Nona Mia

Nona Mia
TERLAMBAT


__ADS_3

Bian masuk ke gedung kantor Mia dengan tergesa.


Pria itu bergegas naik ke lift dan langsung menuju ke lantai paling atas.


Semoga nona Mia ada di kantornya hari ini.


Saat pintu lift terbuka, Bian langsung bisa melihat Adel yang sedang berkutat dengan layar komputer di hadapannya.


"Adel, apa nona Mia ada di dalam?" Bian bertanya dengan cepat pada Adel.


"Selamat siang, Pak Bian. Maaf tapi nona Mia tidak ke kantor hari ini." Jawab Adel seraya membungkuk hormat.


"Itu artinya dia di apartemennya?" Bian bertanya sekali lagi.


"Nona Mia sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, pak Bian. Dua minggu lagi beliau baru kembali," jawab Adel menjelaskan.


"Apa?" Pekik Bian yang benar-benar terkejut.


"Telpon dia, Adel! Aku harus bicara hal penting padanya," pinta Bian pada gadis sekretaris itu.


Adel menggeleng lemah,


"Pesawat nona Mia baru lepas landas satu jam yang lalu. Jadi saya yakin ponselnya juga tidak aktif. Saya minta maaf, Pak. Mungkin Pak Bian bisa kembali dua minggu lagi," Adel memberikan saran.


Bian memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.


Dua minggu dari sekarang, Bian sudah berada di negeri orang. Bagaimana Bian akan menghubungi Mia? Nomor Bian masih di blokir oleh nona direktur tersebut.


Haruskah Bian pergi dan menanggung rasa bersalah ini sepanjang hidupnya?


Apa ini sebuah karma karena Bian sudah menyakiti hati Mia?


Tapi Mia juga bersalah dalam hal ini.

__ADS_1


Kenapa nona direktur itu datang ke kafe Bian tengah malam dan hanya mengenakan selembar gaun tidur tipis?


Kenapa Mia tidak berontak saat Bian memaksanya untuk melakukan hubungan terkutuk itu?


Bian duduk di sofa yang ada di lantai tersebut dan masih berpikir keras tentang langkah selanjutnya yang harus Bian ambil.


Bian tidak bisa membatalkan kepindahannya ke negeri kangguru tersebut.


Tiket dan semua kelengkapannya sudah selesai diurus.


Lusa Bian sudah harus pergi dari negara ini.


Tapi Bian juga tidak bisa lari begitu saja dari tanggung jawab ini.


Bian merasa sangat bersalah pada Mia.


Bian kembali menghampiri Adel,


"Adel, bisa aku minta kertas dan pena?" Ujar Bian pada gadis sekretaris tersebut.


Bian duduk kembali di sofa dan mulai menulis surat untuk Mia.


Bian akan menitipkan surat ini pada sekretaris Mia.


Semoga setelah Mia membaca surat ini, nona direktur itu akan segera menghubungi Bian atau mungkin langsung menyusul Bian ke negeri kangguru, jadi mereka akan bisa bicara. Bian benar-benar akan bertanggung jawab dan menikahi Mia jika Mia memaafkannya.


Bian sudah selesai menulis surat untuk Mia.


Bian memasukkan surat tersebut ke dalam amplop dan menitipkannya pada Adel.


"Akan saya sampaikan saat nona Mia sudah kembali, Pak" jawab Adel dengan senyuman ramah yang tersungging di bibirnya.


Setelah urusannya selesai, Bian segera undur diri dan kembali pulang ke kafenya.

__ADS_1


Bian akan mulai berkemas.


****


Angin berhembus meniup dedaunan kering yang memenuhi jalan setapak yang kini Bian lalui.


Bian terus berjalan menuju ke makam Dea. Pria itu juga membawakan sebuket bunga mawar untuk mendiang calon istrinya tersebut.


Bian bersimpuh di samping makam Dea.


Setelah meletakkan buket bunga di atas gundukan tanah tersebut, Bian mengusap batu nisan yang tertancap di atasnya.


"Hai, Dea. Bagaimana kabarmu?" Bian bertanya pada makam Dea.


Tak ada jawaban. Hanya ada suara gemerisik dari dedaunan yang tertiup angin.


"Maafkan aku Dea, karena sudah melakukan hal paling bodoh seumur hidupku. Aku sudah menyakiti nona Mia, dan sekarang aku tidak bisa menemuinya..."


"Aku benar-benar menyesal. Tapi aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjadi pria yang bertanggung jawab, Dea."


Masih tidak ada jawaban.


"Sekarang, aku akan pergi jauh. Aku akan mewujudkan mimpiku. Saat kembali nanti aku akan kembali menjengukmu," sekali lagi Bian mengusap batu nisan Dea.


"Aku merindukanmu, Dea. Aku merindukan wajah polosmu," butir bening sudah menggenang di sudut mata Bian.


Buru-buru pria itu menghapusnya sebelum jatuh.


"Selamat tinggal Dea. Aku akan pergi hari ini. Semoga nona Mia memaafkanku," Bian beranjak berdiri dan segera meninggalkan makam Dea serta kompleks pemakaman tersebut.


Bian akan meninggalkan negara ini, meskipun masih ada satu beban di hatinya yang belum ia selesaikan.


Tak apa.

__ADS_1


Bian yakin kalau nona Mia akan segera menyusulnya dan menyelesaikan semua hubungan rumit ini.


__ADS_2