
Sudah tiga bulan sejak Bian dan Kyara resmi berpacaran.
Jangan tanya berapa uang yang sudah dikeluarkan Kyara untuk pacar matrenya tersebut.
Mungkin Kyara memang tidak pernah memberikan uang secara tunai pada Bian, namun sepekan sekali Kyara akan mengajak Bian ke mall untuk membeli baju serta barang branded lainnya.
Apa Bian memakai itu semua?
Hanya sebagian kecil, dan sisanya Bian memilih untuk menjualnya kembali. Menyimpan uang lebih mudah ketimbang menyimpan barang, itulah kata-kata yang selalu Bian rapalkan.
Lagipula, Bian itu pria tampan. Jadi tanpa memakai barang branded sekalipun, ketampanan Bian akan tetap terpancar.
Lihat saja buktinya, Kyara sampai terpesona dan bertekuk lutut dengan ketampanan Bian serta rayuan gombal yang setiap saat Bian lontarkan kepada gadis itu.
*****
Bian baru selesai mengantar pesanan pelanggan resto.
Meskipun Bian sudah berpacaran dengan Kyara, namun Bian tetap melakoni pekerjannya sebagai kurir makanan.
Bian tidak mau menjadi pria pengangguran yang hanya moroti uang pacarnya untuk bertahan hidup.
Bian masih punya banyak mimpi.
Menjadi pemilik restorant misalnya, atau membeli sebuah gedung pencakar langit seperti milik nona Mia.
Saat mengedarkan pandangannya ke kiri kana jalan, mata Bian tak sengaja menangkap sebuah ruko minimalis yang terdapat plang di depan pintunya.
"RUKO DIJUAL MURAH"
Bian menghentikan motornya di depan ruko tersebut, dan segera turun untuk melihat lebih dekat.
Letak ruko ini lumayan strategis. Mungkin jika Bian membelinya, Bian bisa membuka sebuah kafe di sini.
Belum terlalu banyak kafe kekinian yang ada di kota ini.
Bukankah ini peluang bagus?
Tapi darimana Bian mendapatkan uang untuk membeli ruko minimalis ini?
Membuka sebuah kafe juga butuh modal yang tidak sedikit.
Sesaat pikiran Bian tertuju pada Kyara. Mungkin gadis itu mau membantu dan menggelontorkan sejumlah uang pada Bian untuk membeli ruko ini. Bian akan memakai alasan meminjam uang untuk modal.
Baiklah, saatnya menyusun rencana.
Bian menyimpan nomor telepon yang tertera di plang tersebut. Bian akan mulai bernegosiasi malam ini. Semoga harga ruko ini benar-benar murah.
Setelah selesai dengan urusannya, Bian kembali memacu motornya menuju ke arah resto. Masih banyak pesanan yang harus di antar, sebelum Bian benar-benar menjadi seorang pemilik kafe yang sukses.
*****
Kyara keluar dari lift yang membawanya ke lantai paling atas dari gedung kantor milik kak Mia.
"Selamat siang, nona Kyara," sapa Anggi sambil menunduk hormat pada adik dari Nona Mia tersebut.
"Siang, Anggi. Apa kak Mia ada?" Kyara membalas sapaan dari Anggi.
"Nona Mia baru selesai makan siang, dan ada di ruangannya. Silahkan masuk, nona Kyara," Anggi mempersilahkan Kyara.
Dan tanpa menunggu lagi, Kyara segera masuk ke ruangan nona Mia.
"Selamat siang, kakakku yang kaya," sapa Kyara sesaat setelah membuka pintu kaca di ruangan tersebut.
Kyara bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bukankah ini kantor kak Mia? Dan jangan lupa, Kyara adalah adik kesayangan Mia. Jadi semua yang menjadi milik Mia adalah milik Kyara juga.
Mia terkejut dengan kedatangan Kyara di kantornya.
Entah angin apa yang membawa gadis muda ini datang ke gedung kantornya. Apa ini sebuah keajaiban?
__ADS_1
"Wah, wah, wah. Apa kamu ingin belajar menjalankan sebuah perusahaan sekarang?" Tanya Mia dengan nada sinis.
Sudah biasa untuk Kyara. Bukankah ini memang watak dari seorang kak Mia?
Selalu berpikiran negatif dan berprasangka buruk.
"Aku ingin bicara sesuatu yang penting, Kak," Kyara memasang wajah serius.
"Memang hal penting apa yang ada di hidupmu, selain uang dan shopping di mall?" Mia berkata dengan sarkas.
Kyara hanya berdecak.
Gadis itu mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Mia ikut duduk di sofa, tak jauh dari Kyara.
"Uang jajanmu habis?" Tebak Mia cepat.
"Kartu kredit itu unlimited, Kak. Mana mungkin bisa habis?" Kyara memutar bola matanya.
"Lalu? Kenapa datang ke sini?" Tanya Mia lagi.
"Kyara mau minta uang untuk modal," jawab Kyara yang langsung membuat Mia membelalakkan mata.
"Modal? Modal apa?" Sergah Mia cepat.
"Teman aku mau buka kafe, Kak. Dia ngajak aku joinan. Jadi nanti aku nanam modal di kafenya, trus dia yang jalanin kafenya. Begitu." Kyara mencoba menyusun kalimat sebaik mungkin untuk menjelaskan pada kakaknya tersebut.
"Teman? Teman yang mana?" Tanya Mia curiga.
"Adalah pokoknya. Nanti kakak aku kenalin ke orangnya," jawab Kyara setenang mungkin.
"Butuh berapa?" Tanya Mia lagi.
"Gak banyak. Cuma dua ratus juta. Uang kakak kan banyak. Pasti itu nominal yang kecil untuk kakak," jawab Kyara enteng.
Mia mengehela nafas.
"Tetap saja itu uang yang besar, Kya. Kakak tidak mau jika kamu hanya memakainya untuk main-main." Mia menuding ke arah Kyara.
Mia menghela nafas,
"Kamu yakin?" Tanya Mia sekali lagi.
Kyara segera mengangguk dengan cepat.
"Sebenarnya kakak tidak keberatan memberimu uang modal, asalkan kamu benar-benar memakainya untuk modal usaha, bukan untuk berfoya-foya. Kamu harus mulai mengelola bisnis dan keuangan, Kya. Agar kamu bisa menghargai setiap rupiah yang kamu peroleh dan tidak menghambur-hamburkannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat" nasehat Mia bijak.
Wow, Kyara benar-benar ternganga dengan kata-kata bijak dari seorang kak Mia. Seperti mendapat pencerahan dari praktisi keuangan di seminar mengelola bisnis saja.
Hahaha.
Interkom yang ada di meja kerja Mia berbunyi.
Mia segera menjawabnya.
"Ada apa, Anggi?" Jawab Mia cepat
"Klien sudah menunggu di ruang rapat, Nona," jawab Anggi di seberang sana.
"Baiklah, siapkan berkasnya! Aku ke sana lima menit lagi, " Mia melirik arloji yang melingkar di tangannya.
Mia ganti menghampiri Kyara yang masih duduk di sofa.
"Kakak ada meeting penting. Pulang sana!" Usir Mia pada adik sambungnya itu.
"Bagaimana dengan uang modal?" Tanya Kyara yang sepertinya masih enggan meninggalkan ruang kantor sang kakak.
"Akan aku transfer setelah meeting, jadi pulanglah sekarang! Aku tidak ada waktu menjadi babysitter untukmu," ujar Mia pedas
Kyara mendengus,
__ADS_1
Baru beberapa menit yang lalu kakaknya ini menjadi orang bijak, dan sekarang sudah berubah ketus lagi.
Bolehkah Kyara menarik kembali pujian yang tadi ia berikan pada kak Mia?
"Baiklah, kakakku yang sibuk. Aku akan pulang." Kyara menyambar tasnya dan segera beranjak keluar dari ruangan sang kakak.
Kyara akan menyampaikan kabar baik ini pada Bian.
Flashback on
Bian sengaja izin pulang lebih cepat agar bisa menemui Kyara dan meminjam uang pada gadis kaya itu.
Bian sudah bernegosiasi dengan pemilik ruko yang akan Bian beli. Harga sudah di sepakati, tapi uang di tabungan Bian tidak cukup. Jadi mungkin Bian akan meminjam uang pada Kyara.
Meminjam tanpa mengembalikannya tentu saja.
Bian yakin kalau Kyara pasti mendapat uang dari nona Mia yang kaya selama ini. Jadi secara tak langsung Bian akan meminta uang pada nona Mia melalui Kyara.
Anggap saja sebagai balas budi saat Mia tinggal bersama Bian dulu.
Bukankah nona kaya itu sudah banyak merepotkan Bian dan Eve?
Setelah menunggu sekitar limabelas menit, nona kaya itu akhirnya keluar dari gerbang kampus.
Bergegas Bian menghampirinya.
"Hai, Kya," sapa Bian sambil memasang senyuman semanis mungkin.
"Hai, tumben ke sini? Mau jemput aku ya?" Tebak Kyara asal. Bukankah ini masih jam kerja? Lalu kenapa Bian sudah berkeliaran di area kampus dengan motor kerennya?
"Ya, aku pulang cepat hari ini. Jadi aku ke sini aja jemput kamu. Ayo!" Ajak Bian.
Tanpa menunggu lagi Kyara segera naik ke atas motor Bian.
Dan motor Bian segera melaju membelah jalanan kota yang belum terlalu padat.
Bian membelokkan motornya ke arah taman kota.
Pasangan anak muda yang baru beberapa bulan menjalin hubungan tersebut, kini duduk di salah satu bangku yang ada di taman kota. Bian melingkarkan lengannya ke pundak Kyara, dan Kyara menyandarkan kepalanya ke dada Bian. Apa kedua anak manusia itu sedang dimabuk asmara sekarang?
"Kalau aku berencana membuka sebuah kafe kekinian, apa kamu akan mendukungku?" Bian membuka obrolan. Sesekali jemarinya membelai rambut Kyara yang lembut dan berbau harum.
Kyara mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Bian,
"Tentu saja aku mendukungmu, Bian," jawab Kyara bersemangat.
"Tapi masalahnya aku sedikit kekurangan modal. Apa kamu punya teman atau kenalan yang bisa meminjamkan modal untuk calon pengusaha kecil?" Tanya Bian sedikit memasang wajah melas.
Saatnya drama dimulai. Bian harus memasang wajah semelas mungkin agar Kyara merasa iba dan akhirnya mau menggelontorkan dana untuk modal Bian membuka kafe.
"Memang berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Kyara cepat.
Benar-benar sesuai dengan dugaan Bian. Gadis ini sangat mudah merasa iba dan sangat mudah untuk ditipu
"Dua ratus juta," jawab Bian sedikit ragu. Masih ada nada melas di sana.
Kyara tampak berpikir sejenak,
"Mungkin aku bisa pinjam ke kakakku. Nanti aku akan bicara pada kak Mia. Kamu jangan khawatir, oke!" Ujar Kyara seraya menepuk punggung Bian.
Baiklah, apa Bian boleh bersorak gembira sekarang? Gadis ini mudah sekali dimanfaatkan.
"Bagaimana dengan lokasinya?" Tanya Kyara lagi.
"Sudah ada. Tempatnya lumayan strategis. Kamu mau melihatnya?" Tawar Bian antusias.
Kyara mengangguk,
"Ya, ayo!" Kyara sudah beranjak berdiri dan berjalan menuju ke tempat parkir.
Bian mengekori gadis dua puluh tahun tersebut sambil tersenyum sumringah.
__ADS_1
Akhirnya, rencana Bian berjalan dengan mulus.
Flashback off