
Bian memacu dengan pongah motor sport barunya. Bian benar-benar sudah menjadi cowok keren sekarang berkat motor sport baru pemberian Kyara ini.
Sekarang yang perlu Bian lakukan adalah, selalu memberikan rayuan gombal pada Kyara dan mengantar jemput gadis itu kemana saja.
Bian akhirnya tahu, kalau Kyara paling suka di puji atau di rayu. Dan Bian adalah ahlinya dalam bidang itu. Jadi tidak akan ada kendala bagi Bian untuk semakin mendekati Kyara.
Mungkin sebentar lagi Kyara dan Bian akan resmi berpacaraan, dan Bian akan segera bisa mengeruk lembaran-lembaran rupiah dari rekening Kyara.
*****
"Itu motor siapa, Bang?" Tanya Eve curiga.
Hari masih pagi dan Eve benar-benar kaget mendapati motor sport yang kelihatannya masih baru sudah bertangkring manis di teras kontrakan mereka.
Tadi malam saat Eve pulang, gadis itu tidak terlau memperhatikan.
"Motor abang lah," jawab Bian santai.
Terang saja hal itu langsung membuat mata Eve membeliak.
"Abang mencuri?" Tuduh Eve cepat.
"Ngawur! Pacar abang yang membelikannya," jelas Bian sedikit mencebik.
"Pacar? Sejak kapan abang punya pacar?" Tanya Eve lagi, nada bicara gadis itu mulai meninggi.
"Sejak kemarin," jawab Bian asal.
Sebenarnya Bian belum resmi menjadi pacar Kyara, tapi tidak apa Bian mengaku-ngaku pada Eve. Palingan juga sebentar lagi Bian dan Kyara akan resmi berpacaran.
"Abang jangan ngarang, deh!" Eve masih tidak percaya.
Gadis itu menuding ke wajah Bian.
"Untuk apa abang ngarang, Eve. Nyatanya itu motor sudah ada di rumah kita. Berarti itu kan motor abang." Bian masih bersikeras.
"Apa abang pacaran dengan nona Mia sekarang?" Tebak Eve ngawur.
Bukankah abangnya ini menyimpan beberapa rahasia nona Mia saat hilang ingatan dulu?
Bisa saja kan, Bian memanfaatkannya untuk memeras nona kaya itu. Apalagi tipe abang Bian yang selalu berpikiran licik, membuat Eve semakin yakin kalau abangnya ini pasti merahasiakan sesuatu.
"Ngawur!" Bian langsung menyentil kening Eve.
Sontak gadis itu langsung mengelus keningnya yang kini terasa nyeri. Bibir Eve juga berubah mencebik.
__ADS_1
"Dunia bakal kiamat kalau abang berpacaran dengan nona sombong dan galak itu. Dia itu bukan selera abang, Eve!" Ujar Bian sambil menampilkan wajah jijik.
Eve langsung terkikik
"Awas kuwalat!" Timpal Eve masih terkikik.
"Kamu nyumpahin? Emang kamu mau punya kakak ipar galak sejenis nona Mia? Kalau kamu dimakan hidup-hidup bagaimana?" Cecar Bian berlebihan.
"Ya enggak sih. Tapi kan ada pepatah yang pernah Eve dengar, kalau benci sama orang itu jangan berlebihan nanti bisa-bisa malah berubah jadi cinta, " tukas Eve sok bijak.
Bian mencibir,
"Pepatah itu gak berlaku buat abang, Eve" jawab Bian sombong.
Eve hanya terkekeh.
"Baiklah, terserah abang saja. Jadi, siapa yang membelikan abang motor baru?" Eve mengulangi pertanyaannya yang sudah dijawab oleh Bian tadi.
"Kyara," jawab Bian singkat.
"Siapa Kyara?" Tanya Eve penasaran.
Gadis polos, adik dari nona Mia kaya yang sombong dan galak, yang abang poroti uangnya demi misi balas dendam ,
"Gadis yang abang tolong tempo hari saat hampir tertabrak motor," jelas Bian sambil kembali mengingat momen perkenalannya dengan Kyara.
Bian tidak mengerti kenapa wanita galak dan sombong seperti Mia bisa punya adik yang lugu dan mudah dirayu seperti Kyara.
Apa Mia tidak pernah mengajari adiknya itu cara menghadapi para pria brengsek?
"Jadi, hanya karena abang menolongnya, lalu dia langsung membelikan abang motor baru, begitu?" Tebak Eve mengira-ngira.
Bian mengendikkan bahu,
"Abang juga tidak menyangka. Tadinya abang sudah menolak. Tapi dia memaksa. Abang bisa apa coba?" Bian melebih-lebihkan ceritanya.
Menolak apanya?
Bian bahkan tidak berusaha untuk menolaknya. Bian malah bersorak dalam hati saat Kyara baru bertanya harga motor baru pada Bian.
"Apa dia gadis konglomerat? Atau dia anak konglomerat?" Eve masih terus bertanya. Sepertinya gadis itu penasaran sekali.
Kenapa abang Bian yang wajahnya pas-pasan begitu selalu saja bertemu dan membuat para wanita kaya jatuh hati?
Apa abangnya ini memakai ilmu pelet?
__ADS_1
"Abang rasa dia anak konglomerat. Usianya masih sebaya denganmu," Lanjut Bian lagi.
"Lalu kenapa gadis konglomerat mau berpacaran dengan abang Bian yang miskin? Apa gadis itu tidak waras?" Sinis Eve sambil mencibir.
"Hei, abang memang miskin harta, Eve. Tapi abang kaya hati. Abang suka menolong, abang pria yang baik. Jadi wajar jika para nona kaya jatuh hati pada abang." Sekali lagi Bian menyombongkan diri.
Dan Eve hanya mendengus sambil memutar bola matanya.
Perasaan Eve saja atau memang abangnya ini mirip dengan nona Mia?
Sama-sama sombong dan gemar membanggakan dirinya sendiri.
"Bagaimana kuliahmu?" Bian mengalihkan topik pembicaraan.
"Sejauh ini lancar," jawab Eve singkat.
"Oh, ya. Eve hampir lupa Steve meminta kita pindah kontrakan, Bang," lanjut Eve lagi.
"Pindah kemana?" Bian mengernyitkan kedua alisnya.
"Ada kontrakan kosong di dekat kliniknya Steve. Eve sudah melihatnya kemarin. Ada dua kamar dan ada halaman yang cukup luas." Eve menjelaskan.
"Pasti harga sewanya mahal," tebak Bian cepat.
Eve memutar bola matanya.
"Steve akan membantu membayar separuhnya. Abang senang sekarang?" Ujar Eve dengan nada sinis.
Bian langsung tersenyum sumringah,
"Ah, Steve memang calon adik iparku yang paling pengertian," tukas Bian berbinar-binar.
Eve hanya mendengus.
Tempat kuliah Eve dan klinik Steve jaraknya tidak terlalu jauh. Itulah alasan utama Steve meminta kakak beradik ini untuk pindah saja ke daerah dekat kliniknya.
Agar Eve lebih mudah saat harus ke klinik ataupun ke tempat kuliah.
"Jadi, kapan kita akan pindah?" Tanya Bian selanjutnya.
"Kapan abang libur?" Eve malah balik bertanya.
"Hari Minggu mungkin abang bisa minta izin libur. Bagaimana menurutmu?" Bian meminta pendapat dari Eve.
"Baiklah, hari Minggu saja kalau begitu. Eve akan mengabari Steve," Eve segera meraih ponselnya untuk menghubungi tunangannya tersebut.
__ADS_1