Nona Mia

Nona Mia
KAU AKAN MEMAKAINYA?


__ADS_3

Bian dan Mia sudah sampai di sebuah butik yang ada di pusat kota.


Pasangan bukan pacar tersebut segera masuk ke butik. Beberapa karyawan butik yang melihat Mia, segera menunduk hormat pada nona direktur tersebut.


Apa butik ini juga milik nona kaya ini?


Bian jadi bertanya-tanya dalam hati.


Mia segera menemui pemilik butik dan masuk ke sebuah ruangan untuk membicarakan tentang baju yang akan di pesan oleh Mia.


Sedangkan Bian memilih untuk duduk di sofa empuk yang ada di sudut butik.


Seorang karyawan butik langsung memberikan minuman dan cemilan untuk Bian.


Oh, jadi begini rasanya jadi orang kaya yang membeli baju seharga ratusan juta di butik ternama?


Benar-benar diperlakukan bak seorang raja.


Apa kabar kalau aku masuk ke tempat ini tidak bersama nona kaya itu?


Mungkin aku sudah ditendang sebelum membuka pintu.


Bian tak berhenti bergumam dalam hati.


Sesekali pria itu juga mengedarkan pandangannya ke arah baju-baju pesta yang di pajang di etalase.


Ada juga beberapa gaun pengantin mewah yang Bian yakin harganya pasti sangatlah mahal.


Sesaat Bian jadi ingat pada Dea, gadis manis yang baru saja Bian temui di kafe pagi tadi.


Andai Bian sekaya nona Mia, mungkin Bian akan membeli salah satu gaun pengantin itu, dan memberikannya pada Dea.


Gadis mungil itu pasti akan terlihat semakin cantik saat naik ke altar pernikahan bersama Bian mengenakan salah satu gaun mewah ini.


"Bian!" Teguran Mia yang lumayan keras membuat Bian terlonjak kaget.


Seketika lamunan Bian tentang pernikahannya bersama Dea menjadi buyar.


"Apa?" Sahut Bian cepat.


Mia memutar bola matanya.


Pria ini, kenapa hobi sekali melamun?


"Apa yang sedang kau pikirkan? Setiap hari melamun saja kerjaanmu," sergah Mia dengan nada ketus. Gadis itu kini sudah ikut duduk di sofa di samping Bian.


"Sok tahu! Aku sedang memikirkan tentang masa depanku," bantah Bian cepat yang langsung membuat Mia berdecak.


"Memangnya masa depan macam apa yang akan menghampiri pria brengsek sepertimu? Menikah dengan seorang gadis konglomerat agar kau bisa menguras habis uang mereka? Hahaha," Mia tertawa mengejek.


Bian hanya mendengus,


"Yang pasti aku tidak akan menikah dengan gadis sepertimu," gumam Bian sedikit menggerutu.


Gantian Mia yang berdecak.

__ADS_1


Gadis itu beranjak dari duduknya dan melihat gaun pengantin yang terpajang di etalase. Bian mengikuti langkah nona Mia.


"Kau mau membeli yang seperti ini?" Tanya Bian seraya menunjuk ke satu gaun pengantin warna putih tulang yang memiliki desain glamour dan elegant.


Mia bersedekap,


"Tentu saja, aku akan membeli dan memakainya suatu hari nanti saat aku sudah bertemu dengan pangeran impianku," jawab Mia penuh percaya diri.


Bian tergelak mendengar jawaban dari nona Mia.


Bian tidak tahu kalau gadis ketus dan sombong seperti nona Mia ternyata juga punya impian seperti anak kecil, menikah dengan seorang pangeran seperti di negeri dongeng.


Hahaha, apa ini sebuah lelucon?


Lagipula pangeran macam apa yang akan kuat menghadapi sikap ketus dan keras kepala seorang nona Mia?


"Kita pulang sekarang! Urusanku di sini sudah selesai," ajakan dari Mia memecah keheningan di antara Mia dan Bian.


Mia segera menelpon supirnya untuk menjemput ke butik.


"Bagaimana dengan baju yang tadi ingin kau beli?" Tanya Bian sedikit bingung.


"Apa kau tidak pernah belanja di butik mahal? Baju itu akan diantar nanti saat sudah siap. Supirku akan mengantarkannya ke kafemu. Kau mengerti!" Jawab Mia seraya menuding ke arah Bian.


Bian hanya mengendikkan bahu.


Mana Bian tahu hal seperti itu?


Bian saja baru pertama kali masuk ke butik mahal seperti ini.


"Tidak perlu. Supirku akan menjemputku," Jawab Mia seraya mengibaskan tangan pada Bian.


Tak berselang lama, mobil mewah nona direktur itu sudah tiba di depan butik.


"Aku akan menjemputmu Sabtu malam jam tujuh," pesan Mia pada Bian sebelum nona direktur itu masuk ke dalam mobilnya.


Bian hanya mengangguk seraya melambaikan tangan ke arah mobil Mia.


Sesaat setelah mobil Mia meninggalkan butik tersebut, Bian ikut pergi dan memacu motornya menuju ke arah kafe miliknya.


*****


Bian sedang membersihkan jendela kafenya, saat Dea melintas di depan kafe milik Bian.


"Pagi, pak Bian. Sedang bersih-bersih?" Sapa Dea hangat.


Bian sedikit terkejut mendengar suara merdu itu. Bian tak menyangka akan kembali bertemu dengan gadis mungil ini di depan kafenya.


"Pagi, Dea. Darimana?" Tanya Bian berbasa-basi.


"Membeli beberapa keperluan untuk anak-anak di panti," jawab Dea seraya menunjukkan kantong belanja yang ia bawa.


Bian hanya mengangguk.


Gadis yang rajin.

__ADS_1


"Apa kafe sudah mulai buka, Pak?" Tanya Dea selanjutnya.


Bian tersenyum tipis,


"Belum. Aku hanya membersihkannya untuk persiapan. Bukankah lebih hemat jika aku membersihkan kafe ini sendiri sekalian berolahraga?" Jawab Bian cepat masih sambil berbasa-basi.


Dea hanya mengangguk seraya tersenyum seakan membenarkan pendapat Bian barusan.


"Oh, iya, Dea. Jangan panggil aku Pak, oke! Aku belum tua dan belum jadi bapak-bapak," pinta Bian sedikit terkekeh.


"Tapi, Pak. Rasanya kurang sopan jika saya memanggil nama anda," bantah Dea seraya menunduk malu.


Wajah gadis itu sedikit memerah.


Oh, Bian sungguh gemas saat Dea menampilkan ekspresi seperti ini.


Bian ingin mencubit pipi tirus itu.


Bim...bim...


Sebuah klakson mobil yang berhenti di dekat Bian dan Dea terdengar memekakkan telinga.


Bian dan Dea melihat ke arah mobil mewah tersebut.


Sedetik kemudian, nona Mia turun dengan pongah dari pintu belakang mobil membawa satu paperbag besar.


Bian benar-benar harus berdecak kesal melihat wajah menyebalkan dari nona direktur tersebut.


Kenapa gadis sombong itu selalu saja muncul di saat-saat yang tidak diinginkan. Sudah seperti hantu saja.


"Sedang menggoda gadis polos, Bian?" Sindir Mia pedas.


Nona direktur itu bersedekap di depan pintu kafe seraya menatap bergantian ke arah Dea dan Bian.


Bian hanya mendengus, dan Dea masih tertunduk malu.


"Pak, saya pamit dulu. Sudah ditunggu sama anak-anak." Dea yang tidak paham dengan masalah antara Bian dan nona kaya ini, memilih untuk undur diri dan pergi saja dari tempat tersebut.


Bian mengangguk dan tersenyum,


"Baiklah, Dea. Sampai jumpa hari Senin," Bian melambaikan tangan pada Dea yang sudah berjalan meninggalkan Bian bersama nona Mia.


Sesaat setelah kepergian Dea, Mia membuka pintu kafe dan segera melangkah masuk. Bian mengekori nona direktur itu sambil terus menggerutu.


Baru saja Bian akan pedekate dengan Dea, tapi nona direktur sombong ini malah mengacaukan semuanya.


.


.


.


Kira-kira Mia bakal cemburu atau biasa aja?


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2