannya pada Mia lebih awal, mungkin sekarang mereka sudah hidup bahagia sebagai keluarga yang sempurna.


Sekarang bukan hanya Mia yang membenci Bian. Tapi kedua orang tua Mia juga benci pada Bian. Hanya Galen satu-satunya harapan Bian.


Semoga anak itu tidak pernah membenci Bian.


Tak terasa, mobil Mike sudah sampai di depan rumah mungil Bian.


"Kau yakin tidak mau aku antar ke rumah sakit?" Tawar Mike sekali lagi.


"Tidak Mike, terima kasih sudah mengantarku pulang," Bian memaksa mengulas senyum di bibirnya yang kini terasa nyeri.


Setelah berpamitan pada Mike, Bian segera turun dari mobil pria tersebut.


Bian menunggu hingga mobil mike menghilang di ujung jalan sebelum masuk ke rumahnya. Saat membuka pintu, ponsel Bian berdering.


Segera Bian mengangkatnya,


"Halo, ada apa?


"..."


"Kenapa mendadak sekali?"


"..."


"Baiklah, tidak apa. Aku akan berangkat besok pagi,"


Bian menutup ponselnya. Pria itu melihat arloji di tangannya.


Sudah hampir pukul sepuluh malam. Bian harus memesan tiket secepatnya dan mungkin Bian akan mengirim pesan saja pada Eve. Semoga adiknya itu bisa mengantar Bian ke bandara besok.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕

__ADS_1


__ADS_2