
Mia sudah mulai masuk ke kantor satu pekan ini.
Mia ingin mulai bangkit dari keterpurukan. Mia sudah bisa menerima kehadiran janin itu di rahimnya, meski kadang Mia mengabaikannya namun setidaknya Mia tidak lagi berusaha untuk menggugurkannya.
"Apa mama hanya akan duduk seharian di situ dan mengawasi Mia?" Tanya Mia sinis.
Sejak awal Mia mulai kembali ke kantor, mama Alin terus saja mengekori dan mengawasi Mia.
Mama sambungnya itu seakan masih khawatir jika Mia melakukan hal-hal nekat yang membahayakan Mia dan janinnya.
Mama Alin mengendikkan bahu,
"Bukankah selama sepekan ini hanya itu yang bisa mama lakukan?" Jawab mama Alin sekenanya.
"Tapi jika kamu lupa, mama juga pernah menjadi seorang nona direktur di perusahaan kakek kamu. Jadi jika kamu butuh bantuan, tentu saja mama bisa membantu menyelesaikan pekerjaanmu yang menumpuk itu," mama Alin menunjuk ke arah setumpuk berkas yang ada di meja kerja Mia.
Mia memutar bola mata dan meraih tumpukan berkas itu. Lalu membawanya ke sofa ke hadapan mama Alin.
"Silahkan nyonya direktur," ucap Mia seraya menyodorkan sebuah pena pada mama Alin. Ekspresi wajah gadis itu sungguh lucu.
Mama Alin hanya terkekeh dan segera meraih kertas-kertas tersebut.
Sesekali ibu dan anak itu tertawa bersama entah membahas hal apa.
****
Enam bulan berlalu,
Mia sedang duduk santai di sofa di ruang tengah seraya mengusap perutnya yang kini sudah membulat sempurna. Sesekali bisa Mia rasakan ada tendangan dari makhluk kecil itu.
Jika dulu Mia selalu menolak kehadiran makhluk kecil ini, sekarang Mia seperti jatuh cinta dengan berbagai hal kecil yang ia rasakan. Mia sungguh menikmati kehamilannya meskipun tidak ada sosok suami di sampingnya.
Apa Mia sudah melupakan Bian?
Tidak sepenuhnya,
Kadang saat malam, Mia diam-diam menangis karena rindu pada pria brengsek itu.
Mia bisa saja menyusul Bian ke negeri seberang dan minta pertanggungjawaban dari pria brengsek itu.
Namun sekali lagi, kata-kata Bian di malam terkutuk itu, seolah menjadi alasan Mia untuk terus berusaha melupakan pria itu. Meskipun kadang hati Mia berontak.
Mungkin Bian memang mabuk malam itu.
Mungkin Bian tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan malam itu.
Entahlah Mia kadang bingung dengan perasaannya sendiri.
"Ini, sayang," mama Alin menyodorkan sepiring irisan buah untuk Mia yang terlihat melamun.
Mia menerimanya dengan cepat dan mulai melahapnya.
"Sedang memikirkan sesuatu?" Tanya mama Alin kepo.
Mia menggeleng.
"Hanya sedang menikmati tendangan kecil ini," jawab Mia yang kembali mengusap perut bulatnya.
"Tinggal menghitung hari dan kita akan segera bertemu dengannya," timpal mama Alin ikut mengusap perut Mia.
"Apa menurut mama, Mia akan bisa menjadi ibu yang sempurna untuk bayi ini kelak?" Tanya Mia khawatir.
__ADS_1
"Tentu saja, Mia. Jiwa keibuan adalah naluri alamiah setiap perempuan. Nanti ketika bayi ini lahir, jiwa dan naluri keibuan dalam dirimu akan muncul dengan sendirinya," jawab mama Alin bijak.
Mia hanya mengangguk mendengarkan kata-kata bijak dari sang mama.
"Selamat sore, mama dan calon mama," papa Andri yang baru datang menyapa dengan berlebihan pada Mia dan mama Alin.
"Selamat sore papaku yang tampan," jawab Mia tak kalah berlebihan.
Mama Alin hanya terkekeh.
"Papa membawa tamu spesial untukmu Mia," ujar papa Andri yang langsung membuat Mia mengernyitkan kedua alisnya.
"Mike!" Panggil papa Andri pada seseorang bernama Mike.
Siapa Mike?
Mia seperti familiar dengan nama itu.
Seorang pemuda yang seusia dengan Mia muncul dari arah ruang tamu. pemuda bertubuh tegap yang mengenakan kemeja warna abu-abu itu segera menyapa mama Alin dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
Sedangkan Mia masih mematung dan berusaha mengingat-ingat siapa pemuda ini. Wajahnya terasa familiar.
"Hai, Mia. Kau masih mengingatku?" Sapa Mike pada Mia yang masih mematung.
"Kau?" Mia sungguh tak ingat pada pemuda ini.
"Dia Mike, teman masa kecilmu, Mia." Papa Andri yang akhirnya memberitahu pada Mia siapa pemuda tampan itu.
"Astaga!" Mia langsung ingat dan tertawa kecil. Gadis itu menghambur ke pelukan Mike untuk melepaskan rasa rindu yang sudah bertahun-tahun.
"Kenapa kau jadi pria tampan begini, Mike. Aku benar-benar tidak mengenalimu," ujar Mia seraya terkekeh.
"Kau juga sudah berubah menjadi nona Mia yang cantik sekarang," puji Mike yang langsung membuat wajah Mia menjadi bersemu merah.
Mike dan papa Andri duduk di sofa yang terpisah.
"Baru beberapa bulan yang lalu. Aku langsung bekerja di kantor om Andri saat baru kembali ke sini," jelas Mike.
"Dan mulai besok, Mike akan menjadi asisten sekaligus sekretaris pribadi kamu, Mia. Mike akan mengurus semua pekerjaanmu di kantor dan membawakan apa-apa saja yang perlu kamu periksa ke rumah," timpal papa Andri ikut menjelaskan.
"Tapi bukankah sudah ada Adel, Pa?" Sanggah Mia cepat.
"Terlalu berat jika kita membebankan semuanya pada Adel. Gadis itu sering lembur hingga malam sejak kamu tidak datang ke kantor beberapa bulan terakhir," ujar papa Andri lagi.
Sejak perut Mia membesar, nona direktur itu memang tidak lagi pergi ke kantor. Mia mengerjakan semua hal yang harus ia kerjakan dari rumah. Selama ini Adel yang bolak balik mengantar pekerjaan untuk Mia.
"Baiklah jika itu keputusan papa. Bisakah Mia bicara berdua dengan Mike? Banyak hal yang ingin Mia bicarakan dengan anak nakal ini," ujar Mia seraya terkekeh.
"Mengobrolah di halaman belakang, Mia! Kau bisa sekalian menghirup udara sore," saran mama Alin.
Mia hanya mengangguk dan segera bangkit berdiri.
Mike dengan sigap membantu ibu hamil itu berdiri. Keduanya pun berlalu menuju halaman belakang masih dengan candaan riang.
"Jadi, apa papa punya sebuah rencana?" Tanya mama Alin curiga. Wanita paruh baya itu duduk mendekat ke arah suaminya.
Papa Andri terkekeh,
"Ingat kisah cinta kita dulu yang berawal dari seorang bos dengan asistennya?" Papa Andri malah balik bertanya dengan nada menggoda.
Mama Alina berdecak,
__ADS_1
"Apa menurut papa Mia akan jatuh cinta pada asistennya seperti mama dulu?" Tanya mama Alin pesimis.
"Mereka teman masa kecil. Jadi apapun bisa terjadi. Lagipula Mike juga masih single. Jadi tidak ada yang salah kan?" Papa Andri sedikit berpendapat.
"Tapi kita akan membiarkan saja hubungan mereka mengalir. Papa tidak mau mengekang Mia lagi. Gadis itu sudah cukup dewasa untuk bisa memilih mana yang terbaik untuk hidupnya," imbuh papa Andri lagi.
Kali ini mama Alin mengangguk dan membenarkan kata-kata dari papa Andri.
*****
Mia dan Mike duduk di kursi taman yang ada di halaman belakang.
Angin bertiup sepoi-sepoi menciptakan suasana sore yang syahdu.
"Jadi, kau sudah menikah?" Tanya Mike memecah keheningan.
Mia menggeleng,
"Ouh. Sorry jika pertanyaanku menyinggung hatimu," sahut Mike cepat merasa tak enak hati.
"Tidak apa. Aku sudah bisa menerima keadaanku yang aneh ini," timpal Mia seraya tertawa sumbang.
Hamil tanpa suami, bukankah itu hal yang aneh dan melanggar norma?
"Tapi kau tahu kan siapa ayah dari anakmu itu?" Tanya Mike dengan nada sedatar mungkin.
Mike sungguh tidak mau terkesan menghakimi pada sahabat masa kecilnya ini.
Mia mengangguk,
"Dia sedang meraih mimpi dan cita-citanya sekarang. Jadi aku tidak mau mengganggunya," jawab Mia seraya menerawang.
"Kau sudah mengabarinya?" Tanya Mike lagi.
Mia menggeleng,
"Aku membencinya, Mike. Dan aku pikir mungkin dia juga tidak menginginkan bayi ini. Jadi kenapa aku harus memberitahunya?" Sahut Mia dengan nada sedikit kecewa.
"Tetap saja dia adalah ayah kandung dari bayimu, Mia. Kau mungkin membencinya, tapi kau tidak akan bisa menyangkal hubungan darah dan ikatan batin di antara mereka kelak," nasehat Mike bijak.
"Aku tidak butuh kehadirannya. Aku bisa membesarkan anakku sendiri," timpal Mia masih keras kepala. Gadis itu kembali mengusap perutnya yang membulat.
Mike memilih diam dan tidak menyahut lagi.
Semburat oranye di langit sore itu perlahan berubah menjadi hitam, menandakan kalau malam sudah menjelang.
.
.
.
Mblundet gaees...
Kemarin Dea sekarang Mike.
Nanti Mike mau kamu bunuh juga thor kayak Dea kemarin ?😂😂
Habis ini gak ada yang mati, jadi tenang aja oke!
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕