
"Bang, kapan balik ke sini?" Tanya Eve yang kini sedang menelpon Bian.
Abangnya itu kalau pulang ke kampung seperti tak ingat untuk kembali.
"Iya besok Abang balik. Ada apa sih?" Tanya Bian dengan nada malas.
Mata pemuda itu masih celingukan ke arah jalan setapak yang menuju ke sungai.
Sudah satu jam Bian meninggalkan nona kaya itu di sungai dan belum ada tanda-tanda Mia akan kembali.
Kemana nona kaya itu?
Mencuci baju saja lama sekali.
"Ya kan Abang harus bekerja. Jangan santai-santai terus, Bang!" Jawab Eve dengan nada emosi.
"Iya, iya! Bilang aja kamu iri dan pengen liburan juga," tukas Bian menggoda sang adik.
"Yaudah, pokoknya Abang harus pulang besok. Eve gak mau tahu," pungkas Eve sebelum menutup panggilannya pada Bian.
Bian hanya terkekeh mendengar Eve yang ngambek.
Adik perempuannya itu memang suka sekali membesar-besarkan masalah sepele.
Bruuk
Mia membanting keranjang berisi baju yang sudah selesai ia cuci ke hadapan Bian.
"Mas, lihat!" Mia menunjukkan tangan mulusnya yang kini sudah lecet dan penuh luka di beberapa bagian.
Bian benar-benar ingin tertawa.
'Rasakan kau nona kaya!' Gumam Bian dalam hati
"Itu hal biasa, May. Jangan manja begitu!" Ucap Bian dengan nada santai.
"Tapi tangan aku perih, Mas. Kamu kejam sekali nyuruh aku nyuci di sungai seperti itu," cicit Mia dengan nada memelas.
"Iya itu memang sudah jadi rutinitas kamu May. Nanti tangan kamu juga bakal terbiasa." Bian masih mencari pembenaran.
Mia hanya mencebik dan segera berlalu masuk ke dalam rumah. Namun dengan cepat, Bian mencegahnya.
"May! Kamu jemuri sekalian baju-bajunya. Jangan ditinggal seperti ini" seru Bian dengan nada memerintah.
"Jemuri di mana? Kenapa bukan Mas Bian aja yang jemuri bajunya? Mas Bian juga santai-santai saja dari tadi," jawab Mia dengan cepat. Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Tu! Jemur di situ!" Bian menunjuk ke arah tali tambang yang terikat di tiang bambu dan menyambung ke arah pohon mangga besar yang ada di samping rumah.
Meskipun masih mencebik, Mia tetap menurut dan menjemur satu persatu baju yang tadi sudah dia cuci.
'Huh! Aku ini sebenarnya istri atau pembantunya, sih?' Mia masih tak berhenti menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Dan saat Mia selesai menjemur baju yang terakhir, ada suara seorang wanita yang menyapa Bian dari halaman depan.
Bergegas Mia menuju ke arah sumber suara untuk melihat siapa yang datang.
"Mas Bian!" Suara wanita itu lembut.
Mia dan Bian sudah keluar dari dalam rumah dan melihat seorang gadis desa yang mengenakan baju terusan panjang sederhana dengan rambut di kepang dua khas gadis desa.
"Eh, Dina. Ada apa, Din?" Bian membalas dengan ramah sapaan dari gadis desa yang juga adalah tetangga Bian tersebut
"Mas, aku bawakan makanan untuk makan siang" gadis bernama Dina tersebut menyodorkan rantang susun tiga kepada Bian.
Mia yang baru muncul dari samping rumah segera menerima rantang yang di sodorkan oleh Dina.
Sontak Dina sedikit terkejut dengan kedatangan Mia yang tiba-tiba.
"Makasih ya, Mbak" jawab Mia dengan senyum sumringah. Akhirnya Mia bisa makan enak hari ini dan tidak perlu lagi makan singkong rebus yang menurutnya rasanya sedikit aneh dan baunya juga sangit.
"Mas Bian, dia siapa?" Tanya Dina sambil menunjuk ke arah Mia
"Dia, itu anu, eeh..." Bian terlihat bingung dan salah tingkah dengan pertanyaan sederhana dari Dina barusan.
"Aku istrinya Mas Bian, Mbak. Emang mbak gak tahu?" Mia yang justru menjawab pertanyaan dari Dina dengan nada santai.
"Mas Bian udah punya istri?" Dina terlihat kaget dan wajahnya langsung berubah pucat.
Bian semakin salah tingkah dan Mia hanya mengernyit bingung.
Mata Dina sudah berkaca-kaca sekarang, sepertinya gadis itu akan menangis sebentar lagi.
Pupus sudah harapan Dina untuk bersanding dengan mas Bian.
Dina sungguh tidak menyangka jika mas Bian sudah menikah dengan gadis kota yang cantik jelita.
"Yaudah kalau begitu, Dina pamit pulang, Mas. Silahkan dinikmati makan siang gratisnya!" Pamit Dina sambil berlalu.
"Makasih, ya Dina" jawab Bian pada akhirnya.
Pria itu hanya mengendikkan bahu dan tak mengerti dengan sikap Dina yang mendadak menjadi dingin seperti itu.
Ah sudahlah, Bian tidak mau terlalu memikirkannya.
Sejak awal juga Bian tidak ada rasa apapun ke Dina dan Bian juga tidak pernah memberi harapan apapun kepada Dina.
Mungkin gadis itu saja yang terlalu kepedean dan terlalu berharap pada Bian.
Mia sudah masuk ke dalam rumah sambil menenteng rantang yang tadi di berikan oleh Dina.
Wajah nona kaya itu terlihat sumringah sekali.
Bian segera menyusul Mia masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Huh, setidaknya hari ini mereka berdua bisa makan enak dan gratis tentu saja.
Terima kasih Dina.
*****
Di gedung kantor milik Mia,
Ketidak hadiran Mia di kantor tersebut selama sepekan terakhir rupanya menjadi topik pembicaraan hangat di antara para karyawan.
Eve yang sedang melakukan pekerjaan rutinnya di lobi depan, tak sengaja mendengar percakapan beberapa karyawan yang membicarakan tentang nona Mia.
"Aku dengar sih, nona Mia hilang pas kunjungan proyek ke Jogja kemarin" ujar seorang karyawan perempuan yang mengenakan setelan baju kerja berwarna abu.
"Hah, serius?" Rekannya yang memakai setelan blouse motif bunga-bunga tampak tak percaya.
"Kena karma mungkin, gara-gara sering ikut campur urusan pribadi karyawannya." seorang karyawan pria yang mengenakan kemeja warna biru muda ikut menimpali.
Eve tidak tahu kalau karyawan pria itu suka berghibah juga.
Selang beberapa saat Anggi datang dari pintu depan.
Karyawan perempuan yang memakai blouse bunga-bunga tadi menyapa Anggi.
"Anggi, sini deh!" Ujar perempuan itu seraya melambaikan tangan pada Anggi.
"Ada apa?" Tanya Anggi menatap satu persatu rekan kerjanya tersebut.
"Emang benar ya, nona Mia menghilang seminggu ini?" Tanya karyawan pria tadi.
Anggi hanya mengendikkan bahu,
"Nona Mia sedang sakit. Makanya Pak Andri yang menggantikannya di kantor seminggu terakhir ini," jawab Anggi sedikit ragu.
Ya, sejak seminggu yang lalu Pak Andri memang yang memegang semua urusan yang seharusnya di pegang oleh nona Mia.
Anggi sendiri tidak mau banyak bertanya, karena menurut Anggi itu bukanlah urusannya. Anggi hanya seorang bawahan.
Jadi saat Pak Andri mengatakan kalau Mia sedang sakit, Anggi percaya saja dan tidak mau mengorek ataupun menerka yang bukan-bukan.
"Pak Andri pasti menutupinya" timpal karyawan perempuan yang berbaju abu-abu.
"Menutupi apa?" Tanya Anggi bingung.
Namun belum ada yang sempat menjawab pertanyaan Anggi barusan, mendadak terdengar suara Pak Andri yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat mereka berempat.
Keempat karyawan itu langsung kaget bersamaan,
"Anggi, ikut saya! Kita ada meeting pagi ini," perintah Pak Andri sambil berjalan menuju ke arah lift.
Tanpa menunggu lama, Anggi segera mengikuti pak Andri masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Dan tiga karyawan tadi segera kembali ke tempat mereka masing-masing.