Nona Mia

Nona Mia
AYO MENIKAH


__ADS_3

Bian menekan sekali lagi bel apartemen Mia.


Tidak ada jawaban.


Sudah hampir satu jam Bian berdiri di depan pintu dan entah sudah berapa kali Bian menekan bel keperakan tersebut. Namun belum ada tanda-tanda dari penghuni di dalamnya.


Kemana Mia?


Ini ketiga kalinya Bian berkunjung ke sini dan Mia selalu tidak ada di apartemennya.


Apa wanita itu memang selalu pergi setiap malam?


Ini aneh sekali.


Bian turun kembali ke lantai bawah untuk bertanya pada security.


"Nona Mia sudah pindah satu pekan yang lalu," ujar security yang berjaga di lobi depan.


"Apa? Pindah kemana?" Tanya Bian yang merasa terkejut.


"Maaf, saya kurang tahu, Pak." Jawab security itu lagi.


Dan Bian hanya bisa mengacak rambutnya karena frustasi.


Hanya karena Bian mengatakan pada Galen kalau ia adalah papa kandung Galen, Mia langsung membawa anak itu pindah begitu saja.


Egois sekali!


Baiklah, Bian akan menemui nona direktur itu di kantornya besok.


Mia bisa saja pindah tempat tinggal. Tapi tidak mungkin 'kan dia memindahkan gedung kantornya ke tempat antah barantah?


Bian memacu motornya dengan membawa rasa kecewa di dadanya.


Bian benar-benar rindu pada Galen.


*****


"Mommy, Galen mau bertemu papa," sekali lagi Galen merengek pada Mia.


"Papanya Galen sudah pergi jauh. Bukankah mommy sudah memberitahu Galen kemarin," Mia mulai kesal menjawab rengekan dari Galen.


"Galen mau ke toko es krim papa kalau begitu," rengek Galen yang kini mulai mencebik.


"Toko es krim itu juga sudah tutup, Galen!" Dusta Mia sekali lagi.


Demi apapun, Mia benar-benar tidak mau kalau Galen bertemu lagi dengan Bian.


Mia sudah hidup tentram bersama Galen selama lima tahun ini. Lalu tiba-tiba pria brengsek tak tahu diri itu datang, mengaku kalau dia papanya Galen dan membuat Galen jadi uring-uringan seperti ini.


"Mia, ada apa ini?" Oma Alin yang masuk ke kamar dan mendapati cucunya sedang mencebik langsung menegur Mia.


"Galen mau ke toko es krim papa," Galen mengadu pada sang oma.


"Papa? Papa siapa?" Tanya oma Alin bingung.


"Galen mengira pemilik kedai es krim di mall itu adalah papanya, hanya karena dia memberikan es krim gratis pada Galen kemarin," ujar Mia menjelaskan.


"Itu memang papa kandung Galen, Mommy!" Bantah Galen cepat.


"Baiklah, sudah cukup berdebatnya. Besok sepulang sekolah, oma akan membawa Galen ke kedai es krim di dekat sekolah Galen," pungkas Mia cepat.


"Galen bobok, ya! Besok kita ke kedai es krim," Oma Alin membujuk Galen sekali lagi. Dan meskipun masih mencebik, Galen akhirnya mengangguk patuh.


****


"Mia, apa maksud kata-kata Galen tadi?" Oma Alin menghampiri Mia yang sedang berkutat dengan layar laptopnya di ruang tengah.


Galen sudah tidur lelap di kamar Mia.


"Bukan apa-apa, Ma. Jangan terlalu diambil pusing!" Jawab Mia acuh.


"Jadi siapa sebenarnya papa kandung Galen? Sudah lima tahun dan kamu tidak pernah mengatakannya pada mama dan papa," cecar oma Alin sekali lagi.

__ADS_1


"Mia tidak mau membahasnya, Mama! Berapa kali Mia harus bilang Galen tidak membutuhkan papanya. Mia bisa menjadi mommy sekaligus papa untuk Galen," jawab Mia keras kepala.


"Sudahlah! Mia akan tidur saja!" Mia menutup layar laptopnya dan segera beranjak masuk ke kamar menyusul Galen.


Oma Alin hanya bisa menghela nafas.


Selalu seperti ini saat ada yang menyinggung tentang siapa papa Galen.


****


Bian sudah sampai di gedung kantor Mia.


"Adel, aku ingin bertemu nona Mia," sapa Bian cepat pada Adel yang ternyata masih menjadi sekretaris Mia hingga sekarang.


Betah sekali gadis ini menjadi sekretaris nona direktur galak itu.


"Nona Mia masih meeting, Pak Bian." Jawab Adel cepat.


Tak berselang lama, pintu lift terbuka. Mia keluar dari lift dan Mike mengekor di belakang nona direktur tersebut.


Sejenak, Bian kembali harus menahan rasa cemburu di hatinya saat melihat Mike di dekat Mia.


Ada apa dengan pria ini?


Kenapa dia ada dimana-mana?


Apa dia pengawal pribadi Mia?


"Mia, aku ingin bicara," ujar Bian cepat saat Mia sudah berada di dekatnya.


Namun nona direktur itu mengabaikan sapaan dari Bian dan memilih untuk berlalu masuk ke dalam ruangannya.


"Selamat pagi, Pak Bian." Mike menyapa Bian ramah.


"Mike!" Suara Mia menggema dari dalam ruangan.


Bergegas Mike masuk ke ruangan nona direktur tersebut membawa setumpuk kertas di tangannya.


Bian ikut masuk ke ruangan Mia meskipun tidak ada yang mempersilahkan.


"Mia aku ingin bicara!" Sergah Bian cepat.


"Sebaiknya aku keluar," Mike membereskan kertas yang berserakan di meja Mia dan hendak keluar.


"Mike! Aku belum menyuruhmu keluar," Mia menegur sahabat sekaligus asistennya tersebut dengan nada galak.


Mike mengurungkan langkahnya dan kembali membantu Mia memeriksa beberapa berkas.


Pria itu berdiri di samping Mia.


Dan Mia masih mengabaikan kehadiran Bian di hadapannya.


"Aku ingin bertemu Galen, Mia!" Ucap Bian sedikit lantang.


"Kau siapa memangnya?" Sahut Mia ketus.


"Aku papanya Galen. Kau tidak bisa memisahkan kami seperti ini," sergah Bian yang mulai emosi.


Mia sudah selesai membubuhkan tanda tangannya di beberapa berkas.


Nona direktur itu membanting penanya dengan kasar ke atas meja.


"Aku sudah melakukannya selama lima tahun terakhir. Dan hidup kami berdua sudah tentram dan bahagia. Lalu tiba-tiba kamu datang dan membuat semuanya menjadi kacau." Ujar Mia dengan nada yang meninggi.


"Jadi kamu itu hanya pengacau di kehidupanku bersama Galen! Jadi pergilah jauh-jauh dari kehidupan kami. Galen tidak butuh papa sepertimu!" Imbuh Mia pedas.


Mike sudah selesai membereskan kertas-kertas penting di atas meja Mia.


Pria itu memilih untuk segera keluar diam-diam.


Mike sungguh tidak mau terlibat dalam perdebatan pasangan rumit ini.


"Lalu kenapa kamu masih menyimpan fotoku dan mengatakan pada Galen kalau papanya sedang meraih cita-citanya. Bukankah itu artinya kamu masih mengharapkan kehadiranku di dalam kehidupanmu?" Sangkal Bian cepat.

__ADS_1


Skakmat!


Mia langsung kehilangan kata-kata.


Tadinya Mia memang menyimpan rindu pada pria brengsek ini. Tapi setelah bertemu dan bertatap muka langsung dengannya, entah kenapa justru rasa benci di hati Mia yang muncul ke permukaan?


"Aku tidak pernah menyimpan fotomu. Aku sudah membuangnya ke tempat sampah lalu Galen memungutnya. Jadi jangan terlalu percaya diri!" Mia bersedekap sembari membuang wajahnya.


Nona direktur itu terlihat salah tingkah.


Bian menghela nafas.


Sudah enam tahun berlalu dan nona direktur ini masih saja jual mahal.


Bian mengitari meja Mia dan kini pria itu sudah berdiri di samping Mia.


Mia masih membuang wajahnya ke arah jendela kantor.


"Mia, aku tahu kesalahanku padamu terlau besar untuk dimaafkan. Tapi aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Kita bisa menikah dan menjadi orang tua yang lengkap untuk Galen. Kita bisa memulai semuanya dari awal," ujar Bian bersungguh-sungguh.


Mia berdecak, sebelum akhirnya wanita itu tertawa mengejek ke arah Bian,


"Apa kau sedang melamarku barusan?" Ejek Mia pada Bian yang kini terlihat salah tingkah.


"Kau bahkan tidak membawa cincin atau bunga untukku." Imbuh Mia lagi masih tertawa.


"Akan kubawakan jika kamu benar-benar mau menikah denganku, Mia," Bian sudah berlutut di hadapan Mia.


Tawa Mia terdengar semakin keras.


"Tunggu! Aku mendadak ingat pada seorang pria kere dan brengsek, yang dengan pongahnya menolak cinta dari seorang nona direktur kaya yang sudah memberinya sebuah motor dan sebuah kafe. Bahkan pria itu mengatakan dengan lantang kalau dia tidak akan pernah menikah dengan nona direktur kaya yang menurutnya sombong dan berkelakuan seperti setan itu," tukas Mia masih dengan tawa mengejek.


"Apa kau ingin menjilat ludahmu sendiri, Bian?" Kali ini tawa Mia sudah hilang. Berganti dengan raut wajah ketus dan tatapan tajam ke arah Bian.


Bian benar-benar kehilangan kata-kata.


Pria itu merutuki ingatan gajah yang dimiliki oleh Mia.


Kejadian itu sudah lebih dari enam tahun. Tapi kenapa Mia masih mengingatnya dengan begitu jelas?


Apa semua wanita yang sakit hati memang seperti ini?


"Lalu apa masalahnya jika aku menjilat ludahku sendiri? Aku sudah terlanjur tidur denganmu, hingga ada Galen di antara kita." Bian mencari pembenaran.


"Aku tidak pernah bisa hidup tenang sejak kejadian malam itu, Mia! Kau benar-benar sudah membuat hidupku menjadi jungkir balik tanpa arah dan tujuan. Aku terus saja dihantui rasa bersalah karena sudah mengambil hal paling berharga milikmu," lanjut Bian lagi kali ini dengan nada memelas.


"Kau pikir aku akan peduli? Aku sudah hidup bahagia bersama Galen. Dan kami berdua tidak butuh seorang pria brengsek seperti dirimu!" Mia menuding ke arah Bian.


Dua musuh bebuyutan yang pernah berbagi ranjang itu, kini sudah berdiri berhadapan dengan wajah yang sama-sama merah padam.


"Tidak bisakah kamu hilangkan sifat keras kepalamu itu, Mia! Kamu mungkin tidak membutuhkan diriku. Tapi Galen? Galen tetap membutuhkanku sebagai papanya," sahut Bian mulai frustasi.


"Sudah aku bilang, Galen tidak butuh papa brengsek seperti dirimu! Jadi jangan terlalu percaya diri," timpal Mia ketus.


Pintu ruangan di buka,


Mike melongokkan kepalanya ke dalam ruangan Mia.


"Nona Mia, meeting lima menit lagi," ujar Mike mengingatkan.


Pria itu kembali menutup pintu setelah menyampaikan pesan pada Mia.


Sesaat suasana hening,


"Aku rasa urusanmu di sini sudah selesai. Silahkan keluar dari ruanganku dan juga dari gedung kantorku!" Usir Mia memecah keheningan.


Nona direktur itu berlalu dari hadapan Bian, dan dengan cepat keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Bian yang masih mematung seperti orang bodoh.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2