Nona Mia

Nona Mia
PATAH HATI


__ADS_3

'Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu!'


'Aku akan melupakan pria brengsek itu!'


Kalimat-kalimat itu terus saja berputar di kepala Mia. Nona direktur itu sedang menyusuri lorong rumah sakit menuju ke kamar perawatan Bian.


Mia seakan termakan kata-katanya sendiri.


Mia akan menemui Bian hari ini. Mia akan menyatakan semua perasaannya pada Bian. Masabodoh jika akhirnya pria itu menolak cinta Mia.


Sampai di depan ruang perawatan Bian, Mia menarik nafas panjang dan langsung membuka pintu ruangan tersebut.


Kosong?


Apa? Ruangan sudah kosong?


Kemana Bian?


"Apa nona mencari tuan Bian?" Suara perawat yang tempo hari bertemu Mia sedikit mengejutkan nona direktur tersebut.


"Dimana dia, Suster?" tanya Mia cepat.


"Tuan Bian sudah pulang dua hari yang lalu," jawab perawat tersebut


"Apa?" Sergah Mia merasa terkejut.


"Baiklah, Sus, terima kasih informasinya," ucap Mia akhirnya.


Gadis itu kembali menutup pintu ruangan dan berjalan keluar dari rumah sakit.


Mia akan menjenguk Bian ke kafenya. Mia akan memastikan kalau kondisi Bian memang sudah pulih dan membaik.


Tak butuh waktu lama dan Mia sudah sampai di kafe Bian.


Suasana di dalam kafe sepertinya sedang ramai. Sedikit aneh, mengingat ini bukanlah jam makan siang.


Mia memilih untuk langsung masuk saja ke kafe tersebut.


Para pengunjung kafe sedang berkerumun di dekat meja kasir.


Tunggu, ada apa ini?


Apa terjadi sesuatu pada Bian?


Mendadak berbagai pikiran buruk berkelebat di kepala Mia. Buru-buru nona direktur itu menyibak kerumunan untuk melihat apa yang sudah terjadi.


Dan pemandangan yang Mia lihat sekarang sungguh membuat nona direktur itu menyesal karena sudah datang ke kafe bodoh ini.


Seharusnya Mia tadi tidak perlu datang ke sini dan tidak perlu mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Saat ini Bian sedang berlutut di depan Dea seraya menyodorkan kotak cincin warna merah yang Mia temukan tempo hari.


Ya, pria itu sedang melamar Dea dan memintanya untuk menjadi istri.


Sakit.

__ADS_1


Kenapa rasanya harus sesakit ini?


Mia mendongakkan wajahnya karena mendadak matanya terasa panas dan airmata sudah mendesak untuk segera keluar.


Mia menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera berbalik pergi.


Mia tidak mau melihat ini semua. Ini terlalu menyakitkan.


Airmata Mia sudah jatuh bercucuran saat nona direktur itu melangkah keluar meninggalkan kafe.


Mia menangis di dalam mobilnya.


"Ke apartemen sekarang, Pak!" Perintah Mia pada sang supir. Airmata masih belum berhenti mengalir di kedua pipinya.


*****


Mia menatap kosong ke arah jendela apartemennya.


Keadaan apartemen Mia sudah seperti kapal pecah sekarang. Barang-barang terlempar dari tempatnya, dan bantal-bantal sofa berhamburan di ruang tengah. .


Mia masih duduk meringkuk di sudut ruang tengah. Wajahnya sembab dan matanya bengkak. Entah sudah berapa lama nona direktur itu menangis.


Mia belum pernah merasa sesakit ini. Bahkan saat melihat Steve menikah dengan Eve, hati Mia tidak sesakit ini.


Ada apa sebenarnya dengan hatiku?


Bian pria brengsek, kenapa aku harus jatuh cinta pada pria brengsek itu?


Dasar bodoh!


Mia masih tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri.


Seharusnya kamu berlutut di hadapanku, Bian.


Seharusnya aku yang kamu lamar.


Seharusnya cincin murahan itu kamu sematkan di jari manisku bukan di jari manis Dea


Kenapa kamu mencintai Dea bukan aku?


Kenapa Bian?


Kenapa?


Mia berteriak histeris bak orang kesetanan.


"Mia, apa yang sudah terjadi?" Papa Andri yang baru masuk ke apartemen Mia, cukup terkejut saat melihat apartemen sang putri yang seperti kapal pecah.


Mia hanya melihat sekilas ke arah sang papa sebelum kembali meringkuk dan meratapi patah hatinya.


"Astaga, kakakku yang kaya. Apa kau baru saja mengamuk?" Kyara yang datang bersama papa Andri ikut terkejut dengan kondisi apartemen Mia.


"Mia, ada apa denganmu?" Papa Andri dengan cepat merengkuh tubuh putrinya tersebut dan memaksa Mia untuk bangun dari posisinya semula.


"Mia patah hati! Apa papa mau menghakimi Mia sekarang?" Jawab Mia dengan nada meninggi.

__ADS_1


Papa Andri berdecak prihatin dan Kyara menahan tawanya.


"Jadi, kau benar-benar jatuh cinta pada Bian?" Tanya papa Andri sekali lagi.


Pria paruh baya itu dengan sabar membimbing Mia untuk duduk di sofa yang bentuknya sudah tak karuan.


Mia hanya diam dan enggan menjawab pertanyaan dari sang papa.


"Move on, Kak Mia! Masih banyak pria di luar sana yang lebih tampan dari Bian brengsek," ucap Kyara seraya menepuk punggung Mia.


"Diam!" Bentak Mia pada Kyara yang bawel tersebut.


Kyara hanya mencibir.


Papa Andri menghela nafas panjang. Pria paruh baya itu bahkan bingung harus berkata apa sekarang.


Kenapa kisah cinta anak muda selalu serumit ini?


"Ganti bajumu, dan ayo ikut papa mengantar Kyara ke airport. Papa ingin bicara banyak denganmu, Mia," ujar papa Andri akhirnya.


"Mia tidak mau, Pa," tolak Mia cepat.


"Papa akan memaksamu kalau begitu. Kyara!" Papa Andri memberi kode pada Kyara agar membantu Mia berganti baju.


"Siap papaku yang tampan," Kyara segera beranjak dari duduknya dan memaksa sang kakak masuk ke kamar.


Mia sudah enggan untuk melawan.


Entahlah, hati Mia rasanya sedang tak karuan sekarang.


****


Mia dan papa Andri berada di taman kota sekarang.


Mereka baru saja mengantar Kyara ke airport.


Mia menatap ke arah danau yang airnya beriak karena hembusan angin. Papa Andri duduk di bangku taman tak jauh dari tempat Mia berdiri. Pria paruh baya itu seakan membiarkan sang putri melepaskan semua kesedihan yang tengah mendera.


"Apa menurut papa Mia ini gadis jahat?" Tanya Mia yang kini sudah duduk di samping papa Andri.


Papa Andri menghela nafas,


"Kamu bukan gadis jahat, Mia. Kamu hanya keras kepala dan egomu itu terlalu tinggi. Tapi jauh di dalam dirimu, kamu adalah gadis yang baik. Kamu putri papa," jawab papa Andri bijak.


"Mia seperti mendapat karma dari perbuatan dan sikap Mia di masa lalu," keluh Mia dengan nada memelas.


Papa Andri mengusap rambut putrinya tersebut,


"Tidak ada yang namanya karma, Mia. Anggap saja semua ini adalah sebuah ujian hidup yang harus kamu lalui. Kamu akan bertemu pria baik yang memang pantas untukmu suatu hari nanti. Kamu hanya perlu move on dan belajar menurunkan egomu itu," nasehat papa Andri sekali lagi.


"Apa menurut papa Mia akan bisa menyembuhkan rasa sakit ini?" Tanya Mia lirih seraya menatap ke arah sang papa.


"Kamu pasti bisa, Mia. Kamu putri papa. Kamu gadis yang kuat," papa Andri segera meraup putri kesayangannya tersebut ke dalam pelukannya.


Angin sore bertiup sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di pinggir danau.

__ADS_1


Semoga angin ini juga bisa menerbangkan semua rasa cinta Mia pada Bian.


Papa benar. Mia harus move on dan mulai melupakan Bian.


__ADS_2