Nona Mia

Nona Mia
DIJODOHKAN


__ADS_3

Beberapa bulan setelah pernikahan Steve dan Eve,


Mia kembali menjadi gadis yang workaholic. Nona direktur itu bahkan bisa tinggal di kantornya hingga malam. Mungkin Mia akan tenggelam dan menua bersama tumpukan berkas di meja kerjanya tak lama lagi.


"Saya ingin mengundurkan diri, Nona Mia," Anggi menyodorkan amplop putih yang berisi surat pengunduran dirinya.


Mia yang tadinya sedang fokus pada tablet di tangannya, segera menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah sekretarisnya tersebut.


"Apa gajimu kurang?" Tanya Mia masih menatap ke arah Anggi.


"Tidak, Nona. Gaji saya lebih dari cukup. Tapi saya akan menikah minggu depan, jadi saya mengundurkan diri," jawab Anggi seraya menunduk.


Mia beranjak dari duduknya,


"Menikah? Berapa usiamu, Anggi?" Tanya Mia lagi. Nona direktur itu kini sudah berdiri di samping Anggi.


"Dua puluh tiga tahun, Nona," jawab Anggi sedikit ragu.


Kenapa harus serumit ini?


Anggi hanya ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini. Kenapa seolah nona Mia merasa keberatan dan menghalangi Anggi?


"Masih terlalu muda. Kau gadis cerdas, dan pekerja keras. Kenapa memilih mengundurkan diri saat kariermu sedang cemerlang? Dan kau ingin menikah muda? Lalu menjadi pengangguran begitu?" Cecar Mia dengan nada sinis.


"Calon suami saya bekerja di luar pulau, Nona. Jadi saya akan ikut ke sana setelah menikah." Jawab Anggi memberi alasan.


"Apa calon suamimu pria yang baik? Apa kau sudah berpikir dengan matang sebelum mengambil keputusan ini? Semua pria itu brengsek, Anggi. Jadi jangan mudah terperdaya oleh mereka," Cecar Mia sekali lagi, masih dengan nada yang tidak senang.


"David pria yang baik, Nona. Kami sudah bersahabat sejak kecil, dan sebenarnya kami juga sudah bertunangan setahun yang lalu," sergah Anggi cepat. Gadis itu memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Cincin pertunangannya bersama David.


"Kau akan jadi pengangguran setelah menikah dengannya?" Tanya Mia menghakimi.


"Saya akan menjadi ibu rumah tangga, yang mengurus suami dan anak-anak kami kelak, " jawab Anggi lirih.


Anggi tidak tahu kenapa nona direktur ini seperti ikut càmpur sekali dengan kehidupan pribadi Anggi.


Bukankah menikah dengan pria yang dicintainya adalah impinan semua wanita di dunia ini? Lalu kenapa nona Mia seakan keberatan jika Anggi menikah dengan pria yang Anggi cintai?


Apa nona direktur ini tidak pernah jatuh cinta atau bermimpi untuk menikah dengan pria pujaan hatinya suatu hari nanti?


Tapi selama setahun Anggi bekerja sebagai sekretaris nona Mia, Anggi memang tidak pernah melihat nona direktur ini berkencan atau di datangi oleh seorang pria.


Kecuali Steve


Tapi bukankah mereka teman lama? Dan Steve juga sudah menikah dengan Eve. Jadi Steve sudah pasti bukan pacar nona Mia.


Selain Steve?


Tidak pernah ada pria muda yang datang ke kantor mencari Nona Mia.


Jadi, apa kisah cinta nona direktur ini begitu kelabu?

__ADS_1


Mia menghela nafas,


"Kau masih terlalu muda, Anggi. Kau bisa menjadi sekretarisku lima sampai enam tahun lagi sebelum memutuskan untuk menikah," ujar Mia yang sepertinya masih keberatan dengan rencana Anggi yang ingin mengundurkan diri.


Apa katanya barusan?


Lima sampai enam tahun lagi?


Apa nona direktur ini sungguh ingin membuat Anggi menua di kantor ini bersamanya?


"Maaf, Nona. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya akan mengundurkan diri hari ini, " ujar Anggi dengan nada tegas.


Tak masalah jika nanti nona direktur ini mengomelinya. Anggi sudah kebal.


"Tunggulah dua sampai tiga hari lagi sampai ada yang menggantikanmu. Silahkan keluar dari ruanganku!" Pungkas Mia dengan nada ketus.


Anggi tak menjawab lagi dan segera keluar dari ruangan nona direktur tersebut.


Egois sekali,


Bagaimana aku akan mempersiapkan pernikahanku jika aku masih harus berkutat dengan pekerjaan di sini tiga hari ke depan?


Anggi tak berhenti menggerutu dalam hati.


Tapi Anggi bisa apa sekarang? Selain menuruti titah dari nona besar Mia.


*****


Papa Andri baru saja tiba di kantor Mia dan langsung memberikan satu buah map pada Mia.


Apa ini proyek baru?


Mia mengendikkan bahu dan segera membuka map yang tadi diangsurkan oleh papa Andri.


Ada sebuah biodata dari seorang pria dan beberapa foto pria yang diambil dengan berbagai pose.


Mia dengan cepat menutup kembali map tersebut dan melemparnya ke atas meja kerja.


"Apa ini, Papa?" Tanya Mia dengan nada galak.


"Abram Alexander mengajukan lamaran untukmu, Mia," jawab papa Andri cepat.


Mia berdecak,


"Berapa kali Mia harus bilang? Mia belum mau menikah. Mia masih ingin menikmati hidup Mia," sahut Mia ketus.


"Mau sampai kapan, Mia? Kamu sudah dewasa, sudah saatnya untukmu membangun sebuah rumah tangga dan memberikan cucu untuk mama dan papa," ujar papa Andri


dengan nada lembut.


"Lagipula, kamu tidak pernah berkencan dengan pria manapun. Apa kamu tidak pernah punya pacar? Papa hanya khawatir..." papa Andri tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Khawatir soal apa? Mia gadis normal, Pa! Mia tertarik pada pria bukan pada sesama wanita," sahut Mia ketus, seakan bisa membaca pikiran sang papa

__ADS_1


"Bukan seperti itu maksud papa. Hanya saja ini adalah kabar baik, Mia. Jadi papa harap kamu mau memikirkannya," pinta papa Andri sekali lagi.


"Mia tidak mau," sahut Mia cepat.


Papa Andri mengernyitkan kedua alisnya,


"Abram itu pria brengsek, Pa! Mia tidak mau menikah dengan seorang pria brengsek yang sudah tidur dengan sekretarisnya," ujar Mia blak-blakan.


"Itu hanya gosip, Mia. Sejak kapan kamu percaya pada kabar bohong?" Sangkal papa Andri cepat.


Mia berdecak,


"Itu bukan gosip, Papaku yang tampan. Mia tahu betul pria macam apa Abram itu. Jadi Mia akan menolak lamaran bodoh dari pria itu," tegas Mia sekali lagi seraya menatap tajam ke arah sang papa.


"Mia bukan gadis bodoh yang mudah jatuh ke rayuan pria brengsek sejenis Abram hanya dengan iming-iming kerjasama proyek," imbuh Mia lagi.


Gadis itu kembali duduk ke kursi kerjanya dan lanjut memeriksa beberapa berkas.


Papa Andri memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening.


Putri sulungnya ini, kenapa selalu keras kepala dan sok tahu mengenai banyak hal. Apa Mia punya banyak mata-mata di muka bumi ini?


"Bagaimana jika papa memaksamu?" Papa Andri duduk di hadapan Mia. Kini keduanya dipisahkan oleh satu meja kerja besar dengan permukaan kaca di atasnya.


"Mia tetap akan menolaknya," jawab Mia tegas.


Tok tok tok,


Terdengar ketukan dari luar,


Sesaat Mia dan papa Andri sama-sama diam.


"Masuk!" Ujar papa Andri yang memilih untuk buka suara.


Mia masih menatap tajam pada sang papa sambil bersedekap.


"Selamat siang, apa saya mengganggu?" Suara maskulin dari seorang pria yang berperawakan tinggi besar dan berwajah rupawan nyaris tanpa cela, langsung membuat Mia memutar bola matanya.


Astaga!


Apa yang dilakukan pria brengsek mesum ini di sini?


.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir dan ngasih like, vote, serta komen.


Besok hari Minggu semoga bisa double up.

__ADS_1


__ADS_2